
Kalea baru saja sampai kantor setelah kabur dari restoran, menurutnya Zoe dan Arkan membutuhkan waktu berdua untuk bernostalgia mengenang masa-masa idah mereka berdua.
“Gue yakin Zoe pasti bakal jadian sama Arkan.” Gumamnya, Kalea berjalan dengan riang menuju ruangannya namun langkahnya terhenti saat mendengar bisik-bisik karayawan.
“Lea, kamu dari mana?” Tanya Maya seniornya. Suaranya mengejutkan Kalea.
“Dari keluar sebentar si Mba, kenapa Mba mukanya kok ditekuk gitu?” Tanya Kalea, wajah Maya seperti seorang yang baru saja kena omel.
“Itu mantanya Boss datang terus marah-marah karena aku larang dia masuk keruangan Boss.” Keluh Maya dengan wajah kesalnya.
“Mantan? Maksut nya Sisilia?” Tanya Kalea memastikan.
“Iya siapa lagi mantan Boss yang ngeselin itu, lagian katanya Boss sudah nikah tetapi kenapa masih berhubungan sama mak lampir itu si.” Maya kesal saat mengingat bagaiman tadi Sisilia memarahinya sampai malu ke ubun-ubun rasanya.
“Tanang Mbak, aku kenal sama istrinya Boss. Aku bakal ngerjain balik si ulet bulu itu Mba tenang aja.” Seringaian nakal terbit di sudut bibirnya, dirinya bersiap untuk mengahancurkan sanga pengganggu.
“Aku mendukung mu Kalea semangat!!” Maya menyemangati keberanian Kalea.
Kalea mengangguk kemudian pergi menuju ruangan Darell sesampainya di sana dia membuka sedikit pintu ruangan Darell mengamati situasi. Lebih tepatnya dia sedang mengintip.
Situasinya tidak dalam zona merah karena Darell hanya diam tidak menanggapi keberadaan Sisilia, sementara Sisilia terus berdiri didepa meja kerja Darell dengan bualannya. Kalea sedikit mendengar rayuan Sisila dan juga permintaan maafnya yang omong kosong itu.
“Memang manusia batu ini harus di kasih pelajaran.” Gumam Kalea.
Kalea melihat OB yang sedang berjalan dengan membawa sebuah ember dan alat pel, Kalea yakin OB itu habis membersihkan lantai di ruanga Daren karena OB itu baru saja keluar dari ruangan Daren.
“Pak saya boleh minta tolong enggak?” Kalea menghentikan langkah OB tersebut.
“Minta tolong apa ya Mba?” Tanya OB tanpa curiga.
“Pak tolong belikan saya permen karet rasa markisah di supermarket, ini uangnya.” Kalea memberikan selembaran uang seratus ribu ke OB itu.
“Semua ini Mba?” Tanya OB itu.
“Iya Pak…” Kalea mengangguk. Sebanyak ini memnag untuk apa batin si OB.
“Sebentar ya Mba saya mau naruh alat pel kebelakang dulu.” OB itu bersiap pergi.
“Biar sata aja Pak, sini.” Kalea merebut ember dan alat pel itu dari OB.
“T-tapi Mba…” Belum juga OB menyelesaikan ucapannya Kalea sudah mendorong tubuh OB itu untuk cepat pergi.
“Tolong ya Pak.” Ucap Kalea.
Kalea melirik ember berisi air kotor itu dengan senyuman licik di bibirnya.
__ADS_1
“Tamat riwayat mu mak lapir.” Gumam Kalea.
Dengan perlahan Kalea membuka pintu ruangan Darell, mengendap-endap masuk dan mendekati Sisilia.
Darell sedikit terkejut melihat kedatanga Kalea yang mengendap-endap itu, dirinya hanya diam dan ingin melihat tingkah nakal apa yang akan dilakukan oleh Kalea.
Sedang Kalea tersenyum dengan penuh kemenangan saat ember kecil ditangannya dia ayunkan kearah Sisilia hingga air itu mengenai tubuh Sisilia.
Byurrr…
“Akhhhh!!!!” Sisilia berteriak, kemudian dia membalikan tubuhnya melihat siapa manusia yang dengan sengaja menyiram tubuhnya dengan air kotor.
Mata Sisilia membola melihat Kalea dengan senyum mengejeknya berdiri di hadapannya dengan ember kecil ditangannya.
“Kamu!!!” bentak Sisilia, tangannya mengepal rasanya Sisilia ingin sekalai menguliti Kalea.
“Uuupppsss sorry, tangan ku licin jadi tidak sengaja menyiram tubuh mu.” Kalea memasang wajah yang pura-pura merasa bersalah.
“Tapi bohong… aku sengaja!” Kemudian Kalea terkekeh melihat bagaiman wajah kesal Sisilia.
“Berani sekali kamu menyiram ku!!! Dasar ******!!!” Sisilia melayangkan satu tamparan ke wajah Kalea.
Plakkk!!!!
“Akkhhh…” Kalea memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Sisilia.
“Dasar mak lampir!!” teriak Kalea, kalea membuang ember yang berada di tangannya kemudian menjambak rambut Sisilia hingga rontok. Beruntung hari ini rambut Kalea di ikat cepol sehingga Sisilia tidak bisa menjambaknya.
“Akkhhh, lepas!!” teriak Sisilia.
“Enggak, dasar mak lampir. Elo itu harusnya nyadar Darell itu udah beristri masih aja elo gangguin, mau elo kena azab matinya di kafani sama kain kafan polkadot.” Cerocos Kalea.
“Kamu aja yang mati, biar Darell jadi duda.” Ucapan Sisilia sukses membuat Kalea semakin terpancing emosinya, gadis itu menambah kekuatannya untuk menjambak rambut Sisilia.
“Berhanti!!!!” teriak Darell yang sudah tak tahan melihat Kalea dan Sisilia berkelahi.
Kini penampilan keduanya sama hancur, rambut yang acak-acakan dan hidung yang berdara. Sisilia yang paling parah keadaannya, badannya basah kuyup akibat di siram Kalea, rambut yang acak-acakan dan sedikit rontok serta hidung yang mimisan sementara Kalea dia hanya menerima tamparan dan rambut yang tergerai akibat tali rambutnya ditarik Sisilia.
“Sisilia sebaiknya kamu pergi dari kantor saya sekarang juga sebelum saya pangilkan polisi, karena kamu sudah membuat keributan di kantor saya!!!” wajah Darell mengeras, matanya menyiratkan amarah yang mampu membuat Sisilia dan juga Kalea ketakutan.
“Ta-tapi…” Sisilia menjeda kalimatnya, menatap kearah Darell yang menatapnya dengan tatapan tajam. “Baiklah aku akan pulang, tolong temui aku besok di apartemen ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan mu sebelum aku kembali ke London.” Sisilia berbalik dan kemudian pergi meningalkan ruangan Darell dengan keadaan yang mengenaskan.
“Hahaha, tahu rasa kamu mak lampir.” Kalea tersenyum penuh kemenanagan, dirinya puas telah membuat keadaan sang pelakor kacau balau.
“Sudah puas bermain nya?” Tanya Darell. Suaranya dingin mampu membuat tubuh orang membeku.
__ADS_1
Kalea menundukan pandangannya kali ini tamatlah riwayatnya, “Mampus!!” batinnya.
“Kemarilah.” Darell menepuk pahanya.
Kalea tidak bergeming dirinya tetap diam dalam posisinya, yang benar saja dirinya disuruh duduk diatas pangkuan Darell.
“Apa kamu sudah menjadi istri pembangkang sekarang?” Kalea menggeleng. “Kenapa tidak menurut?” Tanya Darell.
Dengan terpaksa Kalea berjalan mendekati Darell yang sedang duduk di kursi kebesarannya, dirinya berhenti tepat di hadapn Darell dengan jarak sekitar tiga langkah lagi.
“Sini.” Darell menepuk pahanya dua kali. Kalea mendongak kemudian menggelang.
“Cepat…” Darell menarik tangan Kalea sehingga istrinya itu lebih mendekat kearahnya.
“Cepat duduk.” Perintah Darell.
“Enggak mau…” lirih Kalea. sungguh hatinya berdetak kencang sekarang, berada didekat Darell membuat jantungnya tidak sehat.
“Mau duduk disini atau mau nilai magang mu berubah menjadi angka nol” Darell mangancam dengan menggunakan nilai magang sang istri.
“Licik sekali…” Gumam kalea, dengan sangat terpaksa gadis itu duduk di atas pangkuan Darell biarlah suaminya itu senang dari pada nilai magangnya menjadi taruhan.
“Kamu secemburu itu sama Sisilia, sampai-sampai adu jambakan gini.” Darell merapikan rambut sang istri yang berantakan.
“Enggak, siapa juga yang cemburu.” Kalea mencebikkan bibirnya tidak terima dibilang cemburu, dia tidak bohong memeang dia tidak cemburukan dia hanya mau membalas perlakuan Sisilia yang dengan beraninya memarahi Maya.
“Jangan ulangi lagi…” Darell menyentuh pipi merah bekas tamparan Sisilia tadi. Miris sekali.
“Kenapa? Takut ya kalau kekasihnya babak belur.” Kalea menyipitkan matanya.
Tukk…
Darell menyentil kening istrinya yang berisi otak udang itu, kenapa didalam otak istrinya hanya ada kecurigaan terhadap dirinya.
“Aku mencemaskan keadaan mu, aku tidak rela jika Sisilia membuat mu lecet seperti ini. Tidak perlu takut dia tidak akan bisa merebut ku dari mu karena aku selamanya menjadi milik mu.”
Kalea merasa merinding saat mendegar perkataan Darell yang terkesan narsis tersebut, dirinya tidak ada takutya jika Darell direbut Sisilia dan lagi pula itu takkan terjadi karena jika iya. Memang Darell sudah siap menjadi gembel karena di kelaurkan dari ahli waris keluarga Yoon.
“Terlalu percaya diri sekli anda Pak…” Cibir Kalea.
“Sini aku peluk biar lukanya lekas sembuh.” Belum juga Kalea menjawab atau menhindar, tangan Darell sudah mendekap tubuhnya kedalam pelukannya.
“Suami banyak modus…” cicit Kalea.
“Enggak pa-pa sama istri sendiri kok.” Jawab Darell dengan mempererat pelukannya.
__ADS_1