
Hujan membasahi kota sejak sore hingga malam ini, seorang pemuda dengan keadaan basah kuyup berdiri di depan gerbang tinggi sebuah perumahan megah. Darell bediri di depan gerbang rumah mertuanya dengan menekan terus menerus bell rumah, lelaki itu sudah berdiri selama dua jam namun tidak ada tanda-tanda seseorang yang akan membukakan pintu untuk nya.
Sementara didalam rumah besar itu, seorang ayah dan putri cantiknya tengah bertengkar.
"Paa, tolong biarkan Kalea menemui Darell. Kasihan dia paa." Kalea sudah selama satu jam memohon didepan pintu kamar Briyan setelah tadi mereka beradu berargumen yang kemudian berakhirlah dengan Briyan meninggalkan Kalea di ruang keluarga.
"Paa, tolong dong dengerin Kalea dulu..." Kalea mengetuk ngetuk pintu kamar milik sang Papa, namun semua itu sia-sia Briyan seraya tuli tak mendengar perkataan Kalea.
Sementara Helena hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran ayah dan anak itu, wanita paruh baya yang masih terlihat sangat awet muda itu lantas mendekati suaminya.
"Apa kamu belum puasa melihat menantu dan anak kita memohon demi kelangsungan rumah tangga mereka..." Helena menatap sedikit kesal pada sang suami, bagaimana Helena tak kesal sebenarnya permasalahan ini tidak akan panjang jika Briyan tidak memiliki ide untuk menguji cinta Darell kepada Kalea.
Briyan buka sembarangan orang yang bisa di tipu, tanpa meminta Darell untuk membuktikan semua perkataan Sisilia yang nyatanya semua adalah kebohongan. Briyan mampu memncari buktinya bahkan dalam waktu 24 jam, tetapi Briyan ingin melihat seberapa keras perjuangan Darell untuk Kalea.
"Sudahi ini semua sebelum Lea membenci kamu sayang..." Helena menggenggam tangan siaminya.
"Baiklah..." Ucap pasrah Briyan selain takut di benci sang Kalea, nyatanya Briyan juga takut jika Helena marah lebih tepat nya takut jika harus tidur di luar.
Briyan lantas membuka pintu kamar nya, kemudian menemui Kalea yang sudah duduk di atas lantai dingin dengan air mata yang berlinang.
Hati Briyan terasa sesak saat melihat anak yang dia sayang menangis tersedu, lebih sakit nya lagi itu semua karena ulah nya.
"Papa izinkan Kalea menemui Darell Paa." Kalea memeluk salah satu kaki Briyan memohon pada sang Papa.
"Bangun sayang..." Briyan membantu Kalea untuk bangun, namun Kalea menolaknya.
"Enggak Paa, sebelum Papa mengizinkan Kalea bertemu Darell. Kalea akan terus berlutut didepan Papa..."
"Bangun dulu, Papa akan izinkan Lea bertemu Darell."
Kalea mendongak menatap wajah sang Papa kemudian beringsut bangun dari berlutut nya, " Papa enggak bohongkan?"
"Enggak sayang, temui Darell ajak dia masuk kerumah." Briyan mengusap puncak kepala anaknya.
"Makasih paa." Kalea berlari menuju ruang tamu tapi sebelum itu dia mengecup pipi kanan milik Briyan.
Sementara Briyan dan Helena hanya bisa memandang kelakuan Kalea dengan wajah terharu, kini putri mereka memang benar-benar sudah dewasa.
"Anak kita yang, sudah besar." Ucap Briyan.
"Bukan Paa, anak pak lurah itu..." Helena terkikik saat melihat lirikan tajam Briyan.
"Iya anak kita, Kalea Putri Briyan..." Ucap Helena lagi.
__ADS_1
"Awas... sampai bilang Kalea anak pak lurah lagi..." Briyan tak terima jika anak kesayangan nya di katakan anak pak lurah.
"Iya sayang..." Lantas Briyan menggending istrinya kemudian membawanya keatas ranjang.
Tinggalkan pasangan paruh baya yang sedang mengarungi malam panas itu, kembali pada Kalea yang susah payah memapah Darell masuk kedalam rumah. Saat Kalea keluar ternyata Darell dalam keadan yang sudah sangat lemah dan menggigil.
"Pak tolong bawa suami saya kedalam kamar." Pinta Kalea pada salah satu penjaga dirumah nya.
"Baik non..."
Saat Darell sudah di bawa menuju kamarnya, kini Kalea berjalan kearah dapur untuk membuatkan wedang jahe untuk Darell.
"Terimakasih pak..." Ucap Kalea saat sudah berada di dalam kamarnya.
"Sama-sama non, sebaiknya tuan segera di ganti baju nya non. Kasihan basah semua." Ucap sang penjaga.
"Iya pak, terimaksih sarannya..."
Setelah penjaga keluar dari kamarnya, Kalea lantas mendekat kearah Darell yang sedang berbaring.
"Kak, bisa bangun dulu. Ganti baju dulu ya..." Kalea membantu Darell bangun dari tidurnya.
Setelah Darell berganti baju Kalea memberikan wedang jahe hangat agar tubuh Darell sedikit menghangat.
Darell menggeleng kemudian merentangkan kedua tangan nya, "Mau peluk kamu aja." Ucap Darell dengan suara seraknya mungkin sebentar lagi Darell akan terkena flu.
"Minum dulu, nanti aku peluk." Kalea menyodorkan lagi wedang jahe hangat yang di tolak Darell tadi dan dengan cepat di minum Darell hanya beberapa tegukan.
"Sudah, sekarang peluk."
Kalea lantas mendekatkan dirinya kearah suaminya yang tengah duduk di sofa yang ada di kamarnya, jadilah kalea duduk di atas pangkuan Darell dan menghadapnya, seperti koala yang memeluk pohon.
"Rindunya aku..." Bisik Darell.
"Aku juga rindu kakak."
Darell meletakan wajahnya di ceruk leher Kalea menghirup rakus aroma tubuh Kalea yang sangat dia rindukan.
"Maaf ya aku lama jemput kamu..."
"Aku tidak masalah kak, asal kakak baik-baik saja. Aku percaya kakak."
Kalea mengendurkan pelukan suaminya itu kemudian menatap lekat wajah pucat milik sang suami.
__ADS_1
"Wajah kakak pucar sekali, kakak sedikit demam." Kalea menempelkan punggung tangannya dikening Darell.
Darell menangkup wajah panik Kalea dengan kedua tangannya, menatap dalam kearah manik hitam milik Kalea.
"Aku sangat merindukan kamu, aku tak mau kehilangan kamu sayang." Darell mendekatkan wajah Kalea kedepan wajahnya lalu kemudian mengecup bibir mungil milik Kalea, lama lama kecupan itu berubah menjadi *******.
"Eughhh..." lenguh Kalea dikala dia merasakan kehabisan oksigen nya.
"Bernafas sayang..." bisik Darell.
"Ak-aku kan belum terbiasa kak..." Kalea malu mengatakan itu.
"Sepertinya aku akan menjadi guru mualam ini..." Darell mengedipkan sebelah matanya.
"Dan aku akan menjadi murit teladan untuk mu kak."
Di tengah rintiknya hujan sepasang suami istri itu melepas kerinduannya yang sudah membucan, kegiatan panas itu mereka lakukan lagi meski tubuh sang suami tengah diterpa demam.
Sedangkan di sebuah club seorang pemuda sedang maarah dengan tatap yang tajam kearah seorang gadis.
"Violeta Jhanson!!!" Teriak Zeron.
Gadis itu sudah akan tumbang karena terlalu banyak meminum banyak alkohol.
"Ohhh, hay sayang ku..." Ucap Violeta.
Zeron menangkap tubuh Violeta yang akan tumbang, lelaki itu memeluk erat pinggang ramping milik Violeta.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku hanya ingin bersenang-senang, kau tahu pak tua itu akan menjodohkan aku dengan anak rekan bisnisnya."
"Lantas kau harus melampiaskan amarah mu dengan minuman haram ini." Zeron menggendong tubuh Violeta dan membawanya kemobil milik perempuan itu.
"Kau tahu sayang, aku tak suka dengan anak rekan bisni Pak tua itu, dia pria brengsek yang waktu itu mau memperkosa ku." Oceh Violeta dengan sedikit tawa.
"Setidaknya dia kaya..." Gumam Zeron.
"Apa kaya!!, aku bahkan lebih kaya. apa kau lupa aku memiliki puluhan butik dan restoran, bahkan aku juga memiliki usaha perhotelan hanya saja Pak tua bodoh itu tak puas dengan usaha ku dan lebih menyayangi Kak Gisell."
Dari cara bisaca Violet, wanita berumur 25 tahun itu nyatanya memiliki dendam dan rasa sakit hati kepada keluarga nya.
Violeta Jhanson, anak kedua dari pasangan Aditama Jhason dan Angela Jhanson. Violeta tak sengaja di temukan oleh Zeron saat gadis itu tak sadarkan diri di dalam mobil di dekat sekolah Zeron, Violeta tak sadarkan diri akibat menenggak dua puluh butir obat tidur.
__ADS_1
"Gadis merepotkan, kau selalu membuat ku repot." Zeron mengusap pucuk kepala Violeta.