
Keras kepala adalah julukan yang pas untuk Daren, ya bagaimana tidak Kalea sudah memperingatinya untuk tidak menemuinya namun nyatanya lelaki dengan tinggi 172 cm itu tetap menemui Kalea. Lebih menyebalkan lagi Daren datang mengunjungi apartemen saat Kalea sedang tidak baik-baik saja.
Kalea tengah merasa sakit di bagian perut nya, kalea sedang dalam masa kedatangan tamu bulanannya.
Kalea sangat merasa mood nya sedang buruk, di tambah dengan kedatangan manusia yang sama sekali tidak dia harapkan kedatangannya.
“Darell belum pulang.” Ucap Kalea ketus, sunguh saat ini Kalea hanya ingin rebahan saja.
“Apa aku tidak boleh masuk dulu, aku kan tamu.” Ucap Daren.
Kalea mendengus kesal kemudian membuka jalan dan mempersilahkan Daren untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu nya.
Daren menatap wajah Kalea yang terlihat pucat. “Apa kamu sedang sakit?”
“Tidak, aku bak-baik saja.” Jawan Kalea dingin.
Sejenak kedua manusia itu hanya diam sampai akhirnya Kalea berdiri, “Kamu mau minum apa?” Tanya Kalea sebelum berlalu meninggalkan ruang tamu dan menuju dapur untuk membuat minuman.
“Apa saja.”
“Teh atu kopi?” Tanya Kalea.
“Teh saja.” Balas Daren.
“Tadi katanya terserah.”
“I-ya sudah apa saja.” Jawab Daren gugup.
Kali ini Kalea menatap Daren dengan tatapan kesal, “Jadi kamu mau apa? teh atau air putih?”
“Air putih.”
“kenapa ganti, tidak jadi teh?”
“Terserah apa saja yang kamu buat akan aku minum.” Lama-lama Daren juga kesal.
“Memang ya kamu tidak berubah masih saja plin plan dengan pilihan mu, “oke akan ku buatkan es jeruk.” Tanpa menoleh kearah Daren, Kalea berjalan menuju dapur.
Sedang Daren hanya melongo melihat tingkah menjengkelkan Kalea. “semoga kamu kuat kak punya istri yang menyebalkan seperi Kalea.” Guamam nya.
Prang!!
Terdengar suara gelas pecah dari dalam dapur dan sontak membuat Daren terkaget, Daren buru-buru belari menuju dapur karena takut terjadi apa-apa pada Kalea.
“Lea, kamu kenapa?” tanya Daren.
“Perut ku sakit, ahhkkk…” ucap Kalea dengan memegangi perutnya yang terasa nyeri, beginilah rasanya menjadi Kalea dia akan sangat menderita saat tamu bulanannya datang.
“Aku bantu kamu kekamar.” Daren mengangkat tubuh Kalea dan membawanya kekamar.
“Aku kira kamu sudah sembuh, ternyata masih saja seperti ini. Pantas kau menyebalkan.” Daren mencibir Kalea.
“Diamlah kamu membuat ku semakin sakit.” Ucap Kalea.
Daren menghembuskan nafasnya, “aku akan memanggil dokter.”
Daren mengabil telvon genggamnya kemudia menekan nomor telvon dokter pribadi keluarga yoon.
Dokter sudah memeriksa Kalea dan juga sudah memberi obat Pereda nyeri karena hanya itu yang bisa di lakukan dokter, mengingat sakit datang bulan adalah hal alamiah seorang wanita. Setelah itu dokter pun pamit kembali kerumah sakit karena pasiennya sudah menunggu.
__ADS_1
Brakkk…
Pintu kamar di dobrak paksa oleh seseorang, dan siapa lagi jika bukan Darell yang terlihat ngos-ngosan mungkin lelaki itu habis berlari.
Bagaiman tidak berlari jika saat berada di parkiran apartemen nya, pemandangan pertama yang dia lihat adalah mobil sang adik yang merupakan mantan kekasih dari istrinya. Itu membuat hati Darell memanas.
“Apa yang kalian lakukan di sini?!” tanya Darell dengan suara membentak, namun Darell sedkit lega karena Kalea dan Daren tidak melakukan apa-apa seperti fikiran yang ada di kepalanya saat ini.
“Jangan salah paham, gue kesini tadi Cuma mau berkinjung.”
“Berkunjung sampai masuk kamar?” ucap Darell dengan senyum kecut.
“Pikiran elo terlalu kotor, tadi Kalea jatuh karena sakit perutnya.” Jelas Daren karena tak terima di tuduh yang tidak-tidak.
“Alasa, siapa yang percaya.”
“Ck, serah elo. Lagian elo sebagai suami kenapa si enggak peka banget sama istri.” Daren menjeda kata-katanya. “Dia lagi PMS, sejak dulu memang gini kalau lagi PMS.”
“Ya mana gue tau, dia kan enggak cerita.” Kesal Darell yang merasa di salahkan.
“Ya elo tanyalah, elokan sumainya.”
“Gk usah nyolot dong!”
“Elo yang nyolot duluan, elo nuduh gue ngapa-ngapain istri elo.”
“Apa! elo berani sama gue? Sini maju lo.” Ucap Darell yang sudah bersiap-siap berkelahi dengan adiknya.
“Gak takut gue.” Daren bersiap maju memukul Darell.
Kalea yang jengah sontak berteriak. “Setop!!”
“Keluar!!”
Sontak saja kedua kakak dan adik itu berlari terbirit birit, karena dia tau lawan nya adalah wanita yang sedang PMS. Ngeri gengs…
Di ruang tamu Darell mengajak Daren untuk mengobrol sebentar.
“Gue tau elo masih cinta sama Kalea, tetapi elo harus sadar dia itu kakak ipar elo dia istri gue.” Ucap Darell mantab.
“Ck, iya gue sadar. Ya kali gue nikung kakak ipar gue sendiri.” Ucap Daren dengan wajah masam, tak terima dia di tuduh akan merebut istri kakaknya sendiri.
“Baguslah.”
“Gue mau pamit, dan satu lagi jangan temui Sisilia. Gue punya kartu AS nya kalau elo mau.” Ucap Daren yang kemudia beranjak pergi meninggalkan apartemen kakaknya.
“Kartu AS.” Gumam Darell.
*****
Jam menunjukan pukul 8 malam, Darell masuk kekamarya dan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Kalea.
“Lea…” panggil Darell.
Kalea yang mendengar panggilan Darell hanya diam dan menatap lelaki yang bersetatus suaminya itu dengan mata yang mengerjap-ngerjap.
“K-kak…” balasnya.
“Bangun, makan dulu.” Ucap Darell lembut, dia melihat wajah pucat Kalea. “apa sangat sakit.” Batinnya.
__ADS_1
“Aku belum lapar kak.”
Ya inilah kebiasaan buruk Kalea saat sedang datang bulan malas makan, malas mandi dan malas ngapa-ngapai. Mageran boss…
“Makan ya, aku suapin kamu.” Darell duduk di samping Kalea dan mengarahkan satu sendok nasi beserta lauknya kearah mulut Kalea.
“Ta-tapi…”
“Aku suapi pakai sendok atau mau langsung pakai bibir.”
Ucapan Darell menjadi ancaman bagi Kalea, karena dia tau jika suaminya tak pernah main-main dengan ucapannya.
“Aaaa…”
Kalea membuka mulutnya dan mulai memakan suapan yang di beri oleh suaminya. Dan tanpa di sadari Kalea, sebuah senyuman terukir indah di wajah Darell.
“Sudah kak, kenyang.” Rengek Kalea, makanan sudah habis setengah tetapi Darell masih saja memaksa nya untuk menghabiskan nya.
“Ya sudah, sekarang tidur.” Ucap Darell yang di angguki oleh Kalea.
Kalea akan beranjak dari ranjang tidurnya, dia mau kembali kekamarnya karena saat ini dia sedang berada di kamar milik Darell.
“Mau emana?” Darell mencekal tangan Kalea.
“Mau kekamar, inikan kamar Kakak.” Jawab Kalea.
“Ck, tidur disini. Mulai sekarang.”
“T-tapi…”
“Jangan membantak Kalea, aku ini suami mu berdosa jika kamu membantah ku.” Ucap tegas Darell.
Kalea tidak melawan kemudian dia membaringkan lagi tubuhnya di atas ranjang empuk milik Darell, Tindakan Kalea membuat Darell senang. Entah mengapa dia senang saat Kalea tidak membantah ucapannya
“Apa selalu begini saat sedang datang bulan?” tanya Darell.
“Iya kak, aku juga tak tau kenapa?”
“lalu apa yang bisa aku bantu?” tanya Darell karena dia tak tau harus apa untuk meringankan rasa sakit yang Kalea rasakan.
“Emmm, i-tu.” Kalea ragu mengatakannya, ragu jika Darell mau melakaukannya. Biasanya Momy nya akan mengusap perutnya sampai dia tertidur.
“Apa, hemm.”
“Momy biasanya akan mengusap perut ku sampai aku tertidur.” Ucap Kalea tidak enak, tapi jujur hanya itu yang Kalea butuhkan sebuah usapan lembut di perutnya agar nyeri datang bulan nya berkurang.
Darell menyingkap selimut yang menutupi tubuh Kalea, kemudian dia masuk kedalam selimut dan berbaring di dekat Kalea. Tangan Darell terulur untuk mengusap perut rata milik Kalea dengan sangat lembut.
“Apa begini sudah benar?” tanya Darell.
“I-iya kak, terimaksih.”
“Sekarang tidurlah.” Ucap Darell kemudian memberi kecupan selamat malam di kening Kalea.
“Duhhh meleleh adek bang.” Batin Kalea dengan menahan debaran jantungnya.
*****
Hay para pembaca setia Om duda ku….
__ADS_1
Maaf ya outhor ngilang lama, semoga kalian sehat-sehat ya…
Outhor bakal up tiap hari kok, tapi enggak janji hehehe….