
5 Tahun yang lalu....
"Zidney..."Panggil Tania.
Zidney yang sedang belajar di ruang belajarnya, berjalan dan menghampiri Bundanya.
"Iya Bunda..."Ucap Zidney
Zidney memperhatikan Bundanya yang tengah mengobrol dengan seseorang, seorang laki-laki dengan tampilan rapih.
"Zidney kenalkan ini Kak Adrian..."Ucap Tania memperkenalkan Adrian.
"Zideny, Kak..."Balas Zidney.
Adrian hanya tersenyum kepada Zidney, mungkin laki-laki itu sediki malu.
"Zi... Kak Adrian adalah guru les Bahasa asing untuk kamu. Bunda dan ayah memutuskan untuk mencari guru privat intuk mu."Ucap Tania.
Zidney adalah siswa SMP yang pintar, dia anak yang gampang menerima materi pembelajaran.
Sebenarnya Zidney tidak mau memakai guru Privat karena dia yakin bisa belajar dengan cara belajarnya sendiri, Namun Ayah dan Bundanya selalu memaksa.
Setelah Adrian pamit untuk pulang karena belajar dengan Adrian akan di mulai esoh hari.
"Bunda, Zidney kan sudah bilang jangan pakai guru privat. Zi bisa belajar sendiri dan lagi nila Zi juga baik-baik saja."Protes Zidney pada Bunda nya.
Tania memang memahami perasaan putrinya, Tania juga sebenarnya tidak terlalu membebani anak nya untuk menjadi pintar karena dia tau bahwa anak-anak nya memang cerdas sejak lahir.
"Maaf kan Bunda sayang, ini semua perintah dari Ayah, dan Bunda juga sudah bicara dengan Ayah. Tapi Ayah sudah memutuskan bahwa kamu harus memakai guru les privat."Ucap Tania.
Zidney yang mendengar jawaban dari Bundanya, merasa sedikit kecewa dengan Ayahnya karena selama ini Ayahnya selalu saja memaksakan keinginannya.
"Bunda..."Teriak seseorang.
Zay adalah saudara kembar laki-laki Zidney, lebih tepatnya adik laki-laki Zidney.
"Zay sudah pulang?"Tanya Tania.
Zay mendekati bundanya dan mencium tangan wanita yang telah melahirkannya.
"Sudah Bunda."Zay memandang ke arah saudara kembarnya,"Zi kenapa Bun, kok mukanya kesel gitu."Ucap Zay.
"Tidak apa-apa sayang, sudah sana kamu ganti baju lalu makan siang ya."Ucap Tania.
__ADS_1
Tania meninggalkan kedua anaknya di ruang tamu.
"Kamu kenapa?"Tanya Zay, Zay duduk di samping Zidney.
"Zi kesel sama Ayah dan Bunda, mereka membayar guru privat buat Zi."Ucap Zidney.
Zay tau saudaranya memang tidak mau menggunakan guru privat karena dia tidak nyaman dengan orang asing terlebih hanya berdua dalam satu ruangan.
"Kamu harus sabar, nanti kalau lagi belajar Zay temenin deh biar kamu nyaman."Ucap Zay menghibur.
"Bener ya Zay,"Zay mengangguk."kamu memang terbaik."Ucap Zidney seraya memeluk Zay.
"Lepasin dong, aku kan bau keringet karena baru pulang main futsall."Ucap Zay.
"Pantes bau acem."Ledek Zidney dengan pura-pura menutup hidung nya.
Zay beranjak dari duduk nya lalu pergi menuju kamarnya untuk mandi dan ganti baju.
Saat makan malam, Ayah Zidney dan Zay membicarakan tentang prestasi mereka. Sungguh muak bagi Zidney dan Zay jika sudah ada di posisi dimana Ayah mereka, selalu membanding-bandingkan mereka dengan orang lain.
"Zay, Ayah harap kamu dapat mengurangi hobi bola kamu coba dong sekali-kali kamu tekun belajar agar kamu dapat nilai bagus seperti anak dari rekan bisnis Ayah."Ucap Rehan.
Zay sudah sangat muak, bahkan dia tidak pernah melawan ayahnya karena dia tidak mau melawan orangtua yang sudah membesarkan dirinya.
"Sayang jangan di ambil hati ya perkataan Ayah."Ucap Tania.
Tania sebagai Bunda dari Zidney dan Zay tidak bisa berbuat banyak, karena hubungan Tania dan Rehan pun tidak sebaik yang di lihat.
Tania dan Rehan menikah karena perjodohan, mereka menikah karena orangtua mereka mengadakan kerja sama antar perusahaan.
"Kami tidak apa-apa Bunda."Ucap Zidney.
Zidney dan Zay juga diam-diam mengetahui hubungan tidak baik antara kedua orangtua mereka.
Zidney dan Zay sering kali memergoki Bunda dan Ayah mereka bertengkar tengah malam.
"Bunda Zay dan Zidney kekamar dulu."Zay menarik tangan saudaranya.
Zidney hanya menurut dan berjalan di belakang Zay.
"Kenapa Zay..."Tanya Zidney.
Zay duduk di sudut ranjang tempat tidur Zidney,"Aku sudah tidak tahan dengan Ayah."Ucap Zidney.
__ADS_1
Zidney yang mendengar ucapan Zay merasa sanagat terkejut, karena selama ini Zidney pikir Zay tidak masalah dengan ucapan Ayahnya. karena Zay hanya diam dan patuh tidak seperti dirinya yang berani membantah ucapan Ayah nya.
"Apa otak mu bermasalah Zay?"Tanya Zidney,"Selama ini kau diam tidak membantah dan sekarang kau bilang kau sudah tidak tahan."Zidney menatap wajah saudara kembarnya itu dengan perasaan heran.
"Aku diam karena aku menghargi Ayah, aku tidak mau membuat Ayah marah dan akhirnya menyakiti Bunda."Ucap Zay sendu.
"Dasar bodoh, jika kamu tidak suka makan katakan tidak suka. Jangan kamu terlaku memikirkan Ayah dan Bunda, pikirkan juga perasaan mu dan apa yang paling kamu inginkan Zay."Ucap Zidney.
"Maafkan aku karena selama ini aku hanya diam, dan membiarkan mu melawan Ayah sendirian."Ucap Zay.
"Itu tidak masalah, aku melakukan itu juga karena mu karena kamu selalu diam dan patuh sama Ayah."Ucap Zidney.
Mereka menyudahi acara mengobrol mereka dan berpisah karena hari sudah mulai malam.
Esok hari sepulang sekolah Zidney sudah disibukan dengan jadwal belajar yang sudah di atur oleh Ayahnya, dia akan berhenti belajar jika saat nya makan, mandi dan tidur.
"Selamat siang Zidney."Sapa Adrian.
Zidney hanya tersenyum canggung karena memang dia sedikit tidak nyaman dengan orang asing.
Sementara itu Zay duduk di kursi sebelah Zidney untuk mengawasi saudaranya, Zay yakin jika tidak ada dia mungkin Zidney akan sakit perut karena terlalu tegang.
Zidney memiliki masalah pada emosinya dia akan merasa sakit perut jika sudah terlalu setres dan gugub berkepanjangan.
Zidney mengalami Nervous stomach dan keadaan ini hanya Zay yang tau, Ayah dan Bunda mereka tidak tau tentang keadaan Zidney.
Bahkan Zidney pernah pingsan karena sakit perut yang dia derita gara-gara gugup.
"Zidney coba kamu kerjakan soal ini."perintah Adrian.
Zidney hanya mengangguk dan menuruti perintah Adrian.
Zay memperhatika Adrian menurut Zay ada yang tidak beres dengan Adrian, Adrian memandang Zidney seperti bukan memandang guru terhadap muridnya.
"Apa hanya perasaan ku saja."Gumam Zay dalam hati.
Hari pertama Adrian memberi les privat cukup baik, tidak ada keanehan menurut Zidney tapi berbeda menuret pandangan Zay.
"Kalau begitu saya pamit dulu, dan sampak jumba besok Zidney."Ucap Adrian sebelum pergi.
"Iya Kak terimakasih sudah mengajari Zidney."Ucap Zidney.
"Saya suka mengajari murid cerdas dan cantik seperti mu."Ucap Adrian.
__ADS_1
Zidney sedikit risih dengan pujian yang di lontarkan Zay untuk nya.