
Pagi hari Zidney terbangun karena terganggu oleh Zane yang menusuk-nusuk pipi chuby milik Zidney.
“Eughh…” Lenguh Zidney, Zidney membuka matanya lalu menatap kearah Zane.
“Sudah bangun sayang?” tanya Zane.
“Emm,” Zidney mengangguk. “Jam berapa ini?” tanya Zidney.
“Baru jam 9 pagi sayang.” Ucap Zane, laki-laki itu memeluk tubuh istrinya.
Zidney mengambil handphone nya yang berada di atas meja kecil di saping tempat tidurnya.
"Zane kamu mematikan handpone ku?” tanya Zidney saat tahu handphone nya telah mati.
“Iya…” ucap Zane datar.
“Astaga Luna!” teriak Zidney saat membaca pesan dari Bundanya.
“Ada apa sayang?” tanya Zane yang melihat wajah panik dari Zidney.
“Kita harus pulang Zane.” Ucap Zidney dengan wajah cemas.
Zidney turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi, “Akhhh…” keluh Zidney saat dia merasakan nyeri di area sensitivnya.
“Sayang kamu tidak apa-apa?” tanya Zane.
“Tidak…” ucap Zidney dengan berjalan perlahan.
Zane dan Zidney segera bergegas pergi menuju rumah sakit, “Zane, Zi takut Luna semakin parah.” Ucap Zidney.
“Sabar sayang, aku yakin Luna akan baik-baik saja.” Ucap Zane.
Setelah 2 jam perjalanan dengan mengendarai mobil yang berkecapatan sedang akhirnya mereka sampai di rumah sakit dimana Luna di rawat.
“Bunda…” panggil Zidney saat melihat sosok seorang Wanita yang telah melahirkannya.
“Zidney…” ucap Tania.
Zidney menghampiri Bundanya dan memeluk Wanita itu, “Bunda bagaiman dengan Luna?” tanya Zidney.
Tania mengajak Zidney masuk keruangan Luna, agar Zidney bisa melihat sendiri bagaimana keadaan Luna.
Sementara itu Zane tengah di tatap tajam oleh kedua orangtuanya sendiri.
“Aku melupakan pasangan singa ini.” Batin Zane.
Micell mendekati Zane kemudian menjewer telinga anaknya, “anak kurang ajar.” Ucap Micell.
“Ampun Mom…” ucap Zane dengan memegang telinga kirinya yang di Tarik sekuat tenaga oleh Micell.
“Mom sakit…” ucap Zane.
“Biar saja telinga tidak berguna mu ini lepas dari kepala mu Zane.” Ucap kesal Micell.
“Mom Micell lepaskan Zane.” Ucap Zidney yang baru saja keluar dari ruangan Luna karena mendengar teriakan Zane.
“Zane kamu tidak apa-apa?” tanya Zidney.
Zidney memeriksa telinga suaminya yang sudah memerah akibat jeweran dari Ibu mertuanya.
“Mom Micell jangan marah kepada Zane.” Ucap Zidney.
“Bagaiman Mom tidak marah sayang, Zane tidak bisa menepati janjinya.” Ucap Micell malu kepada menantunya.
“Mom, Zane tidak salah. Ini rumah tangga Zane dan Zidney jadi sudah kewajiban Zidney untuk melakukan nya. Zidney harap tidak ada yang membahas tenyang perjanjian itu.” Ucap Zidney dengan tegas.
Tania mendekati suaminya dan berbisik, “lihat putri mu Yah, sudah dewasa.” Bisik Tania.
“Benar Bun.” Ucap Rehan dengan lirih.
Micell mentap tajam kearah anak nya, “awas saja jika kamu berani menyakiti menantu kesayangan Mom, akan Mom Tarik semua harta yang telah atas nama kamu.” Ancam Micell.
“Iya Mom, Zane tidak akan melukai perasaan Zidney.” Ucap Zane.
Masalah antara suami dan mertuanya telah selesai, kini Zidney membawa Zane masuk kedalam kamar rawat Luna.
__ADS_1
“Luna sudah sadar sayang?” tanya Zane.
“Iya, tapi ada masalah dengan ingatannya.’’ Bisik Zidney,
Luna memang telah sadar dari koma nya namun ingatan Luna telah terhapus, jangankan dengan Zidney dengan Namanya saja dia lupa.
“Kalian siapa?” tanya Luna.
“Hay Luna… Aku Zidney dan ini Zane suami ku.’’ Ucap Zidney.
“Ohh kalian sudah menikah?” tanya Luna.
Zidney mendekati Luna dan memeluknya, “Luna kau adalah saudara ku, dulu kau adalah gadis yang baiak dan cerdas.” Ucap Zidney.
“Apa benar kau keluarga ku? Seperti yang di katakana Bunda Tania dan Ayah Rehan? Dan apa mereka benar orangtua ku?” tanya Luna.
“Dia memang lupa ingatan tapi kebiasaan cerewetnya tidak bisa hilang.” Batin Zane.
“Iya kita adalah keluarga.’’ Ucap Zidney.
Lima bulan kemudian….
Luna sudah mulai terbiasa dengan keadan seklilingnya, meski kadang Luna mengeluh sakit kepala yang sangat luar biasa saat melihat foto atau kenangan di masalalunya.
“Luna…” panggil Zidney.
“Hay Zidney…’’ balas Luna.
Zidney mendekati saudaranya itu dengan membawa selembar formulir pendaftaran kuliah.
“Apa itu?” tanya Luna.
“Ini formulir pendaftaran kuliah, apa kamu mau ikut mendaftar?” tanya Luna.
“Apa aku bisa masuk ke fakultas terbaik itu?” tanya Luna.
“Pasti bisa…” ucap Zidney.
Akhirnya dua Wanita itu memutuskan untuk satu tempat kuliah dengan jurusan yang berbeda.
Sementara Zane telah memulai kuliah nya pada 5 bulan yang lalu dia juga mulai bekrja di perusahaan orangtuanya, perusahaan yang kelak akan menjadi miliknya.
Keesokan paginya Zidney merasa perutnya sangat mual dan kepalanya pusing, bahkan Zidney telah memuntahkan semua yang yang ada didalam perutnya.
“Sayang kamu tidak apa-apa?” tanya Zane, laki-laki itu menunggu istrinya keluar dari kamar mandi dengan cemas.
Tak berapa lama keluarlah Zidney dengan wajah sembab dan air mata yang mengalir deras di pipinya.
“Sayang kenapa menangis? Apa sakit sekali? Di mana yang sakit?” tanya Zane dengan khawatir.
Zidney menunjukan benda kecil dengan dua garis merah, “Zane aku hamil bagaimana ini?” tanya Zidney dengan cemas.
Zane yang mendenar ucapan istrinya mengernyitkan keningnya, “hamil? Aku akan jadi ayah?” tanya Zane.
“Iya, bagaiman jika Ayah dan Bunda tau jika aku hamil?” tanya Zidney dengan menangis kencang, “ini gara-gara kamu setiap malam kamu selalu meminta jatah, sudah begitu tidak mau pakai pengaman.” Ucap kesal Zidney.
“Kenapa kamu takut, kamukan punya suami dan sudah menikah.” Ucap Zane dengan menggelengkan kepalanya.
“Ohhh iya, Zi lupa jika sudah menikah.” Zidney menepuk keningnya.
“Ya Tuhan, semoga saja anak ku kelak tidak lemot dan polos seperti Mamanya.” Batin Zane.
Setelah Zane dan Zidney memberi kabar bahagia itu kepada kedua orangtua mereka, akhirnya mereka memutuskan untuk ke dokter kandungan.
“Selamat ya Bapak dan Ibu, kehamilannya sudah memasuki 7 minggu.” Ucap Dokter kandunga.
Zane menatap istrinya dengan bahagia, akhirnya dia benar-benar akan memiliki seorang anak.
“Mohon di jaga kandungannya, karena di usia ini kehamilan muda akan rentang mengalami keguguran dan tolong hindari dulu berhubungan suami istri sampai kandungan memasuki bulan ke 4.” Ucap Dokter kandungan.
“Baik Dok, terimakasih atas sarannya.” Ucap Zidney.
Zane dan Zidney keluar dari ruang pemeriksaan dan berjalan menuju ke parkiran, namun Zane tidak membiarkan Zidney untuk berjalan Zane mengambil kursi roda untuk Zidney.
“Zane tidak perlu ini.” Ucap Zidney.
__ADS_1
“Apa kamu tidak dengar kata dokter sayang, kamu tidak boleh Lelah.” Ucap Zane.
“Tapi ini hanya berjalan, aku tidak akan Lelah.” Ucap Zidney.
“Mau ku gendong atau naik ke kursi roda.” Ucap Zane, dan mau tak mau Zidney pun duduk di kursi roda. Zidney tidak mau menjadi pusat tontonan karena di gedong suaminya.
Karena kehmailan Zidney, maka dirinya harus menunda rencana kuliahnya. Tentu itu permintaan suami nya, tapi Zidney tidak merasa keberatan. Wanita itu justru sangat senang karena suaminya sangat perhatian dan menjaganya.
“Sayang terimakasih sudah mau menerima ku menjadi suamimu, dan terimakasih sudah mau mengandung anak ku di usia mu yang masih muda ini.” Ucap Zane, Zane mengelus halus perut istrinya yang belum membuncit.
“Janji selamanya Zane hanya untuk Zidney dan Zidney hanya untuk Zane.” Ucap Zidney.
“Selamanya sayang.” Ucap Zane.
TAMAT…..
Termakasih untuk semua pembaca yanga setia membaca Novel outhor, dan maaf jika terkadang Outhor lama Upnya. Dan juga dengan alur yang kadang tidak nyambung dan membosankan.
Mohon di maklumi karena Outhor masih baru semoga kalian tidak menyesal membaca Novel Outhor ya.
Untuk kalian yang bertanya-tanya “kenapa gantung?” terus juga “kok endingnya begini”
Outhor mohon maaf sekali pada kalian yang kecewa, Outhor mamutuskan untuk Tamatin Novel ini karena Outhor mau bikin Novel tentang perjalan rumah tangga Zane dan Zidney dengan di bumbuhi perjuangan Killian membuat Luna sadar dan mengingat cinta mereka.
Outhor memilih judul dan Novel baru karena jika Outhor tetap ada di Novel ini manurut Outhor nanti akan kurang maksimal hasilnya.
Jadi untuk kalian yang mau tau kelanjuta perjalanan rumah tangga mereka dan kisah cinta mereka mohon sabar menunggu ya….
Pokoknya Outhor ucapin terimaksih buat kalain….
Sayang kalian banyak-banyak….
SPOILER …
Tiga tahun kemudian …
“Momy…” panggil Aydan Allexander.
Tiga tahun berlalu kini usia Zidney tepat 21 tahun dengan setatus seorang ibu dari anak laki-laki bernama Aydan Allexander dengan paras 90% mirip sekali dengan Zane.
“Iya sayang…” ucap Zidney, Wanita itu berjalan mendekati putranya.
“Mom, bagaiman bisa aku di tinggal di rumah sendirian oleh Mom dan Dady?” protes Ayden.
Anak kecil itu selalu saja di tinggal di rumah sendirian karena Zane harus kekantor sedang Zidney harus mengejar kuliahnya yang tertinggal.
Ayden mengerucutkan bibir mungilnya sama persis dengan Zane jika sedang cemburu pada Zidney.
“Maaf kan Momy, Momy hari ini ada ujian di sekolah.” Ucap Zidney dengan wajah yang sedih.
Zidney tau jika putra kecilnya itu sangat tidak bisa jika melihat Momy yang di sayanginya itu bersedih.
“Emmm, Momy jangan sedih Ayden tidak akan merengek.” Ucap Ayden dengan memeluk tubuh Zidney.
Sementara itu di kantor milik Rehan, Luna tengah mengomel dengan bawahannya yang tidak pecus mengurus persiapan meetingnya.
Luna memutuskan untuk menggantikan Rehan menjadi CEO di perusahaan Rehan.
“Kalian bisa tidak bekerja dengan benar.” Ucap lirih Luna namun suaranya terdengar horror.
“Maafkan kami Bu, kami tidak tau jika meeting di undur 3 jam. Kami tidak mendapat laporan sama sekali.” Ucap Karyawan.
Luna sangat kesal dengan Meeting hari ini karena dia telah menunggu selama 3 jam lamanya, tapi apa yang dia dapatkan Meeting itu malah di undur 3 jam lamanya.
“Jika kalian tidak mau aku pecat, bekerjalah dengan benar.” Ucap ketus Luna.
Tak berapa lama masuklah Kania, asisten pribadi Luna yang juga sahabatnya sejak kuliah.
“Maaf Bu Luna ada tamu yang ingin bertemu anda.” Ucap Kania.
Luna berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruangan nya.
“Sayang…” ucap seorang laki-laki.
“Sayang, kenapa kekantor ku tidak bilang.” Ucap Luna, Luna memeluk tubuh kekasih nya itu.
__ADS_1