
Kalea menatap wajah Mama dan Papanya mungkin wajah mereka akan dia rindukan saat dia sudah tidak ada di dunia ini lagi.
“Tuhan terimakasih engkau telah lahirkan aku dari Rahim Mama Helena, dia Mama yang baik.” Batin Kalea.
“Sayang kenapa sedih?” Tanya Briyan.
“Enggak Paa, Kalea bosan pengen pulang.” Ucapnya.
“Nanti ya kalau sudah sembuh.” Ucap Briyan. Briyan engusap puncak kepala Kalea.
Tak lama ada yang masuk keruangan Kalea seorang wanita duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang suster.
“Tante Kania…” ucap Kaea.
Helena dan Briyan menatap kearah Kania dengan perasaan prihatin, wanita itu nampak kurus dengan wajah pucatnya.
“Kalea kenal?” Tanya Briyan.
“Kenal Paa…” Jawab Kalea.
Kania memberi kode kepada suster untuk mendekat ke ranjang tidur milik Kalea, “halo Kalea…” Ucapnya.
“Maaf Pak, Bu jika saya mengganggu. Saya mau bicara dengan kalian.” Kania menatap Helena dan Briyan secara bergantian. Mereka nampak bingung.
Helena mendekat kearah Kania, “Ada apa Bu…”
“Panggil saya Kania saja.” Ucap Kania dengan tersenyum.
“Ohh Iya Kania…”
“Mohon ikut saya ke ruangan dokter Dion.” Ucap nya.
Keduanya menurut saja tanpa banyak tanya pun kemudian mengikuti suster dan Kania menuju ruangan Dokter Dion.
Empat puluh menit lamanya mereka berada di dalam ruangan dokter Dion, Keduanya terdiam tenggelam dalam fikiran masing-masing setelah kembali dari ruangan dokter Dion.
“Mama, kenapa kok diam aja. Papa juga kenapa diam aja?” Tanya Kalea. Dia bingung sebab setelah kembalinya dari ruangan dokter Dion kedua orangtuanya terlihat berbeda, apa mungkin jantungnya sudah semkain parah dan kematiannya semakin dekat.
“Tidak sayang, Mama dama Papa hanya lelah sedikit.” Jawab Helena.
“Ohhh gitu, terus kemana tante Kania kok enggak kesini lagi Maa.” Tanya Kalea.
Belum juga Kalea mendengar jawaban dari Mamanya, pintu ruangannya dibuka dari luar dan masuklah beberapa perawat dengan brankar yang mereka dorong.
“Maaf kami mau memindahkan Nona Kalea keruang oprasi.” Ucap salah satu perawat.
“Secepat ini, memang boleh?” Tanya Helena khawatir.
“Keadaan Kalea cukup siap untuk menjalani oprasi jantung, karena ada seseorang yang bersedia mendonorkan jantungnya.” Ucap Sang perawat.
Jantung itu milik Kania, Mama dari Zoe dan sejak saat itu Kalea mencari tahu tentang Zoe dan memutuskan untuk masuk sekolah yang sama dengan Zoe. Mama Zoe meninggal bukan karena kangker tetapi karena lambung yang luka karena mengonsumsi obat tidur dengan dosis tinggi. Syukur jantung Kania baik-baik saja dan bisa didonorkan untuk Kalea.
Ada satu fakta yang harus Zoe tahu, tetapi Kalea belum bisa memberitahu Zoe karena Kalea takut Zoe membencinya. Fakta tentang kematian Mama Zoe yang sebenarnya berbeda dengan yang Zoe tahu.
*****
SMA GARUDA
Bruakk…
“Maaf, gue enggak sengaja.” Kalea memungut buku yang terjatuh dari tangannya.
“Ehh, iya enggak pa-pa. gue bantuin bawa ya.” Seorang gadis membantu Kalea membereskan buku yang berserakan dilantai.
“Gue Kalea.” Kalea mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Zoe Alaya, panggil gue Zoe aja.” Zoe tersenyum.
Mereka masih sama-sama anak baru, bahkan mereka masih dalam masa MOS dan saat ini Kalea sedang terkena hukuman karena salah melakukan tugasnya.
“Elo lagi di hukum?” Tanya Zoe.
“Ehh, iya nih gue dihukum suruh mindahin buku keperpus baru.” Kalea tersneyum malu, bisa-bisanya di awal masuk sekolah dirinya sudah terkena hukuman.
“Kenapa kok bisa di hukum?” Tanya Zoe.
Kalea hanya menunjukan selembar foto, foto dirinya dengan seekor kambing. Enggak ada yang salah atau aneh si dalam foto itu jika Zoe lihat-lihat.
“Salahnya dimana?” Tanya Zoe bingun.
“Salahnya karena, gue kira foto sama kambing beneran enggak Taunya foto sama kakak pembimbing alias kak Ares.” Kalea menghembuskan nafasnya mengingat gimana dia di tertawakan tadi.
“Hahaha, sumpah elo gokil bangte njirr…” Zoe tertawa terpingkal.
“Ya, mana gue tau Kambing singkatan kakak pembimbing lagian inikan bukan kuliahan kita masih SMA kali.” Kalea kesal dengan ketua OSIS yang mengerjainya.
“Ketua pembingnya itu buat bimbing kita biar bisa melewati MOS dengan baik dan selamat.” Jawab Zoe.
“Udahlah kantin yukk, laper nih gue. Gue telaktir deh.” Ajak Kalea, dia sudah selesai memindahkan 50 buku dari perpus lama ke perpus baru.
“Semangat gue kalau soal telaktir menelaktir.” Zoe menyengir.
Saat mereka melewati Lorong gelap antar kelas 10 dan kelas 11 mereka tak sengaja mendengar rintihan seseorang dan bahkan seperti sedang di pukuli.
“Elo denger enggak?” Tanya Kalea pada Zoe.
“Iya gue denger, apa itu ya?” Zoe memfokuskan pendengarannya.
Kalea dan Zoe berjalan mengendap mendekati sumber suara, suara itu berasa dari gudang belakang kelas yang sepertinya sudah lama tidak di pakai.
“Astaga Zoe, itu anak lagi di keroyok.” Bisik Kalea.
“Terus kita harus gimana?” Tanya Kalea.
Gila saja jika mereka berdua kesana pasti mereka juga akan di keroyok, mereka terdiri dari 5 orang siswa laki-laki dengan tubuh besar dan tinggi sedang yang di keroyok tidak terlihat jelas si karena tertutup badan si gembul.
“Tenang kita main cantik.” Bisik Zoe. Kalea melirik Zoe dengan was-was.
“Apa yang mau elo lakuin, jangan gila deh.” Bisik Kalea.
“Duhh jangan bikin gue serengan jantung, enggak tau apa gue baru dapet donor jantung.” Batin Kalea dengan mengelus dadanya yang berdebar.
Zoe berjalan kearah toilet perempuan dan mengambil selang panjang, entah sejak kapan Zoe tau jika ada selang air disana.
“Kalea kamu hidupin keran saat aku kasih kode ya.” Ucap Zoe.
“Oke…” Kalea bersiap.
Zoe bersembunyi di balik tembok kemudian lewat celah jandela dia memasukan ujung selang air.
“Kalea, Sekarang…” Zoe memberi kode.
Kalea yang menerima kode pun dengan senang hati menghidupkan kran airnya.
Crasss...
Air menyembur kuat kesemua badan siswa yang mengeruminin korban tadi.
“Woiii, apa-apaan ini basah!!”
“Woiii banji!!!”
__ADS_1
“Basah bego!!”
“Baju gua nerawang njirr!!”
“Kabur woyy!! Ada demit!!!”
Semua siswa yang mengeroyok tadi semuanya kabur tunggang langgang, mungkin mereka baru ingat jika gudang dan toilet itu sudah lama tidak di gunakan.
“Elo enggak pa-pa?” Tanya Zoe.
“Wahh, parah mukanya jadi jelek.” Celetuk Kalea. Zoe menoel lengan Kalea karena perkataan nya tidak baik.
“Emmhh, terimakasih udah bantuin gue.” Ucap siswa lelaki itu.
Kalea melihat pakaian anak lelaki itu ternyata mereka satu Angkatan alias anak baru.
“Elo anak baru juga ya?” Tanya Kalea.
“Iya…” Jawabnya.
“Kalea bawa ke UKS aja, kasian babak belur gitu.” Zoe dan Kalea membantu anak tersebut untuk berjalan.
Sesampainya di UKS Kalea dan Zoe mengobati luka anak tersebut dengan hati-hati.
“Akhhh, sakit.” Keluhnya.
“Dihh, lemah banget elo kayak gini aja sakit. Gitu sok jagoan berantem udah mah badan segede lidi lawannya seged gentong.” Cerocos Kalea.
“Gue di serang, gue enggak ngajak berantem mereka.” Ucap nya.
“Terserah…” Jawa Kalea.
“Nama gue Arkan Algeraldi…” Dirinya memperkenalkan namanya.
Kalea terkejut mendengar nama belakang Arkan siapa yang tak kenal Algeraldi pengusaha kayak raya dalam bidang perhiasan.
“Gila elo anak nya Om Geraldi?” Tanya Kalea heboh.
“Elo kenal bapak gue?” Tanya Arkan.
Arkan kira tidak ada yang mengenal Papanya jika dia memilih sekolah di SMA GARUDa, SMA ini bukan sekolah elit atau Kawasan orang berada.
“Kenal dong Om Geraldi itu pengusaha kaya raya, gue pernah pesen kalung di toko perhiaan Om Geraldi.” Ucap Kalea.
“Wahh, sumpah elo anak nya pak Geraldi yang kayak itu?” Zoe lebih heboh saat mengingat nama Geraldi.
“Kalian jangan heboh dong, gue enggak mau orang-orang tau soal gue.” Ucap Arkan kesal. Dia ingin merahasiakan identitasnya.
“Kenapa bapak elo kan kaya…” Ucap Zoe.
Zoe heran saja kenapa Arkan seperti menyesal memiliki orangtua kaya raya.
“Gue enggak mau banyak yang tau tentang gue karena gue pernah dimanfaatin temen-temen gue.” Jelas Arkan.
“Ohh, gitu oke deh.” Jawa Kale dan Zoe.
“Gue temenan sama elo pada deh, boleh enggak?” Tanya Arkan, Arkan fikir dua gadis di hadapannya ini berbeda dengan teman-temennya dulu.
“Boleh tapi, satu tas guci ya…” Jawab Kalea.
“Tas Dior deh enggak pa-pa…” Zoe menambahi lalu kemudian kedua gadis itu tertawa terpingkal-pingkal membuat Arkan kesal dengan tingkah gadis dihadapannya.
Dan semenjak saat itu mereka menjadi dekat sampai akhirnya tepisah karena Arkan berpamitan untuk kuliah ke Paris.
******
__ADS_1
Gimana perasaan kalian kalau jadi Zo???
Gimana perasaan kalian kalau jadi Kalea???