Taruhan

Taruhan
Her Lovely Son


__ADS_3

Fabian pulang dengan hati yang terasa kosong. Setelah mengembalikan Biru kepada Baskara, ia malah menemukan satu sudut hatinya terasa tidak baik-baik saja. Tapi dia tidak menyesal. Karena kalau tidak dilakukan sekarang, dia mungkin akan lebih sulit untuk melepaskan Sabiru nantinya.


Sekarang pukul 1 dini hari. Normalnya, rumah sudah dalam keadaan gelap dan semua pintu sudah terkunci. Tapi, Fabian justru menemukan pintu depan sedikit terbuka, menimbulkan kecurigaan sekaligus kekhawatiran kalau-kalau ada yang menyelinap masuk ke dalam rumahnya.


Dengan langkah yang dibuat semakin lebar, Fabian berjalan menuju pintu. Kalang kabut ia mendorong pintu kayu yang berat itu, hanya untuk dibuat mematung di tengah-tengahnya kala menemukan Raya tengah duduk sendirian di sofa ruang tamu.


Tidak seperti biasanya, penampilan perempuan itu tampak jauh lebih baik. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, jelas disisir dan ditata dengan rapi. Dress warna biru laut di bawah lutut membalut tubuh rampingnya. Kakinya pun dibalut heels setinggi 5 sentimeter dengan ujung yang tumpul. Lampu ruang tamu dinyalakan terang, pun dengan lampu-lampu lain yang ada di seluruh bagian rumah.


Seolah tak membiarkan keterkejutan itu hanya berhenti sampai di sana. Perempuan itu mengangkat kepala, lantas menatap Fabian dengan sorot mata teduh yang sepenuhnya asing. Masih tidak ada garis senyum di bibirnya yang tertarik lurus. Namun, Fabian jelas bisa merasakan adanya perbedaan dari aura yang mengelilingi perempuan itu kali ini.


“Mama kenapa belum tidur?” tanya Fabian sembari menutup pintu di belakangnya dengan gerakan perlahan. Ragu-ragu, ia mulai melangkah. Matanya bergerak mengawasi sekitar, takut-takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Dan lagi-lagi, ia dibuat keheranan.


Alih-alih mengamuk seperti biasa, Raya malah dengan tenang menyuruhnya mendekat. Bukan di sofa lain, perempuan itu bahkan menggeser duduknya lalu menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya sebagai pertanda bahwa ia ingin Fabian duduk di sana.


Meksipun merasa aneh, Fabian tetap menggerakkan kakinya mendekat. Masih dengan kewaspadaan yang penuh, bokongnya mendarat perlahan di sofa. Aroma mawar yang khas menguar dari tubuh Raya kala Fabian berhasil duduk tepat di samping perempuan itu, hahya menyisakan jarak yang tidak terlalu berarti. Bergerak sedikit saja, lengannya bahkan bisa bersentuhan dengan milik Raya.


“Kenapa?” tanya Fabian lagi.


Alih-alih menjawab, Raya malah menyodorkan sebuah kunci. Fabian memandangi kunci itu sebentar, lalu kembali menatap Raya setelah menyadari bahwa itu adalah kunci gudang penyimpanan bir di rumah mereka.


“Musnahkan mereka.” Kata Raya. Nada suaranya masih datar seperti biasa. Satu-satunya yang berbeda dari cara perempuan itu berkomunikasi dengan dirinya benar-benar hanya tatapan matanya saja.


Fabian tidak langsung mengambil kunci tersebut, tidak pula menyahuti permintaan Raya karena ia tahu, perempuan itu harus menjelaskan lebih lanjut perihal keinginannya. Maka Fabian menunggu sedikit lebih lama, mencurahkan perhatian penuh pada perempuan itu.


“Saya udah nggak butuh mereka.” Tutur Raya. Karena Fabian tak kunjung mengambil alih kunci yang ia ulurkan, Raya pun menarik tangan pemuda itu lalu melatakkan kunci di telapak tangannya. “Tolong musnahkan mereka. Dan sebagai gantinya, ayo kita mulai buat kesepakatan.”


Kesepakatan. Kata itu membuat Fabian tersenyum getir. Apakah sekarang waktunya? Apakah dia benar-benar harus menyerahkan nyawanya, demi melihat ibunya hidup dengan lebih baik?


“Apa yang harus Fabian kasih untuk menggantikan botol-botol bir sialan itu? Nyawa?”


Bukan anggukan, Fabian malah melihat Raya menggeleng pelan. “Nyawa kamu nggak seberharga itu untuk ditukar dengan minuman kesayangan saya.”

__ADS_1


Sakit. Perih. Tapi Fabian sudah terbiasa. Sedari dulu, dia tahu nyawa yang bersemayam di tubuhnya ini memang tak memiliki arti apa-apa untuk Raya. Jadi alih-alih merasa tersinggung, Fabian malah dengan santainya bertanya, “Terus apa?” seolah mampu menyanggupi apa saja yang akan Raya minta.


Apakah kemudian Raya meminta hal-hal tak masuk diakal, yang akhirnya membuat Fabian tak mampu memenuhinya?


Jelas tidak.


Perempuan itu sudah memikirkannya dengan baik, jauh sebelum memberanikan diri mengambil keputusan ini. Dia sudah terlanjur maju, tidak ada lagi kesempatan untuk mundur meskipun hanya satu langkah.


Setelah mengumpulkan udara yang cukup di paru-parunya, Raya mulai mengutarakan niatnya.


“Cukup berhenti paksa Saya minum obat, dan jangan lagi temui dokter Abraham.” Begitu katanya.


“Kenapa?”


“Saya nggak suka lelaki tua itu.” Enteng sekali Raya bicara. Dan seolah tak ingin mendapatkan penolakan, ia bergerak bangkit. “Jangan libatkan dia dalam urusan apapun di antara kita. Sebagai gantinya, saya juga nggak akan bikin keributan. Lagipula, sama sekali nggak ada untungnya kamu bergaul dengan lekaki tua itu, Fabian.”


Selepas bicara begitu, Raya melenggang pergi. Langkahnya yang anggun sempat menghipnotis Fabian, membuat bibir pemuda itu seolah terkunci dan matanya hanya terus mengikuti ke mana Raya pergi sampai kemudian tubuh ramping itu hilang ditelan belokan.


Bersamaan dengan hela napas rendah yang diloloskan, Fabian menarik pandangan. Dilihatnya lagi kunci berwarna silver yang ada di tangan. Cukup lama. Hampir satu menit penuh dia terpaku pada benda itu, hanya untuk berakhir menghela napas lebih panjang karena untuk saat ini, ia tak punya pilihan selain mengiyakan keinginan Raya.


Di dalam kamarnya, Raya kembali duduk diam di depan meja rias. Jemarinya bergerak pelan menyisir helaian rambutnya yang lembut, sebelum helaian itu ia kumpulkan menjadi satu dalam sebuah ikatan asal.


Untuk sekarang, sebagian kecil niatnya sudah tuntas. Keyakinannya bahwa Fabian akan menerima kesepakatan yang dia buat hampir menyentuh angka 100 persen, sehingga kini ia hanya perlu mempersiapkan hal-hal lainnya dengan lebih matang.


Lelah. Cuma itu yang menjadi dasar mengapa Raya akhirnya mengambil keputusan berani ini. Bertahun-tahun hidup sesuai dengan keinginan orang lain benar-benar membuatnya nyaris tak mengenali diri sendiri. Setiap kali berkaca, ia hampir tidak bisa menyapa sosok yang tampak di depannya. Benar-benar merasa asing sebab yang tampak di sana, sama sekali bukan dirinya.


Ada alasan kuat mengapa ia bertahan sampai sejauh ini. Membiarkan Fabian tetap hidup dengan pemikiran bahwa kelahirannya tidak pernah diinginkan karena memang hanya itu pilihan yang dapat dia ambil. Ia singkirkan naluri keibuannya, hanya untuk terus tumbuh menjadi monster menyeramkan demi memberi makan ego seorang Seraphina Lazuardy.


Perempuan itu benar-benar iblis. Itu yang selalu Raya tanamkan di dalam hati. Nyawa orang lain bukanlah sesuatu yang penting untuk perempuan itu. Karena satu-satunya yang penting baginya hanyalah ambisi untuk membangun sebuah keluarga bahagia, agar dirinya terus mendapatkan sanjungan dari orang-orang di sekitar.


Tapi, belasan tahun agaknya sudah cukup. Raya sudah tidak mau lagi membantu Sera membiarkan ambisi itu tumbuh semakin besar. Apalagi, kalau dia harus terus-menerus mengorbankan Fabian.


Sejujurnya, kehadiran Fabian di dalam perutnya dulu memang bukan keinginannya. Siapa memangnya yang mengharapkan hadirnya janin hasil perkosaan? Tentu tidak ada. Tetapi membiarkan anak itu lahir ke dunia adalah pilihan yang telah dia buat, karena dia memang berniat untuk merawat anak itu dengan sepenuh hatinya.

__ADS_1


Kalau saja dulu ia tidak lebih takut pada Sera yang terus mengancam akan melenyapkan ibunya, Raya mungkin tidak akan pernah memperlakukan Fabian dengan buruk. Ia mungkin bisa menjadi ibu yang baik untuk anak itu, memberikannya kehidupan yang layak sekaligus menjadikannya sebagai anak paling beruntung di dunia.


“Kamu bilang, pilihan yang aku punya cuma dua: membunuh Fabian, atau membiarkannya hidup tapi menderita. Yang pertama sudah aku coba, tapi selalu gagal. Yang kedua ... sudah terjadi juga. Tapi kamu masih nggak puas dan selalu ingin mengganggu anak aku demi kepentingan diri kamu sendiri.” Raya bermonolog. Di dalam bayangannya, Sera tampak duduk di hadapannya, menggantikan refleksi dirinya di dalam cermin besar di sana.


Kembali teringat oleh Raya kejadian belasan tahun silam, ketika ia mencoba membunuh Fabian untuk pertama kalinya. Waktu itu, skenario yang ada di kepalanya adalah begini: ia akan membunuh Fabian, agar anak itu tidak perlu merasakan lebih banyak penderitaan yang jelas akan datang dari Sera. Kemudian, dia akan pergi menyusul. Mati berdua, begitu pikirnya. Tapi entah mengapa, manusia-manusia biadab yang Sera tempatkan di sisinya untuk mengawasi setiap gerak-geriknya malah menyelamatkan Fabian hingga gagal sudah rencananya.


Percobaan ke-2 dan seterusnya juga begitu. Selalu ada orang-orang yang kebetulan datang untuk menggagalkan rencananya. Jadi pada akhirnya, Raya menyerah untuk memilih opsi yang pertama. Mau tidak mau, ia harus membiarkan Fabian hidup. Tentu dengan memastikan bahwa anak itu menderita setiap harinya. Dengan tidak memberinya senyum, pelukan, apalagi kasih sayang.


Demi memenuhi keinginan Sera, Raya membiarkan dirinya terlihat jahat di mata putranya sendiri.


Tapi sekarang, tidak akan lagi.


Mungkin sudah sangat terlambat untuk mulai menjadi seorang ibu yang baik. Tapi Raya dengar, tidak ada salahnya untuk mencoba. Ia memang tidak akan bisa langsung merubah sikapnya kepada Fabian menjadi super duper baik. Tidak boleh begitu. Yang ada nanti Fabian malah akan berpikir sesuatu yang salah telah terjadi dengan dirinya. Kalau sudah begitu, ujung-ujungnya dia akan kembali dipaksa untuk bertemu dengan Abraham, psikiater gila yang bisa-bisanya lebih mementingkan pertemanan daripada keamanan pasiennya sendiri.


Ya, Raya tahu kalau Abraham adalah salah satu orang utusan Sera. Itu sebabnya dia selalu menolak untuk meminum obat-obatan yang diresepkan oleh lelaki itu. Raya yakin, kondisi kejiwaannya hanya akan semakin memburuk jika meminumnya, karena bukan tidak mungkin Abraham meresepkan obat yang salah.


Raya mengalihkan perhatiannya pada laci meja rias. Lama ia memandangi sudut itu, sampai kemudian tangannya bergerak pelan membuka deretan paling atas. Di sana, ada sebuah ponsel. Raya mengambul ponsel itu, kemudian menyalakannya.


Yang pertama kali terlihat di layar ponsel itu ketika berhasil dinyalakan adalah foto dirinya, tengah tersenyum sambil menggendong Fabian yang masih bayi. Senyum yang tampak di foto itu menular, memancing sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas hingga membentuk sebuah senyuman yang nyaris tidak pernah dia perlihatkan kepada Fabian.


Kemudian, Raya mulai menjelajah. Tujuannya adalah sebuah folder rahasia, tempat ia menyematkan sebuah aplikasi pesan yang hanya akan dia periksa sesekali. Sewaktu dibuka, ada satu pesan yang belum terbaca.


Raya segera membuka pesan tersebut, membacanya dengan hati-hati.


Saya masih sedang mempersiapkan kepindahan kalian ke Kanada. Tolong tahan sebentar lagi, dan tolong bersikap lebih baik pada anak saya—sekalipun kamu enggan melakukannya.


Pesan itu Raya biarkan tak terbalas. Toh, dia sudah membaca habis semuanya dan sepenuh mengerti apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Beberapa waktu lalu, Jeffrey memang menghubunginya. Lelaki itu mengatakan kepadanya tentang rencana pemindahan ia dan Fabian ke luar negeri, tanpa sepengetahuan Sera. Katanya, lelaki itu akan mengurus semuanya. Mempersiapkan tempat tinggal, tabungan dan segala kebutuhan yang akan mereka butuhkan selama tinggal di luar negeri. Untuk mengelabuhi Sera, Jeffrey bahkan berniat untuk memalsukan kematian mereka—sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Raya sebelumnya.


Adanya niat dari Jeffrey sedikit banyak membuat keyakinan Raya sedikit lebih meningkat. Karena setidaknya, dia tahu bahwa Jeffrey selaku ayah dari putranya masih memiliki sedikit kepedulian—tidak seperti istrinya yang benar-benar tidak memiliki hati nurani.


Sudah selesai memeriksa pesan dan hal-hal lain yang ada di dalam ponsel, Raya kembali mematikan ponsel tersebut dan mengembalikannya ke dalam laci. Tak lupa juga laci itu ia kunci, lalu kuncinya dia masukkan ke saku celananya dress lantas ia bawa berjalan menuju kasur.

__ADS_1


Raya langsung merebahkan dirinya, kemudian memejamkan mata. Suara detak jarum jam menjadi pengantar ia menuju gerbang mimpi, membantunya mempersiapkan diri untuk memulai kehidupan yang lebih baik bersama Fabian; putranya yang tersayang.


Bersambung


__ADS_2