
Zidney turun dari motor Zane dengan sedikit malu, karena baru pertama kali ini dia menjadi pusat perhatian.
"Ini semua gara-gara Zane, satu sekolahan memperhatikan Zidney."Gumam Zidney dalam hati.
Namun tidak sampai disitu, Zane menggandeng tangan Zidney lalu menuntunnya masuk ke dalam kelas.
"Zane..."Ucap Zidney, gadis itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"Tanya Zane.
Zidney menyipitkan matanya,"Kenapa Zane baik sama Zidney dan kenapa Zane gandeng tangan Zidney?"Tanya Zidney, mulut gadis itu sudah di majukan.
"Menurit pada ku, atau kau mau aku mencium bibir cerewet mu itu di depan murid-murid."Ucap Zane dengan nada yang menggoda.
Zidney dengan reflek menutup mulut nya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan nya di genggam erat oleh Zane.
"Sekarang ikuti langkah ku."Ucap Zane.
Dengan polosnya Zidney mengangguk dan mengikuti langkah Zane.
"Gadis penurut, tapi lebih menyenangkan jika kamu tidak menurut."Gumam Zane dalam hati.
Zidney berjalan dengan menunduk, karena malu menjadi pusat perhatian satu sekolahnya.
Sampai di kelas Zane tak melepaskan tangan Zidney bahakan, Zane duduk di sebelah Zidney.
"Zane lepaskan tangan Zidney."Ucap Zidney kesal.
"Memeng kenapa, apa kau tidak suka jika aku menggenggam tangan mu?"Tanya Zane dengan menggerakan sebelah alis nya.
"Bukan begitu..."Ucap Zidney, kata-katanya tergantung.
"Lalu kau menyukainya kan."Ucap Zane
"Tidak, tangan ku berkeringat."Zidney menarik tanga nya dengan kasar.
Zane hanya tersenyum melihat tingkah lucu Zidney.
Pelajaran di mulai dengan baik, Zidney sama sekali tidak terganggu dengan tatapan Zane.
"Ini memang benar dugaan Zidney, Zane benar-benar suka sama Bunda. Masa iya Zane bakal jadi Ayah nya Zidney, tidak Ayah nya Zidney adalah Ayah Rehan seorang."Ucap Zidney dalam hati.
Pelajaran telah usai, kini waktunya jam makan siang. Seperti biasa Zidney mengeluarkan satu kotak makan siang untuk nya, Zidney hanya membawa satu dan itu hanya untuk nya.
"Punya ku mana?"Tanya Zane tiba-tiba saat dia melihat kotak bekal yang di keluarkan Zidney dari dalam tasnya.
"Zidney cuma bawa satu, kan biasanya Zane tidak mau."Ucap Zidney, gadis itu melanjutkan makan siang nya tanpa peduli dengan Zane.
"Bukannya kamarin aku sudah bilang bawakan juga untuk ku."Ucap Zane.
__ADS_1
Zidney hanya diam dan tetap melanjutkan makan siang, saat Zidney ingin menyuap makanan untuknya tiba-tiba Zane merebut suapan itu.
"Zane..."Ucap Kesal Zidney.
"Suapi aku juga, jika tidak aku akan mencium mu."Ancam Zane dengan mulut penuh makanan.
Zidney yang tidak mau di cium Zane langsung menyuapi Zane makan, jadilah mereka makan sepiring berdua.
"Enak sekali makanan nya."Ucap Zane dengan tersenyum.
"Zane jika sedang manis sangat menggemaskan."Ucap Zidney dalam hati.
Sementara itu Luna baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk, gadis itu berjalan menuju lemari pakaian.
Luna memakai pakaiannya dengan hati-hati karena bekas lukanya belum mengering.
Sementara itu Killian tengah menelan ludahnya dengan kasar karena melihat Luna yang tengah memakai baju.
"Sial kenapa gadis ceroboh ini tidak memeriksa kamarnya dulu."Gumam Killian, Killian berusaha utuk tidak melihat Luna.
Namun mata Killian tidak bisa di aja kerja sama, Killian melihat bagian punggung Luna yang penuh dengan luka lama dan luka baru.
"Astaga, sebenarnya siksaan macam apa yang di terima oleh Luna. Kenapa badan nya penuh dengan luka seperti itu."Gumam Killian dalam hati.
"Ahhh... Bra milik Zidney terlalu kecil sangat sesak untuk ku. Apa aku tidak usah pakai lagian akukan dirumah saja."Ucap Luna.
"Apa dia bodoh, dia tidak memakai benda yang menyerupai kacamata itu."Gumam Killian lagi.
"Killian!!"Teriak Luna.
Killian hanya diam tanpa ekspresi, namun tatapan nya tertuju pada dada Luna yang sedikit menonjol.
"Emmm."Gumam Killian.
"Kau sejak kapan ada disini?"Ucap Luna, Luna menutup dadanya dengan kedua tangan nya.
"Ganti pakaian dan pakai kacamata mu itu, aku akan menunggu mu di ruang tamu."Killian berdiri dan berjalan keluar dari kamar Luna.
Killian sedang menyembunyikan debaran jantungnya, dia keluar dari kamar Luna agar Luna tidak melihat dia gugup.
"Astaga, apa dia melihat aku sedang pakai baju."Gumam Luna, Luna bergegas ganti baju dan memakai Bra milik Zidney karena dia tidak punya baju sama sekali.
Luna menuruni tangga untuk menghampiri killian.
"Luna sayang, kamu mau pergi dengan Killian?"Tanya Tania.
Tania bertanya pada Luna karena dia melihat Luna sudah mengenakan baju rapih.
"Iya Bunda, Luna juga tidak tau Killian mau bawa Luna kemana."Ucap Luna.
__ADS_1
"Ya sudah hati-hati ya di jalan."Tania mendekati Luna,"Luna ini untuk mu, bawalah nak beli semua apa yang kamu mau."Tania memberi black card kepada Luna.
Belum Luna menjawab dan menerima, Killian sudah lebih dulu menolak.
"Tidak usah tante, biar Killian saja yang membelanjakan Luna."Ucap Killian.
"Kami pamit dulu tante."Pamit Killian, Killian menarik tangan Luna untuk mengikutinya.
Luna hanya menuruti Killian saja, gadis itu menatap tangan yang di genggam Killian.
"Kenapa jantung ku berdetak kencang, apa aku masih sakit."Gumam Killian dalam hati.
Luna dan Killian masuk kedalam mobil Killian, Killian mulai menghidupkan mesin mobilnya lalu melajukan kendaraannya.
"Mau kemana?"Tanya Luna.
Namun Killian tidak menjawab dan hanya fokus pada jalanan.
Beberapa saat kemudian Killian dan Luna sampai di sebuah mall terbesar yang ada di kota nya, Mall itu milik Briyan yang telah berpindah nama dengan nama Killian.
"Kenapa kamu mengajak ku kemari?"Tanya Luna.
Killian lagi-lagi diam, laki-laki itu menggenggam tangan Luna dan mengajaknya untuk masuk kesalah satu toko baju khusus wanita.
"Pilihlah baju yang kamu suka, dan baju khusu wanita mu itu."Ucap Killian sedikit malu.
Luna melihat lihat baju ditoko tersebut, namun dia tidak memilih sama sekali baju di toko itu.
Luna kembali menghampiri Killian tanpa membawa sehelai baju satu pun.
"Killian..."Panggil Luna.
Killian menoleh kearah Luna dan bingung karena Luna datang dengan tangan kosong.
"Mana belanjaan mu?"Tanya Killian.
Luna meringis,"Killian kita ke pasar tradisional saja."Ucap Luna.
Bagaiman bisa Luna belanja di toko itu, harga satu baju saja setara dengan harga sebuah handphone.
"Kenapa?"Tanya Killian bingung,"Bukan kah biasa nya wanita suka jika belanja ditoko baju dengan harga mahal."Ucap Killian dalam hati.
"Bajunya mahal Killian."Ucap lirih Luna, Luna tidak enak jika pegawai di toko itu mendengarkan ucapan nya.
Killian sangat gemas dengan ucapan Luna, akhirnya Killian memanggil karyawan di toko tersebut.
"Mbak, tolong pilihkan baju untuk gadis jelek ini, dan pakaian dalam sekalian berapa ukuran mu."Tanya Killian.
Karena Luna malu akhirnya Luna memilih sendiri pakian dalam nya.
__ADS_1
Luna telah selesai berbelanja dan kini Killian mengajak Luna untuk makan siang.