Tergoda Pesona Om Duda

Tergoda Pesona Om Duda
[Season 2]


__ADS_3

Zoe hanya bisa berdiam diri bagai patung tak bernyawa, saat seseorang memeluknya dari belakang. Rasa panik menjalar merasuki pikiran Zoe namun saat suara lembut memasuki gendang telinganya rasa panik itu menghilang seketika di gantikan debaran kecil di hati nya.


"Ini di kantor Pak..." Peringat Zoe, dirinya tak mau jika nanti ada seseorang yang melihat mereka dan berakhir menjadi gosip murahan.


"Sebentar saja..." Ucap Daren lirih.


Zoe menurut dan membiarkan Daren memeluk tubuhnya, menghirup aroma tubuhnya dan membuat Daren merasa sedikit tenang.


"Ada masalah?" Kini Zoe sudah terlebapas dari pelukan Daren, dan memutar tubuhnya mengjadap Daren.


"Tidak ada, aku hanya rindu kamu."


Zoe tak percaya dengan perkataan Daren, bagaiman bisa baik-baik saja sementara wajah Daren terlihat lelah dan sedikit memucat.


"Kamu sakit?" Zoe menempelkan punggung tangan nya di dahi Daren dan memang sedikit panas.


"Kamu demam, duduklah dulu aku akan mengambilkan kamu obat penurun demam." Zoe berjalan menuju meja kerja nya, disana memang dia selalu menyediakan persediaan obat-obatan.


"Nah minum lah lalu istirahat, hari ini jadwal mu sedikit dan aku bisa mengurusnya." Zoe menyerahkan sebutir obat penurun demam dengan segelas air putih.


"Terimakasih..." Daren menerima obatnya kemudian meneggaknya dengan beberapa teguk air.


"Tidurlah..." Zoe membantu Daren berbaring di sofa panjang yang ada di ruangan nya.


"Cantik..." Gumam Daren.


"Apa?"


"Kamu cantik, iya kamu cantik." Ucap Daren dengan menyelipkan beberapa helai rambut yang menutup wajah cantik Zoe.


"Kamu ini sedang sakit masih saja menggoda gadis." Zoe mencebikan bibirnya.


Memang ya lelaki tidak akan pernah bisa diam didepan perempuan yang dia suka walau tubuhnya sedang sekarat sekalipun.


Darel hanya tersenyum, kini dia merasakan sedikit pusing di kepalanya.


"Kamu ada masalah?" Tanya Zoe.


Daren menganggukan kepalanya, "masalah ku dengan kak Darell."


"Apa aku boleh tahu, siapa tahu kan aku bisa membantu."


"Kenapa tidak, kamu kan calon istri ku."


Zoe bersemu merah, gadis itu memalingkan wajahnya dirinya tak mau jika Daren melihat wajahnya yang bersemu merah.


"Jadi??" Daren menarik dagu Zoe sampai menatap kearah nya.


"Jadi apa??"


"Maukan menikah dengan ku??" Daren menggerakkan kedua alisnya.


"Sudah bilang Papa?"


Itu adalah salah satu permasalahan yang membuat Daren pusing dan berujung demam.

__ADS_1


"Ini gara-gara kak Darell, aku jadi tidak mendapat restu." Batin Daren.


"Aku belum mendapatkan restu Tuan Briyan." Ujar Daren dengan wajah menunduk sedikit kecewa.


"Dapatkan dulu restunya baru aku mau menikah dengan mu." Ucap Zoe.


Daren lantas mendongak menatap wajah cantik dihadapan nya dengan senyum manis dibibirnya.


"Kamu tidak bercanda kan?" Tanya Daren yang kemudian di jawab Zoe dengan gelengan.


"Terimakasih Tuhan, engkau telah mengabulkan doa ku."


Sesenang itu Daren sampai tak sadar memeluk tubuh Zoe dan sial nya mereka tidak menyadari siapa yang datang keruangan mereka.


"Lepaskan anak ku!!"


Keduanya mendadak melepas pelukan dan kemudian menatap kearah manusia yang meneriaki mereka.


"Lepaskan anak ku dan jangan pernah dekati dia lagi!." Tanpa mendengar penjelasan Daren, Briyan menarik tangan Zoe dan membawanya pergi.


Daren hanya bisa mengepalkan tangannya, tak lama handphone nya berbunyi.


"Kau sudah menemukan dia?"


"....."


"Kerja bagu, bawa ke markas."


"....."


Sambungan telvon pun terputus, Daren bergegas menuju markasnya tak lupa dirinya menghubungi kakak nya karena ini adalah masalah Darell dia hanya membantu.


"Kamu mau apa?"


"Kau diamlah, suara mu sangat cempreng." Ucap seorang lelaki dengan celana jeans hitam dan jaket kulit hitam tak lupa kaca mata hitam yang bertengger di hidung nya.


"Aku akan laporkan mu kepolisi!! kalian tidak tahu siapa aku!!" Teriak Sisilia, wanita itu tengah berada di sebuah rumah ditengah hutan dengan kaki dan tangah terikat di kursi.


"Ahhh!!! brisik." Zeron melakban mulut brisik milik Sisilia.


Zeron Mahen Malik, tangan kanan kepercayaan Daren. Lelaki dengan tubuh atlentis berkulit putis seputih pangsit itu sudah lama berkeja di bawah Daren, Zeron adalah seorang pemuda berusia 17 tahun dia masih anak sekolah karena kecerdasannya lah dia dapat menjadi kepercayaan Daren.


Zeron lahir di tengah keluarga broken home, Papa dan Mama nya terlalu sibuk mencari materi sampai melupakan Zeron yang masih membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya.


Zeron di temukan Daren di tengah jalan dengan keadaan luka parah, entah apa yang terjadi pada Zeron. Daren yang merasa iba pun membawa Zeron kerumah sakit dan inilah awal mula keduanya menjadi dekat.


"Wanita merepotkan, aku tidak akan mau menikahi wanita cerewet dan tua seperti dia." Zeron menatap tajam kearah Sisilian.


Sementara Sisilia yang di caci maki hanya bisa menyumpahi kelakuan Zeron dalam hati, "dasar bocah ingusan, aku doakan diri mu menikahi wanita tua yang menyebalkan." Batin Sisilia.


Tak berapa lama pintu rumah itu di buka dan masuklah kedua lelaki dengan setelan jas hitam, mereka adalah Daren dan Darell kakak beradik berdarah dingin yang siap menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Tapi mereka bukan mafia dan tidak sampai membunuh orang mungkin hanya mengasingkan orang ke ujun dunia saja.


"Hey... Manusia dewasa, kenapa lama sekali? aku bosan ingin jajan tahu." Zeron mendengus sebal kearah Daren dan Darell mereka terlambat lima belas menit dan Zeron benci itu.


"Dasar Bocil tidak tahu diri!!" Darell menggeplak kepala Zeron, dan memamg beginilah kelakuan mereka tak pernah akur tetapi Darell sangat menyayangi Zeron.

__ADS_1


"Ayolah kak aku ingin kencan, sudah bunuh saja wanita jelek ini." Zeron merengek ingin segera pulang, padahal dirinya adalah anak SMA yang jomblo yang berlagak banyak memiliki kekasih.


"Ck... siapa yang mau berkencan dengan anak menyebalkan seperti mu." Ucap Darell lagi.


"Sudah jangan bertengkar kalian, dan kamu Zeron cepat pergi biar ini jadi urusan kami." Daren melempar kartu black card kepada Zeron.


"Makasih kakak, dan untuk mu tante tua selamat menjadi santapan ikan hiu..." Zeron melambaikan tangan nya kearah Sisilian.


"Cepat bereskan kak, aku tidak mau jika pernikahan ku dengan Zoe terancam batal." Dumel Daren.


Sementara Darell sudah berjalan mendekati Sisilia tanpa mempedulikan perkataan Daren.


Ckrakkk...


Darell dengan sangat kasar membuka lakban yang menempel pada mulut Sisilia.


"Darell lepaskan aku!!" Teriak Sisilia, wanita itu sedikit ketakutan.


"Jangan harap kamu bisa bebas sebelum kamu mengakui semua kesalahan mu." Ucap Darell.


"Hahaha, kesalahan yang mana? ini memang bayi mu..." Ucap Sisilia dengan senyum diwajah nya.


"Mau ku hancurkan wajah menyebalkan mu itu!!" Daren naik pitam dengan ucapan Sisilia yang terkesan mengada ngada.


"Sudahlah jangan banyak derama Sisilia, kau akui jika semua ini adalag kebohongan sebelum perusahaan Papa mu aku hancurkan." Ancam Darell.


Seketika tubuh Sisilia menegang, "jika perusahaan Papa hancur maka aku pun juga akan hancur. Ahhh sial!!" Batin Sisilia.


Namun Sisilia tetap keras kepala dirinya berusaha membual dengan kata-katanya, "tetapi ini anak mu Dare, apa kamu tidak ingat bapagai mana panas nya malam itu saat kita bercumbu" Ucap Sisilia.


Prang!!!


Habis sudah kesabaran Darell, lelaki itu memukul guci yang ada di sudut ruangan dengan tongkat baseball.


"Katakan yang sebenarnya atau ku hancurkan kepala mu yang tak berisi ini!!!" Dengan tatapan penuh kemarahan Darell mengarahkan tongkat itu kearah kepala Sisilia.


"Cepat katakan yang sebenarnya!"


Namun Sisilia seolah tuli dan bisu dia hanya diam menatap Darell dengan tatapan sedikit menggoda.


"Lakukan saja, jika aku mati kamu pun tak akan kembali pada Kalea bukan."


Benar yang dikatakan Sisilia, jika Darell membunuh Sisilia makan bukti nyata akan hilang dan Darell tak akan bisa kembali pada Sisilia.


"Akhh!!! sial!!" Darell membuang sembarng tongkat yang dia pegang.


"Sudahlah lepaskan aku dan ayo menikah..." Ucap Sisilia dengan percaya diri sekali.


"Kak kamu terlalu lembek, serahkan pada ku..." Ucap Daren.


Daren berjalan menuju meja kecil di hadapan Sisilia, kemudian membuka laptopnya dan memutar rekaman dimana Sisilia sedang menggoda salah satu pejabat ternama yang memiliki seorang istri yang sangat berpengaruh di negaranya.


"Kau tau jika ini ku sebar maka aku pastikan besok diri mu dan semua keturunan dari keluarga mu akan lenyap..." Bisik Daren.


Jangan lupa mampir ke cerita baru outhor ya...

__ADS_1



__ADS_2