
Zidney mempersilahkan Luna untuk memasuki kamarnya, Luna merasa tidak percaya bahwa banguna mewah nan megah ini adalah milik Zidney.
"Zidney apa kau yakin ini rumah mu?"Tanya Luna.
Zidney terkekeh geli saat mendengar pertanyaan dari Luna.
"Bukan ini bukan rumah ku, ini rumah Mama dan Papa ku."Jawab Zidney.
"Itu sama saja "Ucap Luna.
Zidney dan Luna merebahkan tubuh mereka di ranjang tempat tidur milik Zidney.
"Zidney terimakasih kamu mau menampung ku."Ucap Luna.
Zidney memandang kearah Luna,"kau tidak perlu berterimakasih seperti itu, kitakan teman sudah sewajarnya saling membantu."Ucap Zidney.
Zidney sebenarnya ingin bertanya mengenai keadaan keluarga Luna, namun dia sedikit tidak enak karena menjaga perasaan Luna.
"Zidney kau tau, aku selalu ingin punya rumah sendiri walau itu kecil dan jelek setidaknya itu punyan ku."Gumam Luna sebelum dia tertidur.
"Apa kau mau aku belikan?"Tanya Zidney.
Namun pertanyaan Zidney tidak di jawab Luna, karena Luna telah berada di alam mimpi.
Zidney yang mengetahui jika Luna telah tidur, gadis itu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
"Ahhh, tompel palsu ini sangat tidak nyaman."Ucap Zidney.
Perlu di ketahui semu cermin di kamar mandi Zidney tertutup oleh kain.
Zidney keluar dari kamar mandi namun dia di kejutkan dengan Luna yang telah berdiri di depan pintu kamar mandinya.
"Kamu... Siapa?"Tanya Luna.
Zidney yang lupa memasang tompel palsunya seketika menjadi panik.
"Luna ini aku Zidney."Ucap Zidney.
Luna mengerutkan keningnya bingung, bagaiman mungkin tompel sebesar uang koin seribuan bisa hilang hanya karena Zidney mencuci mukanya.
"Zidney kemana tompel mu?"Tanya Luna.
Zidney membawa Luna untuk duduk di ranjangnya dan mulai menceritakan semua masalalu nya.
"Jadi kau trauma dengan wajah mu sendiri?"Tanya Luna.
"Iya Luna, jadi aku mohon rahasiakan ini."Ucap Zidney.
Luna menatap ke arah Zidney,"Zidney kau cantik, yang membuat adik mu meninggal bukan karena kecantikan mu. Tapi Tuhan lebih sayang adik mu, jangan kau benci wajah mu."Ucap Luna.
Zidney hanya menunduk seraya meneteskan air matanya.
"Aku takut dengan bayangan dimana kejadian itu terjadi, aku tidak mau jika kejadian itu terjadi lagi dengan orang-orang yang aku sayangi."Gumam Zidney.
__ADS_1
Luna mendekati Zidney dan memeluk tubuh Zidney,"kau jangan takut ada aku, aku akan selalu ada di samping mu."Ucap Luna.
"Terimakasih Luna kau mau menjadi teman ku."Gumam Zidney.
Kedua gadis itu saling mencurahkan perasaan mereka.
"Lalu bagaiman dengan mu? kenapa Mama mu membenci mu?"Tanya Zidney.
"Aku bukan anak kandung dari Mama, dulu waktu aku berumur 2 tahun Papa menemukan aku di pinggir jalan dengan keadaan basah kuyup. Dari semenjak itu aku di angkat menjadi saudara tiri Meta."Ucap Luna.
Zidney yang baru mengetahui kebenar bahwa Luna dan Meta adalah saudara tiri sangat terkejut.
"Jadi kau saudara tiri Meta, tapi kenapa kalian seperti orang asing jika di kelas."Ucap Zidney.
"Dulu Meta begitu baik pada ku begitu juga Mama Viona, namun saat kecelakaan yang membuat Papa meninggal mereka jadi benci pada ku."Ucap Luna.
"Kau harus sabar, aku akan selalu ada untuk mu."Ucap Zidney.
Kedua gadis itu akan selalu bersama di kala mereka susah dan senang itulah janji mereka.
Dari luar Bunda Zidney tak sengaja mendengar percakapan Zidney dan Luna.
"Semoga dengan adanya Luna, Zidney bisa perlahan melupakan traumanya."Gumam Bunda Tania.
Tania sebagai seorang Ibu merasa sangat sedih dengan apa yang terjadi
dengan kedua anak-anak mereka.
Malam berganti menjadi pagi, mentari menampakkan cahayanya. Kedua gadis cantik dengan gaya rambut berbeda itu kini tengah bersiap untuk berangkat sekolah.
Luna menghampiri Zidney,"Sudah Zi."Ucap Luna.
Kedua gadis itu berjalan beriringan menuju ke ruang makan untuk sarapan.
"Selamat pagi Bunda."Sapa Zidney.
"Selamat pagi tante."Sapa Luna.
Tania mendekati Luna dan Zidney"Cantik sekali teman anak Bunda, Luna panggil saja Bunda seperti Zidney."Ucap Tania.
"Iya Bunda."Ucap Luna.
Akhirnya mereka sarapan bersama tanpa Ayah Zidney, karena ayah Zidney masih ada di luar kota.
Setelah sarapan mereka berdua berpamintan kepada Bunda mereka.
Samapai disekolah mereka langsung menuju kelas mereka.
"Zidney..."Sapa Siffa.
Teman sekelasnya itu menghampiri tempat duduk Zidney dan Luna.
"Ada apa Siffa?"Tanya Zidney.
__ADS_1
"Apa benar kemarin kalian berkelahi dengan Meta dan membuat Killian masuk rumah sakit?"Tanya Siffa penasaran.
Zidney dan Luna saling pandang, sebenarnya mereka enggan untuk menceritakan kejadin yang menimpa mereka kemarin.
"Kalian tau tidak, orang tua Killian menuntut orang tua Meta untuk bertanggung jawab dan sekarang Meta ada di kantor polisi."Ucap Siffa lagi.
Zidney dan Luna meras terkejut dengan apa yang di dengar mereka.
"Darimana kalian tau?"Tanya Luna.
"Astaga Luna, apa kamu tidak ada televisi di rumah berita ini sudah disiarkan dan menjadi trending topik. Kalian tau kan siapa Killian dia anak pengusaha sukses setelah keluarga Zane."Ucap Siffa lagi.
Siffa memang biang nya ghibah, bahkan dia tau apa saja berita yang terjadi di dunia ini.
"Luna kamu tidak apa-apa "Ucap Zidney saat mlihat wajah Luna panik.
"Aku tidak apa-apa Zi..."Ucap Luna lirih, pandangannya menangkap sesosok wanita yang dia anggap sebagai ibu. Wanita itu tengah berjalan dengan angkuh nya menuju meja belajar Luna.
"Luna!!"Ucap Viona.
Luna beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Viona.
"Mama..."Ucap Luna.
Saat Luna memanggil Viona dengan sebutan Mama, semua teman Luna dan juga teman Meta terkejut bukan main.
Karena tidak ada salah satu dari mereka yang tau bahawa Luna dan Meta adalah saudara meski mereka telah satu kelas selama 3 tahun.
"Luna cepat ikut aku sekarang juga."Ucap Viona yang langsung menarik Luna untuk pergi dari kelasnya.
"Mama... Mau bawa Luna kamana?"Tanya Luna.
"Kau diam saja dan ikuti aku."Ucap Viona.
Viona membawa Luna untuk pergi ke rumah mereka.
Plakk!!
Viona menampar wajah Luna saat mereka telah sampai di rumah mereka.
"Akhh..."Luna memegangi wajah nya."Mama Luna salah apa?"Tanya Luna.
Viona menatap tajam kepada Luna,"Kau masih saja bertanya kau salah apa!! kau tidak lihat anak ku masuk penjara gara-gara kamu dasar anak sialan"Ucap Viona
Viona menjambak rambut Luna dan menghempaskan kepalanya sampai mengenai tembok.
"Akhh, Mama cukup Ma... Sakit."Rintih Luna.
Viona belum merasa puas dengan apa yang dia lakukan pada Luna, wanita dengan rambut panjang itu memgambil ikat pinggang lalu memukulkannya pada tubuh Luna.
Pletak!!!
Viona mencambuk tubuh mungil Luna, Wanita itu mencambuk Luna dengan membabi buta, Luna sudah memohon meminta maaf pada Viona namun Viona sudah buta dan tuli dia seperti orang yang kerasukan.
__ADS_1
"Mama sudah Ma... Sakit!!"Teriak Luna.