Tergoda Pesona Om Duda

Tergoda Pesona Om Duda
Bertahan


__ADS_3

Nion memeluk Helena, dia merasakan bahwa perut Helena sedikit membesar.


"Kamu hamil?"Tanya Nion.


Helena melepas paksa pelukan Nion, sedang Briyan hanya menatap diam apa yang di lakukan Nion kepada Helena.


Briyan bimbang dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Nion aku hamil anak Briyan, jadi ku mohon relakan aku dengan Briyan."Ucap Helena.


"Helena aku akan menerima kamu dan anak kamu, tapi ku mohon kembali pada ku."Nion berlutut di hadapan Helena.


Helena menangis sesenggukan, perutnya terasa mual sekali saat dia berdekatan dengan Nion.


"Huekkk huekkk, Nion jangan dekat dengan ku. Aku mual berdekatan dengan mu."Ucap Helena.


"Bahkan anak mu sendiri tak mau berdekatan dengan mu Nion."Gumam Hela dalam hati.


Nion melepas genggaman Helene karena dia melihat wajah Helena berubah pucat.


"Briyan..."Panggil Helena.


Briyan mendekati Helena,"Apa kamu mual?"Tanya Briyan.


Helena menganggukan kepalanya, Briyan mengusap perut Helena. Dengan ajaib mual yang di rasa Helena mulai menghilang.


"Nak kau sangat menyayangi Papa Briyan? kau tidak mau Mama kembali pada Papa Nion sayang."Gumam Helena dalam hati.


Nion dengan langkah gontai meninggalkan Mansion Helena, laki-laki itu tau harus kepada siapa dia menyalurkan rasa amarahnya.


Nion menuju ke Mansion orang tuanya, Nion kali ini benar-benar tidak bisa memaafkan Papanya.


"Papa..."Panggil Nion.


Laki-laki tua yang tengah duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh di tangan nya, mendongak dan memandang wajah Nion yang mengeras karena amarah.


"Dia sudah tau rupanya."Batin Tuan Hartawan.


"Kau sudah kembali?"Tanya Tuan Hartawan seolah tidak ada yang terjadi.


Nion metap sinis pada laki-laki yang telah merawatnya selama kurang lebih 25 tahun itu.


"Pa... Jangan bersandiwara, apa yang Papa lakukan selama ini. Papa menahan semua surat ku untuk Helena? Papa sudah berjanji akan merestui ku dengan Helena bukan."Ucap Nion.

__ADS_1


"Maafkan Papa atas apa yang Papa lakukan, tapi saat kau mengirim surat pada Helena. Tuan Remora telah menjodohkan Helena dengan Briyan anak dari sahabat Tuan Remora, Papa tidak mau kamu berharap dengan wanita yang bukan jodoh mu."Ucap Tuan Hartawan.


Nion sangat ingin sekali menghajar Papanya, jika saja suratnya sampai ke tangan Helena mungkin pertunangan itu takkan terjadi. Dia dan Helena mungkin tidak akan ada di posisi sekarang.


"Tetap saja Papa salah, kenapa Papa tidak perbah membiarkan aku memilih jalan hidup ku. Papa egois hanya demi kedudukan Papa mengorbankan kebahagiaan ku."Ucap Nion denga sedikit menaikan suaranya.


"Maafkan Papa Nion, Papa hanya ingin yang terbaik untuk mu."Ucap Tuan Hartawan.


Semua sudah terlambat, Nion hanya bisa menangisi penyesalan dan kebodohannya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dua minggu berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Mark dan Micell. Kedua mempelai telah resmi menjadi suami istri setelah mengikat janji suci di hadapan tuhan.


"Selamat ya Micell akhirnya kamu menikah juga dengan duda ini."Ucap Nailla.


"Ah Kak Nailla, duda juga meresahkan."Ucap Micell.


Nailla memberi selamat pada Micell yang kini telah menjadi anggota keluarga barunya.


Tak berapa lama kini gantian Helena dan Briyan yang memberi selamat pada Mark dan Micell.


"Micell selamat ya akhirnya kamu menikah juga, semoga cepat dapat dedek bayi."Ucap Helena.


Tak lama datanglah Nion, yang membuat kedua mempelai terkejut.


"Selamat ya Micell, semoga kamu bahagia selalu dengan pernikahan kamu."Ucap Nion.


"Iya Nion terimakasih."Balas Micell.


Mark yang tau bahwa di hadapan nya ada perang dunia terselubung, laki-laki yang baru saja melepas setatus dudanya itu mendekati Briyan dan berjulid.


"Kau harus bersiap menjadi duda lagi, aku yakin Helena akan meninggalkan duda jelek seperti mu."Bisik Mark.


Briyan tidak termakan oleh hasutan Mark, bahkan Briyan membalas perkataan Mark.


"Jika Helena pergi maka aku akan merebut Micell dari mu, dan kau berakhir menjadi duda kesepian."Bisik Briyan.


"Yakk!! awas kau berani mendekati istri ku."Ucap Mark.


Mark ingin membuat Briyan emosi tapi dia salah justru dirinyalah sekarang yang emosi.


Sedang Helena kini ditarik Micell menuju kamar salah satu hotel yang di sewa Mark untuk acara pernikahan nya.

__ADS_1


"Kak Helena, kakak baik-baik saja?"Tanya Micell.


Helena memeluk Micell,"Aku harus apa Micell?"Tanya Helena.


"Kakak tenang ya jangan cemas kasihan anak kakak nanti."Micell mengusap punggu Micell.


"Micell berjanjilah jangan katakan pada Nion jika ini anak nya."Ucap Helena, Helena menggenggam tanga Micell.


"Aku janji kak, kak jangan tinggalkan Briyan dia sangat menyayangi kakak. Untuk masalah Nion aku yakin lambat laun dia akan melupakan kakak dan menerima semua ini."Ucap Micell.


Helena mengangguk menanggapi ucapan Micell, Helena juga tidak bisa meninggalkan Briyan karena dia sudah mencintai Briyan dengan segala kasih sayang nya.


"Sayang bantu Mama, bantu Mama agar Mama kuat menjalani ini sayang. Kita tidak akan meninggalkan Papa Briyan."Ucap Helena dalam hati.


Sementara itu Briyan dan Nion kini sedang berada di meja yang sama, mereka tengah bicara serius.


"Aku tidak akan melepaskan Helena, aku dan Helena akan memiliki anak."Ucap Briyan.


Nion tersenyum kecut ke arah Briyan,"Tapi aku yakin Helena masih mencintai ku."Ucap Nion.


"Jika kau cinta, kau tidak akan meninggalkan dia dalam keadaan apapun. Kau tidak tau apa yang dia alaminya selama kau tidak ada."Ucap Briyan.


Briyan meninggalkan Nion yang tengah terdiam dan merenungi kesalahan nya, andai saja dia tidak menuruti Papanya mungkin dia masih bisa di samping Helena sekarang.


"Aku memang bodoh Helena, aku memang tidak pantas dengan mu."Ucap Nion.


Dari jauh Nion melihat bagaiman Briyan memperlakukan Helena, disana Nion melihat Helena bahagia, senyum yang ada di bibir Helena belum pernah Nion lihat selama ini.


"Kau bahagia dengan duda itu, kenapa kau meninggalkan perjaka demi duda."Ucap lirih Nion.


Saat Nion akan pergi meninggalkan pesta pernikahan Micell tidak sengaja dia menabrak seorang pelayan.


Brughh!!


"Kau punya mata tidak?"Tanya Nion ketus.


"Maaf Om saya tidak sengaja, lagian Om jalan liat kedepan jangan liat kebelakang. Om pengen nikah sana cari calon jangan cari masalah."Ucap Pelayan itu.


"Wahh, kau berani sekali ya."Nion di buat kesal dengan pelayan itu.


"Om jangan mentang-mentang aku pendek Om jadi seenaknya ya."Ucap Pelayan itu.


Nion pergi begitu saja meninggalkan pelayan itu, karena Nion merasa pusing meladeni pelayan itu.

__ADS_1


"Micell bagaimana si memilih WO nya, kenapa ada pelayan bodoh yang di pekerjakan."Gerutu Nion.


__ADS_2