
"Killian... Ya Tuhan kenapa bisa seperti ini?"Ucap Helena.
Helena dan Briyan baru saja sampai setelah tadi Zane menelvon dan memberi tahu Helena tentang keadaan Killian.
"Maaf, untuk pasien membutuhkan golongan darah O. Apakah ada yang bisa mendonorkan nya? karena setok darah O di rumah sakit sudah menipis kami membutuhkan 3 kantong lagi."Terang perawat yang menangani Killian.
"Briyan bagaiman ini, Nion sedang ada di Amerika bersama Mita."Ucap Helena khawatir.
Karena golongan darah Killian sama dengan Nion ayah biologis Killian.
"Sabar ya sayang, aku akan berusaha mencari darah golongan O. Bahkan aku akan membayar tinggi."Gumam Briyan.
"Maaf Om dan Tante, golongan darah saya O. Jika berkenan saya mau mendonorkan darah saya untuk Killian."Ucap Luna.
Helena mendekati Luna,"Benarkah sayang, kalau begitu tante minta tolong ya nak. Tolong selamatkan Killian."Ucap Helena.
"Iya Tante, Luna akan menolong sebisa Luna."Ucap Luna.
Luna mengikuti perawat masuk kedalam ruang rawat Killian, dia bersiap untuk mendonorkan darah untuk Killian.
"Jangan tegang ya, ini tidak sakit."Ucap Perawat.
Luna hanya mengangguk, gadis itu menatap Killian yang terbaring lemah di samping ranjangnya.
"Maafkan aku Killian gara-gara aku kamu jadi terluka."Gumam Luna dalam hati.
Beberapa saat kemudian Luna telah selesai di ambil darah nya.
Luna keluar dari ruang rawat Killian, kepalanya sedikit pusing.
Plakkkk!!
Tiba-tiba Luna di tampar oleh seorang wanita paruh baya.
"Akhh..."Luna memegang pipinya.
"Dasar kau anak tidak tau di untung, bisa-bisa nya kau berkelahi dengan Meta."Ucap Viona orang tua dari Meta saligus Mama tiri Luna.
"Mama, aku tidak berkelahi dengan Meta tapi Metalah yang menyerang ku duluan."Ucap Luna.
Viona menjambak rambut Luna,"Kau berani melawan ku!"Ucap Viona.
"Bukan begitu Mah... Luna mengatakan yang sebenarnya."Gumam Luna dengan menahan sakit di kepalanya akibat jambakan dari Viona.
Viona menghempaskan tubuh Luna sampai tersungkur di lantai.
"Jangan kau panggil aku Mama, karena kau bukan anak ku gadis sialan!"Ucap Viona dengan nada tinggi.
Luna memang gadis tangguh tapi jika di perlakukan begitu tetap saja hati Luna akan melemah dan kini Luna telah menangis terisak.
"Apa salah ku Mah?"Tanya Luna.
Viona mendekati Luna dan mencengkram kedua pipi Luna,"Jika tidak karena mu mungkin suami ku masih hidup anak pungut!"Ucap Viona.
Luna memang hanya anak angkat yang di adopasi oleh suami dari Viona.
"Mah, Papa kecelakaan bukan karena Luna!"Teriak Luna.
__ADS_1
"Jika tidak karena menjemput mu, mungkin sampai sekarang suami ku masih hidup."Gumam Viona.
Luna menangisi nasib nya, Luna tak menyangka wanita yang dia anggap sebagai ibu ternyata sejahat itu padanya.
"Apakah begitu caramu memeperlakukan anak mu?"Tanya Helena, Helena memperhatikan semua yang di lakukan Viona kepada Luna.
Viona berbalik lalu melihat siapa orang yang tengah ikut campur urusan dia dan anak tiri nya.
"Helena..."Ucap Viona.
"Iya ini aku Helena."Ucap Helena, wanita dengan rambut panjang sebahu itu mendekati Luna dan membantunya berdiri
"Kamu tidak apa-apa sayang?"Tanya Helena kepada Luna.
"Tidak tante."Ucap Luna.
Helena menatap tajam Viona,"kau memang tidak pernah berubah Viona. Kau masih saja jahat."Ucap Helena.
Viona tersenyum kecut kearah Helena,"itu bukan urusan mu, dan untuk mu Luna. Kau tidak perlu pulang kerumah karena kau sudah ku usir dari rumah ku."Ucap Viona sebelum pergi.
"Mama!! Ma! jangan usir Luna Mah."Tangais Luna.
Tubuh Luna luluh lantah ke lantai, kini hidupnya benar-benar berat untuk nya.
"Mama, salah Luna apa Mah?"Gumam Luna.
Helena memeluk tubuh Luna,"Sabar sayang Mama mu emang orang jahat."Ucap Helena.
Zidney yang melihat Luna tengah menangis di pelukan Helena, dia berjalan mendekati Luna.
"Luna kamu kenapa?"Tanya Zidney.
Zidney mendekati temannya itu,"Kau tenang saja aku akan membelikan rumah dan akan ku biayai semua kebutuhan dan biaya sekolah mu."Ucap Zidney tanpa beban.
Helena dan Luna seketika menjadi diam dan menatap kearah Zidney.
"Memang siapa gadis ini."Gumam Helena dalam hati.
Beberapa menit kemudian Luna terdiam dari tangisnya.
"Luna jika kau mau, kau bisa tinggal bersama tante nak."Ucap Helena.
"Tidak tante, aku akan ikut dengan Zidney saja."Ucap Luna lagi.
"Baiklah, jika ada apa-apa tolong hubungi tante ya."Ucap Helena sembari memberikan kartu namanya.
"Terimakasih tante."Ucap Luna saat setelah menerima kartu nama dari Helena.
Zidney berdiam diri di bangku pojok, gadis itu nampak mengantuk karena hari mulai malam.
Zane mendekati Zidney, laki-laki itu memperhatikan sebelah wajah Zidney yang tak ada tompelnya.
"Aku yakin dia gadis di toko buku itu."Gumam Zane.
Zane duduk di samping Zidney yang tengah tertidur, entah apa yang di pikirkan Zane. Dia memindahkan kepala Zidney ke bahu sebelah kiri Zane.
"Harum sekali rambutnya, wangi strowbery."Gumam Zane lirih.
__ADS_1
Luna sempat memperhatikan Zane dan Zidney, lalu mengabadikan momen mereka berdua.
"Ini akan jadi hadiah terindah untuk mu Zidney."Gumam Luna.
Tak berapa lama, Killian telah sadar dari pengaruh bius.
"Mama..."Ucap Killian.
Helena yang mendengar Killian menyebut namanya, buru-buru menghampiri putranya.
"Sayang, kamu sudah sadar nak."Ucap Helena.
"Mah, Papa mana?"Tanya Killian.
Sudah tidak aneh lagi jika Killian sakit yang selalu ditanya adalah Briyan.
"Papa di sini Boy..."Ucap Briyan yang baru memasuki ruang rawat Killian.
"Ada apa Killian? apa ada yang sedang kamu inginkan nak?"Tanya Briyan.
Killian hanya menggeleng,"papa siapa yang mendonorkan darah untuk Killian? bukan kah Dady Nion sedang di Amerika bersama Mami Mita."Ucap Killian.
"Itu teman mu si Luna, dia golongan darahnya sama dengan mu."Ucap Briyan.
"Ohh, Luna."Ucap Killian.
Tak berapa lama Luna masuk ke ruang rawat Killian.
"Killian..."Gumam Luna.
Helena dan Briyan meninggalkan Killian dan Luna berdua saja, agar mereka nyaman berbicaranya.
"Killian terimakasih, kau telah menyelamatkan aku."Ucap Luna,"dan maaf jika kau jadi begini karena aku."Ucap Luna lagi.
"Jadi kau mau berterimakasih atau minta maaf?"Tanya Killian datar.
"Emmm, pokok nya maaf dan terimakasih."Ucap Luna lagi.
Killian menatap gadis manis di hadapannya itu,"Apa kau tidak apa-apa?"Tanya Killian dengan nada yang sama, sama-sama datar.
"Aku tidak apa-apa."Jawab Luna.
Killian dan Luna saling canggung, meski mereka satu kelas tapi ini pertama kalinya mereka berbicara hanya berdua saja.
"Terimaksih kau telah mendonorkan darah mu untuk ku."Ucap Killian.
"Tidak masalah, dan kita impas."Ucap Luna dengan tersenyum.
Sementara Zidney terbangun karena merasa lehernya sedikit pegal.
"Zane..."Gumam Zidney saat melihat Zane berada di sampingnya.
"Apa kau sudah cukup tidurnya?"Tanya Zane,"bahuku pegal kau jadikan bantalan dan belum lagi air liur mu menetes ke baju ku."Ucap Zane.
Zidney buru-buru mengusap area mulutnya dan memastikan bahwa dia tidak mengiler.
"Zidney tidak mengeluarkan air liur Zane."Ucap kesal Zidney.
__ADS_1
"Kau kan tidur mana kau tau."Gumam Zane.
Zidney yang kesal dengan Zane memutuskan untuk pergi ke toilet dan membersihkan wajahnya.