Tergoda Pesona Om Duda

Tergoda Pesona Om Duda
Zane dan Zidney [Rahasia Zidney]


__ADS_3

Hari ini Zidney memutuskan untuk berbelanja kebutuhan rumah, karena Bundanya tengah menjaga Luna yang masih sakit. Gadis itu memilih untuk berbelanja sendiri.


"Aku akan memilih sayuran terlebih dahulu."Ucap Zidney.


Zidney berjalan menuju tempat sayuran segar berada.


Zidney berjalan dengan mendorong troli belanjanya, saat dia berjalan dia tidak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya yang berparas cantik.


"Maaf tante Zidney tidak sengaja."Ucap Zidney.


Wanita itu menatap ke arah Zidney lalu tersenyum,"Tidak apa-apa nak."Ucap Micell.


Micell melihat troli belanjan Zidney,"Kamu belanja sendiri nak?"Tanya Micell.


"Iya tante, kebetulan Bunda sedang mengurus sesuatu jadi Zidney yang harus berbelanja."Ucap Zidney.


"Nama kamu Zidney?"Tanya Micell. Zidney yang ditanya hanya menjawab dengan anggukan.


"Kenalkan nama tante Micell."Ucap Micell memperkenalkan diri,"Tante juga punya anak laki-laki seusia kamu nama nya Zane."Ucap Micell.


"Zidney juga punga teman namanya Zane, tapi tante temannya Zidney itu ngeselin banget dia itu suka sekali marah-marah sama Zidney."Ucap Zidney.


"Benarkah, tante yakin si Zane nya tante itu baik tidak seperti Zane teman nya kamu."Ucap Micell percaya diri.


Micell dan Zidney akhirnya berpisah karena Micell sudah selesai berbelanja, sebelum mereka pergi mereka sempat bertukar nomor telvon.


"Tante Micell sangat cantik juga modis, aku yakin anaknya itu juga baik. Bukan seperti Zane yang galak."Gumam Zidney.


Sementara itu di tempat lain,"Kenapa telinga ku berdengung terus dari tadi."Keluh Zane.


Zidney kembali ke Mansion, karena di telah selesai berbelanja.


"Bunda, Zi pulang..."Ucap Zidney, gadis itu melangkahkan kakinya masuk kedalam Mansion tanpa melihat kearah sofa ruang tamunya.


"Hey, kau..."Panggil Zane.


Zidney berhenti dari langkahnya, gadis itu tidak sama sekali melihat kebelakang.


"Seperti suara Zane."Gumam Zidney, tapi gadis itu tidak menghiraukan nya dia menganggap itu hanya perasaan nya.


Karena tadi dia telah membicarakan kejelekan Zane pada orang lain.


"Mungkin perasaan ku saja."Ucap Zidney lagi.


Zidney melanjutkan langkahnya namun saat dia ingin berjalan, kerah bajunya tiba-tiba ditarik dari belakang oleh Zane.


"Akkkkk, setan!!"Teriak Zidney.


Zane menutup mulut Zidney,"diam..."Ucap Zane datar.

__ADS_1


Zidney membuka matanya lalu melirik ke arah Zane, Zane menarik tangannya dari mulut Zidney.


"Zane, kenapa ada di rumah Zidney?"Tanya Zidney heran.


Zane menatap kearah Zidney,"Aku menemani Killian menjenguk Luna."Ucap Zane.


Sebenarnya Killian tidak ada niatan untuk mengajak Zane, tapi Zane lah yang memaksa Killian untuk mengajaknya.


"Ohh..."Ucap Zidney.


Zane melihat tangan Zideny penuh dengan kantong belanjaan, langsung saja Zane merebut kantong belanjaan itu dari Zidney.


"Taruh dimana?"Tanya Zane.


"Tidak usah, biar Zidney saja."Zidney mencoba merebut kembali kantong pelastik itu.


Namun Zane secepat kilat berjalan mendahului Zidney.


"Zane..."Ucap Zidney.


Dari arah depan Tania berjalan menghampiri putrinya,"Zidney sudah pulang nak, didepan ada Zane dan Killian. Temui mereka dan jangan lupa bersihkan wajah mu terlebih dahulu dan cuci dulu tompel palsunya agar tidak iri tasi sayang."Ucap Tania tanpa sadar jika yang di ajak bicar bukan Zidney.


"Tompel palsu!"Zane muncul dari balik pintu lemari es.


"Zane..."Ucap Tania, dan tak berapa lama Zidney datang dari arah kamar mandi.


Ternyata Tania salah menyangka, dia pikir putrinya tengah menata belanjaan di lemari pendingin.


"Aku akan membantu mu menata sayuran."Ucap Zane.


"Tidak usah, Zidney saja."Ucap Zidney.


Tapi Zane pada dasarnya memang anak keras kepala seperti Mark, dia tetap saja membantu Zidney.


"Zane tunggu di sini dulu ya, Zidney mau ke kamar mandi sebentar."Ucap Zidney, gadis itu berlari ke arah kamar mandi karena dia mau buang air kecil.


"Sebaiknya aku menata dengan posisi jongkok, jika berdiri teru menunduk bisa encok nanti."Gumam Zane.


Kembali kemenit sekarang dimana Tania, menyeret Zane untuk pergi menjauh dari Zidney.


"Tante apa maksut Tante tentang tompel palsu?"Tanya Zane.


Tania sangat panik karena kecerobohannya membuat rahasia putrinya terbongkar.


"Kenapa tante diam saja, tolong tante jawab pertanyaan Zane. Apa yang tante maksud dengan tompel palsu."Tanya Zane sekali lagi.


"Zane berjanjilah pada tante kamu tidak akan mengatakan sumua ini pada siapa pun."Ucap Tania.


Tania pikir mungkin Zane bisa menyembuhkan trauma Zidney.

__ADS_1


Tania menceritakan semua tentang pristiwa yang terjadi dimasalalu Zidney, peristiwa yang membuat Zidney trauma dengan wajah nya sendiri.


Sementara itu Luna tengah meminta maaf pada Killian soal permasalahan yang di timbulkan Mama tirinya.


"Killian, aku minta maaf soal ucapan Mama ku kemarin."Gumam Luna.


Killian terus saja memandang wajah Luna,"Mama mu benar aku memang bukan anak kandung dari Papa ku, jadi kamu tidak perlu minta maaf pada ku."Ucap Killian.


Luna yang mendengar ucapan dari Killian, gadis itu merasa semakin bersalah.


"Kau tak perlu merasa bersalah, aku tidak apa-apa. Aku tau keadaan orang tua ku dulu jadi itu bukan masalah bagi ku."Ucap Killian lagi.


Luna memandang kearah Killian, dia merasa kagum terhadap Killian di usia mudanya dia bisa menerima masalalu orang tua nya.


"Kau beruntung Killian, kau memiliki dua Papa dan dua Mama semua menyayangi mu. Sementara aku, aku bahkan tidak tau siapa orang tua kandung ku."Ucap Luna sedih.


Killian yang tersentuh dengan ucapan Luna merasa iba, dia tidak bermaksud menyakiti hati gadis itu.


"Maaf jika aku menyinggung perasaan mu."Ucap Killian.


"Tidak apa, aku tidak merasa kamu menyinggung ku. Hanya saja aku iri dengan mu."Ucap Luna.


Killian berdiri dari duduknya berjalan mendekati Luna dan duduk di samping Luna.


"Kau tidak sendiri, ada aku dan Zidney. Kita akan selalu ada untuk mu."Ucap Killian.


Luna memandang wajah Killian,"Huaaaa..."Tangis Luna pecah.


"Launa jangan menangis, aku tau kau terharu dengan kata-kata ku."Ucap Killian.


"Terharu kepala mu, kaki ku kau injak bodoh!"Ucap Luna kesal.


Killian melihat kebawah dan benar saja kaki nya bertengger di atas kaki mungil Luna.


"Maaf, aku tidak lihat."Ucap Killian.


Lun menatap kesal ke arah killian,"Killian bodoh."Gumam Luna dalam hati.


Sementara itu, Zidney tengah menatap aneh ke arah Bunda dan Zane. Sebab sedari kembalinya Bunda dan Zane dari taman depan wajah mereka seperti menyembunyikan sesuatu.


"Bunda..."Ucap Zidney.


"Iya Zi, ada apa?"Tanya Tania.


"Kenapa Bunda bergandengan tangan dengan Zane?"Tanya Polos Zidney.


Tania yang baru sadar bahwa dia menggandeng tangan Zane sontak, melepas genggaman tangan nya dengan tangan Zane.


"Tadi Zane lupa arah masuk Mansion, jadi Bunda menuntunya. Iya kan Zane?"Tania melirik ke arah Zane.

__ADS_1


"Iya, tadi aku sedikit linglung."Ucap Zane berbohong.


Zidney yang memang mudah di bohongi hanya manggut-manggut saja.


__ADS_2