Taruhan

Taruhan
Untitled


__ADS_3

Di Neosantara, apapun yang anggota geng Pain Killer lakukan pasti akan menjadi pusat perhatian. Bahkan, kalau mereka cuma sedang menjalani hari-hari seperti biasa, menghabiskan berbatang-batang rokok sembari bergosip di gazebo belakang selepas kelas, orang-orang tetap akan memusatkan perhatian.


Seperti saat ini, ketika Baskara dan kawan-kawan sedang duduk di kantin fakultas sembari menikmati sepiring batagor untuk berempat, para mahasiswa yang ada di sana tidak henti-hentinya menaruh perhatian.


Kehadiran Jeffrey bersama Baskara pagi tadi juga masih menjadi perbincangan hangat, menimbulkan berbagai macam spekulasi terkait alasan di balik kedatangan orang penting itu ke kampus setelah sekian lama. Sebagian menduga bahwa kehadiran Jeffrey mungkin berkaitan dengan perubahan peraturan yang biasanya selalu diperbarui setiap tahun ajaran baru.


"Jadi, lo kemarin pergi ke mana sama Biru?" tanya Baskara usai pemuda itu menyuapkan sepotong batagor ke dalam mulut.


Fabian yang sedang mengunyah memilih untuk menelan dulu batagor di dalam mulut, barulah dia menjawab.


"Pecel lele."


"Hah?!" itu seruan dari Reno. Pemuda mungil yang sedari tadi lebih banyak diam karena tidak terlalu berselera pada batagor di hadapan, mulai buka suara.


Seruan Reno itu terlampau keras bagi Baskara yang duduk tepat di sebelahnya, apalagi Reno berseru tepat di telinganya. "Biasa aja, please? Suara lo kenceng banget di telinga gue." Keluh Baskara sembari menjauhkan kepala dari Reno, juga mengusap telinganya yang berdengung.

__ADS_1


"Lo diem." Ketus Reno, memicing sinis ke arah Baskara sebelum akhirnya fokus menatap Fabian. "Beneran ke warung pecel lele?" tanyanya kemudian.


Fabian mengangguk sambil memasukkan satu potong batagor lagi. Biasanya, dia tidak terlalu banyak makan, tetapi karena tadi pagi dia cuma memakan sereal yang tidak seberapa, perutnya jadi sangat lapar.


"Pantesan nggak mau dibawa ke Mega, wong seleranya makanan pinggiran." Cibir Reno.


Tidak, pemuda itu tidak sedang mengejek makanan pinggir jalan, karena dia juga menyukainya. Dia mencibir dirinya sendiri, karena telah gagal membaca selera target taruhan mereka kali ini.


Kemudian, saat satu pemikiran melintas di kepala, pemikiran bahwa kegagalannya menganalisa juga tidak luput dari kesalahan Baskara yang setengah-setengah saat memberi info, Reno menoleh ke arah Baskara dan langsung melempari pemuda itu tatapan tajam.


"Ini gara-gara lo!" seru Reno. Mata kecilnya semakin melotot. Mungkin dia pikir itu menyeramkan, padahal kalau dia bisa melihat ekspresi wajahnya sendiri, dia akan tahu betapa menggemaskannya seorang Reno Irvansyah saat sedang melotot dan sok merajuk seperti itu.


"Kenapa gue?" Baskara mencicit. Hilang sudah wibawanya sebagai pemegang rekor yang paling banyak menaklukkan para gadis.


"Jelas salah lo, karena lo nggak lengkap ngasih infonya ke kita!"

__ADS_1


"Ya gue juga nggak tahu kalau ternyata Biru suka nongkrong di pecel lele!"


"Ya seharusnya lo tahu, dong! Kan, lo yang udah usulin dia buat jadi target taruhan! Gimana, sih?!"


Tahu bahwa perdebatan antara Baskara dan Reno akan berlanjut dan tidak akan ada yang mau menurunkan tensi lebih dulu, Fabian melipir ke meja sebelah sambil membawa piring yang masih terisi beberapa potong batagor. Tak lama setelahnya, Juan pun menyusulnya.


"Tadi pagi dia nggak sarapan?" tanya Fabian, usai menyuapkan sepotong batagor ke dalam mulut Juan.


"Sarapan, kok. Tuna Mayo Sandwich," Juan berhenti sebentar untuk mengunyah, kemudian kembali melanjutkan setelah menelan. "Tapi gue lupa nggak bawain air minum, jadinya dia harus nahan seret sampai kampus."


"Pantesan, galak. Udah lo sulut duluan ternyata,"


Kedua anak manusia di sebelah mereka masih berdebat, lalu yang bisa Fabian dan Juan lakukan hanyalah menghela napas. Tanpa tahu bahwa berjarak beberapa meja dari tempat mereka, ada sepasang mata yang sedang mengintai, serta telinga yang ditajamkan untuk bisa mendengar lebih banyak obrolan mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2