Tergoda Pesona Om Duda

Tergoda Pesona Om Duda
Zade dan Zidney [Sewa hotel]


__ADS_3

"Meta..."Ucap Zane.


Meta berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Zane dan Zidney.


"Apa kabar Zane?"Tanya Meta.


Zane menatap tak suka pada Meta,"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja."Ucap Zane.


Zane sangat malas melihat wajah Meta,"Sayang ayo aku antar kekamar mu."Ucap Zane pada Zidney, mereka berdua akhirnya berlalu meninggalkan Meta yang mereka yakini tengah kesal.


"Awass,, saja kalian!"Batin Meta.


Sesampainya di kamar Zidney, Zane menutup pintu dan kemudia menatap Zidney. Tatapan penuh pertanyaa.


"Iya Zi akan cerita kenapa Meta ada di rumah Zi."Ucap Zidney yang tau akan arti tatapan Zane.


"Ceritakan lah."Ucap Zane, laki-laki itu duduk di sofa yang ada di sudut kamar Zidney.


"Jadi Ayah pernah punya istri sebelum Bunda, lalu mereka punya anak perempuan."Ucap Zidney.


"Lalu meta datang dan mengaku bahwa dia anak Ayah mu dari istri lain?"Ucap Zane.


"Iya, tadinya aku dan Luna protes dengan keputuaan Bunda yang percaya dan mengizinkan Meta tinggal di Mansion. Tapi Bunda bilang itu sudah keputusan Bunda."Ucap Zidney.


Zane menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan apa yang di lakukan Meta.


"Kamu harus hati-hati, aku yakin Meta punya rencana lain."Ucap Zane.


"Tapi bagaiman mungkin Meta tau jika Ayah mu punya anak selain kamu, bukan kah dia punya orang tua dan Luna kan anak angkat di keluarga mereka."Ucap Zane.


Zidney menatap kearah Zane tatapan penuh keterkejutan,"Jangan-jangan Luna anak Ayah."Ucap Zidney.


"Cerdas sayang..."Ucap Zane.


Zidney ingin menemui Luna karena ingin menanyakan tentang apa yang ada di otaknya.


Namun Zane mencegah pergerakan Zidney.


"Kenapa Zane?"Tanya Zidney.


"Apa kamu akan melihat Luna dan Killian bermesraan, aku yakin mereka tengah berduaan di kamar."Ucap Zane, dia tidak mau jika pacarnya itu menerobos masuk ke kamar Luna dan melihat apa yang tengah mereka lakukan.


"Ahhh, iya Zi lupa jika ada Killian di rumah."Gumam Zidney.


Zane akhirnya menuntun Zidney untuk duduk kembali, sementata Zane merebahkan tubuhnya ke ranjang tepat tidur Zidney.


Zidney menatap wajah tampan Zane yang tengah tertidur,"Pasti sangat nyaman jika tidur di pelukan Zane."Ucap Zidney.


Zidney ingin berdiri dari duduknya tapi Zane menarik tangan Zidney samapi tubuh gadis itu jatuh keatas tubuh Zane.


Zane membenarkan posisi tidurnya sehingga Zidney bisa nyaman di pelukannya.

__ADS_1


"Tidurlah..."Gumam Zane.


Zidney hanya diam dan menikmati perlakuan manis yang di berikan Zane kepadanya.


"Rambut mu wangi sekali."Ucap Zane.


"Zi selalu pakai shampoo."Ucap Zidney.


Mereka menghabiskan waktu berdua mereka dengan hanya tidur dan saling berpelukan


Sementara itu Meta tengah mengamati keadaan Mansion, Mansion keluarga Zidney yang sepi.


"Sepertinya aman..."Ucap Meta.


Meta memasuki kamar milik orangtua Zidney, entah ap yang dia lakukan di dalam hanya dia yang tau.


Malam semakin larut Killian dan Zane sudah pulang, namun saat semua tengah berada di kamar masing-masing tiba-tiba Tania berteriak dari depan kamarnya.


"Ayah!!"Teriak Tania.


Semua orang yang ada di Mansion tak terkecuali Mita langsung keluar dari kamar dan menghampiri Tania.


"Ada apa Bunda?"Tanya Zidney.


Tania mengamati satu persatu wajah anak-anaka nya.


"Siapa yang ada di rumah seharian ini?"Tanya Tania.


Tania menunggu suaminya untuk turun, karena suaminya tengah mengangkat telvon dari rekan bisnisnya.


"Ada apa Bunda, jangan buat Zi cemas."Ucap Zidney.


Rehan mendekati istrinya yang terlihat marah."Sayang ada apa?"Tanya Rehan.


"Semua perhiasan yang Ayah belikan untuk Bunda hilang Yah."Ucap Tania.


Semua yang mendengar ucapan Tania merasa terkejut, apa iya di Mansion mereka yang ketat ini ada maling.


"Bunda mungkin lupa menaruhnya."Ucap Zidney.


"Tidak sayang, tadi pagi Bunda membereskan semuanya dan Bunda letakkan semua nya di tempat semula. Di luat brankas"Ucap Tania.


"Kenapa ada yang tidak beres, Bunda tidak mungkin meletakkan perhiasa di luar brangmas."Batin Zidney. Zidney tau kebiasan Bundanya.


"Kenapa Bunda tidak menggeledah saja kamar yang ada di sini."Ucap Meta dengan melirik sinis ke arah Luna.


"Maksud Meta apa, Meta menuduh Zi dan Luna yang mencuri."Ucap Zidney.


"Jika tidak ada maling di antara kita, tidak masalah bukan jika Bunda Tania memeriksa kamar kalian."Ucap sinis Meta.


"Itu sama saja Meta menuduh kami mencuri!"Bentak Zidney tidak terima.

__ADS_1


"Sudahlah, Meta benar jika tidak ada pencuri maka tidak masalah jika memeriksa kamar kalian."Ucap Tania.


"Tapi Bunda..."Ucapan Zidney tergantung karena Luna memberi kode agar Zidney diam dan patuh.


Akhirnya Tania dan Rehan memeriksa kamar anak-anak nya.


Beberapa saat kemudian Tania dan Rehan datang dengan membawa sekotak perhiasan yang hilang.


"Bunda..."Ucap Zidney dan Luna, saat Tania menunjukan apa yang dia temukan.


"Dimana Bunda menemukan itu?"Tanya Meta.


"Bunda menemukan ini di kamar Luna."Ucap Tania dengan nada yang lemas, Tania tidak percaya bahwa Luna lah pelakunya.


"Tidak Bunda, Luna tidak mungkin melakukan itu."Ucap Zidney.


Zidney menatap kearah Luna, tapi Luna hanya diam saja tak membela."Luna katakan sesuatu, kamu bukan pelakunya kan?"Tanya Zidney.


"Maafkan aku..."Ucap Luna dengan nada sendu.


Tania dan Rehan sudah memutuskan jika Luna tidak bisa tinggal lagi di Mansion mereka.


"Bunda jangan usir Luna."Ucap Zidney, gadis itu sungguh tidak percaya jika Luna yang mencuri.


"Tidak sayang, Luna harus pergi dari rumah ini."Ucap Tania.


Tania memberi amplop berisi uang untuk menunjang kehidupan Luna.


"Maaf Bunda, Luna tidak butuh uang ini."Ucap Luna, Luna membawa barang-barangnya yang di belikan oleh Killian.


"Luna jangan pergi..."Tangis Zidney.


Luna hanya tersenyum memandang wajah orang-orang yang sudah dia anggap keluarganya, kenyataan jika mereka adalah keluarganya.


Sementara itu Meta tersenyum licik melihat batu sandungan nya telah diusir dari Mansion Zidney.


"Ahhh, hidup ku semengerikan ini. Tuhan apa salah ku, apa aku tidak pantas punya keluarga."Ucap Luna.


Luna berjalan menyusuri jalan dengan koper kecil di tangan kanan nya.


"Aku harus kemana?"Gumam Luna.


Gadis itu sudah sangat lelah berjalan menyusuri jalan, Luna mampir di sebuah Cafe kecil untuk membeli minum dan dia baru ingat jika Killian memberinya Black card.


"Apa aku sewa hotel saja, lagi pula Killian kan bilang pakai saja jika keaadan ku tengah sulit."Ucap Luna.


"Tuhan maafkan Luna, hidup Luna tidak jadi susah terimakasih sudah memberikan Luna pacar yang kaya."Ucap Luna senang.


Luna memutuskan untuk menyewa kamar hotel di jam 11 malam.


Sementara itu...

__ADS_1


"Gadis nakal..."Gumam Killian dengan smirk.


__ADS_2