
Luna sangat senang mempunyai pelanggan pertama butiknya. Di dalam mobil Damar, dia selalu tersenyum. Membayangkan jalannya semakin luas terbentang.
Damar senang juga melihat senyuman Luna. Sepertinya, ingin cepat mendekap Luna semalaman. Namun, saat itu masih sangat lama.
"Ada apa senyum-senyum begitu? Ngelihat wajah tampanku, ya?" ucap Damar memecah kesunyian.
Luna menatap Damar lekat. Ada sesuatu bergemuruh di dalam hatinya. Entah kenapa dia ingin sekali memeluk cowok tampan itu sekarang juga.
"Kenapa? Apa baru sadar kalau aku tampan?" tanya Damar lagi meski sambil menyetir.
"Aku heran deh sama kamu!" celetuk Luna.
"Ada apa? Apa salahku? Aku kan emang tampan. Apa aku salah ngomong?" Penyakit Damar kambuh lagi.
"Apa kamu selalu seperti ini? Selalu tebar pesona seperti orang paling tampan sedunia? Awas aja kalau sudah jadi suamiku masih begini juga!" ungkap Luna yang pura-pura kesal.
"Hadeh! Aku juga bingung, sayang. Wajahku sudah tampan jadi gak perlu tebar pesona. Mereka pasti sudah klepek-klepek kalau aku liatin!"
"Damaar!" teriak Luna. "Aku gak bisa membayangkan saat kamu kuliah, apalagi di luar negeri. Pasti banyak bule cantik yang mengejar kamu!"
Akhirnya, Damar menyerah juga. Dia tahu kalau Luna sedang cemburu. Dia pun segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Gak juga kok. Dulu itu aku sangat pendiam dan penyendiri. Aku malah gak ingat teman-teman kuliahku. Aku kan begini hanya di depan kamu, sayang!" sahut Damar sambil menggenggam tangan Luna.
Luna membuang muka ke luar jendela. Bukan karena marah kepada Damar tapi menyembunyikan mukanya yang merah karena gak kuat melihat ketampanannya! Fix deeh! Luna benar-benar bucin padanya.
"Oke deh. Aku akan janji gak tebar pesona lagi. Aku akan jadi suami penurut bahkan aku hanya akan tersenyum kepada istriku seorang!" ungkap Damar yang mengira kalau Luna benar-benar marah.
Duh! Kata-kata Damar semakin menbuat Luna lumer aja.
"Ya, sudah. Ayo kita pulang!" ucap Luna sambil tersenyum.
Akhirnya Damar merasa lega setelah melihat Luna kembali tersenyum. Damar pun menyalakan mobilnya lagi.
"Tunggu sebentar!" ucap Luna ketika Damar akan menjalankan mobilnya.
"Ada apa?"
"Aku melupakan sesuatu!"
__ADS_1
Luna mengangkat tubuhnya dan langsung menghadiahkan ciuman di pipi Damar.
"Eeeh, apa itu? Kamu curang. Ulangi lagi!"
"Gak aaah! Sudah jalan aja!"
Damar geleng-geleng kepala.
"Wah bahaya ini! Aku kalah lagi!"
Luna tertawa kecil melihat ekspresi Damar. Di dalam hatinya sangat bersyukur memiliki Damar. Sepertinya dia akan bucin gak ada habisnya!
*****
"Mamah ...," panggil Yuki ketika melihat mamahnya tergeletak di atas tempat tidur.
Tuan Kenta segera berdiri begitu melihat kedatangan Yuki. Namun, dia hanya tertegun melihat sosok puteri dari wanita yang sangat dicintainya itu secara langsung.Ternyata Yuki sangat mirip dengan mamahnya Tuan Kenta sewaktu muda. Tapi, mana mungkin ada hubungannya. Yuki adalah anaknya Arana dengan suaminya.
"Mamah ... bangun, mah!" ucap Yuki sambil memeluk mamahnya. Airmatanya gak bisa ditahan lagi. Selama ini, mamahnya selalu ada. Yuki gak bisa membayangkan kalau mamahnya sampai meninggal.
"Maaf, tuan. Saya akan membawa mamah saya ke rumah sakit!" ucap Yuki setelah beberapa lama mamahnya gak bangun juga.
"Tadi dokter sudah memeriksa mamahmu. Dia hanya perlu istirahat!" jelas Tuan Kenta.
"Baiklah kalau maumu! Aku akan mengantarkan kamu!"
"Tidak usah! Aku bisa membawa mamahku sendiri! Jion, tolong bantu mamahku ke mobil!" pinta Yuki.
Jion pun langsung sigap dan siap menggendong Mamah Yuki. Dia bahkan melupakan tangannya yang masih sakit. Namun tiba-tiba Mamah Yuki membuka matanya.
"Dimana aku?" tanya Nyonya Arana sambil melihat kesekeliling. Kemudian dia melihat ada Yuki di dekatnya.
"Yuki? Apa itu kamu, nak?" tanya Nyonya Arana yang belum bisa melihat jelas.
"I-iya, mah. Aku Yuki. Mamah gak apa-apa?" Yuki langsung mendekati mamahnya.
"Kita dimana?" tanya Nyonya Arana lagi. Dia juga belum bisa mengingat apa yang terjadi padanya.
"Kamu ada di kamarku, Arana! Tadi kamu pingsan. Maafkan aku karena sudah membawamu kesini!" sungut Tuan Kenta dengan penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Nyonya Arana memerhatikan laki-laki itu. Kemudian pandangannya mengarah kepada Yuki dan jion. Tidak! Tidak mungkin Yuki menikah dengan Jion.
"Tidak! Ayo kita pulang, Yuki!" Nyonya Arana beranjak bangun. Namun tubuhnya kembali terhuyung.
"Mamah!" teriak Yuki yang segera memeluk mamahnya.
"Sebaiknya kamu istirahat sebentar disini. Aku akan menyiapkan makanan untukmu. Apa kamu belum makan apapun dari pagi?" tanya Tuan Kenta yang menjadi lebih ramah. Itu karena dia sangat mengkhawatirkan keadaan Nyonya Arana.
Jion melihat perubahan sikap papahnya. Dia gak pernah melihatnya seramah itu. Bahkan kepada mamahnya sekalipun.
Nyonya Arana menggeleng. Dia buru-buru mengantar cucunya sekolah sehingga lupa sarapan.
"Astaga, mamah. Kenapa gak sarapan dulu? Kalau aku memang biasa sarapan di kantor!" ucap Yuki yang ikut merasa bersalah.
"Aku sangat bersemangat mengantar cucuku sekolah. Aku akan sarapan setelah belanja. Tapi, dia sudah membawaku kesini!" jawab Nyonya Arana sambil menunjuk Tuan Kenta.
"Iya, aku memang salah. Kamu boleh pergi tapi harus sarapan disini dulu. Asistenku sedang menyiapkannya sebentar!" sahut Tuan Kenta sambil memberi kode kepada Denny.
Denny langsung mengerti dan melaksanakan perintah Tuan Kenta untuk menyiapkan sarapan Nyonya Arana.
"Kita harus bicara sebentar, pah!" ucap Jion yang harus mengetahui sesuatu.
"Baiklah! Kita ke ruang kerjaku saja!"
Baru kali ini, Tuan Kenta mau menuruti perkataan Jion.
Yuki mendengar ucapan Jion. Jadi benar kalau Tuan Kenta adalah papahnya. Ternyata Jion adalah anak dari orang kaya. Padahal Jion gak pernah terlihat seperti anak keluarga kaya. Dia selalu santai dan menikmati profesinya sebagai artis.
"Jadi, mengapa papah membawa Nyonya Arana ke sini? Apa papah gak takut dituduh penculikan? Nyonya Arana itu istri dari Ceo Bintang Grup dan aku juga bekerja di sana!" Semua pertanyaan itu keluar dari kepala Jion ketika sudah berdua dengan papanya di ruang kerjanya.
Tuan Kenta hanya diam saja. Belum saatnya mengatakan yang sebenarnya.
"Aku hanya ingin membicarakan pernikahanmu dengan Nona Yuki. Tapi, sepertinya dia gak menyetujui pernikahan kalian!" jawab Tuan Kenta yang mencari alasan lain.
"Pernikahan? Aku sudah bilang soal itu biar aku yang mengurusnya. Aku dan Yuki bukan siapa-siapa. Malah mereka adalah keluarga bosku. Seharusnya papah gak ikut canpur dengan hidupku!" jelas Jion cukup keras. Selama ini, dia memilih diam. Tapi tidak kali ini, Jion akan memperjuangkan hidupnya sendiri.
"Aku tahu! Tapi, aku mengira bisa membuat Nyonya Arana akan mempertimbangkan hubungan kalian setelah mengetahui kamu adalah anakku! Hanya saja, aku gak mengira kalau dia malah menentang pernikahan kalian!" ungkap Tuan Kenta tanpa nada tinggi, gak seperti yang biasa dilakukannya.
"Aku hanya heran saja. Kenapa papah berkeras menikahkan aku dengan Yuki. Apa karena dia adalah pewaris Bintang Grup? Agar memuluskan jalan papa mendapatkan kekayaan yang lebih banyak lagi?"
__ADS_1
Akhirnya, Jion mengetahui alasan papahnya. Pantas aja, dia sangat ingin dirinya menikahi Yuki. Setelah Luna melepas jabatan yang diberikan Tuan Arya. Yuki adalah jalan lain yang dipikirkan papahnya.
❤❤❤❤❤