
Zidney menatap tak suka kearah Meta,"Zi tau Metakan yang menjebak Luna!! Meta memang jahat."Ucap Zidney.
"Jangan asal kalau ngomong! gue enggak jebak si Luna, elo liatkan tadi dia minta maaf. Itu tandanya Luna memang salah."Ucap Meta.
"Zi enggak percaya sama omongan Meta, Meta gadis jahat Zi enggak mau punya saudara kayak Meta."Ucap Zidney.
"Tapinyatanya Ayah elo adalah Ayah gue juga."Ucap Meta.
Meta sengaja memancing emosi Zidney agar Zidney melukai Meta.
Dan benar saja Zidney menampar pipi Meta hingga Meta tersungkur kelantai.
"Zidney!!"Panggil Rehan.
Meta tau jika Tuan Rehan tengah mengamati pertikaian mereka.
"Ayah..."Ucap Zidney.
"Zi!! Ayah tidak pernah mengajari mu untuk kasar dengan saudara mu."Ucap Rehan.
Rehan menghampiri Meta dan membantunya berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?"Tanya Rehan.
"Tidak Ayah, Meta tidak apa-apa. Jangan marahin Zidney dia tidak salah mungkin Zidney belum menerima Meta sebagai saudara tirinya."Ucap Meta.
Zidney sangat sakit hatinya ketika mendengar Meta memanggil Ayahnya dengan sebutan Ayah.
Rehan memandang Zidney,"Minta maaf pada Meta!"Bentak Rehan.
Ini pertama kalinya Rehan membentak Zidney setelah kejadian pembunuhan Zay.
"Ayah bentak Zi, Ayah tidak sayang Zi lagi!!"Zidney berlari keluar dari Mansion nya.
Rehan ingin mengejar Zidney namun Meta pura-pura pingsan.
"Ahkk..."Meta terjatuh.
Rehan menggendong tubuh Meta dan membawanya kekamar.
"Pergilah yang jauh cupu, dan aku akan menguasai orangtua dan hartanya."Ucap Meta dalam hati.
Zidney berlari sampai dia kehabisan tenaga.
"Hey kau sedang apa?"Tanya Zane.
Ya, Zidney berlari tanpa sadar sapai dia berhenti tepat di depan Mansion Zane.
"Zane..."Zidney berlari kearah Zane.
Zane yang tengah memakan somay di depan Mansion nya merasa terkejut saat dia melihat kekasihnya berlinang air mata.
"Kamu kenapa?"Tanya Zane
Zidney memeluk tubuh Zane, gadis itu terisak di dalam pelukan Zane. Zane menaruh piring yang masih berisi somay itu di atas bangku.
"Menangislah saat kamu sudah puas menangis, maka ceritakan apa yang terjadi pada mu."Ucap Zane.
Beberapa saat kemudian Zidney berhenti menangis dan melepas pelukannya.
__ADS_1
"Zane... Zi mau somaynya."Ucap Zidney yang memebuat Zane melongo.
Zane akhirnya memesankan satu porsi somay untuk Zidney.
"Jadi kenapa kamu berlari sambil menangis?"Tanya Zane.
"Ceritanya nanti saja Zane, Zi ingin makan somay nya dulu."Ucap Zidney dengan sesenggukan.
"Ohh astaga, untung sayang jika tidak sudah ku masukan kamu kerawa-rawa."Gumam Zane dalam hati.
Zidney menghabiskan tiga mangkuk somay, itu membuat Zane merasa heran.
"Dia makan banyak kenap dadanya kecil, lalu kemana larinya somay-somay itu."Ucap Zane dengan menatap kearah tubuh Zidney.
"Sudah, Zi sudah kenyang. Saat nya Zi pulang."Ucap Zidney.
"Ck,, pulang bagaimana. Bukankah kamu ingin bercerita kenapa kamu menangis sambil berlari?"Tanya Zane.
"Tadi Zi di bentak Ayah."Ucap Zidney.
Zidney menceritakan semua kejadian di Mansion nya.
"Jadi Luna pergi dari rumah?"Tanya Zane.
"Iya Zi tidak tau dimana Luna sekarang."Ucap Zidney sendu.
"Jadi kamu mau pulang atau tidak?"Tanya Zane.
"Boleh tidak Zi menginap di hotel saja."Ucap Zidney.
"Tidak!!"Ucap Zane.
"Lalu Zi harus kemana, Zi kan ceritanya mau kabur dari rumah."Ucap Zidney polos.
"Menginap di Mansion ku saja, lagian ada kak Fay jadi kamu bisa tidur dengan nya."Ucap Zane.
Zidney tanpa pikir panjang langsung mengiyakan perintah Zane.
Sementara itu Killian tengah berada di hotel dimana Luna menginap, Killian mendapat laporan dari tagihan kartu yang Luna gunakan.
"Gadis nakal, sedang apa kau di hotel tengah malam begini."Ucap Killian dengsn berjalan cukup cepat.
Killian mengetuk pintu kamar yang di sewa oleh Luna, sementara Luna baru saja selesai mandi dan masih mengenakan komono.
"Siapa yang mengetuk pintu kamar ku."Ucap Luna.
Luna berjalan mendekati pintu dan membuka pintu kamar nya.
"Maaf saya tidak pesan makanan."Ucap Luna saat belum tau siapa yang mengetuk pintunya.
Killian dengan sigap menerobos masuk ke kamar Luna tanpa permisi.
"Killian!!"Teriak Luna.
"Sedang apa kamu malam-malam di hotel sayang?"Tanya Killian dengan senyuman yang menakutkan.
"Ak-aku sedang ingin saja."Ucap Luna.
Luna menelan salivahnya dengan susah,"Bagaima Killian tau kalau aku ada di hotel ini."Ucap Luna dalam hati.
__ADS_1
Killa menatap tampilan Luna dengan rambut basah dan kimono mandi yang melekat di tubuhnya.
"Apa kamu mau menggoda ku sayang."Ucap Killian.
"Ti-tidak."Ucap Luna tergagap.
Killian berjalan menuju sofa yang ada di kamar Luna dan mendudukan tubuhnya di sana.
"Ganti baju lah, lalu kita akan bicara."Ucap Killian.
Tanpa pikir panjang Luna akhirnya menyambar baju ganti yang dia siapkan sebelum mandi lalu beranjak ke kamar mandi.
"Kenapa tidak berganti didepan ku saja sayang."Ucap Killian menggoda.
"Apa kau mau aku buat babak belur sayang."Ucap Luna dengan kesal.
"Hahaha... Kau bisa mengikuti permainan ku."Ucap Killian dengan gelak tawa.
Killian menunggu Luna selesai berganti pakaian, tak berapa lama Luna keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja rias nya.
Luna mengeringkan rambut panjang lurusnya itu.
"Aku bantu."Ucap Killian.
Killian mengambil alih alat pengering rambut yang di pegang Luna, Luna membalikan tubunya menghadap Killian.
Saat Killian mulai mengeringkan rambut Luna, gadis itu tiba-tiba memeluk Killian dan menangis di pelukan Killian.
"Menangislah, aku akan selalu ada untuk mu."Ucap Killian, Killian memeluk tubuh Luna tangannya mengusap halus kepala Luna.
"Aku tidak mencuri perhiasa Bunda."Gumam Luna,"Sungguh aku tidak melakukan nya Killian kau percayakan."Ucap Luna lagi.
"Aku percaya kamu tidak melakukan nya, coba ceritakan bagaiman kejadian yang sebenarnya."Ucap Killian.
Killian melepas pelukanya lalu menuntun Luna untuk duduk di sofa, lebih tepat nya Killian membawa Luna untuk duduk di pangkuanya. Killian menyenderkan kepala Luna di dada nya.
"Aku tadi di Mansion dengan Zidney selepas kamu pulang, tiba-tiba Bunda berteriak Bunda bilang perhiasanya hilang."Ucap Luna, Killian menenangkan Luna.
"Lalu Meta mengusulkan untuk Bunda agar menggeledah semua kamar yang ada penghuninya."Ucap Luna dengan sesenggukan.
"Lalu perhiasan itu ada di kamar mu dan Bunda mengusir mu."Ucap Killian, Luna mengangguk karena semua ucapan Killian benar.
"Tenanglah aku yakin Bunda tidak benar-benar marah pada mu."Ucap Killian.
Luna memainkan liontin kalung yang di pakai Killian.
"Meta bukan anak Ayah Rehan, kamu anak Ayah Rehan yang sebenarnya bukan."Ucap Killian.
"Darimana kamu tau?"Tanya Killian.
"Kamu ingat saat kamu tidur di kamar ku, waktu itu aku tidak sengaja melihat foto yang ada di liontin itu."Ucap Killian.
"Emmm, iya aku adalah anak dari istri lain Ayah Rehan. Tapi aku takut jika Bunda dan Zidney membenci ku."Ucap Luna.
"Percayalah pada ku mereka tidak akan marah, mereka orang baik sayang."Ucap Killian dengan mengecup kening Luna.
"Tidurlah, aku akan menemanu mu."Ucap Killian.
"Apa aku tidak apa-apa tidur di pangkuan mu."Ucap Luna.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, tidurlah."Ucap Killian.