TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
BANGKIT KEMBALI #3


__ADS_3

Setahun lagi? Damar gak bisa terima kalau menunggu Luna selama itu. Bagaimana kalau saatnya tiba, Luna malah berpaling kepada laki-laki lain.


"Aku gak setuju. Aku gak mau digantung selama itu!" cetus Damar ketika sudah sampai di depan rumah Luna.


Apaan lagi, Damar? Sebenarnya Luna juga gak tahu apakah setahun cukup. Apalagi usahanya yang harus kembali nol.


"Sudahlah! Jangan dipikirkan. Pulang dan istirahatlah! Aku tahu pekerjaanmu masih banyak," ucap Luna yang merasa aneh dengan Damar. Mengapa menganggap pernikahan sangat penting.


"Tunggu! Menikahlah denganku secepatnya. Aku janji gak akan menyentuhmu sampai kamu menginginkannya. Jika kamu gak bisa bertahan, kita bisa bercerai tapi tunggu sampai setahun!"


Luna melotot mendengar ocehan Damar, "kamu kenapa sih? Apa kamu sakit?" tanyanya.


Damar sendiri heran mengapa kata-kata itu keluar dari mulutnya.


"Pikirkanlah ucapanku barusan. Aku ingin mamahku tenang juga dengan mamahmu!"


Luna semakin bingung. Jadi, Damar menikahinya bukan karena cinta. Melainkan karena kemauan mamahnya. Juga soal lain pastinya.


"Sudah, aah! Aku ngantuk berat. Ingat, jangan ngayap lagi!"


Luna membuka pintu mobil dan langsung keluar. Dia pun masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Tapi, begitu sampai di kamarnya Luna langsung membanting tubuhnya di atas kasur. Saat ini, Luna hanya ingin menangis!


Ucapan Damar kembali terngiang. Menikah selama setahun tanpa disentuh. Pernikahan macam apa itu? Tanpa sadar Luna malah tertawa padahal hatinya ingin menangis. Memangnya penikahan hanya sebuah lelucon?


"Ada apa ketawa sendirian, Lun?"


Luna sangat terkejut begitu mamahnya muncul dari balik pintu. Dia mengira kalau mamahnya sudah tidur.


"Gak apa-apa, mah. Tadi ada orang yang bercanda lucu sekali sampai membuat Luna ketawa terus!" jawab Luna sedikit berbohong.


"Tadi bukannya kamu pulang sama Nak Damar? Apa dia bisa bercanda juga?"


"Hhmmm, kadang-kadang sih, mah!"


"Mamah lihat beberapa hari ini kamu gak pernah membawa mobilmu lagi, Lun. Apa kamu menjualnya? Apa kamu lagi butuh uang?"


Deg! Ternyata Mamah Luna menyadari kalau mobil Luna sudah gak ada.


"Iya, mah. Ada masalah sedikit dikantor. Nanti kalau Luna punya uang juga bisa beli lagi, mah!"


"Makanya mending kamu cepat menikah aja, Lun. Nak Damar pasti bisa membantumu," ucap Mamah Luna lagi.

__ADS_1


Luna mulai memikirkan perkataan mamahnya. Pikiran mamahnya sama seperti Damar. Hanya saja alasannya berbeda.


"Luna masih bisa usaha sendiri, mah. Soal pernikahan nanti bisa dibicarakan lagi!"


"Kalau mengurusi usahamu terus kapan kamu akan memikirkan soal pernikahan. Sekarang adalah waktu uang tepat. Nak Damar adalah calon suami yang paling spesial buat kamu!"


Ya! Damar adalah calon suami yang paling sempurna untuk Luna. Hanya saja, hatinya masih saja terus meragu. Yang jelas, dia harus bangkit dulu dan membangun perusahaannya sampai maju seperti dulu. Itu adalah tujuan utama Luna saat ini.


*****


Dayat hampir tertidur karena menunggu Rani. Matanya seperti dibelai-belai dan hampir terpejam. Beberapa kali kepalanya terantuk karena terlalu mengantuk. Untung aja, Dayat cepat membuka matanya lebar-lebar.


Kadang, Rani melirik Dayat. Dia gak bergerak sedikitpun dari tempatnya semula. Sebenarnya, Dayat lumayan tampan dan selalu rapi. Rani baru sadar, penampilan Dayat gak seperti orang biasa. Dia hanya sedang berkamuflase.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Dayat ketika Rani memegang tas. Gaya bicaranya gak seperti biasa dan lebih santai. Seperti ketika mereka bertemu dulu.


Rani pun mengangguk, "iya, aku sudah selesai!"


"Oke, ayo pulang!"


Dayat membiarkan Rani berjalan di depan. Mereka melewati ruang kantor yang sudah sepi. Sebagian lampu juga sudah dimatikan.


Tanpa sadar kakinya terantuk kaki kursi yang gak terlihat jelas. Tubuhnya terhuyung karena mempertahankan laptopnya agar gak terjatuh.


"Kamu gak apa-apa?"


Untung aja, Dayat menangkap tubuh Rani yang hampir terjelembab.


"Gak apa-apa, kok!" jawab Rani yang sedikit sungkan.


"Biar aku bawa tasmu!"


Dayat langsung mengambil tas laptop dari tangan Rani. Sementara Rani gak menolaknya. Mereka pun kembali berjalan menuju keluar kantor.


"Permisi, pak. Kata Tuan Damar, bapak dan ibu disuruh memakai mobil kantor. Ini kunci mobilnya," ujar seorang sekuriti ketika Dayat sampai di lobby.


Dayat sedikit tertegun. Damar selalu seperti itu. Dia selalu memikirkan orang lain. Itulah yang membuat Dayat gak tega untuk mengatakan siapa dirinya. Dia takut kalau Damar membencinya.


"Sebelum pulang aku mau mampir ke suatu tempat dulu!" ujar Dayat ketika sudah berada di dalam mobil.


"Aku lagi gak enak badan. Sebaiknya langsung pulang!"

__ADS_1


"Hanya sebentar aja, kok!" sahut Dayat.


Rani hanya diam dan memejamkan mata. Dia hanya ingin istirahat sebentar saja. Tubuh dan pikirannya sudah terkuras habis. Terkadang, Rani ingin berhenti bekerja dan membayangkan menjadi ibu rumah tangga saja. Tapi impiannya masih jauh untuk digapai. Dia harus bertahan.


Setelah agak lama berjalan, Dayat berhenti di depan sebuah restoran. Dia gak tega membangunkan Rani yang tertidur nyenyak. Dayatpun memutuskan membeli makanan sendiri saja.


Suara rintik hujan di atas mobil membuat Rani terjaga. Tapi, mobil sedang berhenti dan Dayat gak ada.


Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu mobil. Ternyata Dayat kembali dengan baju basah kuyup karena kehujanan.


"Kamu dari mana?" tanya Rani ketika Dayat sudah masuk ke dalam mobil.


"Makanlah! Kamu belum makan malam dari tadi," jawab Dayat sambil menyodorkan bungkusan berisi ayam goreng dan kentang.


Rani tertegun. Dia sendiri lupa kalau belum makan malam, "terima kasih. Aku akan makan di rumah!"


"Kenapa di rumah? Makanlah sekarang. Nanti sakit lambungmu kambuh kalau telat makan!"


Ternyata Dayat masih ingat kalau Rani punya sakit lambung. Dulu ketika pertama kali bertemu Dayat, dia kelihatan orang yang cuek.


Rani teringat sewaktu mereka bertemu di warung bibiknya. Dayat sering berkunjung kesana untuk makan. Setelah lulus sekolah Rani hanya membantu bibiknya di warung.


"Ajaklah, Rani kerja. Dia baru aja lulus SMA dan belum bekerja. Kalau hanya jadi penjaga warung, mana bisa dia kuliah!" ujar Bibik Rani ketika Dayat sedang makan di warungnya.


"Apa Rani mau ikut kerja sama saya, bik? Saya cuma seorang sopir. Paling Rani akan bekerja membantu majikan saya!" jawab Dayat waktu itu.


"Iya, gak apa-apa, kok. Rani bisa punya pengalaman meskipun gak bisa kuliah! Iya kan, Ran?"


"Iya, bik!"


Saat itu, Rani hanya mengiyakan bibiknya. Dia juga sedikit bosan membantu bibiknya di warung. Apalagi banyak pembeli yang sering menggodanya.


Sejak hari itu, Rani diajak Dayat ke rumah besar seperti istana. Di sana ada seorang perempuan setengah tua yang dipanggil dengan sebutan nyonya. Dia adalah Nyonya Kamaratih.


Baru kerja seminggu, Rani jatuh sakit. Dia muntah-muntah seharian. Ternyata, Rani sakit lambung karena sering telat makan. Mungkin itulah sebabnya, Dayat selalu memerhatikan Rani.


Kembali saat sekarang, akhirnya Rani mulai memakan makanan yang diberikan Dayat. Dia juga takut kalau sampai sakit. Pekerjaannya masih banyak dan harus cepat diselesaikan.


Dayat tersenyum melihat Rani mulai menyantap makanannya. Hatinya terasa tenang. Seperti itu saja, Dayat sudah merasa sangat senang. Dia gak akan berharap lebih.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2