
"Bagaimana bisa aku dangan Nion, jika Dady tau pasti dia akan menjauhkan ku dengan Nion."Ucap Helena.
"Kenapa aku tidak bisa mengontrol perasaan ku."Ucap Helena.
Kini wanita itu tengah berendam di air yang penuh busan dan aromaterapi agar pikiran nya tenang, Helena memejamkan matanya tiba-tiba ingatan ketika dia bersama Nion muncul kembali.
"Ahhh, kenapa ingatan itu muncul lagi?" Helena memijit kening nya.
Sedang Nion tengah bersitegang dengan Papanya, ya laki-laki itu meminta izin agar dia bisa menikahi Helena.
"Kau datang ke Mansion ku hanya untuk meminta restu, untuk menikahi kekasih mu?"Tanya Papa Nion.
"Iya Pa..."Jawab Nion.
"Aku akan merestuinya, asal kau memenuhi syarat dari ku."Ucap Tuan Hartawan.
"Apa syaratnya?"Tanya Nion.
Nion sudah bertekat jika syarat yang di ajukan Papa nya sangat tidak masuk akal, maka ini kali terakhir nya dia menemui Papa nya itu.
"Pergilah ke jerman, urus perusahaan di sana selesaikan masalah yang ada di sana. Aku akan merestui hubungan mu dengan Helena."Ucap Tuan Hartawa.
"Aku tau kau selama ini memendam rasa dengan anak, Tuan Remora. Tapi apakah kau pikir dia akan merestui mu? kembalilah ke jerman bangun perusahaan mu sendiri dan tunjukkan pada Tuan Remora jika kau layak jadi menantunya."Tuan Hartawan menepuk halus bahu anaknya.
"Aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar layak."Gumam Nion.
Nion kembali ke apartemen nya dia memepersiapkan segala kebutuhan nya untuk tinggal di jerman.
"Aku janji akan kembali, aku akan menjemput mu."Gumam Nion,laki-laki itu tengah memandangi foto Helena.
Nion menulis surat pengunduran dirinya, dan menulis surat untuk Helena. Dia tidak bisa berpamitan dengan Helena karena dia harus pergi malam itu juga.
Sedang di Mansion Mark, Micell tengah mengganti perban di luka jahitannya.
"Aku tidak bisa melakukan ini sendiri, Mama... huaaaa."Rengek Micell.
"Kenapa kau merengek?"Tanya Mark.
Micell melihat Mark yang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya, duda satu itu tengah mengenakan setelan piyama berwarna maroon. Warna yang membuat nya tampak lebih mempesona dan ****.
"Ya Tuhan bagaiman bisa duda satu anak ini terlihat tampan sekali," Gumam Micell dalam hati.
Mark mendekati Micell, wanita itu tengah menatapnya dengat tatapan penuh kekaguman.
"Kau... Suka sekali memandang ku, seperti memandang barang diskonan. Kedipkan mata mu."Mark menyentil kening Micell.
"Aduhh, sakit tau Pak."Keluh Micell.
__ADS_1
"Apa kau mau mengganti perban mu?"Tanya Mark, laki-laki itu melihat di samping Micell tengah ada kotak P3K.
"Emmmm, tapi aku tidak bisa."Ucap Micell putus asa.
"Akan aku bantu."Mark mengambil kotak P3k di samping Micell dan memulai membuka perban lama Micell.
"Jangan sampai sakit ya Pak, pelan-pelan."Rengek Micell.
Mark mengganti perban Micell dengan hati-hati dan sesekali meniup luka Micell, agar wanita itu tidak berteriak histeris.
"Sudah."Ucap Mark.
"Terimakasih Pak."Ucap Micell.
Mark meletakan kotak P3k di atas nakas dekat tempat tidur Micell.
"Apa Fay sudah tidur?"Tanya Micell.
"Belum, dia sedang menelvon Ountynya. Nanti juga dia akan kemari."Ucap Mark.
Micell merasa gugup jika sedang berada di satu ruangan dengan Bossnya itu, apalagi hanya berdua.
"Apa aku boleh bertanya"Ucap Mark.
"Tanyakan saja."
"Kau menyukai Briyan?"Tanya Mark.
"Bapak bicara apa? aku dan Pak Briyan kan baru bertemu mana bisa aku suka padanya."Ucap Micell.
Mark yang mendengar perkataan Micell hanya mengangguk senang, tapi dia sembunyikan rasa senangnya.
"Memang ada apa pak?"Tanya Micell.
Mark mendekati tempat tidur Micell, menatap wajah Micell dalam-dalam.
"Jantung ku berdetak, apa aku benar-benar mulai menyukai nya."Gumam Mark dalam hati.
Mark berbalik dan pergi meninggalkan kamar Micell, dia berfikir jika dia hanya berdua dengan Micell lebih lama lagi. Entah apa yang akan terjadi.
"Kenapa duda satu itu, aneh sekali."Gumam Micell.
Tak berapalama kini giliran Fay yang masuk kedalam kamar Micell.
"Momy.."Panggil Fay.
"Iya sayang ada apa?"Tanya Micell.
__ADS_1
Fay berjalan menghampiri tempat tidur Micell, anak itu manaikan tubuh nya ke atas ranjang tidur Micell.
"Boleh tidak Fay tidur di sini?"Tanya Fay.
"Tentu boleh dong, sini tidur di sebelah Momy."Micell menepuk bantal di sebelahnya meberi kode pada Fay, agar anak itu menidurkan kepalanya di bantal sebelah kanan Micell.
"Momy, kata teman Fay. Tidur dengan kedua orangtua itu sangat membahagiakan, Fay juga mau Mom."Ucap Fay lirih.
Micell memandangi wajah polos Fay, disana ada kesedihan yang terukir jelas. Mungkin bagi anak lain tidur dengan Momy dan Dady nya adalah hal yang biasa, tapi berbeda untuk Fay yang sedari bayi harus kehilangan Mimi nya.
"Suatu hari nanti, Fay juga bisa tidur bersama dengan Pipi dan Momy, Fay harus berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mengirimpan Momy untuk Fay."Ucap Micell.
Sepertinya jawabab Micell membuat anak kecil yang mengenakan piyama berwarna ungu muda itu sedikit kecewa.
"Tapi Fay mau nya Mom Micell yang menjadi Momy Fay, apa Mom tidak bisa?" Fay memeluk tubuh Micell, anak itu sungguh tidak mau kehilangan wanita yang belakangan ini memberikan kasih sayang bagaikan seorang ibu.
"Aku harus jawab apa? aku tidak mungkin meng iyakan."Gumam Micell dalam hati.
Tubuh Fay mendadak bergetar, piyama Micell terasa basah karena air mata gadis kecil itu.
"Sayang jangan menangis ya."Micell mengelus punggung Fay.
"Hikksss hikkksss, Fay tidak mau punya Momy lain selain Mom Micell. Hiksss hikss."Tangis Fay.
Mark yang ingin melihat ke adaan putrinya di kamar, tak sengaja mendengar tangisan Fay saat melewati kamar Micell.
"Fay kenapa?" Tanya Mark yang sudah ada di ambang pintu.
"Pipi hikksss hikss, Fay tidak mau punya Mom lain selain Mom Micell."Rengek Fay.
"Memang siapa yang mau jadi Momy mu jika bukan Mom Micell."Ucap Mark.
Perkataan Mark barusan membuat Micell menatap sesosok laki-laki yang memanga dia kagumi, tapi membohongi anak kecil bukanlah tindakan yang terpuji.
"Fay tidur ya sayang,"Mark mendekati putrinya yang senantiasa masih memeluk tubuh Micell.
"Fay mau tidur di temanin Pipi sama Momy."Ucap lirih Fay.
Micell dan Mark saling pandang, kedua orang dewasa itu tengah mencari jawaban untuk menolak permintaan Fay secara halus.
"Sayang Pipi kan masih ada urusan, sekarang Fay tidur dulu dengan Mom. Nanti jika Pipi sudah selesai, Pipi bakal menyusul."Bohong Micell.
"Iyakah Pi?"Tanya Fay.
"Iya sayang, nanti Pipi menyusul saat pekerjaan Pipi sudah selesai." Ucap Mark.
Fay yang mendengar jawaban masuk akal Micell akhirnya memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.
__ADS_1