
Tidak banyak yang bisa Fabian lakukan di dalam kamar setelah kepulangan Dokter Abraham. Karena jujur saja, energinya terasa berkurang banyak setelah berada di satu ruangan yang sama dengan Raya untuk waktu yang cukup lama. Mungkin ini efek karena mereka telah terbiasa menjalani hidup masing-masing dan tidak saling bertegur sapa meskipun tinggal di bawah atap yang sama.
Tadi, sekitar lima belas menit yang lalu, Reno sempat menghubunginya, mengajaknya pergi ke Mega untuk menenggak beberapa gelas alkohol untuk kemudian check in dengan gadis-gadis yang sudah disiapkan oleh Juan sebelumnya. Katanya, pemuda kekar itu baru saja dapat rezeki nomplok dari sang ayah sehingga ia berencana mentraktir semua anggota Pain Killer.
Fabian menolak ajakan itu dengan alasan tidak enak badan, karena sebenarnnya perutnya memang sedikit terasa mual akibat asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya hari ini bisa dikatakan di ambang batas bawah dari yang seharusnya.
Jenuh hanya rebahan di kasur sambil scroll ponsel dan berakhir menemukan berbagai gosip murahan yang berseliweran di media sosial miliknya, Fabian pun bangkit. Ia turun dari kasur, berjalan menuju meja belajar dan langsung menyalakan komputer gaming miliknya yang sudah beberapa hari ini tidak dia sentuh.
Semua peralatan tempur, mulai dari headphone sampai mouse khusus gaming sudah dia siapkan sedemikian rupa untuk bekal menemaninya bergadang malam ini.
Suara berisik yang keluar dari headphone ketika game dimulai berhasil menelan keheningan yang semula penuh di mana-mana. Agak aneh juga sebenarnya karena sedari tadi Fabian tidak mendengar suara benda dibanting dari kamar ibunya. Tapi dia memutuskan untuk tidak peduli dan tetap melanjutkan game sambil sesekali mengumpat ketika karakter game yang ia mainkan nyaris mati tertembak musuh.
Jemari Fabian bergerak lincah di atas keyboard dan mouse secara bergantian. Seolah dia memang terlahir untuk menjadi seorang gamer profesional.
Ah, itu ide bagus. Kalau ternyata nanti dia tidak berhasil menyelesaikan kuliah karena kepalanya kadung ribut oleh masalahnya dengan sang ibu, Fabian mungkin akan mempertimbangkan untuk bergabung dengan klub gamer profesional, berlaga di kacah internasional, menjadi juara, menghasilkan uang yang banyak kemudian kabur ke luar negeri agar hidupnya bisa berjalan lebih nyaman.
Di saat bayangan indahnya kehidupan sebagai gamer profesional yang sukses nyaris memenuhi kepalanya, sebuah distraksi muncul dari ponsel yang ia geletakkan di atas meja samping komputer. Benda mungil itu menyala, meraung berkali-kali meminta diperhatikan selagi sang empunya asik dengan dunianya sendiri.
Masih sambil memainkan game—meskipun sudah tidak dengan konsentrasi penuh—Fabian melirik ponselnya. Ternyata, benda mungil itu sedari tadi caper kepadanya karena si gadis biru sedang menelepon.
Karena ini Biru, dan Fabian ingat bahwa mereka telah sepakat untuk memulai pendekatan sebelum meresmikan hubungan pacaran, Fabian segera meninggalkan aktivitas main game yang dia lakukan untuk mengangkat telepon tersebut.
"Hmm?" itu sapaan yang dia berikan untuk si gadis biru.
"Lo lagi sibuk, nggak?"
"Nggak. Kenapa?"
"Jalan, yuk?"
"Gue mager." Fabian sembari log out dari game lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Menurut ramalan cuaca juga malam ini bakalan ada badai, jadi better lain kali aja kita jalan."
"Ih! Katanya mau menang taruhan, tapi kok ogah-ogahan gitu sih gue ajakin jalan? Nggak ada effort-nya banget lo jadi manusia!"
Fabian mendengus kala mendapatkan omelan panjang lebar dari Biru. "Gue bukannya no effort ya, Biru. Tapi gue beneran lagi mager banget."
"Gue nggak peduli! Pokoknya buruan jemput gue!"
"Ng—" tuttt tuttt tuttt. Sambungan telepon ditutup secara sepihak.
Fabian menatap nanar layar ponselnya yang padam. Kemudian, ia mendengus kasar walaupun tetap bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari lalu mengambil jaket. Ia juga menyambar dompet serta kunci motor dari atas nakas, kemudian berjalan terburu-buru keluar dari kamar.
Langkah buru-buru itu terhenti di anak tangga ke-lima kala matanya menangkap keberadaan sosok Raya yang duduk sendirian di ruang tengah dengan pencahayaan yang temaram. Hanya satu lampu berwarna kekuningan yang menyala, bekerja susah payah menerangi ruang tengah yang luas. Televisi di depan Raya menyala, menampilkan acara talk show murahan yang Fabian tahu Raya jelas tidak menaruh atensi ke sana.
__ADS_1
Fabian kembali mengayunkan langkah, namun kali ini sedikit diperlambat sambil sesekali ia perhatikan Raya, kalau-kalau saja ibunya itu akan menoleh ke arahnya dan sudi bertanya dia hendak ke mana malam-malam begini.
Tentu saja itu adalah sebuah pemikiran paling konyol yang seharusnya tidak Fabian miliki. Karena bahkan sampai ia berjalan melewati wanita itu sekalipun, sama sekali tidak ada yang terucap untuk dirinya. Seolah ia hanyalah angin lalu yang tak kasat mata.
Pada akhirnya, Fabian kembali tertampar kenyataan bahwa kehadirannya memang tidak pernah diharapkan, baik oleh ayahnya yang kabur entah ke mana, ataupun ibunya yang entah kenapa masih sudi membiarkannya hidup walaupun tidak pernah memperhatikan dirinya sama sekali.
Fabian ingin menangis untuk melegakan sesak di dadanya, tetapi air matanya seolah sudah mengering dan yang bisa dia lakukan untuk mengurangi sesak itu hanyalah menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.
Akan tetapi, tanpa Fabian tahu, tepat setelah dia lenyap dari jangkauan pandang Raya, air mata wanita itu menetes dengan sendirinya. Ekspresi wajahnnya masih saja datar, namun matanya jelas terlihat sayu dan segala rasa sakit yang selama ini ia tanggung sendirian terpancar jelas dari sana.
...----------------...
Berkali-kali Fabian memencet bel di pintu apartemen Biru, namun sang empunya tempat sama sekali tidak datang untuk membukakannya.
Kesal, Fabian akhirnya menelepon Biru. Dia sudah akan marah-marah pada gadis itu begitu telepon tersambung, tetapi dia malah dibuat kebingungan saat Biru tiba-tiba menyebutkan enam digit angka yang tidak dia ketahui untuk apa.
"Apaan sih, nggak jelas banget lo."
"Itu password pintu apartemen gue, lo buka pintunya sendiri."
"Lo gila udah gila, ya? Segampang itu lo biarin gue tahu password di pintu apartemen lo?"
"Duh, nggak usah ngomel deh. Gue nggak bisa bukain pintu buat lo sekarang, nggak bisa jalan gue."
"Astaga, Fabian. Gue kepleset di kamar mandi, kaki gue keseleo! Mending lo buruan masuk deh, bantuin gue bangun!"
Seketika itu juga, Fabian mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sejenak, dia terdiam untuk merutuki mulut sialannya yang asal bicara saja, bahkan sampai mengatai Biru lumpuh di saat sebenarnya gadis itu sedang membutuhkan bantuan.
"Lo dengerin gue nggak sih?!"
"Iya, iya. Ini gue masuk!" telepon Fabian matikan, kemudian dia segera memasukkan enam digit angka yang tadi Biru sebutkan. Beruntung daya ingatnya masih cukup bagus, jadi dia tidak perlu meminta Biru mengulangi dan berakhir diomeli lagi oleh gadis itu.
Pintu terbuka, Fabian segera menerobos masuk. Dia sempat terdiam di depan pintu sewaktu mendapati ruang bagian depan apartemen Biru gelap gulita. Entah gadis itu lupa membayar tagihan listrik atau memang sedang ingin menghemat saja.
Karena ini pertama kalinya Fabian masuk ke dalam apartemen Biru dan dia malas mencari di mana letak saklar lampu, Fabian memutuksan untuk menggunakan flash dari ponselnya saja untuk membantu penerangan.
Tidak sulit untuk menemukan di mana letak kamar mandi, karena beruntungnya lampu di sana dibiarkan menyala dan cahayanya berpendar keluar melalui celah pintu yang terbuka. Dari celah itu juga lah Fabian melihat sosok Biru sedang terduduk di lantai kamar mandi.
Fabian mematikan flash di ponselnya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan bergegas menghampiri Biru yang rupanya hanya mengenakan bathrobe untuk membalut tubuhya.
"Lo abis atraksi apa gimana sih? Kok bisa sampai jatuh?" tanya Fabian sembari berjongkok di samping Biru. Dilihatnya pergelangan kaki kiri Biru yang memang membengkak dan kemerahan.
"Gue kepleset gara-gara ada sabun cair yang tumpah." Sambil menunjuk ke area dekat wastafel yang menjadi TKP terjatuhnya ia tadi.
__ADS_1
Ketika Fabian cek, memang masih ada sisa-sisa sabun cair di sana. "Ya udah, lo mau gue gotong ke kamar atau ke ruang tengah aja?" tawar Fabian. Sebelum bertindak, dia tentu harus meminta ijin dulu kepada si empunya rumah, benar?
"Kamar aja," cicit Biru.
Fabian mengangguk, lalu menggotong tubuh Biru dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia menggunakan satu tangan untuk membuka kenop sambil berusaha untuk tidak menjatuhkan tubuh Biru ke lantai karena jujur saja, Biru ternyata lumayan berat untuk ukuran tubuh yang kecil mungil imut-imut bagai boneka barbie.
Dengan hati-hati, Fabian menurunkan tubuh Biru di atas kasur. Ia berusaha keras agar bathrobe yang Biru kenakan tidak tersingkap dan bisa saja menimbulkan masalah lain.
"Di kulkas lo ada stok es batu, nggak?" tanya Fabian lagi.
"Kayaknya sih ada," Biru menjawab ragu-ragu. Karena memang sudah beberapa hari dia tidak mengecek isi kulkasnya. Lagipula, dia juga jarang mengonsumsi es.
"Ya udah, tunggu bentar."
Biru tidak menyahut dan membiarkan saja Fabian keluar dari kamarnya. Pemuda itu kemudian kembali beberapa menit setelahnya sambil membawa handuk kecil dan baskom berisi beberapa bongkahan kecil es batu.
"Kulkas lo kosong melompong, kayak udah nggak dipakai selama setahun." Meskipun bibirnya mencibir, Fabian tetap menggunakan tangannya dengan cekatan mengompres pergelangan kaki Biru.
"Gue sibuk, nggak sempat belanja. Lagian gue juga nggak bisa masak," Biru agak sedih saat harus mengakui satu kelemahannya di depan Fabian. Tapi, alih-alih tertawa mengejek, Fabian malah hanya menganggukkan kepala paham.
Beres dendan urusan mengompres kaki, Fabian kembali keluar dari kamar dengan membawa serta handuk dan baskom tadi. Ia membawa dua benda itu ke kamar mandi, mencucinya di wastafel kemudian menjemur handuk di tempat jemuran handuk yang ada di sana dan menyisihkan baskomnya di rak untuk dia kembalikan ke dapur nanti. Karena sebelum itu, dia harus membersihkan tumpahan sabun di lantai agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Seolah sudah sangat ahli dalam hal bersih-bersih, tidak butuh waktu lama bagi Fabian untuk membereskan pekerjaannya. Lantai sudah kembali bersih dan tidak licin lagi. Fabian juga menuangkan semua sabun cair yang terbuka dari kemasan ke dalam botol untuk menghindari kejadian tumpah lagi. Botol-botol itu kemudian juga ia tutup rapat dan dia simpan di dalam rak kecil di dekat wastafel supaya tidak tersenggol-senggol dan jatuh.
Setelahnya, Fabian menyambar baskom dan membawanya ke dapur untuk kemudian dia simpan kembali ke dalam rak tempat semula ia mengambil benda itu.
Selesai semua urusan, Fabian kembali ke dalam kamar Biru. Ditariknya sebuah kursi dari depan meja belajar gadis itu, dia bawa ke samping kasur dan segera dia duduki.
"Lo laper nggak?" tanyanya, sembari mengeluarkan ponsel dari saku celana. Karena ia merasa gerah juga, Fabian sekalian melepaskan jaketnya lalu menyampirkannya di bagian belakang kursi yang dia duduki.
"Laper," jawab Biru.
"Mau makan apa?"
"Gue sih pengin McD,"
Wow. Just wow. Jarang sekali ada perempuan yang langsung tahu jawabannya ketika ditanya ingin makan apa. Biasanya kan selalu menjawab terserah. Hal itu membuat Fabian sedikit terkejut, tapi juga sekaligus senang karena jawaban Biru tersebut membuat segalanya menjadi mudah. Dia jadi tidak harus repot-repot menebak gadis itu ingin makan apa.
Tanpa banyak bicara, Fabian langsung memesan beberapa menu dari McDonalds terdekat menggunakan layanan pesan antar.
"By the way," Fabian meletakkan ponselnya ke atas nakas, kemudian menatap tubuh Biru yang masih terbalut bathrobe. "Lo nggak mau pakai baju? Emang nggak dingin?" tanyanya.
Dan berkat pertanyaan itu, Fabian mendapatkan pukulan keras di kepala.
__ADS_1
Bersambung