
Selain menemani Biru nonton film horor, Fabian juga melakukan lebih banyak hal untuk gadis itu selama berhari-hari setelahnya. Rasanya seperti dia benar-benar disandera, sehingga dalam beberapa hari terakhir, ia sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk berkumpul dengan teman-temannya.
Dan kini, ketika ia dan Biru sudah resmi berpacaran, Fabian malah dihadapkan pada sebuah pemandangan aneh di mana ia menemukan kehadiran Jasmine di beberapa kesempatan. Seluruh penghuni kampus tahu Jasmine licik, dan tidak akan ada satu pun yang sudi membawa gadis itu masuk ke dalam lingkungan pertemanan mereka.
Tetapi, Pain Killer justru melakukannya.
Usut punya usut, ternyata itu adalah harga yang harus dibayar untuk mencapai kata sepakat, di mana gadis itu setuju untuk tidak mengganggu Sabiru. Fabian kesal, tentu saja. Karena menurutnya, Jasmine memang harus menjaga jarak dengan Biru, tanpa perlu meminta apapun sebagai gantinya. No. Jasmine memang seharusnya tidak mengganggu siapapun. Karena sudah banyak korban yang berjatuhan karena tindakan usil nan jahat yang gadis itu lakukan.
Sore ini, wacana untuk bermain game bersama di markas besar juga terpaksa urung karena Jasmine terus menempel kepada Baskara. Dan, apa katanya tadi? Gadis itu dengan tidak tahu diri meminta untuk ikut ke markas besar? Huh, sungguh tidak masuk akal.
Dan lebih tidak masuk akal lagi ketika Baskara mengiyakan permintaannya, bahkan tanpa meminta persetujuan darinya dan anggota Pain Killer yang lain.
"Gue nggak mau ikut kalau ada dia," bagus, Reno sudah mewakili apa yang ada di kepalanya karena sejujurnya membantah keputusan Baskara bukanlah hal yang mudah. "Itu markas tempat kita susun rencana, gimana bisa lo punya pikiran untuk bawa ular ini masuk ke sana?"
Dasarnya Jasmine itu memang tidak tahu diri, bukannya merasa tersinggung sudah dikatai ular, dia malah melingkarkan tangan di lengan Baskara, seakan ingin membuktikan kalau dia itu memang benar-benar ular yang akan membelit mangsanya tanpa ampun.
Reno terlihat semakin geram saat Baskara yang biasanya tegas, malah diam saja diperlakukan seperti itu oleh Jasmine. Dan pada akhirnya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika Baskara memutuskan bahwa agenda mereka untuk berkumpul di markas besar hari ini harus ditunda karena tidak tercapai kata sepakat.
"Lo cuma boleh ngerecokin gue, bukan teman-teman gue." Samar-samar Fabian mendengar Baskara membisikkan itu kepada Jasmine. Reno dan Juan mungkin tidak mendengarnya, karena mereka berdua kini masih sibuk menjulidi Jasmine yang kian lengket dengan Baskara.
Fabian mendengus sebal. Padahal ia sudah menanti-nanti momen di mana ia akhirnya bisa berkumpul lagi dengan teman-teman kesayangannya karena Biru memiliki kegiatan lain untuk dilakukan. Tetapi berkat si ular, angannya harus pupus begitu saja.
__ADS_1
"Gue cabut duluan." Pamit Baskara, yang sama sekali tidak disahuti oleh Reno dan Juan yang mendadak budek. Sedangkan Fabian cuma bisa mengangguk pasrah, melepas kepergian Baskara yang ditempeli oleh si gadis ular licik menyebalkan. Jelas sekali terlihat pemuda itu tidak nyaman, tetapi Fabian tahu Baskara rela mengorbankan dirinya sendiri agar ia dan teman-teman yang lain tidak ikutan dililit oleh Jasmine.
Sepeninggal Baskara dan Jasmine, kepalanya menjadi kosong. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Reno dan Juan juga sudah tidak terlihat punya minat untuk nongkrong kalau cuma bertiga. Karena jujur saja, nyawanya Pain Killer itu sebenarnya ada di Baskara. Kegiatan apapun tidak akan seru kalau pemuda itu tidak ada.
"Gue sama Juan mau ke Mega aja, lo mau ikut?" tanya Reno setelah hening yang cukup lama.
Fabian segera menggelengkan kepala karena memang sama sekali tidak berminat untuk menghabiskan waktkunya dengan menenggak minuman. Selain karena ini masih sore, ia juga sedang berusaha memenuhi permintaan konyol Biru untuk mengurangi konsumsi alkohol. Entah kenapa dia juga mau-mau saja menuruti gadis itu, padahal baru terhitung tiga hari mereka berpacaran—dan mereka bahkan akan putus setelah sebulan.
"Gue mau balik aja, main game di rumah." Kata Fabian lesu. Setelah mendapati kepala Reno dan Juan mengangguk secara bersamaan, Fabian pun ngeloyor menghampiri mobilnya dan segera berkendara meninggalkan area kampus yang mulai lengang.
...****************...
Lagi-lagi, rencana tidak berjalan sesuai ekspektasi. Alih-alih melaksanakan niat bermain game seperti yang ia sampaikan kepada Reno dan Juan, Fabian malah membiarkan dirinya tergolek tak berdaya di atas kasur selama hampir setengah jam setelah kepulangannya.
Itu ... agak lebih buruk ketimbang melihat ibunya mengamuk. Karena lebih sulit bagi Fabian untuk membaca apa yang ada di kepala wanita itu. Apakah sebuah motivasi untuk terus bertahan hidup, atau justru ide-ide gila untuk mengakhiri kehidupan di dunia yang busuk ini.
"****!" Fabian mengacak rambutnya frustrasi. Haruskah ia mulai mempertimbangkan untuk mengunjungi Dokter Abraham agar ibunya dirawat saja secara intensif di rumah sakit jiwa?
"Apa gue suruh dia banting-banting botol bir lagi aja, ya? Biar nggak sepi." Gumamnya. Tapi tiga detik setelahnya, dia menggelengkan kepala. "Ya kali, nanti yang ada malah badan gue yang dia banting ke tembok." Sambungnya disertari kekehan yang sumbang.
"Tapi gue boring, anjir. Mana si Biru juga lagi nggak available. Main game juga gue bosen." Monolog-nya.
__ADS_1
Semakin lama, pikirannya semakin penuh, ide-ide yang muncul juga semakin aneh. Bayangkan saja, ia bahkan terpikirkan untuk menggorok lehernya sendiri menggunakan pisau buah yang selalu ia simpan di dalam laci nakas. Gila, bukan?
"Kayaknya gue sih yang lebih harus dirawat di rumah sakit jiwa." Gumamnya. Sedetik kemudian tertawa, lalu kembali cemberut beberapa detik setelahnya.
Tak mau berlama-lama larut dalam pikirannya yang gila, Fabian pun bangkit. Ia kemudian beranjak menuju kamar mandi, berniat mengguyur kepalanya menggunakan air dingin agar kewarasannya segera kembali.
...****************...
Setengah jam kemudian, Fabian keluar dari kamar mandi dengan kondisi rambut yang sepenuhnya basah. Tetes-tetes air berjatuhan dari kepalanya, menyusuri lekuk leher hingga bermuara di perut kotak-kotak yang ia biarkan terekspos sebab kini hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawah.
Hair dryer menjadi benda pertama yang Fabian cari, bahkan sebelum ia berjalan ke lemari untuk mencari baju ganti. Setelah ketemu, ia menggeret kursi dari meja belajarnya ke depan pintu balkon, duduk di atasnya lalu segera menyalakan hair dryer yang sebelumnya telah ia tancapkan ke stop kontak terdekat.
Sambil memandangi warna oranye dari langit senja, Fabian menggerakkan hair dryer di atas kepalanya. Satu tangannya bergerak lincah mengacak-acak rambutnya sendiri, memastikan helaiannya tidak luput dari sentuhan hair dryer yang akan membantunya kering lebih cepat.
Belum sepenuhnya selesai, Fabian malah terbengong-bengong dengan kepalanya yang kembali dipenuhi pikiran-pikiran konyol.
Sungguh, keterdiaman ibunya selama lebih dari seminggu ini terasa janggal. Ia merasa justru akan ada badai yang lebih dahsyat, yang seolah tengah dipersiapkan dengan sedemikian rupa oleh wanita itu. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Tinggal menunggu sampai ia lengah dan semuanya berantakan.
"Sumpah. Kayaknya emang gue yang harus ketemu sama Dokter Abraham buat minta obat." Hair dryer ia matikan, tak lupa dicabut untuk menghindari kecelakaan. Lalu, ia berjalan menuju nakas, meraih ponselnya kemudian men-dial nomor Dokter Abraham.
Seperti biasa, Dokter Abraham selalu menjadi salah satu orang yang fast respons ketika ia butuh sesuatu. Hanya butuh tiga kali nada tunggu, dan lelaki itu telah menyapanya dengan suara berat yang menenangkan.
__ADS_1
"Saya mau ketemu, Dok. Bisa?"
Bersambung