Taruhan

Taruhan
Reasons


__ADS_3

Rinai hujan yang turun membasahi bumi menjadi saksi ketika Fabian melepaskan kepergian sang ibu untuk selama-lamanya. Di bawah guyuran hujan itu, dia merelakan tubuh sang ibu ditimbun dengan tanah, dan tidak akan pernah bisa dia peluk lagi seperti dulu. Angan untuk hidup bahagia berdua juga sudah dia kubur bersama jasad ibunya, menyisakan lebam-lebam parah yang entah butuh waktu berapa lama untuk menyembuhkannya.


Area pemakaman sudah kembali sepi setelah semua pelayat—yang jumlahnya tidak seberapa—pamit undur diri. Kini, hanya ada dirinya yang bersimpuh di samping pusara sang ibu, serta tiga anggota Pain Killer dan Sabiru yang menunggu di belakangnya. Ia sudah memperingatkan Baskara untuk tidak muncul di hadapannya, tapi pemuda itu sepertinya sangat keras kepala dan tetap datang ke pemakaman ini walaupun tahu konsekuensinya mungkin mereka akan baku hantam sampai salah satu dari mereka tidak sadarkan diri.


Fabian tahu dia tidak seharusnya membenci Baskara, karena anak itu memang tidak tahu apa-apa. Setidaknya, ia akan percaya bahwa Baskara tidak tahu menahu soal obsesi ibunya untuk membangun keluarga kecil yang bahagia. Tapi, tetap saja, ini semua masih terlalu sulit untuknya. Melihat Baskara selalu membuatnya terbayang pada wajah bengis Sera kala perempuan itu menghabisi nyawa ibunya.


"Bi,"


Rintik hujan yang semula membasahi tubuhnya, seketika terhenti seiring dengan suara jernih yang menggema itu. Kemudian, sebuah usapan mendarat di bahunya, membuatnya mau tak mau mengangkat kepala dan menemukan Sabiru berdiri di sampingnya, memegang payung berwarna hitam agar mereka berdua tidak kebasahan.


"Ayo kita pulang." Ajak gadis itu sembari mengulurkan tangan.


Di hari lain, dia akan menerima uluran tangan itu dengan senang hati. Tapi sore ini, ketika yang tampak di depan matanya bukan lagi Sabiru si gadis Lemonade yang dia temui di Mega beberapa bulan lalu, melainkan kekasih dari seorang teman yang sedang dia hindari, Fabian rasa dia tidak sanggup untuk melakukannya.


"Lo aja. Gue masih mau di sini." Ucapnya, lalu kembali memandangi pusara sang ibu. Bunga warna-warni yang tertabur di sana bergeser terkena air hujan, lama-kelamaan lengser ke bawah meninggalkan gundukan tanah yang masih basah. Seakan tak rela bunga-bunga itu pergi meninggalkan ibunya sendirian, Fabian memunguti mereka, lalu meletakkannya kembali ke atas pusara sang ibu.


Alih-alih pergi seperti yang dia perintahkan, dia malah melihat Sabiru ikut berjongkok di sampingnya. Payung hitam yang menaungi mereka disingkirkan, dibiarkan meninggalkan fungsinya karena sepertinya gadis itu juga lebih suka kebasahan. "Gue temenin lo di sini." Kata sang gadis.


"Nggak perlu." Ketus Fabian. Sekali lagi, tolong ingat, dia melihat Sabiru sebagai kekasih Baskara sekarang. Jadi segala emosi yang sejatinya tidak ditujukan kepada gadis itu, terpaksa luber karena sang gadis terlalu keras kepala. "Gue nggak mau apapun yang bersangkutan dengan Baskara ada di sekitar gue untuk sementara waktu."


Kalau ini adalah gadis lain, mungkin perkataannya sudah akan dimasukkan ke dalam hati dan dia berakhir ditinggalkan sendirian. Tapi karena ini adalah Sabiru, dan Fabian tahu gadis itu memang sedikit lain, yang dia temukan justru gadis itu menatap lurus ke arah nisan bertuliskan nama ibunya. Bibir gadis itu menipis sebelum akhirnya terbuka dan gadis itu berkata, "Tapi gue di sini sebagai Sabiru, cewek yang lo temuin di Mega beberapa bulan yang lalu. Cewek yang ngatain lo gembel karena lo datang ke klub cuma pakai kaus oblong dan celana pendek. Gue nggak datang sebagai pacarnya Baskara ataupun cewek yang pernah kalian jadikan bahan taruhan." Kalimat itu diucapkan dengan intonasi yang begitu tenang, membuat Fabian yang semula berapi-api juga ikut terbawa suasana.


Selama beberapa saat, yang terdengar hanyalah suara hujan yang semakin deras, juga suara napas mereka yang sesekali terdengar bersahut-sahutan. Tubuh mereka sudah sepenuhnya basah, sudah terlambat untuk melarikan diri sehingga mereka hanya berakhir pasrah menerima lebih banyak guyuran dari atas langit.


"Lo tahu?"


Fabian menoleh. Si gadis biru itu sedang melabuhkan pandangannya ke depan. Entah objek mana yang menjadi sasaran dilabuhkannya pandangan gadis itu. Apakah pohon Kamboja yang mulai berbunga, atau malah jajaran makam yang tampak usang di bawahnya—terlihat sudah lama tidak dikunjungi oleh sanak saudara.


"Disclaimer dulu nih, gue bukannya mau adu nasib. Tapi ... lo beruntung karena setidaknya nyokap lo punya tempat peristirahatan terakhir yang bisa lo kunjungi kapan pun lo kangen." Biru tampak menarik napas dalam-dalam, kemudian gadis itu menoleh kepadanya. "Nyokap bokap gue bahkan nggak meninggalkan jasad buat dikuburkan. Mereka hilang gitu aja, seolah nggak pernah ada sejak awal. Kapan pun gue kangen, gue cuma bisa duduk di balkon kamar gue, ngeliatin bintang-bintang di langit dan menganggap kalau mereka adalah perwujudan dari raga kedua orang tua gue yang udah mati."


"I mean, nyokap lo tidur di sini, Bi. Lo bisa datang lagi besok, lusa atau kapan pun lo mau karena nyokap lo nggak akan pergi ke tempat lain. So, kenapa lo nggak pulang dulu sekarang, buat datang lagi nanti dengan kondisi yang lebih baik?"


"Ujung-ujungnya tetap nyuruh gue pulang." Fabian mendengus. Bukannya beranjak, dia malah menjatuhkan bokongnya di atas tanah. Dia duduk bersila, bertopang dagu sambil memainkan satu kelopak bunga yang terpisah dari kawanannya. "Gue udah bilang, gue masih mau di sini."


Biru berdecak. Gagal sudah upayanya untuk menjadi gadis lemah lembut yang datang dengan segala kebaikan hati untuk menghibur seorang teman yang sedang berduka. Memang sepertinya fasenya untuk menjadi gadis lemah lembut sudah sepenuhnya habis. "Ya tapi dingin, anjir." Keluhnya, seraya mengusap-usap kedua bahunya sendiri. "Lo mungkin udah biasa hujan-hujanan, tapi gue enggak."


"Ya lo tinggal pulang? Ngapain masih ngejogrok di sini?" ujar Fabian sewot. Kesannya seperti dia yang telah memaksa gadis itu untuk menemaninya di sini. Menyebalkan sekali.


"Nih ya, gue kasih tahu." Biru bergerak mendekatkan tubuhnya ke arah Fabian. Terus mendekat sampai tahu-tahu lengan mereka sudah saling bersentuhan. Kemudian, gadis itu berbisik persis di sebelah telinganya, membuatnya bergidik karena embusan napas hangat gadis itu menerpa kulit lehernya yang terbuka. "Kunyuk-kunyuk itu nggak akan biarin gue pulang, kalau lo juga nggak pulang."


"Kunyuk siapa?" tanya Fabian kebingungan.


"Teman-teman lo, lah! Siapa lagi." Biru kembali menjauhkan tubuhnya. "Mereka mungkin bakal ngelem kaki mereka di sana, sampai lo bersedia buat pulang."


Mendengar penuturan Biru, Fabian jadi tertarik untuk menoleh ke belakang. Benar saja, tiga temannya yang berdiri di bawah naungan dua payung itu tampak melemparkan pandangan ke arahnya. Wajah-wajah dengan harap-harap cemas tampak begitu jelas meskipun air hujan yang turun mengaburkan sebagian banyak hal.


"Lupain aja yang tengah, kalau lo emang udah nggak mau anggap dia teman. Tapi yang dua itu, mana boleh lo abaikan begitu aja?"


Kembali Fabian menatap Sabiru. Air mukanya yang tenang seakan mengatakan kepada dirinya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selagi ia masih memiliki teman-temannya. Tapi kemudian, bukan itu yang lantas membuat Fabian bersedia bangkit lalu mengulurkan tangan. Ia melihat bibir gadis itu mulai membiru dan tubuhnya sedikit gemetar. Walau disembunyikan sebagaimana pun, jelas sekali terlihat kalau gadis itu kedinginan.


Jiwa-jiwa gentleman di dalam diri Fabian tidak bisa begitu saja disingkirkan. Jadi, dia memutuskan untuk mengalah pada gadis ini sekarang.


Biru tampak tersenyum senang sebelum meraih uluran tangan Fabian. Dan ketika lengannya ditarik dengan kekuatan penuh hingga membuat tubuhnya nyaris jatuh ke dalam pelukan pemuda tampan itu, Biru merasakan ada degup-degup manja yang datang dari dalam dadanya. Ia tak memiliki waktu untuk membiarkan degup jantungnya semakin menjadi-jadi, karena tubuhnya semakin menggigil dan mereka sebaiknya segera pergi mencari tempat berteduh sebelum dia mati membeku.


Mereka pun berjalan menghampiri tiga pemuda lain yang menunggu dengan sabar sejak tadi. Payung hitam yang dibawa oleh Sabiru, akhirnya ditinggalkan di atas pusara Raya, sebagai kenang-kenangan agar perempuan itu tidak merasa sendirian malam ini.


"Naik mobil gue?" tawar Reno, sudah siap membukakan pintu.


Namun, Fabian malah menggeleng. Tanpa aba-aba, dia menarik lengan Biru sehingga tubuh gadis itu kembali menempel dengannya. "Gue mau pulang sama dia, kalau lo nggak keberatan." Ucapnya dengan tatapan yang tertuju ke arah Baskara.


"Kalau anaknya mau, lo boleh ajak dia pulang. Tapi kalau nggak, gue harap lo nggak akan maksa dia untuk ikut sama lo." Usai menjawab, Baskara mengambil alih payung yang semula dipegang oleh Juan, kemudian dia berjalan menghampiri Sabiru. "Dan tolong jangan ajak dia main hujan-hujanan, badan dia nggak sekuat itu." Seraya memberikan payung tadi kepada Fabian—membiarkan dirinya yang gantian menjadi basah.


Selama 30 detik penuh, Baskara berdiri di hadapan Biru, menatap kekasihnya itu lekat-lekat sebelum akhirnya dia mengembuskan napas pelan dan kembali beralih menatap Fabian. "Tolong pulangin dia sebelum tengah malam, besok dia ada kelas pagi." Ucapnya. Itu menjadi pesan terakhir yang Baskara ucapkan kepada Fabian. Karena setelah itu, dia berjalan gontai menuju pintu keluar area pemakaman.


Suara Reno yang meneriaki namanya, juga usaha Juan mengejar sama sekali tak dia hiraukan. Baskara terus melangkah, tanpa tahu ke mana dia akan pergi setelah ini.


...****************...


Tanpa berpikir bahwa Baskara sedang menyerahkan dirinya kepada Fabian sebagai bentuk penebusan dosa kecil-kecilan, Biru ikut pulang bersama Fabian. Dia menurut ketika pemuda itu menggandengnya masuk ke dalam sebuah taksi, lantas meminta sang sopir membawa mereka menuju kediaman pemuda itu.


Ini adalah kali pertama Biru menginjakkan kaki di rumah Fabian, dan vibes kehilangan jelas terasa bahkan ketika kakinya baru menapak di pintu depan.


"Gue bisa kasih pinjam lo baju nyokap gue." Tawar pemuda itu ketika dia dituntun menuju ruang tamu.

__ADS_1


Biru tak menyahut. Tubuhnya sudah menggigil dan sejujurnya, sebuah pelukan akan terasa lebih baik untuk dirinya saat ini. Kalau saja yang sedang menggenggam tangannya erat saat ini adalah Baskara, sudah pasti dia akan menghambur ke dalam pelukan pemuda itu.


Ah ... Baskara. Sampai detik ini, Biru masih tidak bisa membebaskan diri dari perasaan bersalah karena sudah sempat memiliki niatan untuk balas dendam kepada pemuda itu sampai beberapa bulan sebelum ini. Benar-benar tidak terbayangkan kalau dia menghancurkan pemuda itu, di saat hidupnya saja sudah hancur lebur tak berbentuk.


"Lo dengar nggak gue ngomong apa?" Biru merasakan genggaman tangan Fabian terlepas.


"Dengar."


"Pikiran lo jelas lagi nggak ada di sini." Tuduh Fabian tiba-tiba, membuat Biru menaikkan sebelah alisnya. "Lo bilang datang ke sini sebagai teman, tapi pikiran lo jelas ketinggalan di tempat lain."


Setelah tahu ke mana arah pembicaraan Fabian, barulah Biru menghela napas begitu panjang. "Gue kedinginan, Fabian. Dan lo tahu apa yang bisa bikin gue berhenti menggigil? Yes. Pelukan. That's why gue mikirin Baskara sekarang, karena cuma dia yang bisa kasih gue pelukan itu."


"Gue juga bisa kasih." Fabian merentangkan tangan lebar-lebar, tapi Biru malah mendecih.


"You're not my boyfriend." Ucap gadis itu dengan mata yang mulai mendelik. "Gue cuma mau dipeluk sama pacar gue."


"Pelukan sebagai teman kan ada." Fabian masih kekeuh. Rentangan tangannya juga semakin lebar. Seakan dia berharap tubuh kecil yang basah kuyup itu benar-benar akan menghambur ke dalam pelukannya.


"Nope." Biru menggeleng. "Gue anaknya setia."


"Setia dari Hongkong? Nggak ingat lo pernah nyelingkuhin gue?"


"Itu lain, ya! Kita cuma pacaran pura-pura, jadi nggak dihitung sebagai selingkuh!"


"Mau pura-pura kek, enggak kek, pokoknya kenyataan bahwa lo berhubungan sama Baskara pas kita masih pacaran itu udah menggugurkan statement lo soal setia."


"Ya udah deh, terserah!" Biru mengalah. Tak ada gunanya berdebat soal setia atau tidak, karena sumpah demi Tuhan, dia sudah sangat kedinginan. "Sekarang, mending lo masih gue baju ganti sebelum gue mati beku."


"Bajunya ada di kamar nyokap gue."


"Ya terus?"


"Ya harus diambil dulu."


"Ya terus?"


Fabian mendesah pelan, "Anterin gue ke sana. Kita ambil bajunya sama-sama."


"Dih, kenapa gitu?"


Belum saja sempat menjawab, tangannya sudah ditarik paksa oleh Fabian. Dia digelandang, seperti diseret untuk menaiki satu persatu anak tangga padahal langkah yang Fabian ayunkan begitu lebar dan dia dipaksa untuk mengimbanginya. Sungguh tidak manusiawi!


"Pelan-pelan! Nanti gue kesandung!"


"Bi!"


"Ah elah! Kaki lo kepanjangan, jadinya gue susah ngikutin langkah lo!"


"Fabian!"


Pusing mendengar Biru yang terus-terusan mengoceh, Fabian akhirnya mengambil langkah yang bisa dibilang cukup ekstrem. Tanpa aba-aba, dia mengangkat tubuh Sabiru, membopongnya melewati lima anak tangga yang tersisa. Bibir cerewet itu tidak lagi mengoceh, dan sang empunya cuma bisa melongo serta mau tak mau mengalungkan lengannya di leher Fabian agar dirinya tidak jatuh.


"Bukain dong, tolong." Ujar Fabian ketika mereka sampai di depan pintu. Kedua tangannya sibuk memastikan Biru tidak jatuh, jadi dia tidak bisa menggunakannya untuk membuka kenop pintu. "Tangan gue penuh—sama badan lo."


Sedikit canggung, Biru melepaskan satu tangannya untuk membuka pintu kamar Raya. Setelah pintu itu terbuka, Fabian melangkah masuk. Tubuh Biru kemudian dia turunkan, lantas punggung kecilnya dia dorong pelan menuju lemari pakaian.


"Tuh, disitu lemarinya. Lo cari sendiri aja bajunya. Gue nggak tahu mana yang pas di badan lo." Kata Fabian. Kemudian, Fabian malah berjalan ke arah ranjang lalu duduk ditepiannya.


Sisa-sisa keterkejutan atas tindakan Fabian yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya masih membuat Biru kesulitan mencerna segala sesuatunya dengan cepat. Alhasil, dia malah terbengong-bengong di depan lemari pakaian, tidak tahu harus berbuat apa sampai akhirnya Fabian harus mengulangi titahnya sebanyak 2 kali.


Lama memilih, Biru akhirnya memutuskan untuk menarik sebuah dress berwarna biru laut. Panjangnya harusnya hanya sedikit di bawah lutut, tapi mengingat tubuhnya yang tidak tinggi-tinggi amat, dress itu mungkin akan sedikit terlihat lebih panjang di tubuhnya.


"Pakai yang ini boleh?" tanyanya kepada Fabian. Pemuda itu memang sudah mempersilakan dia memilih sendiri, tetapi sebagai seseorang yang masih memiliki sopan santun, dia tetap berniat untuk meminta ijin terlebih dahulu.


"Pakai aja apapun yang lo mau." Tutur Fabian. "Asal lo nyaman aja." Sambung pemuda itu. Perhatiannya tidak benar-benar tertuju pada Biru. Dia hanya melirik sekilas dress mana yang Biru pilih, kemudian kembali menunduk menekuri sebuah benda yang mencuri perhatiannya sejak dia temukan beberapa saat sebelum Biru mengajaknya bicara.


Itu adalah sebuah buku jurnal, tersimpan di dalam laci nakas di samping ranjang Raya, tertimpa benda-benda lainnya. Waktu kecil dulu, Fabian memang sering melihat Raya berkutat dengan buku jurnal semacam ini, tapi dia tidak pernah punya kesempatan untuk mencari tahu tulisan semacam apa yang Raya buat karena perempuan itu akan selalu memarahinya setiap kali dia menyelinap masuk ke dalam kamar untuk mengintip.


"Tapi, Bi,"


Fabian kembali mengalihkan perhatiannya kepada Sabiru. Gadis itu terlihat kebingungan sambil menenteng dress biru laut pilihannya. "Kenapa lagi?" tanyanya.


"Itu ..."

__ADS_1


"Apa?"


"Underwear gue juga basah. Terus kalau pakai dress ini, nanti—"


Ucapan Biru tak terselesaikan karena Fabian tiba-tiba saja menghela napas. Pemuda itu seperti lelah sendiri dengan persoalan mengganti baju yang tak kunjung selesai. Ah, dia bahkan belum sempat mengurusi bajunya sendiri yang masih basah.


"Lupain lah, taruh lagi dress-nya, lo pakai baju gue aja. Baju gue tebel-tebel, jadi harusnya nggak apa-apa walaupun lo nggak pakai underwear."


Ugh! Rasanya awkward sekali harus membahas tentang underwear sekarang ini. Tapi mau bagaimana lagi? Memang itu masalah terbesar yang mereka hadapi saat ini.


"O-oke." Biru meletakkan kembali dress pilihannya sesuai perintah Fabian. Kemudian, dia mengikuti pemuda itu berjalan keluar dari dalam kamar.


Dia dituntun menuju kamar lain, yang letaknya persis di sebelah kamar yang tadi. Tidak seperti kamar anak bujang pada umumnya yang cenderung berantakan, Biru justru menemukan kamar Fabian tertata rapi. Sprei dan bantal kembali pada tempatnya semula. Selimut terbal terlipat rapi di atas ranjang. Tak ada handuk yang nangkring di atas kasur. Pun dengan sudut kamarnya yang bersih tanpa adanya baju-baju kotor yang berserakan di lantai. Kalau bisa diberi angka, Biru akan menilai tingkat kerapian kamar Fabian dengan angka 100/100. Alias, sempurna.


"Nih," satu kaus oversize berwarna navy serta satu celana training berwarna hitam diulurkan kepadanya, dan Biru menerimanya dengan senang hati. "Ganti di kamar mandi sana." Titah Fabian, dan lagi-lagi Biru mengikuti perintah itu dengan senang hati pula.


Biru berjalan menuju kamar mandi, mendorong pintu kamar mandi pelan-pelan, dan kembali dibuat terpana. Baru di depan pintu saja, dia sudah disambut aroma wangi yang semerbak menenangkan jiwa. Tidak ada tuh aroma busuk dari pakaian kotor yang dibiarkan basah terkena cipratan air. Secara visual, penampakan di kamar mandi ini juga tidak kalah tapi dengan kamar Fabian. Botol-botol sampo dan sabun tertata rapi di rak. Kaca kecil yang ada di sana juga tampak mengkilap, seperti tidak pernah ada air-air nakal yang menciprat ke sana hingga membuatnya menjadi buram. Pokoknya, baik kamar ataupun kamar mandinya, benar-benar menunjukkan betapa pemuda bernama Fabian itu mencintai kebersihan dan kerapian.


Sementara Biru dibuat terpana dengan keadaan kamar mandi yang bersih dan rapi, ada Fabian yang kembali terpaku menatapi buku jurnal yang dia bawa dari kamar sang ibu. Selain buku jurnal ini, dia juga melihat ada beberapa benda lain yang tersimpan di lagi dan dia belum sempat menyentuhnya.


Fabian melirik sekilas ke arah kamar mandi yang pintunya suda tertutup, kemudian dia berjalan menuju lemari pakaian, mengambil baju ganti untuk dirinya sendiri.


"Bi, gue ke kamar nyokap gue ya, mau ganti banju!" teriaknya dari depan pintu kamar mandi.


Biru menyahut dari dalam, dan itu sudah cukup untuk menjadi alasan untuk dia mengayunkan langkahnya keluar.


...****************...


Sesungguhnya, membawa Biru ke sini adalah sebuah bentuk kamuflase. Dia bukannya membawa gadis itu untuk melancarkan balas dendam kepada Baskara. Tidak sama sekali. Hal-hal semacam itu sama sekali tidak terlintas di benaknya, apalagi dia tahu bahwa Baskara tidak bersalah. Ia sengaja membawa Biru ke sini supaya dia punya alasan yang cukup masuk akal untuk masuk ke dalam kamar sang ibu. Karena dari awal, dia tahu tidak akan ada satu potong pakaian pun milik ibunya yang akan bisa Biru kenakan.


Setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat dan berganti dengan pakaian yang baru, Fabian kembali mendudukkan dirinya di tepi ranjang milik ibunya. Kalau tidak salah, dia tadi sempat melihat ada sebuah ponsel yang tersimpan di dalam laci nakas, dan sekarang dia berniat untuk memeriksa apa isi di dalam ponsel tersebut. Bukan hendak bersikap lancang, dia hanya ingin tahu dengan siapa ibunya berkomunikasi selama ini, orang-orang seperti apa yang perempuan itu hubungi ketika kehidupan mereka terasa semakin buruk dari hari ke hari.


Sebab tidak seperti dirinya yang masih memiliki Baskara dan teman-temannya yang lain, Fabian tahu ibunya tidak memiliki siapa-siapa. Nenek dan kakeknya yang tinggal di luar negeri juga mungkin sudah lama memutus kontak ketika mereka pindah ke sini. Lebih dari itu, dia bahkan bukan cucu yang diharapkan, jadi kehilangan jejak atas dirinya mungkin bukan sesuatu yang besar bagi sepasang orang tua itu.


Ponsel yang Fabian cari dalam keadaan mati. Ia pikir ponsel itu mungkin sudah kehabisan daya, tapi ketika dia coba nyalakan, tenyata ponsel itu bisa menyala dan indikator yang ada di pojok kanan atas menunjukkan bahwa daya ponsel itu masih tersisa 65 persen. Masih cukup banyak untuk bertahan selama dua hari ke depan, jika ponsel itu tidak digunakan.


Fabian mencoba membuka kunci dengan menggeser layar ke atas, dan ternyata bisa. Tenyata ibunya tidak menggunakan sandi-sandi rumit untuk mengunci layar ponselnya.


Akan tetapi, hal itu tidak cukup membuatnya terkejut. Ada hal lain yang lebih membuatnya tercengang. Membuatnya terdiam cukup lama dengan perasaan yang tidak keruan. Ibunya, yang selalu mengatakan kepada dirinya bahwa dia tidak berharga dan kelahirannya tidak pernah diinginkan, menggunakan foto mereka sebagai wallpaper di ponsel tersebut. Di sana, ibunya tampak begitu senang ketika menggendong dirinya yang masih bayi. Tidak ada kebencian yang terpancar dari sorot mata itu sama sekali. Senyum yang disuguhkan juga begitu tulus.


Di satu sisi, Fabian merasa senang karena itu berarti setidaknya sekali saja dalam hidup ibunya, dia sempat dianggap berharga. Tapi di sisi lain, dia menjadi bertanya-tanya. Apa alasannya sehingga dia berakhir diperlakukan buruk? Apakah karena Jeffrey pernah berjanji pada ibunya untuk bertanggung jawab, lalu kemudian mengingkari janji sehingga ibunya menjadi marah dan kecewa? Atau ... itu semua karena ulah Sera? Karena perempuan itu tidak rela ada perempuan lain yang berbahagia dengan putranya, sebab dia takut kebahagiaan itu akan membuat kebahagiaan miliknya sirna?


Fabian pikir, dia akan menemukan jawabannya ketika ponsel itu dia buka. Tapi ternyata, dia malah menemukan hal lain yang semakin membuatnya sakit kepala. Ada satu folder rahasia yang tersembunyi di sana. Perlu mengutak-atik sebanyak belasan kali sebelum akhirnya folder itu dia temukan. Kabar baiknya, folder itu tidak dikunci. Kabar buruknya, folder itu ternyata berisi sebuah aplikasi pengirim pesan yang di dalamnya hanya ada pesan dari satu orang—Jeffrey.


Mulanya, Fabian berniat untuk meninggalkan pesan itu ada di sana. Dia terlalu takut kalau apa yang dia baca di dalam pesan itu berisi hal-hal yang tidak dia inginkan. Bagaimana jika pesan-pesan yang ibunya saling kirimkan dengan Jeffrey berisi hal-hal romantis, yang pada akhirnya membuat mereka tampak seperti dua orang yang sedang berselingkuh? Karena kalau itu betulan terjadi, Fabian mungkin akan mulai memiliki sedikit pemakluman mengapa Sera begitu benci pada mereka. Dan, Fabian tidak ingin hal itu terjadi. Dia tidak ingin memberikan pemakluman apapun atas tindakan yang sudah Sera lakukan sejauh ini.


Tapi pada akhirnya, Fabian tetap memberanikan diri untuk membukanya. Dengan berbekal keyakinan bahwa ibunya bukan perempuan rendahan yang akan mengganggu rumah tangga seseorang, dia mulai menggulir layar hingga ia sampai di bagian paling awal ketika pesan itu bermula.


Pesan pertama ternyata dikirim beberapa bulan yang lalu, fakta yang cukup membuat Fabian menghela napas lega karena sepertinya, apa yang dia takutkan memang tidak terjadi. Ibunya dan Jeffrey hanya baru-baru ini saja saling berkomunikasi.


Dengan kepercayaan diri yang lebih banyak, Fabian akhirnya mulai membaca pesan itu satu persatu.


Halo, Raya. Ini Jeffrey. Maaf baru bisa menghubungi kami setelah sekian lama. Saya cuma mau minta tolong sama kamu untuk tetap jaga anak saya. I know, I'm not a good father for him but, kamu tahu saya punya alasan yang kuat kenapa sampai sekarang saya masih nggak bisa menunjukkan diri saya di hadapan dia.


Sera mengamuk. Dia tahu saya mencari-cari cara untuk mendekati Fabian.


Raya, saya tahu kamu gadis pintar. Jangan biarkan Abraham mendekat lebih jauh ke arah kalian.


Tolong terus jaga Fabian dari dekat, selagi saya cuma bisa menjaga dia dari kejauhan.


Saya merindukan Fabian. Boleh kamu cari cara supaya saya bisa ketemu dengan anak saya, tanpa membuat Sera curiga?


Baskara masuk rumah sakit dan Sera memaksa dia untuk rawat inap. Bukannya saya bersyukur putra saya dirawat, tapi berkat itu, saya jadi bisa melihat Fabian dari dekat.


Pagi tadi, Baskara berulah. Dia membuat dirinya sendiri terkunci di rooftop rumah sakit dan membuat Sera nyaris kehilangan kewarasan. Saya juga ikut gila, Raya. Saking gilanya, saya sampai membentak seorang petugas keamanan dan mengtakan bahwa dia hampir mencelakai putra semata wayang saya. Ya, kamu pasti tahu alasan saya merasa buruk. Lagi-lagi, saya nggak bisa mengakui Fabian sebagai putra saya.


Sera semakin menggila. Saya rasa, kalian sudah nggak bisa tinggal di sini lagi. Pindah saja ke luar negeri, saya yang akan urus semuanya secara diam-diam.


Bagaimana kabar Fabian hari ini? Saya sering bersikap acuh kepada dia akhir-akhir ini hanya demi membuat Sera percaya bahwa saya sudah sepenuhnya nggak peduli sama anak saya.


Saya masih sedang mempersiapkan kepindahan kalian ke Kanada. Tolong tahan sebentar lagi, dan tolong bersikap lebih baik kepada anak saya—sekalipun kamu enggan melakukannya.


Hampir semua pesan yang dikirimkan oleh Jeffrey hanya dibalas dengan ya atau tidak oleh Sera. Pesan yang terakhir bahkan sama sekali tidak dibalas. Hal itu jelas membuat Fabian merasa lega. Memang tidak salah selama ini dia tetap menumbuhkan cinta kepada sang ibu, sekalipun sikap perempuan itu benar-benar buruk terhadapnya.

__ADS_1


"Maaf udah membiarkan Mama melewati semua hal sulit ini sendirian, Ma." Bisik Fabian, sambil mendekat erat ponsel peninggalan ibunya.


Bersambung


__ADS_2