TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MULAI JATUH CINTA #1


__ADS_3

Luna masih terpesona dengan kecantikan bunga-bunga di hadapannya. Dia menyesal mengapa gak tahu soal taman bunga itu ketika menginap kemarin. Luna sudah galau duluan setelah tahu wajah pacar Damar dulu sangat mirip dengan dirinya.


"Apa kamu masih mau binga-bunga lagi? Aku akan memetiknya lebih banyak lagi!" ucap Damar membuyarkan lamunan Luna.


Luna terdiam sesaat. Bunga-bunga itu pasti akan cantik mengisi kamar tidur san ruang kantornya. Tapi, sedetik kemudian Luna malah menggeleng.


"Tidak! Mereka lebih cantik berada disini. Hhmm, aku jadi betah lama-lama melihatnya!" sahut Luna sambil merentangkan tangan dan menikmati wangi bunga-bunga itu.


Semilih angin berembus dan menerpa wajah Luna dan mengibas rambutnya. Kali ini, Damar terdiam. Luna mengingatkannya kepada seseorang. Gadis itu adalah Anna!


Tiba-tiba, Damar mengambil gunting untuk memotong batang bunga. Luna terkejut melihat Damar seperti itu.


"Apa yang kamu lakukan, Damar? Kan sudah aku bilang jangan dipetik. Kasihan mereka!" cetus Luna.


Damar hanya tertawa tanpa mendengarkan larangan Luna.


"Siapa bilang aku akan memetik mereka. Aku melihat banyak rumput liar yang mengganggu bunga-bunga itu! Tadi aku gak sempat melihatnya karena buru-buru," jelas Damar yang mulai mencabuti rumput liar itu.


Luna tertegun. Melihat Damar yang sangat cekatan merawat bunga itu mulai membuatnya terpesona. Jangan-jangan, Luna mulai jatuh cinta padanya!!!


Luna memukul pipinya agar tersadar dari pikiran ngaconya. Dia pun mendekati Damar dan membantunya mencabuti rumput-rumput liar.


"Apa kamu yang merawat bunga-bunga ini?" tanya Luna penasaran karena melihat Damar sangat lihai merawat bunga-bunga itu.


"Kadang-kadang aja. Kalau aku lagi galau, pasti kesini!" jawab Damar santai.


"Galau? Pasti mikirin cewek, ya?" celetuk Luna.


Damar tergelak. Pikiran Luna sangat pendek. Dia pun menatap Luna lekat. Tak lama kemudian menjentikan ujung jarinya ke kening Luna.


"Emangnya kamu, yang mikirin cowok melulu. Banyaklah yang membuat aku galau. Terutama soal perusahaan mamah. Dulu sewaktu mamah sakit, tiba-tiba semua pekerjaan mamah diberikan padaku. Tentu aja aku kaget karena masih kuliah. Kalau kepalaku penat, aku akan kesini. Bunga-bunga itu membuat pikiranku segar kembali!" ungkap Damar yang lumayan panjang.


Luna gak marah dengan kelakuan Damar. Lagipula gak sakit juga. Dia baru tahu kalau selain buku, Damar juga menyukai bunga. Cowok mana yang menyukai buku dan bunga sekaligus? Ya pastilah, Damar orangnya!


Dari kejauhan, Rani masih memerhatikan Tuan Damar dan Luna. Mereka memang sangat serasi. Entah mengapa, Rani mulai gak betah berada di sana. Apakah karena melihat kemesraan mereka?


*****

__ADS_1


Damar masih memikirkan Luna meski sudah pergi. Wajahnya yang sangat mirip dengan Anna memang membuat Damar terpengaruh. Namun, sifat Luna sangat bertolak belakang dengan Anna yang lembut dan penyabar. Sedangkan Luna cepat sekali emosi dan blak-blakan.


Bayangan Anna membuat Damar membuka laptop jadulnya. Di sana tersimpan banyak kenangannya bersama Anna. Tak lama, Sebuah foto terpampang di layar laptop. Fotonya bersama Anna ketika masih di SMA.


Sejenak, kenangan masa SMA itu pun hadir. Damar terkenal anak yang cuek dan gak mau bergaul. Suatu hari ketika pelajaran olahraga ada seorang gadis pingsan di lapangan olahraga. Semua hanya memerhatikan gadis itu tanpa ada yang mau membantunya. Saat itu, Damar tergerak hatinya membantu gadis itu dan membawanya ke ruang UKS.


Ternyata, gadis bernama Anna itu memang sering pingsan. Entah kenapa, Damar selalu ada dan menolongnya. Dia dijuluki sebagai dewa penolong yang tampan disekolahnya.


Sejak saat itu, Damar selalu berada di dekat Anna. Dia selalu saja khawatir bila Anna sedang sendirian. Mereka sering menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas ataupun ketika waktu istirahat.


Damar selalu membawakannya makanan atau buah yang disukai Anna. Namun, tetap aja tubuh Anna semakin lemah. Seharusnya Damar tahu kalau Anna memang sedang sakit.


Kesehatan Anna semakin menurun. Dia bahkan gak masuk sekolah lagi. Hari itu, Damar berniat menjenguknya sepulang sekolah. Namun, gurunya malah mengabarkan kalau Anna sudah meninggal.


Saat itu juga, Damar pergi ke rumah sakit. Dia masih gak percaya kalau Anna sudah tiada. Ketika melihat tubuh Anna terbujur kaku di pembaringan barulah Damar percaya kalau Anna sudah pergi.


Damar kembali tenggelam dalam kesepian dan sendirian. Apalagi ketika ayahnya juga sakit-sakitan. Setahun berikutnya, ayahnya juga meninggal dunia. Membuat Damar benar-benar terpuruk di dalam kesedihan. Mulai saat itu Damar sangat takut kalau kehilangan lagi. Membuat memilih buku sebagai temannya. Buku itu disimpan rapi sampai sekarang.


Kini, ada Luna yang mengisi hatinya. Sejak pertama kali melihat wajah Luna sangat mirip dengan Anna. Damar gak mau kehilangannya lagi. Meskipun dia tahu, Anna gak akan bisa tergantikan.


*****


"Bunga dari siapa, Lun?" Tiba-tiba mamahnya muncul.


Luna segera bangkit dan menyembunyikan bunga itu dibelakangnya.


"Bunga apaan sih, mah?" tanya Luna pura-pura.


"Eeeh! Emang mata mamah buta apa? Itu bunga yang kamu sembunyikan dibelakangmu!"


Luna cengengesan. Dia memang sengaja menggoda mamahnya.


"Oh, yang ini. Tadi Damar yang memberikannya. Ternyata di belakang rumahnya ada kebun bunga. Bunga-bunga itu gak akan habis meski setiap hari dipetik, mah!"


Luna kembali mencium aroma bunga itu dan melupakan kalau didepannya ada sang mamah.


"Mamah jadi pengen ketemu dengan Nak Damar. Dia pasti sangat baik!"

__ADS_1


"Baik sih, mah. Tapi kadang nyebelin juga!" sahut Luna.


Mamahnya langsung melotot, "kamu ini gimana sih, Lun. Sudah mau menikah dengannya masih ngomong kayak gitu!" cetus Mamah Luna sambil memukul bahu puterinya itu.


"Iih, mamah. Emang siapa yang mau menikah dengannya!"


Mamah Luna semakin naik pitam. Sudah seusia itu Luna masih aja gak serius soal pernikahan.


"Aakh! Sudahlah. Mending mamah pergi aja dari pada naik darah lagi!" ucap Mamah Luna sambil nyelonong pergi.


Luna cuma cekikikan melihat mamahnya seperti itu. Dia memang gak mau serius soal pernikahan karena berhubungan dengan perasaan cinta. Luna hanya gak mau patah hati sekali lagi.


Tiba-tiba, hapenya bunyi. Luna segera mengangkatnya.


"Ada apa, Kak Sarah?" tanyanya begitu tahu kalau yang menghubunginya adalah Sarah.


"Kamu masih dirumah CEO tampan itu, Lun?" tanya Sarah kepo.


"Udah pulang, ka. Emangnya ada apa?"


"Gimana soal bunga dari Jion? Apa aku pajang di kantormu? Sayang kan kalau layu!"


"Idih! Ngapain ditaruh dikantorku. Kakak ambil aja atau buang sekalian. Aku sudah punya yang lebih indah!"


Luna segera memotret bunga dari Damar dan mengirimnya kepada Sarah.


"Wah! Bunga itu sangat indah, Lun. Dari siapa emangnya? Hhmm dari Damar, ya?" ujar Sarah begitu melihat foto bunga di tangan Luna.


"Aku salah kira, kak. Ternyata Damar gak ngirim bunga itu tapi udah terlanjur melihat pesanku. Padahal udah aku hapus! Eeeh, dia langsung memetik bunga-bunga ini ditaman. Bahkan tangannya sampai berdarah!" cerita Luna dengan penuh antusias.


"Wah, sampai segitunya Damar. Berarti dia itu cemburu, Lun. Udah cepetan menikah aja dengannya!"


"Kak Sarah! Sepertinya aku harus memikirkan lagi kalau soal menikah, kak. Ada sesuatu yang membuatku ragu." Nada suara Luna merendah. Dia ingat soal Anna. Namun, Luna gak mau menceritakannya kepada siapapun.


"Kenapa ragu, Lun. Udah setujui aja perjodohan itu. Daripada kamu menyesal nantinya!"


Luna terdiam. Itulah yang Luna takutkan. Jika semuanya terulang kembali, Luna gak akan bisa bangkit seperti dulu.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2