
"Kalian kemana aja? Ayo sarapan bareng!" ujar Nyonya Kamaratih yang ternyata sudah menunggu di meja makan.
Luna jadi gak enak karena Damar bilang mamahnya gak ikut sarapan.
"Maaf, mah. Tadi habis lihat-lihat taman belakang," jawab Luna.
"Iya, Nyonya. Taman di belakang sangat bagus seperti taman kerajaan. Saya merasa seperti puteri kerajaan," ungkap Prilly juga dengan gemulai.
"Puteri kerajaan? Bukankah kamu laki-laki?" tanya Nyonya Kamaratih sedikit bercanda. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman.
"I-iya, nyonya. Kadang saya suka halu," sahut Prilly sambil tersenyum malu.
Nyonya Kamaratih tertawa kecil.
Damar tertegun. Mamahnya jarang sekali tersenyum apalagi tertawa.
Tiba-tiba, Dayat lewat dan berniat akan menunggu di depan rumah.
"Kamu sudah sarapan, mang? Sarapan bareng aja di sini!" ucap Damar mendadak.
Nyonya Kamaratih terdiam. Luna dan Prilly juga ikutan tegang.
"Maaf, tuan. Saya nanti aja sarapannya!" jawab Dayat yang akan melangkah pergi.
"Iya, yat. Duduklah! Kamu bisa sakit lagi kalau terlambat makan!" ujar Nyonya Kamaratih juga.
Dayat tertegun. Apa dia salah dengar?
"Iya, mang. Ayo, makan bareng. Enak kan rame-rame!" ujar Luna yang ikut mengajak Dayat sarapan.
Jika sudah begitu, Dayat jadi gak enak kalau menolak lagi.
"Baik, nyonya muda!" sahut Dayat sambil menarik kursi di dekat Prilly dan Luna.
Prilly malah salting berada di dekat Dayat. Memang banyak sekali kemiripan Dayat dengan Damar. Ketampanannya sebelas duabelas lah!
"Jangan panggil aku nyonya muda, mang. Panggil aku Luna aja, ya," bisik Luna yang memang dekat dengan Dayat.
Dayat hanya mengangguk. Padahal dia juga gak berani memanggil nama Luna aja.
Damar jadi kepo. Apa yang dikatakan Luna sampai bisik-bisik segala. Penyakit cemburunya kambuh lagi. Damar menyentuh kaki Luna dengan kakinya.
"Apa?" tanya Luna sambil melotot.
__ADS_1
"Cepat makan aja!" ucap Damar tanpa suara.
Luna malah menendang balik kaki Damar. Kali ini, Damar yang melotot. Keduanya seperti sedang berperang aja.
Nyonya Kamaratih senyam senyum melihat sikap Damar dan Luna. Begitu juga dengan Dayat yang mulai berinteraksi dengan Prilly. Dia sangat senang melihat anak-anaknya bisa makan satu meja. Hatinya sangat tenang. Sudah saatnya satu keluarga berkumpul lagi.
*****
Yuki mengajak si kecil Nabila ke rumah mamahnya. Keduanya saling berpelukan karena sudah lama menahan rindu. Yuki merasa bersalah karena sudah mengucilkan puterinya dan memisahkan dari neneknya.
"Apa kabar, sayang? Nenek kangen bener sama kamu," ucap Nyonya Arana sambil menciumi Nabila.
"Nabila kangen juga, nek. Apa boleh Bila menginap disini? Bila mau tidur sama nenek dan mamah juga," pinta Nabila dengan muka memelas.
"Tentu aja boleh, sayang. Ayo, nenek tunjukan kamar kamu!"
"Apa kamarku bagus, nek?"
Nyonya Arana langsung membawa cucunya pergi dan meninggalkan Yuki.
Yuki membiarkan keduanya melepaskan kerinduan. Hatinya terasa lega. Jalannya mulai terlihat jelas.
"Maaf, non. Ada tamu di depan," ujar Bik Wati, orang yang membantu di rumah itu.
"Siapa, bik?" Yuki merasa gak ada janji dengan siapapun.
Yuki tertegun. Jion? Darimana dia tahu kalau Yuki ada di sana?
"Hallo, Yuki?" sapa Jion dengan senyuman khasnya.
"Darimana kamu tahu rumah ini, Jion?"
Yuki merasa gak pernah menceritakan soal rumah mamahnya.
"Tahulah! Apa kamu lupa aku pernah kesini waktu sebelum jadian sama Luna? Waktu itu kamu ulang tahun!"
Yuki terdiam lagi. Dia mencoba mengingat waktu yang diceritakan Jion.
"Saat itu ada insiden. Kamu menyuruh Luna menjadi pelayan. Saat itu Luna menumpahkan segelas minuman dibajuku!"
"Oh, iya! Aku baru ingat. Saat itu Luna memang mirip pembantu. Aku heran kenapa kamu menyukainya?" ucap Yuki yang blak-blakan.
Jion tertawa, "entahlah. Aku melihat ada sesuatu di dalam diri Luna. Ketulusan dan penuh kasih sayang. Aku melihatnya tumbuh dan mekar seperti bunga mawar. Sayang, aku yang sudah membuatnya layu!" sesal Jion.
__ADS_1
"Aku jadi membenci diriku yang dulu yang sering membuatnya menderita!" Yuki juga menyesali kesalahannya.
"Bagaimana kalau kita menemui Luna sekarang? Sepertinya dia lagi ada di butiknya!"
"Apa dia mau menemuiku?"
"Aku sangat tahu Luna. Dia gak pernah membenci siapapun yang sudah menyakitinya. Dia pasti senang melihatmu!"
"Mamiiih!"
Tiba-tiba, Nabila muncul sambil berlari dan langsung memeluk Yuki.
Jion tertegun melihatnya. Dia hampir lupa kalau Yuki mempunyai seorang anak.
"Ada apa, sayang?"
"Kata nenek, kita mau beli es cream. Boleh ya, mam! Eeem, om siapa?"
Perhatian Nabila malah beralih kepada Jion.
"Oh, hai!" sapa Jion sambil melambaikan tangan.
Gak lama Nyonya Arana muncul.
"Selamat siang, Nyonya!" tegur Jion sambil berdiri.
"Selamat siang. Kamu siapa?" tanya Nyonya Arana yang baru pertama melihat Jion.
"Saya Jion, nyonya. Temannya Yuki!"
"Nenek, kita jadi kan makan es cream?" tanya Nabila sambil menarik baju neneknya.
"Ayo, kita makan es cream. Biar saya antar nyonya!" ucap Jion yang menawarkan diri mengantar mereka.
Nyonya Arana terdiam dan memandang Yuki seakan menunggu persetujuannya. Sementara, si kecil Nabila sudah gak sabar mau pergi.
Akhirnya Yuki menganggukan kepalanya. Sudah saatnya untuk membuka pintu hatinya untuk laki-laki lain.
"Ayo, kita pergi makan es cream!" ucap Yuki dengan penuh semangat.
"Asyiiik!"
Si kecil Nabila langsung melompat kegirangan dan berputar-putar mengelilingi ruangan itu. Kemudian berhenti di depan Jion dan menarik tangannya menuju ke mobil.Jion gak bisa menolak ajakan gadis kecil itu dan menurutinya saja.
__ADS_1
Nabila memang merindukan sosok ayah. Dia gak pernah mengenal papahnya dengan baik. Sejak bercerai dengan sang mamah, papahnya gak pernah menemuinya lagi. Kini, ruang kosong itu sedikit terisi dengan kehadiran Jion.
❤❤❤❤❤