
Semakin hari kelakuan Darell semakin aneh, semua orang bahkan di buat kesal terutama karyawan kantornya. Setelah kemarin Darell memberi larangan kepada pegawainya untuk tidak memakai sepatu hak tinggi bahkan dilarang menggerai rambut dan di wajibkan untuk mencepol rambut indah mereka.
Sedangkan bagi pegawai pria di larang mengenakan kemeja berwarna hitam dan setiap tiga kali dalam seminggu mereka di wajibkan menggunakan kemeja berwarna pink dengan warna yang sangat cerah, semua peraturan itu tidak bisa di bantah walau tidak sedikit yang merasa keberatan tapi mau bagaiman Darell adalah pemilik perusahaan selain diam dan pasrah menjalani memang mereka bisa apa.
"Kau gila kak?!"
Daren yang mendapat kritikan dari pegawainya merasa sedikit kesal dengan keputusan Darell, bahkan Darell memberi peraturan tanpa memberi tahu kepadanya jadilah dia seperti orang bodoh. Baru pulang bulan madu tetapi sudah dapat demo dari pegawai.
"Kenapa? kenapa kau datang-datang sudah marah-marah..." Tanya Darell.
"Kenapa kamu membuat peraturan konyol seperti ini!!"
Daren melempar selembaran kertas yang berisi peraturan baru untuk para pegawai.
"Ohhh, kau sudah tau rupanya..." Darell hanya melirik kertas yang di lemparkan Daren tadi, kasihan kertas itu dia tidak salah tetapi jadi korban.
"Sebenarnya apa yang kakak pikirkan saat membuat peraturan konyol itu?"
"Tidak ada, aku hanya ingin..." Ucap Darell dengan entengnya, dia bilang dia hanya ingin. Ohh Tuhan, apa kau tak tau keinginan mu itu membuat seisi kantor berdemo pada Daren.
"Hahaha, omong kosong apa ini kak?? kau hanya ingin..." Daren menjambak rambutnya frustasi, bagaiman bisa kakak nya menjadi manusia yang menyebalkan seperti ini.
"Dengar kan saya Tuan Darell yang terhormat, gara-gara peraturan anda semua staf dan pekerja mendemo saya yang tak tahu apa-apa."
"Ohhh, tidak masalah semua akan baik-baik saja. Dan kembalilah bekerja, lihat dokumen yang menumpuk di meja mu!!"
Tanpa kata dan minat membantah Daren pun keluar dari ruangan Darell, "Kenapa kakka jadi konyol begini, apa Kalea salah memberinya obat."
Semenjak saat itu sekarang semua karyawan berdandan aneh, para pekerja lelaki nya menggunakan kemeja pink serta pekerja wanitanya mengenakan baju yang tak terlalu seksi di tambah sepatu yang tidak berhak. Kasihan sekali sepatu itu hak nya di rampas oleh seorang Darell.
"Kalea... sebenarnya apa yang terjadi pada Darell?"
Saat ini Daren sedang berada di rumah Kalea untuk menanyakan sebab perubahan Darell.
"Maaf ya Daren, aku juga tidak tahu. Bahkan aku baru tahu jika perusahaan mengalami perubahan peraturan."
Kalea baru mengetahuinya dari Daren karena dirinya sudah berhenti magang dan sudah mulai aktiv kembali sebagai mahasiswi.
"Aku takut dia salah minum obat, asal kau tau beberapa hari yang lalu Darell menyuruh ku membeli sebuah pulau lalu kapal pesiar dan sebuah pabrik mainan...." Kalea tercengang mendangar perkataan Daren.
"Kau tau apa yang dia katakan saat aku bertanya untuk apa semua itu?" Kalea menggelengkan kepalanya dengan wajah yang masih terkejut.
"Dia bilang dia hanya ingin membelinya karena melihat promo di majalah dan untuk pabrik mainan karena dia tak suka dengan namanya jadi dia mau membeli nya dan mengganti namanya."
"Kau serius?! kau tak bohong?!" Tanya kalea.
"Untuk apa aku bohong, lagi pula aku datang kemari juga karena itu..."
Kalea tak habis fikir sebenarnya apa yang terjadi kepada suaminya ini kenapa sikapnya berubah.
"Aku akan datang kekantor nanti siang..."
Setelah kedatangan Daren tadi pagi, kini Kalea benar-benar tercengang melihat pemandangan tak biasa di kantor milik suaminya. Semuanya berubah.
"Kenapa kantor jadi begini..." Gumam Kalea.
Kalea berjalan menuju ruangannya, sampai-sampai ada tangan yang menghentikan nya.
__ADS_1
"Vania..." Ucap Kalea.
Vania membawa Kalea ke kantin kantor dan mengajaknya berbincang sebentar. Vania ini teman baru Kalea saat magang dulu mereka dekat karena satu devisi.
"Bu Boss, aku mohon tolong katakan pada Pak Boss tentang peraturan itu..." Keluh Vania dengan wajah memelas.
Kini penampilan Vania sangat berbeda tidak ada lagi rambut indah di gerai, baju pres body dan sepatu berhak tinggi. Penampilannya sangat berubah terlihat lebih tua dengan baju kebesaran dan siapa lagi yang bisa merubah semua karyawan menjadi seperti kni, tentu Tuan muda Darell yoon.
"Vania sebenarnya kesalahan apa yang membuat Darell merubah peraturan?" Tanya Kalea.
Vania berubah pias, gadis itu kebingungan mau menjawab apa. Dirinya takut jika jawbannya akan membuat Kalea sedikit sakit hati atau tersinggung.
"Jawab Vania, jangan takut. aku tidak akan marah." Kalea mengusap lengan Vania, dirinya sadar bahwa ada kejadian di kantor yang tidak Kalea ketahui atau bahkan Daren pun juga.
"In-ini karena..." Vania menatap ragu kearah Kalea.
"Jangan takut ceritakan saja, agar aku bisa membantu kalian untuk merubah peraturan itu aku tahu kalian tidak nyaman..."
"Jadi, waktu itu ada seorang anak pemilik perusahaan yang di utus untuk melakukan perjanjian dengan Pak Boss. Tapi ternyata wanita itu memiliki maksut tertentu, pakaian nya ketat sekali dia bahkan menggoda Pak Boss dari saat itu peraturan baru di buat..." Vania menghentikan ucapannya dan menatap kearah Kalea untuk melihat reaksi Kalea.
"Ta-tapi kami para karyawan tau batasan, kami tidak mungkin menggoda Pak Boss karena kami tau Pak Boss sudah beristri..." Lanjut Vania.
"Jadi jika Darell belum menikah kalian mau menggoda nya?"
"Tidak!!" Panik Vania.
"Hahahaha, aku hanya bercanda..."
"Bu Boss kau hampir membuat jantung ku meledak."
"Aku akan bicara pada Darell, jangan khawatir dan bekerjalah dengan nyaman." Kalea berdiri dari duduknya kemudian pergi menuju ruangan suami nya.
Ruangan Darell berubah menjadi taman bunga, semua sudut ruangan dan bahkan meja pun di penuhi bunga.
"Astaga! apa ini semua..."
"Sayang..." Ucap Darell saat menyadari jika istrinya berada di ruangan nya.
"Kenapa banyak bunga?"
"Emmm, aku hanya suka saja..."
Suka katanya, sejak kapan seorang Darell menyukai bunga. Bahkan mencium baunya saja dia bisa muntah.
"Tapi kamu kan tidak suka bunga..." Kalea berjalan mendekat kearah suaminya.
"Sekarang aku suka, karena bunga nya cantik sama seperti istri ku ini..." Darell tersenyum.
"Aku rasa memang ada yang salah dengan suami ku, kenapa dia berubah..." Batin Kalea.
Sementara itu di tempat lain, seorang remaja yang sedang kesal dengan kelakuan seorang wanita dewasa tapi sayang nya dia tidak bisa marah pada wanita itu.
"Viooo, aku tidak mau berpenampilan seperti ini kesekolah..." Rengek Zeron.
Dia di dandani oleh Violleta dengan dandana rapih bahkan seragam nya saja di masukkan kedalam celana berbeda sekali dengan dandanan Zeron biasanya.
Zeron biasanya tidak pernah rapih bahkan kancing seragam nya saja tidak pernah di kancingkan, meski begitu tidak ada yang berani menegor Zeron karena dia adalah cucu pemilik sekolah tersebut.
__ADS_1
"Zeron kamu itu harus jadi murid teladan, aku tidak mau jika harus di panggil ke ruang BK kembali!!" Teriak Violleta galak.
Violleta jengah saat dirinya menerima telvon dari pihak sekolah Zeron, bukan hanya sekali dalam sebulan tapi sepuluh kali dalam sebulan dirinya di panggil ke ruang BK.
"Vioo, aku nampak cupu dengan penampilan ini."
Zeron gatal sekali saat melihat pantulan dirinya dalam cermin, rasanya dia mau mengacak acak baju rapihnya tapi dia masih sayang nyawa karena bisa di pastikan Violleta akan mengamuk.
"Dengar ya anak tampan, awas saja sat aku menjemput mu nanti tampilan mu berubah. Maka aku akan memotong uang jajan mu!" Violleta memelotot galak kearah Zeron, persis seperti ibu tiri.
"Iya..." Final Zeron akhirnya menurut.
Setelah mengantar Zeron kesekolahnya, Violleta pergi kebutik miliknya karena memang hari ini jadwalnya memeriksa butik.
Langkahnya terhenti saat melihat seorang pria berdiri di depan pintu ruangan kerjanya.
"Maaf Madam Leta, ada tamu..." Ucap salah satu pegawainya.
"Siapa dia?"
"Katanya dia tunangan Madam..." Sang pegawai pun pergi setelah memberitahu Violleta jika ada seorang tamu.
"Cihh... Tunangan katanya." Gumam Violleta.
Lantas Violleta berjalan dengan anggun nya menuju ruangan kerjanya, dia bahkan tak menyapa tamunya dan langsung saja masuk kedalan ruangannya.
"Leta.. " Ucap Reganza.
"Mau apa kamu datang kebutik ku? apa kamu mau memesan baju?" Tanya Violleta tanpa melihat wajah Reganza.
"Apa hubungan mu dengan bocah ingusan itu?"
"Sudah bisa ditebak, pasti setelah ini tua bangka sialan itu akan datang berkunjung." Batin Violleta.
"Sudah ku bilang, dia kekasih ku."
Reganza tersenyum masam, "apa kau gila?! kau berkencan dengan anak sekolah!! apa kurang nya aku?!" Reganza menatap nyalang kearah Violleta.
"Jangan sok mengatur hidup ku!! kau bukan siapa-siapa didalam hidup ku."
Violleta tak pernah suka jika dirinya banyak di atur bahkan dilarang, dia merasa tak ada satu orang pun yang berhak melarang dirinya.
"Aku tekankan sekali lagi!! kau bukan siapa-siapa dan tak akan menjadi apa-apa di hidup ku!!" Terang Violleta.
Sakit sungguh sakit hati Reganza, lelaki itu benar-benar menyayangi Violleta tetapi yang dia dapat hanya luka. Mungkin memang pantas Violleta membencinya karena kesalahan nya.
Saat Reganza akan mengatakan sesuatu tiba-tiba pintu ruangan kerja nya didobrak seseorang.
"Kakak!!! aku di bully... Huaaaa"
Zeron berlari menabrak Reganzan dan kemudian memeluk erat tubuh Violleta.
Kalian tahu seorang Zeron yang kejam dan dingin, berlari sambil menangis. Violleta tercengang melihat tingkah Zeron yang aneh.
"Zeron kenapa kamu menangis sayang..."
Sekali lagi Reganza di buat terbengong melihat tingkah laku pria bernama Zeron yang menjadi saingan asmaranya, dia anak yang cengeng.
__ADS_1
"Aku bersaing dengan anak bayi..." Gumam Reganza.