Tergoda Pesona Om Duda

Tergoda Pesona Om Duda
Zane dan Zidney [Surat dari Zay]


__ADS_3

Zane membawa Zidney duduk di taman belakang Mansion nya.


"Zidney, kamu tau Zay adalah laki-laki yang sangat baik. Dia pernah menolong aku dan Killian saat kami tengah di kroyok oleh kakak kelas kami, dari situlah aku dan Killian menyukai Zay."Ucap Zane.


"Dan kau tau dia selalu membanggakan kedua bidadari tak bersayapnya yang selalu dia lihat senyumnya di pagi hari."Ucap Zane lagi.


Zidney masih meneteskan air matanya, gadis itu tidak akan bisa berhenti menangis saat tengah menceritakan adiknya itu.


"Zay selalu bilang dia memiliki kembaran yang cantik, dia bilang kembarannya itu bernama Zi. Gadis cantik dan cerdas Zay sangat menyayangi saudaranya itu."Ucap Zane.


"Aku tau Zay menyayangi ku, tapi karena aku dia pergi."Tangis Zidney.


"Jangan pernah kamu berkata seperti itu, Zay akan sangat marah jika tau saudara yang dia sayangi menyalahkan dirinya terus menerus."Ucap Zane.


Zane menatap ke arah Zisdney, laki-laki itu menggenggam tangan Zidney.


di hari Zay meninggal saat itu aku dan Killian ada bersamanya di kelas. Sebelum pergi Zay menitip surat untuk mu, namun aku tidak tau harus menyerahkan pada siapa. Aku tidak pernah tau dimana Zay tinggal dan aku juga tidak tau kamu sekolah dimana."Ucap Zane.


Zane mengambil dompet yang ada di saku celananya, dari dalam dompet Zane mengeluarkan selembar foto dan selembar surat.


"Zane itukan foto ku..."Ucap Zidney terkejut.


"Iya, aku selalu membawa foto ini kemana-mana. Aku berharap bisa bertemu dengan sosok seorang Zi, kembaran Zay yang cantik dan cerdas." ucap Zane.


"Lalu apa ini surat dari Zay untuk Ku."Tanya Zidney.


"Iya, bacalah."Zane memberikan sepucuk surat kepada Zidney.


Zidney membuka surat yang sudah usang itu, selembar kertas berwarna pink.


Teruntuk Zi,


Hay... Zi, aku tidak tau kenapa dari semalam aku ingin mengirimi mu surat.


Zi kamu tau, aku bahagia saat aku di lahirkan bersama gadis cantik dan cerdas seperti mu.


Zi jika suatu saat aku telah tiada, jaga Bunda dan Ayah jangan benci mereka. Dan aku tau kamu pun pasti mendengar pertengkaran antara Bunda dan Ayah, Ayah bilang kita punya saudara tiri. Aku harap kamu dapat menemukan dia dan bawalah dia sebagai pengganti ku sayangi dia bagaimana kamu menyayangi aku.


Aku tau saat kamu membaca surat ini pasti kamu sedang menangis dan sedang duduk di samping Zane, berhentilah menangis kamu terlihay jelek.


Zane adalah laki-laki yang baik, aku selalu menceritakan tentang mu kepada Zane. Aku berharap kamu bisa bersahabat dengan Zane.

__ADS_1


Zi saat aku melakukan sesuatu untuk mu dan itu mungkin sedikit menggores luka di hati mu, aku harap kamu akan cepat membaik dan tidak larut dalam kesedihan.


Dari


Zay Febiyan.


"Zay maafkan aku..."Gumam Zidney.


Zane memeluk tubuh Zidney,"Menangislah lepaskan sumua sesak didada mu. Mulai sekarang aku akan menggantikan posisi Zay. Aku akan selalu ada untuk mu selalu melindungi mu."Ucap Zane.


Zane memindahkan Zidney agar duduk di langkuannya, Zane menatap wajah Zidney.


Zane melepas kaca mata Zidney dan melepas tompel yang ada di pipi Zidney.


"Kecantikan mu adalah anugerah dari Tuhan, jangan pernah kamu menyalahkan wajah cantik mu."Ucap Zane.


"Kamu tidak salah dalam kematian Zay, itu semua sudah jalannya dari Tuhan. Zay akan sangat merasa bersalah jika dia tidak melakukan apa-apa pada saat kejadian."Ucap Zane.


"Kenapa kamu tahu semuanya Zane..."Ucap Zidney dengan sesenggukan.


"Bunda Tania sudah memberi tahu ku, dan kamu pernah menabrak ku di toko buku dengan tampilan mu yang cantik ini."Ucap Zane.


Zane menatap wajah Zidney, jemarinya meraba kedua pipi mulus Zidney, Zane menatap pada bibir mungil milik Zidney.


Zane mencium bibir mungil milik Zidney, Zidney hanya menutup matanya merasakan kasih sayang yang di berikan Zane.


Selama Zidney menutup mata bayangan pada saat kejadian menghilang sedikit demi sedikit, yang ada adalah momen diman Zidney tengah bermain dengan Zay saat mereka ada di pantai.


"Kau menyukai ciuman ku..."Tanya Zane saat dia sudah melepas ciumannya.


Zidney hanya mengangguk malu,


Karena kepolosan Zidney yang baru pertama kali merasakan lembutnya saat berciuman, nyamannya saat di dekap seseorang.


"Apa kamu mau mengulangi lagi?"Tanya Zane. lagi-lagi Zidney hanya mengangguk.


"Dasar gadis bodoh, kamu tidak boleh melakukan ciuman dengan laki-laki lain selain dengan ku. Kamu mengerti."Zane memperingati Zidney.


"Memang kenapa?"Tanya polos Zidney.


"Karena Zidney hanya milik Zane."Ucap Zane.

__ADS_1


Zane pun mengulang kembali ciuman yang baru saja dia ajarkan pada Zidney.


Dari atas jendela kamar, Micell dan Mark milihat bagaiman nakalnya Zane yang sama persis dengan Mark.


"Sayang kamu lihat putra kita, dia sudah dewasa sekarang. Bahkan tingkahnya sama seperti mu."Ucap Micell.


Mark memeluk tubuh istrinya dari belakang,"Iya tentu dia sama seperti ku diakan memang anak ku, bagaiman jika kita melakukan olah raga sore hari ini."Ucap Mark, Mark mengangkat tubuh istrinya lalu mereka melakukan kegiatan yang membuat mereka kelelahan.


Zane membawa Zidney untuk masuk kedalam kamarnya, di sana Zane meminta Zidney untuk bercermin.


"Lihatlah wajah mu, jangan takut."Ucap Zane, Zane menggenggam tangan Zidney agar dia tidak merasa takut.


"Tapi aku takut Zane..."Ucap Lirih Zidney


Zane menutup mata Zidney lalu mengarahkan Zidney agar berdiri di depan cermin, Kemudian Zane memeluk tubuh Zidney dari belakang.


"Coba buka mata mu, jangan takut aku ada di belakang mu."Ucap Zane.


Perlahan Zidney membuka matanya, saat matanya terbuka sempurna. Zidney melihat wajahnya terpampang nyata di cermin.


"Lihatlah wajam mu cantik, dan ingat ini bukan alasan kenapa Zay meninggal."Ucap Zane.


Zidney menatap wajahnya lagi, perlahan tapi pasti rasa takutnya telah hilang.


"Zane, aku tidak takut lagi melihat wajah ku."Ucap Zidney senang.


"Baguslah, kamu memang gadis yang cerdas."Ucap Zane.


Hari semakin sore Zane mengantar Zidney untuk pulang.


Sesampainya di Mansion, Zidney dan Zane masuk kedalam. Dan betapa terkejutnya Tania dan Rehan saat mereka melihat Zidney sudah tidak memakai tompel palsu lagi.


"Zidney sayang..."Ucap Tania.


Zidney berjalan mendekati Bundanya dan memeluknya.


"Zidney kamu sudah sembuh nak?"Tanya Tania.


"Iya Bunda ini berkat Zane yang sudah membantu Zidney untuk tidak takut lagi."Ucap Zidney.


Tania dan Rehan melihat kearah Zane,"Terimaksih nak Zane..."Ucap Rehan.

__ADS_1


"Sama-sama Tante dan Om, semua berkat Zidney sendiri saya hanya membantunya saja."Ucap Zane.


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih."Ucap Rehan lagi.


__ADS_2