
Hari ini Kalea bangun pagi tanpa menyiapkan sarapan untuk Darell, karena semalam suaminya meminta agar tidak sok menjadi seorang istri yang baik.
“sudah jam 7, aku akan berangkat sekarang.” Gumam Kalea.
Kalea menuruni anak tangga menuju ruang makan, disana sudah ada Darell yang tengah meminum kopi.
“Mau kemana?” tanya Darell.
“Kantor.” Ucap singkat Kalea.
Kalea mendekat kearah Darell kemudian mengulurkan tanganya, dan Darell menyambut uluran tangan Kalea. Di ciumnya tangan Darell, setelah mencium tangan Darell Gadis itu masih saja mengulurkan tangan.
“Apa?”
“Uang jajan.” Ucap Kalea dengan senyum.
Iya kebiyasaan Kalea setiap pagi adalah meminta uang jajan pada Papanya, tapi karena sekarang dia sudah menikah jadi dia memintanya pada Darell yang sebagai suaminya.
“Ini.” Darell memberikan black card kepada Kalea, namun Kalea menolaknya jika Cuma balack card dia juga punya.
“Maunya yang tunai jika card Lea juga ada.” Ucap Kalea.
Kalea merupakan gadis yang aneh dia lebih suka belanja dengan uang tunai di banding dengan card.
“Aku tidak ada uang tunai.” Ucap Darell.
Kalea melirik dompet Darell dan merebutnya paksa. Dibukanya dompet hitam bermerek LV itu. “Ini.” Ucap Kalea dengan mengeluarkan uang 100 rb sebanyak 5 lembar.
“Ahh, aku lupa jika punya itu.” Gumam Darell.
Setelah meminta uang jajan, kalea berpamitan untuk berangkat kekantor tempatnya magang dan tak berapa kama Darell pun mengikuti Kalea dari belakang.
Kalea mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sehingga Darell kuwalahan mengimbangi kecepatan Kalea mengendarai mobil.
“Dia mantan pembalap atau apa si.” Ucap Darell kesal.
Tak lama Kalea sampai di kantor tempatnya magang dan tak lama juga Darell telah sampai di kantornya.
“Uhhh, untung tidak telat.” Gumam Kalea.
Kalea berjalan kearah ruang tunggu disana dia mendapati sahabat yang sudah dia anggap sebagai saudaranya.
“Zoe.” Panggil Kalea.
“Lea.” Balas Zoe.
Zoe berdiri dari duduknya dan menghampiri Kalea, “Lea ayo kita keruangan HRD.” Ucap Zoe.
“Oke.”
Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan HRD dengan sesekali bercanda.
“Kalea, kamu tau aku sampai sekarang tidak menyangka bisa di terima di perusahaan D&Y ini lo.” Ucap Zoe.
__ADS_1
“Iya, ini perusahaan Papa yang rekomendasikan dan untungnya kamu juga di terima. Aku tidak bisa membayangkan bagaiman jika kita terpisah, pasti hidup ku akan hampa tanpa mu.” Ucap Kalea.
Setelah menemui pihak HRD dan menandatangi kontra serta menerima arahan, mereka berdua berjalan menuju ruang presdir D&Y untuk menghadap.
“Aku sangat gugup Lea.” Gumam Zoe.
“Tenanglah aku yakin presdirnya orang baik.” Ucap Kalea.
Pintu dibuka keduanya masuk secara bergantian dengan Zoe lebih dulu dan di susul oleh Kalea.
“Selamat pagi pak, kami ingin memperkenalkan diri.” Ucap Zoe.
Presdir tersebut berbalik dan menatap kedua karyawan magangnya tersebut.
“Om Darell.” Gumam Kalea.
Kalea dan Zoe sama terkejutnya mengetahui bahwa perusahaan D&Y adalah milik dari suami Kalea.
“Pantas saja langsung di ACC tanpa di persulit, seharusnya dari awal aku tidak percaya dengan Papa begitu mudah.” Batin Kalea.
Perusahaan D&Y adalah milik Darell, bahkan Kalea tidak tahu jika suaminya adalah pembisnis yang handal dan kaya setelah keluarga Allexander dan keluarga Briyan.
“Nona Zoe anda boleh kembali kerunagan anda.” Ucap Darell.
Zoe yang merasa urusannya sudah selesai meninggalkan ruangan Darell.
“Nona Kalea.” Ucap Darell.
“Iya Pak.” Jawab Kalea.
“Maaf pak, bahakan saya tidak tau jika anda adalah pengusaha sukses pemilik D&Y. corp.” ucap Kalea dengan menundukan kepalanya.
“Kemabalilah ke ruangan mu.” Perintah Darell.
Tanpa pikir panjang Kalea langsung berbalik dan meninggalkan ruangan suaminya.
“Papa sungguh-sungguh mau menyiksa ku, tak cukup apa aku di jodohkan dengan lelaki arrogan itu sekarang aku pun harus magang di tempatnya juga.” Ucap Kalea.
Kalea memasuki ruangannya sampai didalam ternyata Zoe tidak ada di sana, “kemana Zoe?”
Gadis itu memulai pekerjaannya yang sudah menumpuk, berkas-berkas yang harus dia pelajari.
Sementara di ruangan itu Darell hanya menatap layar laptopnya yang memperlihatkan aktivitas dari Kalea, nampak terukir senyuman di bibirnya.
“Apa kakak sedang jatuh cinta?” tanya seseorang.
Karna panik Darell langsung menutup laptopnya, dia tidak mau ketahuan sedang mengintip seseorang.
“Kebiyasaan sekali, jika mau masuk ruangan itu ketuk pintu dulu.” Sungut Darell.
“Aku sudah mengetuknya kak, tetapi kakak saja yang terlalu focus memandang layar laptop.” Ucap Daren.
Darell menatap tajam kearah adik sekaligus asisten peribadinya, Daren harus menjadi asisten pribadi Darell sebelum dia memegang perusahaan dari pihak ibunya.
__ADS_1
“Apa pekerjaan mu sedang tidak banyak? Kenapa kamu terlihat santai?” tanya Darell dengan nada horror.
“Tidak Pak, pekerjaan saya sangat banya.” Ucap Daren, lelaki itu takut jika Kakak nya akan mengerjainya dengan memberikan dia tambahan pekerjaan sehingga dia harus lembur.
“Aku akan pergi, dan nanti malam aku akan datang ke apartemen mu.”
“Mau apa kamu?”
“Mau menggoda kakak ipar.”
Dengan cekikikan Daren berlari keluar ruangan sebelum ada benda yang melayang menghantap kepalanya.
Namun saat dia berjalan tak sengaja Daren menaberak seorang karyawan yang tengah membawa beberapa dokumen.
Brukkk…
“Maaf Pak.” Ucap Zoe.
“Zoe.” Ucap Daren.
Zoe terkejut saat tau siapa yang dia taberak tadi, “kenapa ada Dren disini.” Batin Zoe.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Daren.
“Saya tidak apa-apa Pak.” Ucap Zoe.
“Kamu magang di sini?” tanya Daren, Daren tau sebab Zoe mengenakan kemeja putih yang khusus utuk anak magang.
“Iya Pak, maaf Pak saya harus kembali ke ruangan saya.” Ucap Zoe.
Zoe berjalan cepat menuju ruangannya, dengan nafas tersengal karena dia berjalan setengah berlari sampai di ruangannya dia menghampiri Kalea yang tengah mengerjakan laporannya.
“Kalea, gawat!”
Kalea mendongan menatap wajah Zoe, “kenapa? Apa kamu barusan melihat hantu, lihat dirimu penuh keringat dan wajah mu pucat.” Tanya Kalea.
“Ini lebih dari hantu Kalea.” Ucap Zoe.
“Apa? Apa yang kamu lihat?” tanya Kalea dengan penasaran.
Zoe mengatur nafasnya, “Daren, dia bekerja di sini.” Ucap Zoe.
“Apa! Kau jangan bercanda Zoe.” Kalea bangun dari duduknya.
“Sungguh Kalea, aku baru saja menabranknya. Dia memang bekerja disini Kalea.”
“Biarkanlah, lagi pula aku tidak ada hubungannya lagi dengan dia.” Ucap Kalea santai.
Kalea menguasai emosinya agar tidak terpancing suasana, dirinya tidak mau panik karena itu akan membuatnya seperti seseorang yang masih mengharapkan cinta dari mantan kekasihnya.
“Kamu yakin kamu tidak apa-apa?” tanya Zoe memastikan.
“Iya, aku baik-baik saja. Sudah sana kembali kerja.” Ucap Kalea.
__ADS_1
Zoe beranjak dari posisi berdirinya melangkah menuju meja kerjanya karena pekerjaannyapun juga menumpuk.