Tergoda Pesona Om Duda

Tergoda Pesona Om Duda
[Season 2]


__ADS_3

Daren berjalan dengan tergesa, emosinya sungguh tidak bisa di bendung lagi. Tangan nya mengepal kuat sorot matanya menujukan kemarahan yang sangat besar.


“Keluar kau baj*ngan!!” Daren mendobrak sebuah pintu.


Seseorang yang sedang berbaring di ranjang didalam ruangan itu sontak saja terlonjak kaget dengan kegaduhan yang baru saja terjadi.


“Apa kau gila!! Pagi buta kau mengacau di kamar orang!!” geram Darell, dia sangat geram karena ini adalah jam tidur nya yang baru bisa dia rasakan dengan tenang setelah balada rumah tangganya. Meski masalah itu belum juga selesai namun Darell merasa sedikit bernafas lega karena Kalea mempercayainya.


“Kau yang gila br*ngs*k!!” Daren menarik kerah baju milik Darell dan memberikanya satu pukulan di wajah.


Bughh!!!!


“Kalau kau sedang ada masalah, selesaikan dengan baik jangan kekanankan.” Darell meringis menahan sakit di ujung bibirnya.


“Kau yang bermasalah, tapi aku yang terkena imbasnya bodoh!!” Daren menatap nyalang kearah Darell yang masih bingung dengan apa maksut tujuan Daren mengamuk di rumahnya pagi-pagi buta.


Darell diam karena masih mencerna perkataan Daren, dia benar-benar tidak tahu apa yang di bicarakan sang adik.


“Kau tau karena sekandal mu denga Sisillia, lamaran ku ditolak mentah-mentah oleh Tuan Briyan.”


Darell mengernyitkan dahinya semakin bingung, lamaran apa yang Daren maksut.


“Kau melamar kerja di perusahaan mertua ku?” Daren bertanya dengan wajah polosnya.


“Aku melamar Zoe, kau tau kan Zoe tanggung jawab Tuan Briyan. Dan karena masalah mu aku ditolak secara tidak terhormat.” Kesal Daren sangat kesal, kenapa juga dirinya juga harus menangung akibat dari kesalahan sang Kakak.


“Apa!! Kau melamar Zoe.” Darell terkejut tak menyangka, ternyata yang di katakan istrinya benar bahwa Daren memiliki ketertarikan pada Zoe sahabat istrinya.


“Hemm, dan sekarang semuanya gagal. Aku tidak hanya ditolak tapi aku dilarang menemui Zoe.” Daren mengusap wajahnya, dia sangat frustasi. Cintanya terhalang restu orangtua.


“Jika itu masalah mu, bicarakan dengan ku baik-baik. Tidak usah dengan cara kekerasan, apa kamu tidak lihat wajah tampan ku menjadi rusak.” Gerutu Darell.


“Peduli apa aku dengan wajah mu yang tak seberapa tampan itu, kisah percintaan ku lebih penting.”

__ADS_1


“Dasar remaja labil.” Gumam Daren dengan kesal.


Darell mengajak Daren untuk duduk di balkon kamarnya, melemparkan satu kaleng minuman dingin kearah Daren dan dengan sempurnanya mengenai kening sang Adik.


“Kau gila!!” Daren menatap tajam Darell sang pelaku yang baru saja dengan sengaja melempar kaleng minuman kearah keningnya.


“Itu tidak seberapa dengan pukulan mu.” Darell menunjuk luka lebam didi sudut bibirnya.


“Kau pantas dapat itu.” Ucap Daren.


Darell mendengus kesal percuma saja dia membalas perkataan adiknya, Daren itu keras kepala dan tidak mau mengalah.


Keduanya terdiam sejenak, pandangan mereka mengarah ke langit biru tak berawan. Pagi ini cuacanya mungkin akan terik terlihat dari matahari yang sedang tersenyum cerah seakan mengejek nasip kedua kakak beradik yang tengah galau karena cinta.


“Kau tidak melakukannya kan?” Tanya Daren.


Darell menggeleng, “Kau tau aku kan?” Darell melirik kearah Daren yang terdiam.


“Lalu apa kau akan diam saja, saat si jal*ng itu menindasmu. Bahkan rumah tangga mu hampir hancur.” Daren sedikit mengepalkan tangannya mengingat bagaiman dirinya di tolak oleh Briyan.


Siang itu Daren sengaja mengunjungi kantor milik Briyan untuk mengutarakan keinginanya yang akan melamar Zoe untuk menjadi istrinya, namun sayang Daren belum mengetahui masalah yang menimpa Kakak dan Kakak iparnya itu.


“Saya tidak bisa menerima lamaran mu.” Ucap Briyan dengan tegas.


Daren merasa sedikit terkejut dengan penolakan dari Briyan, bukankah kemarin saat mereka bertemu tidak ada masalah sama sekali bahkan Daren bisa memprediksi hasil lamaran nya akan diterima dengan mudah.


“Tapi mengapa lamaran saya di tolak?”


Briyan menatap tajam kearah Daren, “Aku tidak akan menyerahkan putri ku, kau tau kenapa?” Daren hanya menggeleng.


“Kakak mu sudah menghiyanati anak ku, dia menghamili mantan pacarnya. Dan aku takkan mengulangi kebodohan ku dengan menikahkan Zoe dengan mu yang kurasa sifat kalian sama.”


Dan itulah mengapa pagi ini Daren mengamuk di kediaman Darell bahkan sampai memukul sang kakak.

__ADS_1


Flashback Off.


“Aku butuh bantuan mu, aku tau kemampuan mu bisa di andalkan.”


Darell menatap sang adik dengan penuh harap, karena dia merasa hanya Daren yang bisa memantunya di saat semua orang tidak mempercayainya.


“Jika bukan karena Zoe, aku tidak sudi membantu mu karena aku lebih suka kamu menjadi duda.”


“Sialan kau!!” Daren baru saja ingin melayangkan pukulan pada Daren namun dia urungkan karena perkataan Daren.


“Mau memukul ku?” Ucap Daren santai.


“Akhhh, sial.” Darell mengumpat.


Mungkin jika bukan karena Daren bisa membantunya, bisa saja Darell mendorong sang adik terjun kebawah dan mati karena tulang rusuknya yang hancur.


“Kau tenang saja, nanti sore orang ku pasti sudah menemukan si jal*ng itu beserta buktinya.” Setelah mengatakan itu Daren pun pergi meninggalkan Darell yang diam mematung dengan tatapan yang sulit di artikan.


Darell sebenarnya sangat menyayangi Daren, namun sesuatu masalah membuat dirinya harus membangun dinding pembatas diantara dirinya dan sang adik.


Kematian saudara kembarnya adalah awal mula kebencian itu tercipta, dulu hidup darel dan sang kembarannya sangat berjalan dengan bahagia sampai akhirnya mereka mendengar kabar bahwa sang Mama tengah mengandung adik mereka.


Darell pikir itu tak masalah jika mereka memiliki adik, tapi saat mereka berusia 10 tahun kecelakaan merenggut nyawa kembarannya. Kembarannya menyelamatkan Daren dari tabrakan sebuah truk yang membuat Darell secara naluri mulai membenci Daren. Itulah alasan kenapa selama ini Darell selalu igin menang dari Daren.


“Maafkan aku yang belum bisa membuang rasa benci ku terhadap mu, aku menyayangi mu tapi rasa kecewa ku masih ada.” Darell memegangi dadanya yang terasa sesak, sesungguhnya dia tak mau membenci adiknya.


Sementara itu Daren hanya bisa berdiri didepan pintu kamar Darell dengan mendengarkan isak tangis dari sang Kakak.


“Aku menyayangi mu dan kak Dara, jika aku bisa memilih aku ingin mati menggnatikan Kak Dara agar kamu bisa bahagia dan terlepas dari rasa benci dan kecewa mu terhadap ku.” Batin Daren.


Tanpa semua orang tau selama ini Daren pun selalu menyalahkan dirinya atas kepergian Dara saudara kembar Darell, setiap malam mimpi buruk selalu menghantui dirinya.


Disini bukan hanya Darell yang merasa kehilangan, tetapi Daren pun sangat kehilangan seorang kakak yang selalu melindunginya.

__ADS_1


“Maafkan aku kak Dara, seharusnya aku tidak mengambil bola itu. Seharusnya aku mendengar kan kakak.” Gumam Daren.


Lelaki itu lantas pergi menuju kesuatu tempat, dia hanya memikirkan orang itu dan dia hanya ingin memeluknya.


__ADS_2