Tergoda Pesona Om Duda

Tergoda Pesona Om Duda
[Season 2]


__ADS_3

Di ruang tamu dua pria dengan perbedaan umur yang mencolok sedang beradu pandang, Briyan sedang menatap tajam kearah menantunya sedangkan Darell hanya memandang mertuanya itu dengan tatapan memohon.


Memohon agar dia diberikesempatan untuk bertemu sang istri.


"Apa kamu mau aku mencolok matamu sayang..." Bisik Helena.


Helena merasa jengah dengan sifat kekanakan yang dimiliki oleh Briyan, bukankah seharunya Briyan mencari bukti kejelesan yang sebenarnya bukan malah memusihi menantunya. Bagaiman jika Darell itu memang benar dan hanya di jebak saja dan bagaimana jika memang wanita ular itu hanya mau rumah tangga anak nya hancur, apakah Briyan tidak berfikir begitu dimana otak jeniusnya berada sekarang apakah sudah tumpul. Apa perlu Helena memukul kepala suaminya agar otak jenius Briyan bisa bekerja kembali.


Helena lagi-lagi mendengus kesal karena Briyan masih saja menatap tajam kearah Darell, "Darell apa yang mau kamu bicarakan nak?" Terpaksa Helena yang membuka topik pembicaraan, jika tidak mungkin sampai kiamat pun Briyan hanya akan menatap Darell dengan tatapan penuh permusuhan.


"Mama, Darell tidak akan menjelaskan apa-apa. Karena Darell akan mencari buktinya bahwa Darell tidak salah." Darell berbicara dengan raut wajah yang sangat serius.


"Lalu mau apa kamu kemari jika bukan untuk merengek dan minta di maafkan?" Tanya Briyan sinis.


"Diamlah sayang, biarkan Darell bicara." Helena berbicara dengan nada halus, namun mampu membuat bulu kuduk Briyan berdiri.


"Celaka, Istri ku sedang tidak baik-baik saja. Lebih baik aku diam." Batin Briyan, Briyan melirik kerah istriya yang sedang tersenyum smirk dan seketika tenggorokan Briyan mendadak kering.


"Diamlah jika kamu masih mau, burung kesayangan mu kembali kesangkarnya." Helena mengelus punggung suaminya, tetapi suaminya merasa itu bukan elusan melainkan sebuah pukulan yang membuat jantungnya dan paru-paru nya seakan mau rontok.


"Ba-baiklah sayang aku kan diam, tapi bisakah kamu berhenti menghentakkan tangan mu di punggung ku. Rasanya paru-paru ku akan rontok." Lirih Briyan takut-takut nanti istrinya ngamuk.


"Owhhh, maaf sayang aku tidak sengaja." Helena tersenyum seolah memang dia tidak sengaja, padahal Helena sangat sengaja melakukan itu.


"Menakutkan sekali istri ku, pantas saja tidak ada pelakor yang mengganggu ku." Briyan bergidik ngeri saat mengingat bagaiman kejam nya Helena saat melabrak sekretaris yang mencoba menggodanya, sungguh wanita itu kehilangan tiga gigi depannya dan kebotakan di atas ubun-ubunnya sangat bringas istrinya itu jika sedang mengamuk.


Helena kembali menatap Darell yang nampaknya kagum dengan dirinya karena bisa membuat seorang Briyan terdiam tak berkutik.


"Kamu mau menemui Kalea, dia ada di kamarnya." Helena tau jika menantunya itu harus menjelaskan sesuatu pada anak nya.


"Boleh Maa?" Tanya Darell memastikan, dia juga tak mau jika tiba-tiba mertuanya menghajar dirinya sampai babak belur.


"Tidak!!! saya tidak mengi..." Perkataan Briyan terhenti seketika saat dia merasakan cubitan di perutnya, ahhh sungguh itu cubitan yang sangat kecil mungkin perutnya sedikit lecet.

__ADS_1


"Apa sayang... coba katakan." Helena mendelik memandang Briyan.


"Sa-saya tidak mungkin tidak mengizinkan." Ucap Briyan dengan menahan nyeri di perutnya.


"Terimaksih Maa, Darell kekamar Kalea sebentar hanya lima belas menit Maa." Darell cukup tahu diri, dirinya tidak akan memaksa mertuanya untuk mengizinkan dirinya membawa Kalea. Darell akan menemukan bukti terlebih dahulu baru dia akan membawa pulang istrinya.


"Iyaa, temui dia ajak dia makan dia belum makan dari pagi." Ucap Helena.


Darell kemudian berdiri dan melangkah masuk, namun sebelum masuk kekamar Kalea dirinya terlebih dahulu menyiapkan makanan untuk sang istri.


Semua kegiatan Darell tak luput dari pandangan Helena dan Briyan, apakah benar Darell selingkuh bagaiman bisa? lihatlah Darell sangat memperhatikan makanan apa yang akan dimakan isttinya bahkan Darell memisahkan bawang goreng dari atas soup yang dibuat Helena. Kalea tidak suka bawang goreng, Helena tadi lupa jika sang putri ada dirumah jadi tidak sengaja menambahkan bawang goreng didalam soup nya.


"Apa menurut mu di selingkuh? coba lihat bahkan dia sangat perhatian memilih makanan untuk Kalea." Ucap Helena.


"Siapa tau dia hanya bersandiwara." Sarkasme sekali perkataan Briyan, memang susah jika dia sudah tak suka itu.


"Jangan bilang begitu, lihat saja menantu ku itu pasti akan menemukan bukti bahwa dia tidak bersalah." Helena tersenyum.


"Hadiah apa?" Helena penasaran.


"Surat gugatan cerai." Briyan bangkit dari duduk nya dan kemudian pergi menuju kamar meninggalkan Helena yang terbeo.


"Kau mau membuat anak ku janda!!" Helena berjalan cepat menyamai langkah suaminya.


"Iyaa, janda kaya raya..." Lirih Briyan. dia berhenti kemudian menoleh kebelakang.


Helena mendengus kesal dengan perkataan Briyan, kenapa dia sangat bekerja keras sekali membuat anak perempuan satu-satunya menjadi janda.


"Jika kamu berani membuat Kalea menjanda, maka aku akan menjanda juga biarkan kami ibu dan anak menjadi janda kaya raya." Ucap Helena dengan membusungkan danya dan tak lupa dia menaikan dagunya angkuh.


"Enak saja, aku kan masih ada mana bisa kamu menjanda sayang..." Briyan tak habis fikir dengan istrinya yang malah ingin menjanda.


"Maka dari itu jangan berani kamu membuat anak ku menjanda!" Helena menabrak bahu suami nya dan kemudian melangkah mendahului Briyan untuk masuk kekamarnya.

__ADS_1


"Sayang..." Rengek Briyan.


Briyan akan kalah jika Helena sudah mode galak begini, mana bisa Briyan mendebat Helena lagi jangan sampai malam ini dirinya tidur di ruang TV lagi


Sementara itu Darell memasuki kamar istrinya dia melihat sang istri sedang berdiri di depan jendela entah memandang apa.


Suara pintu berdecit membuat Kalea tersadar dari lamunanya, namun dia tak menoleh kebelakang dia menebak bawha yang masuk adalah pembantunya.


"Bii, Lea enggak lapar jangan bawa makanan lagi." Kalea menciun bau soup buatan Mama nya, sungguh membuat perutnya semakin keroncongan.


"Makan dulu sayang..." Ucap Darell.


Kalea yang mendengar suara dari suaminya kemudian memutar tubuh nya sampai menghadap Darell.


"Darell..." Gumam Kalea, dirinya tak percaya jika sang Papa mengizinkan Darell menemui nya.


Darell meletakkan nampan berisi makanan diatas meja kecil di sudut ruangan, iya disana ada meja kecil dengan kursi busa.


"Sayang..." Darell berjalan mendekati Kalea dan kemudian merengkuh tubuh mungil milik istrinya.


"Mas..." Lirih Kalea.


"Maaf kita harus berpisah untuk sementara, aku janji akan membuktikan bahwa itu bukan aku." Darell mengecup beberapa kali puncang kepala istrinya, dia menikmati momen kebersamaan istrinya untuk bekal beberapa hari kedepan saat mereka tidak bisa bertemu.


"Aku percaya sama kamu, aku yakin mak lampir itu menjebak mu." Kalea mengerucutkan bibirnya.


Darell yang gemaa pun, menarik dagu sang istri untuk mendekat dan kemudian mengecup bibir milik sang istri.


"Iya, tapi aku harus mencari bukti membuat kedua orangtua mu kembali percaya pada ku, percaya jika aku adalah suami yang tepat untuk mu." Darell menangkup wajah Kalea, kemudian menciumi seluruh wajah kalea seolah Darell akan pergi berperang dan ciuman itu adalah amunisi nya saat dia akan berperang.


"Aku akan menunggu mu." Kalea memeluk erat tubuh sang suami.


Kalea percaya suaminya akan menemukan bukti dan akan membawanya pulang kerumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2