Taruhan

Taruhan
Pulang


__ADS_3

Selagi Baskara pergi, suasana di rumahnya kembali menjadi suram. Sera dan Jeffrey telah duduk berhadap-hadapan di ruang tengah sejak setengah jam yang lalu, namun dua orang dewasa itu masih sama-sama enggan untuk mengeluarkan suara lebih dulu.


Kecanggungan yang tercipta di antara mereka bukan cuma disebabkan oleh Jeffrey yang jarang pulang, tetapi juga hal yang mendasari lelaki itu hingga pada akhirnya memutuskan untuk menarik diri. Menjauh dari keluarga kecil yang dulu begitu membuatnya bahagia, dan mampu dia bangga-banggakan di hadapan semua orang.


Hela napas berat lolos dari bibir Sera. Tatapannya yang semula jatuh pada meja kaca yang menjadi pembatas antara dirinya dengan Jeffrey, kini beralih menatap laki-laki yang duduk tegap di seberangnya. Dia amati wajah itu lekat-lekat. Dia susuri setiap inci dari bagian wajahnya, untuk mencari hal-hal apa saja yang telah berubah setelah perpisahan mereka yang sekian lama.


Lalu, Sera cuma bisa menemukan tidak ada satu pun yang berubah dari seorang Jeffrey. Secara kasat mata, laki-laki di hadapannya ini masih Jeffrey yang dia kenal puluhan tahun lalu, yang menyuntingnya, mengucapkan janji suci di hadapan ratusan pasang mata. Yang mencintainya setulus hati. Yang menghadirkan Baskara ke dalam hidupnya. Yang dia pikir, bisa dia cintai sampai mati.


Tetapi, bila Sera menyelam lebih jauh ke dalam manik pekat lelaki itu, dia akan tahu bahwa jauh di dalam sana, Jeffrey sudah bukan lagi miliknya. Tidak pernah terucap kata cerai dari bibir lelaki itu, tetapi dia jelas tahu, bahwa Jeffrey sudah tidak bersedia lagi memberikan hati untuk dirinya. Bahwa lelaki itu telah putar balik, dan hanya menunggu waktu sampai rumah tangga yang dia bangun selama puluhan tahun itu akan berakhir.


"Ijinkan aku ketemu dia," kalimat itu lolos dengan lancarnya dari bibir Jeffrey, seolah lelaki itu tidak tahu bahwa efeknya bisa sangat menyakitkan untuk Sera.


Tangan Sera yang ada di atas pangkuan saling bertaut, dan dengan tenang dia menjawab, "Nggak." Begitu tegas, lugas, dan sama sekali tidak terdengar bisa dibantah.


"Tolong, Sera. Sekali aja," Jeffrey memohon dengan penuh keputusasaan, namun Sera tetap kukuh pada pendiriannya.


"Nggak ada, Jeffrey. Kalau kamu pulang cuma untuk bicara omong kosong, lebih baik kamu nggak usah pulang. Aku nggak mau Baskara dengar hal-hal nggak masuk akal dari mulut kamu,"


"Cuma sekali, aku cuma mau lihat dia dan anak kami,"


"Anak kamu cuma Baskara," sela Sera. Tatapannya yang semula datar, kini mulai menajam secara perlahan ketika Jeffrey telah dengan berani menyebutkan kalimat sakral itu di depannya.

__ADS_1


"Anak kamu cuma Baskara, Jeffrey." Ulangnya, penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.


"Sera," Jeffrey melirih.


"Kalau kamu masih nekat untuk muncul di hadapan perempuan itu dan anaknya, aku akan pastikan mereka berdua lenyap dari dunia ini. Kamu jelas tahu kalau itu bukan hal yang sulit untuk aku, kan?" ancam Sera. Pikiran warasnya sudah dibuang jauh-jauh, dan dia bisa saja segera merealisasikan niat buruk yang sudah dia susun apik di kepala, jika Jeffrey tetap nekat menentang ucapannya.


"Oh, bukan cuma itu. Aku juga bisa pastikan kamu nggak akan pernah bisa ketemu lagi sama Baskara selama sisa hidup kamu." Imbuh Sera, dengan emosi yang sudah mulai merangkak naik.


"Kamu jahat, Sera." Jeffrey berkata dengan suara yang teramat pelan. Di depan perempuan itu, Jeffrey selalu merasa kecil. Satu hal yang membuatnya terkadang merasa bahwa sedari awal, mereka memang seharusnya tidak bertemu dan menikah.


"Kamu lebih jahat, Jeff!" Sera setengah berteriak. "Kamu udah nyakitin Baskara cuma demi memenuhi ego kamu untuk bisa kembali ke pelukan perempuan sialan itu!" saking tingginya amarah di dalam dada, Sera sampai mencondongkan tubuhnya ke depan, menunjuk tepat ke wajah Jeffery yang sebetulnya setengah mati dia rindukan.


"Anak aku terluka, Jeff. Jadi, sebagai seorang ibu, aku nggak akan diam aja. Bahkan kalau aku harus terbakar habis di neraka sekalipun, aku nggak keberatan, asalkan aku bisa melindungi Baskara dari manusia bajingan kayak kamu!" bahu Sera naik turun, seiring dengan napasnya yang mulai sulit untuk diatur. Emosi benar-benar sudah menguasai dirinya. Jadi, sebelum emosi itu membakar habis dirinya sekarang, Sera cepat-cepat bangkit dari duduknya.


Kemudian, Sera berlalu dari sana, meninggalkan Jeffrey dengan keputusasaan yang semakin menjadi-jadi.


...****************...


Baskara terpaku cukup lama ketika menemukan mobil ayahnya kembali terparkir di garasi. Sebab pagi tadi, ketika dia hendak pergi ke kampus, mobil itu sudah tidak ada di sana. Jadi dia pikir ayahnya sudah pergi lagi, dan mungkin tidak akan kembali untuk waktu yang cukup lama.


Puas memandangi mobil itu, Baskara berjalan masuk ke dalam rumah. Keadaan ruang tamu sudah gelap, dan itu wajar. Karena biasanya Sera cuma akan membiarkan lampu di beberapa ruangan saja yang menyala ketika malam hari.

__ADS_1


Baskara berjalan mengendap-endap, persis seperti maling yang hendak menjarah rumah incarannya. Namun, langkahnya itu seketika terhenti saat matanya menangkap sosok Jeffrey tengah duduk sendirian di ruang tengah yang remang. Cuma ada satu lampu kecil di atas meja dekat televisi yang menyala, sementara lampu utama yang bertahta megah di langit-langit ruangan tampak padam, sepenuhnya kehilangan daya.


Mulanya, Baskara berniat meneruskan langkahnya saja, berpura-pura tidak melihat kalau ayahnya ada di sana. Tetapi, suara berat nan serak milik Jeffrey yang mengudara ketika tatapan mereka akhirnya bertemu telah berhasil membuat niatnya itu seketika sirna.


"Kamu dari mana, Bas?" itu adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh Jeffrey, setelah sekian lama.


Pertanyaan sederhana itu nyatanya sudah bisa membuat perasaan Baskara menjadi tidak keruan. Dia kebingungan, antara harus merasa senang atau justru sebaliknya.


"Bas?"


"Main," jawab Baskara pada akhirnya. Dia masih saja berdiri di ambang perbatasan antara ruang tamu dengan ruang tengah, enggan bergerak barang sedikit.


"Habis minum?"


Minum atau enggak, apa urusannya sama Papa? Kalimat itu sempat terlintas di kepala Baskara, namun dia tidak punya nyali untuk mengatakannya dengan lantang. Dan sebagai gantinya, pemuda itu cuma menganggukkan kepala.


Hela napas Jeffrey mengudara, Baskara sendiri tidak tahu apa arti dari hela napas itu. Jadi dia cuma tetap diam di tempatnya, menunggu sampai ada kalimat lain yang akan keluar dari bibir lelaki itu.


"Jangan sering-sering, kasihan badan kamu." Jeffrey mengatakan itu sembari bangkit dari duduknya. Lalu, setelah melirik sekilas ke arah Baskara, lelaki itu mengayunkan langkah naik ke lantai dua.


Setelah tubuh Jeffrey menghilang di balik belokan, Baskara mengembuskan napas pelan.

__ADS_1


"Tanyain dulu kek kabar gue gimana, sehat atau nggak, waras atau nggak. Bener-bener deh gue punya bokap, nggak bener." Gumam Baskara, yang hanya didengar oleh desau angin yang berembus melalui celah air conditioner.


Bersambung


__ADS_2