
Di Mansion Allexander, seseorang tengah memukul tembok kamar nya untuk menyalurkan rasa amarahnya. Sungguh dia sangat begitu menysal telah melukai perasaan putri sematawayang nya.
"Hey! kau laki-laki tua, berani nya kau membuat keponakan kesayangan ku menangis." Teriak Nailla.
Mark hanya memandang sendu pada saudara kembar nya itu, dia benar benar kalut dengan perasaan nya sungguh penyesalan yang amat terasa besar.
"Hey! apa kau tuli?" Tanya Nailla kembali, Nailla mencengkeram lengan kemeja Mark.
"Apa kau gila, Fay masih kecil di butuh perhatian seorang Ibu dan kau marah karen kau melihat kedekatan Fay bersama Micell." Nailla memukul wajah Mark, sungguh sakit rasanya mendengar tangisan Fay yang sangat memilukan.
Falashback on.
"Momy, Fay ingin menelfon Ounty Nailla." Ucap Fay di sela-sela isakan nya.
"Sebentar ya sayang." Micell mencari keberadaan hanphone Fay.
Setelah menemukan hanphone Fay, Micell menekan nomor Nailla.
"Halo keponakan Ounty." Ucap Nailla dari seberang sana.
"Maaf Ibu Nailla, ini saya Micell sekretaris Pak Mark. Fay sedang ada di rumah saya tapi tadi adan insiden Bu." Tutur Micell.
"Ounty, hikss hikss." Tangis Fay.
Micell memberikan hanphone kepada Fay.
Halo sayang, kenapa menangis?" Tanya Nailla.
Fay menceritakan apa yang terjadi antara diri nya dan sang ayah.
"Sayang jangan menangis lagi ya, tolong berikan telfon nya pada Mom Micell." Perintah Nailla pada keponakan nya.
Fay memberikan telvon kepada Micell.
"Halo Micell." Ucap Nailla.
"Hallo Bu Nailla."Jawab Micell.
"Micell tolong jaga Fay ya." Ucap Nailla sebelum menutup sambungan telvon nya.
Flasback off.
"Apa kau pantas di sebut seorang ayah." Ucap Nailla.
__ADS_1
Mark tak mengelak atau membantah sama sekali dengan apa yang di ucapkan Nailla, dia sadar disini diri nya lah yang salah.
"Lalu aku harus apa? aku melihat dan mendengar anak ku memanggil orang lain dengan sebutan Momy. dia akan sangat terluka jika suatu saat apa yang dia harapkan tidak akan pernah terwujud." Tutur Mark.
Nailla yang mendengar ucapan Mark hanya tersenyum getir, entah dengan cara apa dia harus menyadarkan Mark agar dia bisa terbebas dari cinta pertama nya.
"Aku tau kau sangat mencintai kak Yola, tapi lihat anak mu bahkan dia harus menderita karena tidak mendapatkan kasih sayang dari Ibu nya." Nailla pergi meninggalkan Mark yang tengah menangis.
"Yola kenapa kau meninggalkan ku dengan putri mu, kau tau aku sangat mencintai mu. Aku tidak bisa mencari pengganti mu di hati ku." Tangis Mark.
Sedang di apartemen Micell, wanita itu sedang menidurkan Fay yang lelah karena menangis.
"Anak yang sangat manis, kenapa hidup mu memilukan sayang." Micell mengecup kening Fay.
Bell rumah Micell berbunyi,"apa itu Pak Mark?" Gumam Nya.
Micell beranjak dari tempat tidur nya menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
"Bu Nailla?" Ucap Micell, setelah melihat siapa tamu nya.
"Emmm hay Micell."Sapa Nailla.
Micell mempersilahkan Nialla untuk masuk ke dalam apartemen nya,setelah Micell menyugukan secangkir teh hangat dan camilan ringan barulah mereka membuka pembicaraan.
"Dimana Fay?" Tanya Nailla, karena dia tidak melihat ataupun mendengar suara Fay.
"Panggil aku kakak, karena aku rasa aku belum setua itu." Nailla mengerlingkan mata nya.
"Ahhh, baiklah kak." Micell tersenyum dengan perlakuan Naill yang sangat berbeda dengan Mark, meski Micell tau bahwa mereka adalah kembar.
"Micell maafkan semua perkataan kakak ku yang mungkin membuat hati mu sakit, kak Mark bukan lah oranga yang arrogan tapi dia berubah setelah istri nya meninggal setelah melahirkan Fay." Tutur Nailla.
"Tidak apa-apa kak, aku bisa mengerti hanya saja aku sedikit tidak terima jika pak Mark berbicara kasar dengan Fay. Aku tau bagaiman rasa nya di tinggal seorang Ibu sedari bayi, aku pun mengalaminya." Jelas Micell, Micell jugalah anak yang di tinggal Ibu nya sedari bayi hanya saja dia lebih beruntung dari Fay karena dia memiliki ibu sambung yang sangat menyayangi nya.
"Maaf jika aku membuka luka lama mu." Ucap Nailla, dia merasa tidak enak karena membuat Micell mengingat masa sulitnya.
"Tidak apa kak, sebenar nya aku sudah menyayangi Fay kak. Tapi jika Pak Mark tidak suka dengan kedekatan ku dengan Fay maka aku akan mengundurkan diri dari perusahaan dan tidak akan menemui Fay lagi. sungguh aku tidak ada niatan jahat." Ucap Micell.
Tanpa di sadari mereka, Fay yang terbangundari tidur nya mendengar semua ucapan Nailla dan Micell.
"Tidak Mom! jangan pergi." Fay menghampiri Micell dengan mata yang berkaca-kaca.
"Momy Micell jangan pergi Fay janji tidak akan jadi anak nakal lagi." Ucap Fay, Fay memeluk Micell erat.
__ADS_1
"Fay jangan menangis nak." Ucap Nailla.
Nailla tercubit hati nya melihat keponakan yang dia sayangi menangis sesenggukan.
"Ounty tolong bilang ke Mom Micell jangan tinggalin Fay, Fay ingin bersama Mom Micell. Fay janji tidak nakal lagi." Fay menangkupkan tangan nya di depan dada memohon kepada Nailla.
"Tenanglah sayang, tidak ada yang akan pergi dari Fay. Ounty janji.'' Nailla memeluk tubuh Fay, mengelus punggung anak malang itu.
"Lihat lah kak anak mu, dia sungguh menyayangi Micell apa kau tidak mau mengalah sedikit pun." Gumam Nailla dalam hati.
Setelah Nailla menenangkan keadaan Fay, Nailla izin pamit untuk pulang dan menitipkan Fay kepada Micell.
"Sayang ini kan masih sore, mau tidak jalan-jalan di taman?" Ucap Micell.
"Jalan-jalan di taman dengan Mom Micell?" Tanya Fay.
Micell hanya tersenyum dan menganggukan kepala nya.
"Mau, mau Mom." Fay melompat kegirangan.
Mereka berdua berjalan-jalan sore menikmati udara segar di sekitar taman dekat apartemen Micell.
"Mom ada kebang gula.'' Tunjuk Fay ke arah kedai penjual kembang gula.
"Fay mau?" Tanya Micell.
"Apa boleh, biasanya Pipi akan melarang kata nya nanti gigi Fay jadi sakit dan jelek.'' Fay menatap sendu ke arah Micell.
Kasihan sekali kamu nak, di usiamu yang seharus nya hanya tau bermain dan makan kamu harus menjadi robot di bawah kekangan manusia arrogan itu." Gumam Micell dalam hati.
"Boleh dong kan sekarang Fay lagi sama Mom Micell, ayo kesana kita beli.'' Micell menggandeng tangan Fay menuntun nya berjalan ke arah keday gulali.
"Fay mau ini sama ini Mom," tunjuk Fay.
"Mang mau ini dan ini ya.'' Pesan Micell ke pada sang penjual.
"Di tunggu ya Neng.'' Jawab sang pemilik kedai.
Beberapa saat kemudian pesanan Fay dan Micell pun siapa, Micell membayar semua pesanan Fay dan dirinya sebelum beranjak pergi dari depan keday.
Saat mereka tengah menikmati manis nya gulali, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka.
"Hemmm," suara deheman seseorang.
__ADS_1
Sontak membuat Fay dan Micell menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Apa enak?" Tanya seseorang tersebut.