
Zeron terus mengikuti letta kemanapun dia pergi, sampai muak rasanya memberi penjelasan kepad Zeron. Hari ini Letta akan bertemu dengan rekan bisnisnya yang akan memakai desain bajunya untuk resepsi pernikahan.
"Nona Letta, sealam kenal saya Daniel dan ini calon istri saya Mora."
"Salam kenal Pak Daniel dan Nyonya Mora, ini saya membawakan semua desain baju yang terbaru."
Daniel dan Mora melihat-lihat semua desain baju pernikahan dan itu sangat membuat takjub pasangan calon pengantin itu.
"Wah Nona Letta semua ini sanagat bagus dan indah, aku sangat sulit memilihnya."
"Tolong panggil saja saya Madam Letta agar terkesan lebih dekat dan akrab."
Daniel dan Mora sangat menyukai cara bicara Letta yang terlihat sangat berkelas bahakan bahasa tubuhnya sangat anggun dan terdidik.
"Baik saya dan calon istri saya ambil yang ini, lalu berapa yang bisa saya bayar?"
"Baju ini saya desain selama dua bulan, terdapat berlian dan emas putih sebagai hiasanya. Jadi saya kasih harga 450 juta untuk dua baju dan saya kasih free untuk semua look make upnya."
Mora sangat senang dengan tawaran dari Letta, dan kerja sama ini berjalan dengan lancar semua pembayaran gaun sudah di selesaikan.
Letta akan pergi meninggalkan cafe dimana dia bertemu dengan Daniel dan Mora, tapi langkahnya terhenti karena melihat seorang lelaki dengan luka di wajahnya.
"Astaga! Zeron kamu kenapa?"
Letta menghampiri Zeron yang tengah duduk terdiam dengan pandangan mata memelas.
"Apa yang terjadi? Ulah siapa ini?"
Letta menyentuh luka di sudut bibir dan pelipis Zeron, sedang Zeron hanya bisa meringis merasakan nyeri di wajahnya.
"Jangan diam saja! Apa kamu tuli dan bisu!"
Letta sangat kesal dengan keterdiaman Zeron, lagi dan lagi dia menemukan Zeron dengan keadaan kacau dan terluka.
"Oke, kalau kamu tidak mau biacara. Sekarang ikut aku."
Tanpa mengatakan sepatah kata, Zeron mengikuti Letta atau yang sering dia panggil dengan sebutan kak Vio.
Sampai di sebuah rumah mewah nan megah, Letta membawa Zeron masuk kedalam rumahnya. Sebenarnya ini bukan pertama kali Zeron berkunjung kerumah Letta.
"Kamu tunggu di sini, aku mau ambil p3k dulu."
Dan lagi-lagi Zeron hanya diam menurut, sebenarnya Letta lebih menyukai Zeron yang selalu mengganggu nya dari pada Zeron yang diam seperti robot jika tidak di perintah maka dia tak akan bergerak.
"Kemarilah mendekat."
Zeron mendekat kan wajahnya agar Letta dapat mengobati semua lukanya, mata Zeron tak lepas dari memandangi wajah Letta. Satu kata yang menggambarkan Letta yaitu cantik.
"Kamu tetap tidak mau bercerita, bagaiman kamu bisa terluka begini?"
Zeron menghembuskan nafasnya lalu kemudian sedikit menjauh dari Letta, Zeron bersandar di punggung sofa memejamkan matanya sebentar sebelum membuka topik tentang lukanya.
"Kak, nikah aja yuk."
Zeron menatap letta kemudian mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Apa yang aku harapkan dari Zeron." Batin Letta kesal.
Letta menyimpan kembali kotak p3k karena sudah selesai dia gunakan untuk mengobati luka Zeron.
"Iya, aku cerita tapi kakak jangan marah dong. Aku mau cerita tapi ada syaratnya."
Mendadak perasaan Letta jadi tidak tenang kali ini apa lagi yang dia mau, dari kejadian yang sudah sudah tingkah dan kelakuan Zeron selalu sukses membuat letta naik darah.
"Kamu kalau sampai minta aneh-aneh, aku usir dari rumah ku."
Letta menatap tajam ke arah Zeron, tapi berani-beraninya Zeron membalas dengan memeluk erat Letta.
"Lepas! Kamu apa-apaan sih."
"Ini syaratanya, aku mau dari awal sampai akhir cerita pelukan sama kak Vio."
"Tidak ada pelukan, kalau kamu tidak mau cerita. ya sudah."
Letta menjauhkan tubuh Zeron dari dirinya dan itu membuat Zeron merasa sedih lantas Zeron hanya diam menunduk dan memainkan kuku kuku jarinya.
"Gemes pengen aku buang kelaut." Batin Letta.
"Kalau begini bisa kan?"
Letta mengelus elus kepala Zeron memainkan rambut hitam lebat milik Zeron, Letta tak menyangka bahwa perlakuan nya membuat pipi sampai telingan Zeron berubh warna menjadi merah.
"Kak nikah aja yuk, besok."
Letta rasanya sudah tak bisa berkata-kata lagi, dia malas menanggapi ucapan Zeron.
"Ck, iya aku cerita."
"Tadi malam aku pulang jam sebelas malam, papa di rumah dan aku tidak tahu apa yang di bicarakan nenek lampir itu. Ketika aku mau menaiiki tangga papa langsung menyeret aku kebelakang rumah, disana papa menghajar aku lebih tepatnya memukul muka ku."
Ini lah yang membuat Letta tak bisa meninggalkan atau bahkan acuh kepada Zeron, Zeron memiliki mama tiri yang usianya tak jauh dari Zeron.
Zeron pernah bercerita kalau mama tirinya menyukai Zeron karena memang Zeron sangat tampan dan mempesona. Mama tiri Zeron itu bisa dikatakan iblis psikopat yang di beri kebebasan di muka bimi, dia bisa membolak balikkan fakta.
"Papa enggak bilang apa-apa, setelah papa puas pukul aku. Papa pergi dengan nenek lampir itu."
Letta melihat kekecewaan bahkan rasa benci di dalam mata Zeron.
"Kak, kalu aku ikut mama giman?"
Pertanyaan Zeron sontak saja membuat Letta secara tidak sengaja menjambak rambut Zeron.
"Aduh, kok di jambak sih. Kak."
"Kamu jangan aneh-aneh, mama kamu udah bahagia di surga."
Mama Zeron adalah tamu VIP di butiq Letta itu mengapa dia dan Zeron bisa berkenalan, Savina mama Zeron menitipkan Zeron kepada Letta di detik-detik dirinya kritis.
Sebenarnya Letta dan Zeron adalah sepasang manusia yang tak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari kedua orangtua mereka cerita hidup mereka hampir sama.
"Maka dari itu, nikah sama aku."
__ADS_1
"Kamu pikiran nya nika, perbaiki dulu nilai dan kelakuan kamu di sekolah."
"Kalau nilai dan kelakuan ku baik, kaka mau nikah sama aku?"
"Tergantung. Universitas mana yang bisa nerima kamu."
"Oke, deal."
Kesepakatan yang terucap begitu saja dari mulut Letta tanpa sadar membuat Zeron memiliki harapan lebih kepada Letta.
"Dia tidak akan serius dengan ucapan ku kan." Batin Letta.
.
.
.
.
.
Setelah menghadapi kelakuan Zeron yang menghabiskan semua kesabatannya kali ini, kesabaran Letta di uji oleh Reganza.
"Kamu dari mana?"
Letta memutar bola matanya jengah, sudah cukup emosinya terkuras oleh kelakuan tidak jelas dari Zeron.
"Tolong pergi dari butiq ku, sebelum kesabaran ku habis."
Reganza menarik tangan Letta saat wanita itu ingin masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Kamu kenapa sebenci ini sama aku?"
Letta benar benar lelah hari ini, dia tidak mau berdebat atau berkelahi dengan Reganza.
"Rega, aku lelah tolong tinggalkan aku."
"Apa kamu sangat membenci ku, kenapa kamu tidak mau memberi aku kesempatan untuk mendekat."
Pran!
Letta melemparkan vas bunga yang ada di dekatnya, vas bunga itu hancur berkeping-keping.
"Kamu lihat vas itu? Apa kah sesuatu yang hancur berantakan bisa kembali seperti semula!"
Reganza terdiam lelaki itu hanya memandang sendu kearah Letta.
"Sama, sama seperti perasaan ku yang sudah hancur berantakan. Mau seberapa keras kamu berusaha meperbaikinya, semua tidak akan pernah bisa menjadi sempurna seperti sebelumnya."
letta menatap tajam Reganza, dia benar benar sudah muak dengan semua yang di lakukan Reganza.
"Pergilah!"
Letta pergi meninggalkan Reganza yang memangdangnya dengan tatapan sedih, Reganza tak pernah berfikir bahwa luka yang dia torehkan akan membuat Letta membencinya selama hidupnya.
__ADS_1