Taruhan

Taruhan
Punishment


__ADS_3

Alih-alih tetap ikut dengan Reno dan Juan sampai ke tujuan, Baskara malah meminta mereka menepikan mobil dan menurunkannya di tengah perjalanan. Juan selaku sopir jelas tidak semudah itu membiarkannya lolos. Namun berkat kemampuannya mencari alasan, pemuda itu akhirnya membiarkannya pergi.


Dari tempatnya diturunkan, Baskara kemudian menaiki taksi untuk melanjutkan perjalanan. Bukan ke rumah, melainkan ke apartemen Sabiru untuk memberi gadis itu sedikit pelajaran karena telah membuatnya cemburu.


Apartemen tempat tinggal gadis itu tidak memiliki kemanan yang terlalu ketat sehingga siapapun bisa keluar-masuk dengan bebas. Agak disayangkan, karena itu artinya rentan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terlebih lagi gadis itu tinggal sendirian. Baskara sudah menyiapkan satu unit apartemen yang lebih baik, dan ia berniat membuat Sabiru pindah ke sana nanti. Setelah ia berhasil memiliki gadis itu kembali.


Dengan sabar, Baskara menunggu di dalam taksi yang parkir agar jauh dari bangunan gedung apartemen Sabiru. Ia menunggu Fabian pergi dari sana. Karena menurut alat pelacak yang tersambung dengan ponselnya, mobil Fabian masih ada di area gedung apartemen itu. Pelacak itu sengaja Baskara pasang secara diam-diam di mobil dan motor milik Fabian sejak ia tahu pemuda itu sering bepergian bersama Sabiru. Dan sejak itu juga, ia selalu membuntuti ke mana mereka berdua pergi.


Sekitar 15 menit menunggu, Baskara melihat titik merah yang muncul di layar ponselnya menunjukkan pergerakan yang artinya mobil Fabian mulai bergerak dari posisi semula. Benar saja, tak lama setelah itu, mobil pemuda itu muncul dari gerbang dan langsung melesat cepat menembus jalanan yang sepi nan lengang.


Baskara tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Ia segera mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu kemudian mengulurkannya kepada si sopir taksi yang bersedia menunggu. Kemudian, ia melesat masuk ke dalam gedung apartemen yang hanya dijaga oleh satu petugas keamanan yang sudah tua dan lebih banyak terlihat mengantuk saat berada di pos jaga.


Baskara melewati pos jaga tanpa hambatan. Seperti yang sudah ia bilang sebelumnya, keamanan di sini memang seburuk itu.


Lantai demi lantai Baskara lewati menggunakan lift sampai akhirnya ia tiba di lantai unit apartemen milik Biru. Ia berjalan santai menyusuri lorong yang sepi, sesekali menarik dan membuang napas secara teratur untuk meredakan emosi yang kembali naik ketika adegan ciuman antara Fabian dan Sabiru kembali terputar di kepalanya.


Sampai kemudian, langkah lebarnya terhenti di depan pintu unit milik Sabiru. Ia menarik napas sedalam-dalamnya, membiarkan oksigen yang ia sedot berkumpul di paru-parunya untuk waktu yang lama sebelum akhirnya mengembuskannya secara perlahan. Tangannya lalu terangkat, memencet bel dengan brutal agar si empunya segera datang membukakan pintu.


Tak berselang lama, pintu di hadapannya terbuka, menampilkan sosok Sabiru yang tampak terkejut mendapati kedatangannya yang sudah pasti tidak diduga.

__ADS_1


"Lo—"


Baskara tidak membiarkan kalimat itu berlanjut. Karena, dengan brutalnya ia menerobos masuk ke dalam unit apartemen Sabiru sambil mendorong tubuh kecil di hadapannya itu hingga membentur dinding di sisi kiri pintu. Menggunakan kaki, Baskara mendorong pintu agar kembali tertutup sehingga tidak ada kesempatan bagi Sabiru untuk kabur dari kungkungannya.


"Lepas!" Sabiru meronta, namun Baskara yang sudah terlanjur kembali dikuasai emosi malah semakin mengeratkan cengkeraman di kedua bahu gadis itu.


Sabiru masih terus meronta, disusul dengan keluarnya umpatan-umpatan kasar yang keluar dari bibir manisnya. Namun Baskara sama sekali tidak terlihat peduli. Tatapannya kini hanya tertuju pada satu titik yang terus mengusiknya sejak tadi. Yaitu bibir Sabiru. Bibir yang sudah disentuh oleh bibir lain yang bukan miliknya. Bibir yang rasa manisnya masih ia ingat sampai sekarang, bahkan ketika hubungan mereka telah berakhir dengan cara yang tidak menyenangkan. Semakin banyak bibir itu bergerak mengeluarkan kalimat cacian, semakin besar pula keinginan Baskara untuk meraupnya, membuat si empunya bungkam dan tak lagi punya pilihan selain menggaungkan hanya namanya saja.


Maka untuk merealisasikan rencananya, Baskara mendekatkan wajahnya dengan gerakan yang tiba-tiba, membuat kalimat yang hendak keluar lagi dari bibir Sabiru praktis terhenti dan si empunya mengatupkan bibir rapat-rapat seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.


Detik ketika bibir tebalnya akhirnya bisa menyentuh bibir milik Sabiru lagi, Baskara merasakan ada sesuatu yang meledak-ledak di dalam dadanya. Bahkan hanya menempel, tapi efek yang timbul di dalam dirinya sudah terasa begitu dahsyatnya. Lalu bagaimana jika ia melakukan yang lebih?


Baskara menjauhkan wajahnya sebentar, hanya untuk memeriksa bagaimana ekspresi yang muncul di wajah gadisnya itu.


"I want you so bad," bisiknya tepat di depan wajah Sabiru. Tanpa menunggu respons dari sang gadis, Baskara kembali memajukan wajahnya. Bibir-bibir mereka kembali bertemu, dan kali ini ia melakukan lebih dari sekadar hanya menempelkan bibirnya saja.


Bibir tebalnya mulai bergerak menciptakan sesapan-sesapan kecil di bibir tipis Sabiru. Ia terus bergerak, walau tak satupun dari sekian banyak gerakan yang ia buat mendapatkan balasan dari gadis itu. Tak masalah. Toh memang tak ada niat lain yang kini ada di dalam kepala Baskara selain untuk menghilangkan jejak-jejak bibir Fabian yang tertinggal di bibir Sabiru. Kalau bukan karena itu, ia tidak akan pernah mencium gadis ini tanpa persetujuan lebih dahulu. Tidak. Ia tidak sebrengsek itu.


Tapi, tak peduli seberapa banyak sesapan yang ia buat, Baskara merasa jejak bibir Fabian masih tertinggal begitu jelas di bibir Sabiru. Membuatnya mengerang frustrasi sambil terus merutuki dirinya sendiri yang telah membawa gadisnya masuk ke dalam situasi seperti ini.

__ADS_1


Kenapa? Kenapa dia harus begitu pengecut, hingga akhirnya harus menyaksikan gadisnya disentuh oleh pria lain, bahkan di depan matanya sendiri?


Pikiran Baskara semakin tak terkendali. Keinginannya untuk menghilangkan jejak bibir Fabian telah tanpa sadar membuatnya menggigit bibir bawah Sabiru hingga membuat gadis itu tersentak.


Tapi untungnya, karena hal itu, kesadarannya pun kembali.


Baskara cepat-cepat menjauhkan dirinya dari Sabiru. Cengkeraman di kedua lengan gadis itu pun melonggar hingga akhirnya benar-benar lepas ketika ia bergerak mundur dengan raut wajah khawatir kala menemukan wajah Sabiru sudah basah oleh air mata.


Sabiru menangis. Gadis kesayangannya menangis. Dan itu semua karena ulahnya.


"Blue, I'm so sorry. I'm just—" Baskara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya ketika tubuh Sabiru tiba-tiba luruh ke atas lantai. Panik, ia pun berjongkok di hadapan sang gadis. Namun ia tidak berani menyentuh gadis itu lagi, jadi yang bisa ia lakukan hanya menatap khawatir.


Di sisi lain, ketika Baskara mengira bahwa Sabiru menangis karena perbuatannya yang tiba-tiba dan terkesan seperti lelaki brengsek yang hendak melecehkan perempuan, Sabiru sebenarnya menangisi dirinya sendiri. Ia menangis, karena tidak peduli seberapa besar dendam yang ia pupuk di dalam dirinya, ia tetap berakhir tidak bisa melakukan apa-apa jika ditinggalkan hanya berdua dengan Baskara.


Sama seperti ketika ia tidak bisa meloloskan diri dari Baskara sore tadi, malam ini pun ia tidak bisa melepaskan dirinya dari kungkungan Baskara meskipun secara sadar ia bisa melakukannya. Tinggal tendang pusat tubuh pemuda itu, maka ia akan lolos. Namun ia tidak bisa melakukannya. Kenapa? Kenapa ia masih selalu lemah di hadapan pemuda ia benci ini?


"Gue benci sama lo, Bas." Lirihnya, di tengah-tengah isakan yang semakin menjadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2