Tergoda Pesona Om Duda

Tergoda Pesona Om Duda
Om tidak punya uang


__ADS_3

"Emmm,,,"Rinjani bergumam dalam tidurnya.


Leonardo yang mendengar gumaman dari Rinjani, buru-buru mendekati ranjang tidur Rinjani.


"Bunda,,, Rinjani rindu bunda. Kenapa Bunda meninggalkan Rinjani, Bunda."Gumam Rinjani.


Leonardo mengusap lembut kepala Rinjani, dalam benaknya dia berfikir apa sebenarnya yang terjadi dalam hidup gadis berumur 17 tahun ini.


"Kenapa beban hidup mu sangat berat gadis aneh."Ucap Leonardo.


Leonardo menggenggam tangan Rinjani agar Rinjani bisa sedikit tenang.


"Bunda,,, Rinjani rindu di peluk Bunda."Rinjani meneteskan air mata dalam tidurnya.


"Apa kau serindu itu, apa kau mau di peluk."Gumam Leonardo.


Leonardo yang merasa tersentuh perasaan nya dengan Rinjani, laki-laki dingin itu memutuskan untuk tidur di samping Rinjani dan memeluk gadis itu dalam tidurnya.


Beruntung tadi Leonardo meminta Rinjani di pindah ke kamar VIP, dengan ranjang yang agak sedikit lebar.


"Apa kau sudah sedikit tenang, apa kau sudah merasa aman."Gumam Leonardo.


Meraka berdua akhirnya tidur dengan tamgan Leonardo melingkar di perut rinjani.


Pagi hari Rinjani terbangun karena dia merasa ada yang menimpa perutnya, Rinjani membuka matanya perlahan dan betapa terkejutnya dia pertama kali yang dia lihat adalah wajah tampan dari Leonardo.


Rinjani mengusap wajah Leonardo,"Halus sekali kulitnya, skincare nya mahal ya Om."Gumam Rinjani.


"Apa kau mau juga ku belikan Skincare beserta pabriknya, agar kulit mu mulus dan halus."Tanya Leonardo, Leonardo bertanya tanpa membuka mata nya.


"Tidak usah Om, kulit Jani sudah halus seperti pantat bayi."Ucap Jani.


Leonardo membuka matanya, mata coklat nya bertatapan langsung dengan mata hitam milik Jani.


Jantung Leonardo berdetak seperti akan keluar,"Perasaan apa ini?"Gumam Leonardo dalam hati.


Karena Leonardo tidak tahan dengan degub jantung nya, dia memutuskan untuk bangun dan menjauhi Rinjani.


"Apa aku kena serangan jantung?"Gumam Leonardo dalam hati.


Rinjani menatap aneh pada Leonardo karena laki-laki itu beberapa kali memukuli dadanya.


"Kayak nya Om mulai stress, apa jangan-jangan Om enggak mampu bayar uang rumah sakit ya. Lagian ini Mita gimana si masa aku di rawat di kamar VIP."Gumam Rinjani dalam hati.


"Om enggak apa-apa? Om kenapa mukulin dadanya? sesak ya Om gara-gara mikirin biaya rumah sakit Jani, Maaf ya Om."Ucap Polos Rinjani.


Leonardo yang mendengar ucapan Rinjani, rasanya ingin tertawa.


"Apa kau pikir aku miskin, bahkan rumah sakit ini adalah milik ku."Ucap sombong Leonardo.


Rinjani bukan nya terkejut, tapi semakin kasihan kepada Leonardo. Rinjani pikir Leonardo tengah membual agar dirinya tidak merasa bersalah.

__ADS_1


"Jujur saja Om, Jani tidak apa-apa kalau Om tidak punya uang."Ucap Jani lagi.


Leonardo merasa kesal dengan Rinjani,"Sebaiknya kemarin aku menyuruh Dokter untuk menyuntik mati gadis aneh itu."Gumam Leonardo dalam hati.


"Terserah kau saja."Ucap Kesal Leonardo.


Laki-laki itu berjalan keluar meninggalkan ruangan Rinjani.


"Dasar gadia aneh."Ucap Leonardo.


Sedang Rinjani tengah menertawakan wajah kesal Leonardo.


"Wajah nya seperti bakpau yang sudah dingin, mengkerut."Ucap Rinjani.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Sementara itu Briyan pagi-pagi sekali dia harus berdrama dengan teflon Pink milik istrinya.


"Bagaiman cara ku membuat tamagoyaki."Gerutu Briyan.


Briyan bahkan sudah menghabisakan telur satu kilo, dan semua nya berakhir gosong dan asin.


"Ohh astaga!! aku lebih baik berebut proyek dengan Mark dari pada buat telur dadar gulung."Ucap Briyan frustasi.


Tapi demi cintanya pada sang istri dan anak nya, Briyan berusaha terus sampai akhirnya dia mendapat hidangan yang menurutnya layak untuk di makan.


"Habis sudah 3 kilo telur hanya untuk empat potong telur dadar gulung."Gumam Briyan, Briyan merinding saat melihat bagaiman keadaan dapur cantik istrinya itu.


"Maafkan aku teflon pink, aku membuat mu gosong."Sesal Briyan.


"Sayang ini pesanan mu."Ucap Briyan.


Helena berbinar saat melihat Briyan membawa nampan berisi semua pesanannya.


"Bryy cantik sekali ini, aku jadi tidak tega untuk memakannya."Puji Helena.


Briyan mendengar pujian dari sang istri merasa sangat senang karena jiri payahnya di hargai oleh istrinya.


Helena mulai memakan tamagoyaki yang di buat langsung oleh Briyan.


"Enak sekali kau sangat pandai memasak."Puji Helena.


Briyan sebenarnya merasa tidak yakin apakak tamagoyaki yang dia buat memang seenak itu, karena Briyan tidak yakin dengan penilaian rasa Helena akhirnya Briyan mencoba satu suap tamagoyaki yang dia buat.


"Huekkk huekkk, uhukkk uhukk."Brian memuntahkan makanan yang dia buat.


"Sayang jangan makan lagi ini sangat asin, jangan di lanjutkan aku akan pesankan yang baru dari restoran asli jepang."Ucap Briyan.


"Tidak Briyan, ini enak mungkin lidah mu yang salah."Ucap Helena, Helena tidak berhenti makan dia memakan nya dengan lahap.


"Sayang bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mu dan anak kita, gara gara kamu makan telur asin ini."Ucap Briyan.

__ADS_1


"Tidak sayang, anak kita sangat menyukainya."Helena memakan habis hidangan yang di buat Briyan.


"Maafkan Mama ya sayang, karena Mama memaksa mu memakan, makanan asin yang di buat Papa. Mama tidak mau membuat Papa kecewa, pasti kamu juga setuju kan sayang makanya kamu tidak mual."Gumam Helena dalam hati.


Setelah selesai makan, Briyan membereskan semua bekas makan milik Helena. Briyan tidak sama sekali mengizinkan Helena untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


"Sayang mau jalan-jalan tidak."Tanya Helena.


Briyan mendekati istrinya lalu memeluknya dari samping.


"Mau jalan-jalan kemana?"Tanya Briyan.


"Ketaman depan saja, mumpung masih pagi udaranya masih segar."Ucap Helena.


Briyan menuruti permintaan Helena yang mengajak nya berkeliling taman depan komplek Mansion mereka.


"Udaranya sangat segar ya sayang."Ucap Helena.


Briya sama sekali tidak melepas genggaman tangan Helena, Briyan sangat possesif bahkan dia memeluk pinggang Helena saat berjalan. Briyan hanya tidak mau kejadian kemarin terulang lagi.


"Sayang sebaiknya istirahat dulu ya?"Ucap Briyan, karena Briyan melihat Helena sudah berkeringat.


"Iya sayang."Ucap Helena.


Mereka menikmati udara pagi yang masih sejuk, lokasi taman memang jauh dari jalan raya di tambah lagi banyak pepohonan yang tumbuh di taman tersebut.


Mereka memutuskan untuk pulang, namun saat mereka akan pulang tiba-tiba ada mobil mewah yang hampir menyerempet Helena.


"Sayang awas!!!"Briyan menarik Helena kedalam pelukan nya.


Helena sangat syock dengan kejadian yang baru saja menimpanya, jika tidak ada Briyan mungkin dia dan bayinya sudah berada di alam lain.


"Sayang kamu tidak apa-apa?"Tanya Briyan.


Helena memegang perutnya dia sungguh takut jika terjadi apa-apa dengan anaknya.


"Tidak, aku tidak apa-apa Briyan."Ucap Helena.


"Bryy bayi kita."Ucap Helena, Helan menatap wajah Briyan.


"Bayi kita kenpa? apa sakit, ayo kita kerumah sakit."Ucap Briyan cemas.


"Tidak Bryy, coba letakkan tangan mu di perut."Helena menuntun tangan Briyan dan meletakkan nya di perut buncitnya.


"Apa kau merasakan nya dia menendang."Ucap Helena bahagia.


"Ahhh, iya sayang jagoan ku sudah bisa menendang."Ucap Briyan


Briyan berlutut dan mengarahkan wajah nya menghadap perut buncit Helena.


"Sayang jagoan Papa, yang sehat ya nak."Briyan mengecup perut buncint Helena.

__ADS_1


Sementara itu di dalam mobil seorang wanita tengah memukul stir mobilnya.


"Siall gagal lagi."Ucap Viona.


__ADS_2