
"Lepaskan tangannya. Luna adalah calon istriku!" ungkap Damar dengan penuh keyakinan.
Jion sangat terkejut mendengarnya. Laki-laki itu masih muda dan tampan. Apa benar yang dikatakannya? Apa selera Luna sudah berganti menjadi suka daun muda.
"Tuan Damar!" panggil Luna dengan mata melotot. Dia juga sangat terkejut dengan perkataan Damar. Apa dia sedang bersandiwara lagi seperti dulu ketika berhadapan dengan para pemabuk.
Sebentar, Jion sempat mempercayainya. Namun begitu melihat ekpresi Luna, dia malah tertawa sinis. Jion tahu kalau laki-laki itu berbohong.
"Hhmm, aku tahu kamu berbohong. Mana mungkin ada anak muda yang menyukai gadis seperti Luna. Dia itu lebih pantas denganku!" sahut Jion pede abis.
"Jadi, maksudmu itu kamu juga sudah tua?" sindir Damar.
Jion gelagapan. Apa dia sudah salah ngomong, ya?
"Sudahlah! Aku gak percaya omonganmu itu. Jangan ikut campur urusan kami!" gertak Jion.
"Nona Luna memang calon istriku. Kamu jangan menggodanya. Apa karirmu mau hancur sekarang juga?" tanya Damar yang tahu siapa Jion. Perusahaan yang akan mengontrak Jion adalah grup perusahaan Damar.
Jion terperangah mendengar ucapan anak muda itu. Jika bicara soal karir solonya, Jion memilih mundur. Dia pun melepaskan tangan Luna.
"Oke, oke. Aku gak kenal kamu tapi masalah ini gak usah diperbesar lagi. Aku pergi dulu ya. Kita pasti akan bertemu lagi!" ucap Jion sebelum pergi.
__ADS_1
"Duduklah! Apa kamu sudah memesan makanan?"
Luna kembali duduk dengan sedikit kesal. Dia masih belum sadar benar karena ulah Jion. Kini, sudah menghadapi masalah baru. Yang akan dia temui adalah putera wanita yang akan dijodohkan dengannya. Bukan Damar!
"Sekarang jelaskan padaku, mengapa kamu disini? Bukannya kamu ada di luar negeri. Mengapa membatalkan janji denganku tanpa penjelasan!" tanya Luna seperti kereta. Matanya merah menahan amarah.
Damar hanya tersenyum, "jadi, kamu marah karena aku membatalkan janji dinner? Apa kamu kangen sama aku?"
Hadeh! Anak ingusan itu mulain lagi. Luna mengelus dadanya agar gak meledak.
"Bukan soal itu! Sekarang ini aku ada janji dengan laki-laki lain. Bukan denganmu! Jadi tinggalkan aku. Jangan sampai orang itu kabur karena melihatku bersamamu di sini!" ungkap Luna berapi-api.
Damar tersenyum licik. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.
"Sudah basi!!!" celetuk Luna. Entah mengapa hatinya menjadi panas. Bukannya dia senang karena janji dinnernya dibatalkan. Mengapa sekarang Luna malah senewen.
"Okelah kalau begitu. Aku batalkan perjodohan ini juga!" cetus Damar seraya berdiri.
"Eeeh, apa maksud kamu?" cegah Luna.
Damar tersenyum dan kembali duduk, "sebenarnya, acara dinner kemarin aku batalkan karena ada acara ini. Aku kebingungan harus pilih yang mana karena dengan orang yang sama. Jadi, aku memilih gadis yang dipilih ibuku!" jelas Damar panjang lebar dan sedikit njelimet.
__ADS_1
Kali ini, Luna mendengarkan dengan saksama. Dia mencoba mencerna setiap kata Damar.
"Ibumu? Apa ibu yang aku tolong itu, ibumu?" tanya Luna memastikan.
Damar langsung mengangguk. Dia mendengar cerita di rumah sakit dari sopir ibunya.
"Tapi kata ibu itu, anaknya sudah berumur! Lagipula, aku juga lebih tua darimu. Kenapa beliau mau menjodohkan aku dengan kamu? Kamu kan masih muda dan tampan! Pasti banyak gadis muda yang mau menikah denganmu!"
Eeeh, Luna keceplosan. Berarti dia mengakui kalau Damar itu tampan.
Damar cuma mesem-mesem mendengar ocehan Luna. Dia teringat, ibunya yang memintanya agar cepat pulang dan bertemu dengan seorang gadis. Sudah sekian kali, Damar menuruti sang ibu. Namun, tidak ada seorang gadis pun yang cocok dengannya. Setelah melihat foto gadis itu, barulah Damar setuju dengan perjodohannya. Apalagi setelah tahu kalau gadis itu adalah Luna.
"Bagi ibuku, aku ini sudah tua. Ibuku sedang sakit parah dan ingin segera menimang cucu. Beliau takut kalau tidah bisa melihat cucunya. Jadi aku harus segera menikah denganmu!"
Luna tertegun. Mengapa dunia hanya selebar daun kelor? Mengapa takdir selalu berada di dekat Damar? Mengapa lamaran pernikahannya setragis ini?
"Aku belum menyetujui pernikahan ini. Aku hanya ingin melihat orangnya dahulu baru memikirkannya. Kalau orang itu adalah kamu, aku akan berpikir seribu kali!"
Luna segera berdiri dan melangkah pergi. Dia sangat kesal karena Damar selalu muncul di dalam hidupnya.
Damar hanya tersenyum. Dia juga ingin tahu sampai kapan Luna akan bertahan. Sebenarnya, Damar sendiri tidak mengerti mengapa tertarik dengan Luna. Mungkin karena Luna mirip dengan kekasihnya sewaktu SMA. Yang jelas sifat mereka sangat berbeda.
__ADS_1
❤❤❤❤❤