
Harini Kalea meminta izin pada Darell untuk berjalan-jalan dengan Zoe, Kalea tau perasaan Zoe saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kareana Kalea sudah berjanji didepan makam Mama Zoe jika dirinya akan selalu membuat anaknya selalu behagia. Maka hari ini Kalea akan menculik Zoe.
“Kalea, elo mau bawa gue kemana si?” Zoe kesal sebab Kalea hanya mengajaknya memutari jalanan entah Sudah berapa kali putaran, mereka melewati jalanan yang sama.
“Gue juga bingung mau bawa elo kemana.” Ucap Kalea dengan cengirannya.
“Astaga!! Elo gila emang, enggak waras. Elo maksa gue buat ikut sama elo yang sedangkan elo enggak tau tujuan elo kemana.” Omel Zoe.
“Iya maaf habis gue bosen di kantor terus.” Ucap Kalea. tangannya sibuk menyetir sedang matanya fokus melihat jalanan.
“Ehhh, elo enak istri Boss bisa santai sedang gue, astaga!! Gue cuma anak magang kerjaan gue segunung.” Zoe menghentakan kakainya kesal. Dirinya sangat kesal dengan sikap Kalea yang random.
Kalea hanya melirik Zoe dan menarik sudut bibir nya sedikit, “setidaknya gue bisa membuat elo melupakan rasa kecewa elo sama bokap elo Zoe.” Batin Kalea.
“Oke, ayo kita makan!!” teriak Kalea dengan menginjak gas mobil nya, mobil itu berjalan melesat menuju restoran favorit mereka.
Dan disinilah mereka berada di meja restoran yang sudah penuh makanan yang mereka pesan.
Zoe menatap kearah Kalea, “Elo tau aku lagi sedih ya.” Dirinya tahu kebiasaan Kalea, temannya itu akan membawanya kerestoran memanjakan lidahnya hingga perutnya akan meledak saat dirinya sedang sedih.
“Ketahuan ya...” Kalea tersenyum.
Zoe berkaca-kaca setetes air mata keluar dari ekor matanya, “Aku selalu merasa beruntung saat Mama Helena dan Papa Briyan mau menganggap ku dan menjadikan aku ananya, kau tau apa impian terbesar ku?” Zoe mengusap air matanya.
“Apa?” Tanya Kalea.
“Memiliki Mama dan Papa yang menyeyangi ku.” Lucu sangat lucu kehidupan Zoe, Papa nya masih ada tetapi dirinya hidup bagaikan anak yatim piyatu.
“Hey, jangan bgeitu Mama dan Papa akan sedih melihat anak kesayangannya sedih begini, kamu itu berlian di keluarga ku jangan pernah mengingat luka itu kembali.”
Kalea sangat tau betapa terlukanya hati seorang Zoe, dia gadis yang di telantarkan oleh Ayahnya bahkan di usir dari rumahnya. Kematian Mamanya banyak yang tidak di ketahui oleh Zoe, dan saat ini masa depannya terancam hancur ditangan Ayahnya sendiri miris memang.
“udah ahh, jangan sok sedih-sedih mending makan aja.” Zoe mulai memakan sepotok kue yang di pesankan oleh Kalea tadi.
Saat mereka makan tak sengaja netra Kalea bersitatap dengan seorang lelaki.
“Kalea!!” pekik lelaki itu dengan melambaikan tangannya kearah Kalea.
“Arkan…” Gumam Kalea dan Zoe bersamaan.
Zoe menatap Kalea penuh tanya, mungkinkah sahabatnya ini mengundang lelaki yang dulu pernah mengobrak abrikan perasaanya.
“Tidak, aku tidak mengundangnya.” Kalea menjawab tatapan sinis Zoe dengan perkataan yang tak kalah sinisnya.
__ADS_1
“Hay…” Sapa Arkan. Kalea dan Zoe hanya tersenyum dan mengangguk.
“Wahh, senang bangat ketemu kalian disini.” Arkan tanpa malunya langsung mengambil tempat duduk di samping Zoe.
“Emmm, iya…” ucap Kalea.
*****
Rasanya Zoe ingin sekali mengumpat dan menjitak kepala Kalea, sahabatnya itu dengan seenaknya pergi begitu saja meninggalkan dirinya hanya berdua bersama Arkan.
Bukannya Zoe tak suka atau benci tetapi dia sedikit canggung dengan Arkan, meski mereka dulu dekat dengan setatus sahabat tetapi berbeda dengan sekarang.
“Zoe, kamu enggak suka ya ketemu sama aku.” Arkan bisa melihat ada sedikit rasa canggung atau lebih tepatnya rasa tidaknyaman.
Zoe mendongak menatap wajah Arkan, tampan memang selalau begitu si Arkan ini. Kulit putih tanpa bekas jerawat atau luka dengan hidup mancung dan bibir yang berwarna pink membuat siapa saja yang memandang wajah Arkan akan terpesona.
“Tidak, aku senang bisa bertemu kamu lagi.” Ucap Zoe.
“Zoe bisakah kita sedakat dulu lagi?”
“Sedekat apa memang kita dulu?” Tanya Zoe.
Mungkin Zoe dulu adalah gadis yang polos tentang cinta tetapi dia bukan gadis bodoh yang taktau bagaimana Arkan dulu bersikap dengannya, Arkan dulu selalu perhatian padanya lelaki itu selalu ada untuk Zoe sampai akhir nya kedekatan itu melibatkan perasaan. Nyaman, Zoe selalau nyaman saat bersama Arkan tetapi kepergian Arkan yang tiba-tiba memabuat Zoe beranggapan bahwa Arkan memang menganggapnya sekedar teman tak lebih.
“Maaf Arkan aku tidak bisa, jika hanya berteman aku masih bisa tetapi jika lebih ku rasa itu tidak mungkin.”
Ada rahasia yang membuat Zoe melupakan perasaannya kepada Arka, dua hari sebelum Arkan pergi Mamanya mendatangi Zoe meminta Zoe untuk menjauhi Arkan. Orangtua mana yang mau anaknya menjalin hubungan dengan gadis yang tidak jelas bahkan ayahnya saja tak menganggapnya.
Dari saat itu sampai saat ini Zoe tidak pernah berani menjalin hubungan dengan prialain, perkataan Mama Arkan membuat hati Zoe tertampar tersadar akan kenyataan siapa dirinya.
“Kau ini gadis yang tak diharapkan oleh orangtua mu, jangan berharap ada orangtua yang mau anaknya menikah dengan gadis menjijikkan seperti mu.” Ucap Mama Arkan dengan penuh kebencian.
Zoe hanya bisa tersenyum miris, bahkan cintanya masih menjadi tunas kecil tetapi dengan berat hati Zoe harus mengubur tunas itu agar tidak tumbuh.
“Kenapa Zoe? Aku menyukai mu sejak dulu dan aku tau kamu juga tau itu. Kita bisa memulainya dari awal Zoe.” Ucap Arkan. Arkan sangat berharap Zoe mau menjalin kasih dengannya.
“Arkan didunia ini banyak wanita yang baik, wanita yang berasal dari keluarga normal bukan seperti ku yang lahir dari seorang istri yang dihiyanati oleh suaminya bukan hanya itu aku anak yang di buang oleh ayahnya sendiri.” Zoe dan Arkan itu bagaikan langit dan bumi sangat jauh berbeda, meski Zoe telah diangkat anak oleh Briyan tetapi jati dirinya yang sesungguhnya takkan pernah hilang.
“Zoe, aku tidak pernah mempermasalahkan itu aku mencintai mu apa adanya Zoe.” Arkan menggenggam erat tangan Zoe. Kamu mungkin tidak tetapi oragtua mu tidak sedemikan Arkan fikir Zoe.
“Maaf Arkan aku tidak bisa!” Zoe melepaskan genggaman Arkan kemudian dia beranjak pergi meningalkan Arkan.
“Zoe tunggu!” Arkan mengejar langkah Zoe setelah memabayar semua tagihan makanan yang Kalea dan Zoe pesan.
__ADS_1
“Zoe tunggu!!” Arkan menarik tangan Zoe agar mau berhenti.
“Akhh…” Keluh Zoe karena pergelangannya digenggam erat oleh Arkan mungkin dia tidak sadar.
“Maaf Zoe.” Arkan melepaskan genggaman tangannya.
“Zoe kasih aku kesempata sekali saja untuk membuktikan bahwa rasa ku tulus dengan mu.”
“Maaf Arkan aku enggak bisa.” Ucap Zoe penuh penekanan.
“Sakali saja Zoe…” Arkan memohon.
“Enggak Arkan!!” bentak Zoe.
“Apa alasanya? Kasih aku alasan kenapa kamu menolak ku?”
Zoe memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan, berfikir dengar jerni untuk menemukan alasan yang tepat karena dia tidak mungkin bercerita jika Mamanya lah yang sudah membuat nya sadar akan posisinya di samping Arkan.
“Aku sudah punya pacar…” Ceplos Zoe, kali ini Zoe benar-benar buntu.
“Pacar, siapa? Kalea bilang kamu jomblo.” Arkan menuntut jawaban kepada Zoe, Arkan yakin Zoe sedang berbohong.
“Kalea bangsat!!!” Batin Zoe menjerit mengumpat tingkah sahabatnya.
“Itu pacar ku.” Tunjuk Zoe kearah seseorang yang baru saja keluar dari mobil, tanpa pikir panjang Zoe berlari kearah lelaki itu dan memeluk tubuhnya.
“Sayang!!” teriak Zoe, persetan dengan rasa malunya dia akan meminta maaf dengan lelaki yang dia peluk itu setalah Arkan percaya dan pergi.
“Sayang? Kamu kenapa?” Tanya lelaki itu dengan raut wajah bingung.
Arkan yakin Zoe hanya bersandiwara, Arkan mendekati keduanya.
“Kenalkan ini Daren pacar ku, jadi ku harap kamu tidak mendekati ku lagi.” Ucap Zoe.
Arkan tercengang dengan ucapan Zoe, pupus sudah harapanya mendapatkan cinta Zoe.
“Kamu benar pacarnya?” Tanya Arkan kepada Daren.
“Duhh, mati aku kalau Daren sampai jujur.” Batin Zoe.
“Iya saya pacarnya, bahkan saya akan melamarnya jadi saya harap anda menjauhi calon istri saya.” Daren melingkarkan tangan kanannya kepingang ramping milik Zoe. Sedang Zoe hanya bisa tersenyum kikuk mengumpat kelakuan modus Daren.
“Daren sialan!!” umpat Zoe.
__ADS_1