
Pagi ini Zoe sangat mengutuk hari seninnya, baru sampai di kantornya dia sudah di suguhi dengan pemandangan yang sangat tidak mengenakan.
Papanya datang mengunjunginya langsung kekantor tempatnya magang, tak masalah andai saja Papanya tidak membuat keributan.
Papanya datang dengan bermaksut membawa paksa Zoe untuk dinikahkan dengan Rico, rupanya Papa Zoe sudah mendapat ancama jeruji besi karena hutang yang menumpuk yang takbisa dilunasi.
“Paa, aku tidak mau menikah dengan Rico!” Zoe sedikit membentak tak perduli kini dirinya menjadi pusat perhatian karyawan yang melintas didekatnya.
“Zoe, bantu Papa sekali ini saja. kamu tega lihat Papa masuk penjara dan apa kamu tega adik kamu berhenti kuliah.” Ucap Papa Zoe, tak sadarkah kau wahai orangtua kali ini berbicara soal perasaan tega dan tidak tega. Lantas apakah setega ini seorang papa yang sudah mengusir anaknya bahkan tidak memberinya biaya hidup sepeserpun, datang meminta untuk Zoe menikah dengan pria hanya sebagai alat pelunasan hutang.
Zoe tersenyum miris, Papanya memohon kepadanya agar dirinya bisa menyelamakan keluarga bahagianya tanpa memikirkan masa depan dan perasaanya.
“Enam tahun lalu dengan teganya Papa mengusir Zoe dari rumah Mama, dan sekarang Papa datang meminta Zoe menyelamatkan keluarga bahagia Papa. Paa, aku manusia yang tidak memiliki hati setegar Mama. Aku tidak mau menuruti atau membantu Papa jadi aku harap Papa tidak lagi menemui Zoe.” Zoe meninggalkan Papanya begitu saja.
“Maafkan Papa Zoe, Papa memang bukan orangtua yang baik.” Ucap Papa Zoe.
Didalam ruangan Zoe menangis meratapi nasip nya yang sangat buruk, meski Papanya jahat tetapi hati kecilnya masih menyayangi Papanya. Walau bagaimanapun dulu papanya itu pernah menjadi sosok Papa yang baik baginya.
“Mama, Zoe harus bagaiman?” Gumam nya.
Zoe mengambil foto Mamanya yang selalu dia bawa kemana-mana, foto itu di gunakan Zoe sebagai penguat dikala hidupnya terasa berat.
“Zoe tidak mau menikah dengan Rico, dia pria yang tidak baik Maa.” Zoe mengadu kepada selembara foto Mama.
“Kenpa kamu menangis?” Tanya Daren, entah kapan lelaki itu masuk keruangan Zoe.
“Astaga! Kenapa Bapak ngagetin si…” Zoe terkejut saat tiba-tiba Daren sudah ada di ruangannya.
“Kenapa menangis?” Tanya Daren lagi.
Zoe meletakkan kembali foto Mamanya kedalam tas yang dia bawa, kemudian mengusap kedua matanya yang sembab akibat menangis.
__ADS_1
“Sa-saya tidak apa-apa Pak, hanya rindu Mama.” Jawab Zoe penuh kebohongan.
“Emm, jangan menangis lagi. Aku tidak suka jika kekasih ku menangis.” Daren mendekati Zoe kemudian mengusap pipi Zoe, sementara Zoe hanya diam membatu mendapat perlakuan manis dari Daren.
*****
“Raka, coba kamu selidiki keluarga Zoe dan pria yang bernama Rico.” Daren memberi perintah kepada bawahanya.
“Siap Tuan…” Raka undur diri dan kemudian meninggalkan ruangan Daren.
Daren mendengar semua percakapan Zoe dan Papanya saat berada di loby perusahaannya tadi, “bukanya dia mengakui ku sebagai kekasih nya kenapa dia mau menikah dengan oranglain, cukup aku ditikung kakak ku tidak untuk kali ini.” Gumam Daren.
Sementara itu diperusahaan Bram dirinya sedang kedatangan tamu yang tidak diinginkannya, Rico datang menagih janji Bram. Apalagi jika bukan pernikahannya dengan Zoe.
“Tuan Bram, saya sudah tidak bisa menunggu lama lagi. Jika anda tidak membawa anak kesayangan anda itu maka dengan terpaksa saya akan memenjarakan anda.” Rico mengancam Bram.
“Bawa saya, tangkap saya dan bawa saya kekantor polisi. Saya tidak mau menyerahkan anak perempuan saya kepada lelaki seperti kamu.” Bram sadar dia tidak bisa mengorbankan Zoe lagi.
“Ohh, jadi anda mau mendekam di penjara. Baiklah saya akan membawa anda kekantor polisi.” Rico memerintahkan bawahannya untuk membawa Bram dan menyerahkannya kekantor polisi.
Brakk!!
“Tunggu jangan bawa suami saya!!” Sinta mendobrak pintu ruangan suaminya setelah dia mendengar dari penjaga jiga Rico datang ingin menagih hutang.
“Sinta!!” Bram menghentikan istrinya agar tidak bicara yang macam-macam.
“Mas, kamu tidak bisa menyerahkan diri mu begini saja. Anak sialan itu harus mau menikah dengan Rico.” Sinta menatap tajam suaminya.
“Cukup Sinta, aku tidak mau dia tambah membenci ku. Biarlah aku yang menanggung semua ini, ini juga salah ku.” Ucap Bram.
“Kalian suami istri yang merepotkan, aku tidak mau mendengar drama rumah tangga kalian.” Ucap Rico.
__ADS_1
“Cepat bawa dia dan sita perusahaan ini!!” Rico memerintahkan anak buah nya untuk menyegel perusahaan ini karena secara tidak langsung perusahaan ini telah menjadi milik Rico.
“Tidak!! Tungu Tuan Rico, saya ingin bicara sebentar dengan suami saya.” Ucap Sinta, wanita itu menghentikan langkah Rico yang akan meninggalkan perusahaan suaminya.
“Lima menit…” Ucap Rico.
Sinta menarik suaminya ke sudut ruang kerja suaminya, “Mas, kamu enggak bisa nyerah gini aja. Kamu tega lihat aku dan anak kita jadi gembel.” Sita mencoba membujuk suaminya.
“Aku harus bagaiman Sinta?” Bram menatap tajam wanita yang bersetatus sebagai istrinya itu.
“Bujuk Zoe agar anak mu itu mau menikah dengan Rico, sekali ini saja Mas. Aku janji akan menyayangi Zoe seperti anak ku sendiri.” Ucap Sinta penuh dusta, mana mungkin dia mau menyayangi Zoe selama ini dia sangat membenci Zoe karena wajah Zoe sangat mirip Mamanya.
“Aku enggak bisa mengorbankan dia, ini salah ku dan seharusnya aku yang membereskan semua ini.” Ucap Bram. Memang ini adalah kesalahannya jika saja dia bisa menjadi sumai dan ayah yang baik mungkin dia bisa membimbing istri dan anaknya menjadi wanita yang tidak boros, Bram selama ini hanya menuruti kemauan istri dan anaknya.
“Oke, kalau kamu mau menyerahkan diri ke kantor polisi maka akan aku pastikan besok kamu menerima berita kematian ku dan juga anak mu…” Sinta mengancam Bram.
Bram bingung harus bagaimana dia tau istrinya waita macam apa, Sinta tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.
“Apakah kalian sudah selesai berdiskusinya?” Tanya Rico dengan wajah bosannya.
“Tuan Rico, saya akan membujuk Zoe untuk mau menikah dengan Anda.” Bram terpaksa mengorbankan Zoe karena ancaman dari Sinta.
“Dua hari, aku beri waktu kalian dua hari. Jika kalian gagal maka bersiaplah menjadi gelandangan.” Ancam Rico.
Rico pergi dari ruang kerja milik Bram, sementara Sinta tertawa puas dalam hatinya dirinya berhasil menghasut suaminya untuk mau membujuk Zoe.
“Aku tak sudi menjadi miskin, biarkan saja anak sialan itu yang menjadi tambang emas ku.” Batin Sinta.
Sementara Bram hanya terduduk di kursinya dengan tangan yang memijijat pelipisnya, “Maafkan Papa, Zoe. Papa terpaksa melakukan ini.” Batin Bram.
Sinta mendekati suaminya, “Aku akan membantu mu Mas.” Bisik Sinta, entah apa kali ini rencananya.
__ADS_1