
Pagi ini Kalea sudah membayangkan hari yang cerah dan indah tanpa adanya polusi, namun nyatanya salah sejak dari bangun tidur tadi sikap Darell sudah benar-benar bikin kesal.
Bayangkan saja, Darell bangun pagi minta Kiss morning. Sejak kapan ada istilah ciuman selamat pagi dalam kamus Kalea, dan tidak sampai disitu Darell meminta Kalea untuk menggosok punggungnya saat mandi. Bayangkan segugup apa Kalea saat matanya menatap punggung telanjang Darell, ingat ya Kalea ini masih perawan…
Tidak samapai disitu saja Darell juga meminta Kalea untuk memakaikan baju beserta yang lannya dan juga menyuapinya makan, hari ini Darell cosplay jadi anak bayi.
“Mau kemana?” tanya Darell.
Saat ini Kalea dan Darell sudah berada di parkiran apartemen mereka, dan bersiap untuk berangkat kekantor.
“Mau ngantor kak.” Jawab Kalea kesal, hari sudah semakin siang tetapi suaminya ini malah terus mengangunya.
“Naik kemobil, kita berangkat bersama.” Printah Darell.
Kali ini Kalea tidak mau menurut, gadis itu mengenakan helem nya lalu kemudian mensetater motor sportnya dan kemudian melajukan motornya.
“Aku duluan!!” teriak Kalea dengan senyum penuh kemenangan karena melihat wajah Darell yang sudah merah padam.
Brumm…
Brumm…
“Awas kau gadis nakal.” Gerutu Darell.
Darell melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar istri kecilnya itu, namun sayang Kalea sudah melesat jauh dan menghilang dari pandangan Darell.
“Kenapa dia sangat cepat sekali, apa dia bekas pembalap.” Gerutu Darell.
“Besok akan ku bakar motor sialan itu.” Kesalnya lagi.
*****
“Tumben elu telat?” tanya Zoe.
“Biasalah majikan bikin rusuh.” Jawab Kalea dengan wajah kesalnya.
“Memang dia kenapa, sampai bikin wajah cantik Kalea ini kusut pagi-pagi.”
“Ckk, tau ahh… malas ngebahas nya nanti aku tambah enggak mood.”
Baru saja Kalea duduk tenang di kursinya, telvon di meja kerjanya sudah berdering.
“Halo…”
“…..”
Tut tut tuttt…
Brak!!!
Kalea membanting keras aganggang telvon tersebut sampai membuat Zoe kaget.
“Kenapa?” tanay Zoe.
“Ahhh, kesel tau enggak sih!!” Kalea menghentakkan kakinya persis seorang anak yang marah kepada ibu nya karena tidak dibelikan mainan.
“Kalea kamu sehat kan?”
“Enggak! Gue lagi sakit…” jawabnya yang kemudian pergi dengan membawa semua pekerjaannya.
“Dihh, kenapa dah tuh bocah.” Zoe mengelengkan kepalanya heran melihat tingkah laku sahabatnya itu.
Baru saja Darell menelvon dan menyuruhnya untuk bekerja di ruangannya tanpa bantahan.
“Dasar Boss gila.” Gerutunya.
Kalea mengatur nafasnya agar bisa sedikit meredakan rasa kesalnya, “Tarik nafas, hembuskan.” Mengayunkan tangan nya keatas dan kebawah seirama dengan tarikan dan hembusan nafasnya. “Tarik nafas, henbuskan.” Lalu kemudian dia mengetuk pintu ruangan Darell dan kemudian masuk dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
“Selamat pagi pak…” sapa Kalea ramah.
“Pagi, silahkan kerjakan pekerjaan mu disofa itu.” Darell menunjuk kearah sofa yang biasa di pergunakan untuk tempat duduk tamu.
__ADS_1
Dengan perasaan kesal Kalea berjalan gontai menuju sofa itu, hatinya tak henti-hentinya mengumpat sang suami.
“Darel sialan.” Batin Kalea.
Sedang Darell hanya tersenyum puas melihat istrinya yang nakal itu hanya bisa pasrah menuruti kemauannya.
“Kalea…”
“Iya Pak, ada apa?” tanyanya tanpa curiga, namun setelah dia melihat senyum smirk di bibir suaminya dia menjadi teramat curiga.
“Kali ini apa, ya Tuhan. Apa dosa hamba.” Gumam Kalea.
“Sepertinya pundak dan lengan ku pegal, tolong pijit sebentar.”
Ucapan Darell sukses membuat Kalea melotot, kini tangan nya meremas map yang dia pegang tadi sapai tak berbentuk.
“Hahaha, pegal ya pak. Tetapi saya bukan tukang pijat.” Jawab Kalea dengan sedikit kekehan, Kalea menanggapi itu hanya candaan.
“Ohh iya, tapi apa kamu lupa. Kamukan istri saya dosa loh mebantah perintah suami.” Darell menekan kata Dosa dan Suami, agar Kalea paham.
“Ahh sial, sejak kapan dia berbicara dosa tentang hubungan suami istri. Bahkan seharusnya dia lebih pantas masuk neraka karena berselingkuh.” Batin Kalea.
Kalea berjalan mendekat dan kemudian memulai aksi memijit lengan sampa pundak suaminya.
“Enak juga pijitan mu.” Puji Darell.
“Iya sudah pak nikmati saja pijitan saya.” Balas Kalea dengan wajah kesal.
Setengah jam Kalea berdiri di belakang kursi kebesaran Darell dengan tangan yang masih setia memijit bagian lengan dan pundaknya.
“Pak sudah belum, saya masih banyak kerjaan loh.” Keluh Kalea.
Selain kerjaannya yang menumpuk dia juga merasa tangannya terasa pegel, bagaiman tidak pegal jika yang di pijat saja isinya otot semua.
Darell ini memiliki tubuh yang ideal dengan otot-oto yang dia bentuk melalu alat-alat di GYM jadi sudah pasti semuanya kekar dan keras.
“Kalau begitu kamu tidak usah bekerja, mijitin suami saja.” Jawab enteng Darell.
“Jangan sembarangan bicara Pak, saya ini magang disini saya butuh nila untuk bisa ikut wisuda.”
“Enggak bisa gitu pak, masa bapak mau kasih nilai saya dari hasil pijitan. Saya ini kuliah jurusan bisnis pak bukan jurusan pijit memijit.” Kalea mengeraskan cengkeramannya pada pundak Darell hingga Darell megaduh kesakitan.
“Coba bilang lagi gitu, hemmm.” Semakin Darell mengaduh semakin kencang cengkraman Darell.
“Aduhh sakit Kalea.” Darell menyingkirkan tangan Kalea dari pundaknya.
“Kamu mau saya mati ya? Mau jadi janda muda kaya raya?” Tanya Darell kesal, bisa-bisanya istrinya ini menganiaya dirinya.
“Iya, biar aku menikah sama yang lebih ganteng dan kaya raya.” Jawan Kalea dengan lirikan tajam.
Grebb…
Bukannya membalas ucapan Kalea, Darell malah memeluk tubuh Kalea dengan kencnag.
“Enggak!! Kamu enggak boleh nikah sama yang lain, kamu itu punya aku.” Ucap Darell.
“Ehhh…” Kalea terkejut dengan kelakuan Darell.
Darell mengendurkan pelukanya kemudian memandang lekat kearah Kalea, “Kenapa aku setakut ini kehilangan kamu.” Batin Darell.
“Kalea, aku tau pernikahan ini karena perjodohan tetapi aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup jadi berikan aku kesempatan untuk menerima dan membuaka hati untuk mu.” Darell mendekatkan wajahnya kerah wajah Kalea.
Namun belum sempat bibir mereka bertabrakan, pintu ruangan Darell sudah di buka paksa oleh seseorang.
“Sayang!!!”
Kalea dan Darell menatap kearah seseorang yang berani mengganggu momen romantic mereka.
“Sisilia…” guman Kalea dan Darell bersamaan.
Sisilia melihat posisi Darell yang sedang menangkup wajah Kalea, mereka sepertiakan ciuman.
__ADS_1
Plak…
Karena Kaget Kalea spontan mumukul bibir Darell dengan sangat kerasa sampai membuat bibir Darell memerah.
“Maaf Pak…” Ucap Kalea panik.
“Kamu apa-apaan si.” Kesal Darell. Darell mnegusap bibirnya yang di pukul Kalea.
“Apa yang akan kalian lakukan?!” teriak Sisilia.
Sisilia menghampiri Darell dan juga Kalea, wanita itu menatap tajam kearah Kalea.
“Kamu wanita murahan.” Sisilia mendorong tubuh Kalea sampai terhuyung kebelakang, mungkin Kalea akan terjungkal jika Darell tidak menahan pinggang Kalea.
“Kamu apa-apan si? Kenapa kamu dorong Kalea.” Darell menatap tajam kearah Sisilia.
“Dia mau goda kamu Darell, dia wanita murahan!! Wanita gampangan!!” teriak Sisilia.
Sepertinya Sesilia kehilangan otaknya, bagaiman bisa Kalea yang memang istri sahnya Darell di katai wanita murahan karena akan berciuman dengan suaminya sendiri.
“Pergi kamu dari sini! Dasar ******!” bentak Sisilia.
Kalea yang di bentakpun hanya diam, takut? tentu tidak justru dia akan semakin membuat ulat bulu perusak rumah tangga nya ini semakin kepanasan dan terbakar cemburu.
“Kenapa harus aku yang keluar?” Tanya Kalea dengan nada mengintimidasi.
“Kamu wanita yang suka menggoda lelaki orang tak pantas ada disini.” Ucap Sisilia dengan tatapan sinis.
“Hahaha, duhh lawak sekali anda. Saya istri sahnya Kak Darell dan kamu hanya wanita yang tak lebih dari seorang penggoda lelaki orang. Jadi siapa yang murahan disini.” Ucap Kalea dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.
“Kamu memang istrinya tetapi aku adalah wanita yang di cintai suami kamu.”
Sungguh Sisilia ini adalah wanita yang tak tau diri dan tak tahu malu sekali, dengan bangganya dia mengatakan bahwa Darell yang setatusnya suami sah Kalea mencintai dirinya yang hanya sebatas kekasih.
“Yakin Kak Darell cinta sama kamu? yakin kamu wanita yang masih dicintai Kak Darell?” Tanya Kalea menantang.
Semakin dia ditantang semakin berani dia melawan, apalagi saingannya hanya ulat bulu macam Sisilia.
Sementara Darell hanya diam memperhatika reaksi Kalea, dia hanya akan menjadi penonton ingin tahu sebarapa berani istrinya ini melawan Sisilia.
“Aku yakin dia mencintai aku, aku pernah mencium bibirnya dan aku pernah memeluk tubuh suami mu. Aku rasa Darell tak pernah mau melakukan itu pada mu karena dia tidak mencintai kamu.” Ucap Sisilia
“Ohh benarkah…” Jawab Kalea menantang.
Kalea merapatkan tubunya mendekat kearah Darell kemudian dengan cepat menarik dasi milik Darell, kemudian mengecup bibir Darell. Niatnya hanya sebentar dan hanya menempel namun Darell justru menarik tengkuh milik Kalea dan memper dalam ciuman mereka.
Tak cukup sampai disitu setelah selesai dengan aksi ciuman bibir perdananya, Kalea justru memeluk erat tubuh Darell kemudian memandang sinis kearah Sisilia yang sudah terbakar emosi dan cemburu.
“Aku sudah menghapus jejak ciuman dan pelukan wanita murahan seperti mu dari tubuh suami ku.” Ucap Kalea.
“Kamu cukup liar sayang.” Bisik Darell.
Kalea yang mendengar bisikan Darell mendadak menjadi gugup, kemudian melepas pelukannya. Tetapi Darell benar-benar tak melepaskan pelukan sang istri, Darell mempertahankan posisi Kalea yang memeliknya dengan erat.
“Sisilia maafkan aku, tetapi aku sudah menikah. Jadi mungkin hubungan kita tidak bisa berlanjut.” Ucap Darell.
“Apa!!!” Sisilia syokk wajahnya memucat mendengar perkataan Darell.
“Kamu bercandakan? Sayang jangan aku sudah berjuang buat kamu, aku juga rela kamu tinggal menikah.” Sisilia memelas dan menangis agar Darell luluh.
“Berjuang? Kemana kamu selama aku dalam masa sulit? Kemana kamu saat aku menyiapkan kejutan dan akan melamar kamu dan satu lagi kenapa kamu selalu menolak lamaran ku?” Tanya Darell.
Sisilia bungkam, membisu tak bisa menjawab pertanyaan Darel sama sekali. Bodoh dia memang bodoh tak bisa mempertahankan Darell.
“Pergi dari sini dan jangan pernah temui aku lagi!!” bentak Darell.
“Darell, please dengerin penjelasan ku dulu.” Sisilia mengenggam tangan Darel, namun dengan santai nya Kalea melepas genggaman itu.
“Lepasakan tangan suami ku.” Ucapnya.
“Ini semua gara-gara kamu, aku akan membuat perhitungan dengan mu.” Ancam Sisilia.
__ADS_1
“Silahkan!” sentak Kalea.
Dengan rasa malu dan juga kesal Sisilia pergi meninggalkan ruangan Darell, Tak pernah dia berfikir jika Darell akan lebih memilih Kalea dari pada dirinya.