
Sepuluh tahun yang lalu…
“Maa, sakit Maa.” Seorang gadis memegang dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit, detak jantungnya semakin cepat wajahnya memucat.
“Maa, Mama…” Gadis itu berjalan dengan meraba dinding berharap tumpuan itu kuat menyangga bobot tubuhnya.
Bruakk!!!
Prang!!!
Namun sayang tangannya tak mampu menyangga tubuhnya walau dia merambat didinding yang koko sekalipun, gadis itu limbung jatuh kelantai tangannya tak sengaja menyenggol guci besar dihadapanya.
“Akkhhh, sakit Tuhan…” gumam gadis tersebut.
“Tolong jangat cabut nyawa ku dulu Tuhan, aku masih ingin memandang wajah Mama dan Papa. Hikss… hiksss.” Gadis itu memohon kepada sang pencipta agar menyelamatkan hidupnya, gadis remaja itu belum mau berpulang kepangkuan sang maha kuasa dia ingin membahagiakan orangtuanya melihat orangtuanya bangga memilik anak seperti dia.
Dia Kalea Putri Briyan, ramaja itu mengidap kelaian jantung sejak dia lahir. Jantungnya bahkan lemah tak sanggup memompa aliranan darah keselurh tubuhnya oksigen yang dia hirup semakin menipis membuat dadanya sesak.
“Kalea!!!” sayup-sayup gadis itu mendengar suara teriakan wanita yang dia yakinin itu adalah Mama nya, dia tersenyum ada yang menyelamatkan dia.
“Ya Tuhan, Kalea bangun sayang!! Bangun nak!!” Helena memangku kepala anaknya di pahanya dan menepuk-nepuk pipi anaknya.
“Papa!! Kilian!! Tolong Kalea!!” tubuhnya bergetar saat mengetahui jika anaknya sudah tak sadarkan diri.
“Kalea!!!” teriak Brian.
“Killian, cepat siakan mobil kita bawa adik kamu kerumah sakit.” Berian membopong tubuh Kalea menuju garasi.
“Iya Paa.” Kilian sama paniknya dengan sang Mama, dia tidak tega melihat adik kesayangannya limbung tak berdaya.
Kalea di larikan kerumah sakit, sesampainya di rumah sakit Kalea langsung di tangani oleh dokter jantung yang memang sudah menjadi dokter bribadi Kalea sejak dulu.
“Hikkss… Paa. Kalea giman kalau hal buruk terjadi sama Kalea Paa, Mama enggak bisa kehilangan Kalea.” Helena menangis tersedu membayangkan bagaimana jika anak perempuan satu-satu nya pergi meninggalkan dirinya.
“Mama jangan bicara begitu, kita harus mendoakan Kalea dia anak yang kuat dia pasti sembuh Maa.” Briyan memeluk tubuh Helena memberi ketenangan agar sang istri tak panik, padahal dirinya lebih hancur. Hati seorang ayah mana yang tak sakit melihat anaknya berjuang selama ini dengan jantung nya yang lemah, jika boleh Briyan mau menggantikan putrinya untuk menanggung semua sakit itu.
“Ya Tuhan selamatkan nyawa adik ku, aku janji akan menjaganya dengan sepenuh hati ku.” Dao Killian dengan sepenuh hati. Dia takut jika adik kecilnya di ambil Tuhan.
Pintu ruangan Kalea terbuka keluarlah seorang dokter yang biasa menangani Kalea.
“Dokter, giman keadaan anak saya?” Tanya Helena. Pipinya sudah basah di banjiri air mata.
__ADS_1
“Kalea sejauh ini masih bisa bertahan karena bantuan dari obat-obatan, tetapi saya tidak yakin akan berapa lama lagi Kalea bisa bertahan dengan jantung yang sudah rusak. Kalea butuh donor jantung Bu, Pak.” Ucap Dokter Dion.
“Ambil, jantung saya Dok. Ambil sembuhkan putri kecil ku, ku mohon.” Helena berlutut memohon kepada dokter Dion.
“Ambil jantung saya dok, Hikss… hikss.” Helena memohon.
“Jangan begini sayang…” Briyan membantu istrinya berdiri lalu memeluknya.
“Maafkan saya Bu Helena, itu tidak bisa.” Ucap Dokter Dion yang kemudian meninggalkan Helena yang masih menangis.
“Papa, tolong Kalea. Biar Mama yang donorin jantungnya buat Kalea Paa.” Helena histeris didalam pelukan sang Mama.
“Mama, jangan jika Kalea tau pasti dia sedih Maa…” Ucap Killian dengan tenggorokan yang tercekat. Sakit hatinya dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk sang adik.
Siapa yang tidak tahu prosedur pendonoran jantung, jantung yang didonorkan harus berasal dari seseorang yang sudah meninggal sedang Mama nya masih hidup dan sehat.
“Mama, harus bagaiman Killian? Adik mu sekarat dan hanya ini yang bisa Mama lakukan.” Helena menepuk nepuk dadanya yang sesak, sungguh berat sekali cobaan hidup putrinya.
Dokter memberi waktu 3 bulan untuk keluarga Kalea menemukan sang pendonor yang tepat untuk Kalea, mendengar kenyataan itu runtuh sudah dunia Helena beserta suaminya. Itu sama saja hidup Kalea tinggal 3 bulan lagi jika tidak bisa menemukan jantung yang tepat untuk Kalea.
*****
“Mama, Kalea bosan pengen pulang terus sekolah.” Rengek Kalea.
“Sabar ya sayang, nanti kalau sudah sembuh pasti boleh pulang.” Helena mengecup puncak kepala anaknya.
Kalea tau bagaman keadaan fisiknya sekarang, dia memang masih berumur 13 tahun akan tetapi dia tidak bodoh. Penderita jantung kronis mustahil sembuh jika tidak dengan donor jantung.
“Mama, Kalea mau jalan-jalan ditaman boleh?” Kalea ingin mengusir kejenuhannya.
“Boleh jangan lama ya, Mama mau beli makanan dulu. Papa soalnya lagi ada meeting jadi terlambat kesininya.”
“Oke deh Maa.” Kalea berjalan dengan perlahan, dia tidak boleh kelelahan atau menambah ritme jantungnya menjadi cepat karena itu akan berakibat fatal.
Kalea berjalan melewati sebuah kamar yang sepi, sayup-sayup dia mendengar suara isakan tangis seorang wanita dewasa.
Klekk…
Kalea dengan tenangnya masuk kedalam kamar tersebut, di pandanginya seorang wanita yang tertidur lemah diatas tempat tidur.
“Hikkss… hiksss.” Tangisnya.
__ADS_1
“Maaf, apa tante sedang keskaitan. Mau kalea pangilkan dokter?” Tanya Kalea, Kalea takut jika penyakit wanita itu kambuh apa lagi tidak ada yang menungguinya. Dimana keluarganya?
“Ahh, tidak sayang.” Wanita itu mengembangkan senyumnya. Tangan nya dengan cepat menghapus jejak air matanya.
“Kemarilah, anak cantik.” Tanpa takut Kalea mendekati wanita tersebut, toh mereka sama-sama sakit jadi mana mungkin wanita itu mau menyakitinya.
“Nama kamu siapa tadi?”
“Nama aku, Kalea tante.” Kalea tersenyum ramah kepada wanita dihadapannya itu. Cantik wanita itu sangat cantik, wajahnya pucat sakit apa tante ini fikir Kalea.
“Kenalin nama Tante, Kania.”
Kania menatap senang kearah Kalea dia seperti bertemu dengan putrinya.
“Tante juga punya anak perempuan, mau lihat tidak fotonya.” Kania menarik laci kecil yang terdapat di nakas samping tempat tidurnya.
“Cantiknya, siapa namanya tante?” Tanya Kalea saat dirinya melihat selembaran foto gadis kecil seusianya.
“Namanya Zoe Alaya, mungkin dia seusia kamu.” Ucap Kania.
“Wah, kapan-kapan aku mau kenalan sama anak tante. Boleh tidak?” Tanya Kalea antusias.
“Tentu boleh, anak tante pasti sangat senang punya teman seperti kamu.”
“Tetapi umur Kalea tidak lama lagi.” Ucap Kalea sedih.
“Memang Kalea sakit apa?”
“Kalea sakit jantung, jantung Kalea rusak kata dokter tetapi enggak pa-pa Kalea iklas ini mungkin yang terbaik untuk hidup Kalea.” Ucapnya. Senyuman mengembang di wajah Kalea walau dia tau dia akan mati tetapi dia tidak mau terlihat sedih.
“Ya Tuhan, kasihan sekali kamu nak masih remaja sudah menanggung sakit yang teramat menyiksa.” Batin Kania.
Waktu mereka mengobrol sudah sangat lama, kini saat nya Kalea kembali ke kamarnya karena pasti sang Mama sudah mencarinya.
“Tante, Kalea pamit dulu kalau mau main Kalea ada di kamar Teratai no 05.” Ucap Kalea dengan melambaikan tangannya.
“Nanti Tante datang bersama putri tante.” Ucap Kania.
Kania berbohong jika putrinya akan datang, nyatanya sang suami tidak pernah memper bolehkan sang anak menjenguknya.
“Mama rindu kamu Zoe…” Gumam Kania.
__ADS_1