TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MAJU TERUS PANTANG MUNDUR #1


__ADS_3

Damar memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Luna.


"Tunggu sebentar!" ucap Damar ketika Luna mau bersiap untuk keluar dari mobil.


Seperti biasa, Luna tetap melakukan hal yang dia mau.


"Ayo, aku gendong aja!" seru Damar ketika melihat Luna sudah membuka pintu mobil.


"Iikh, ngapain? Aku bisa jalan sendiri!" tolak Luna yang merasa kuat.


"Eeeh, jangan membantah!"


Kali ini, Damarlah yang gak mau mendengarkan Luna. Dia pun langsung membopongnya.


"Damaaar! Gak enak kalau mamah lihat!"


"Gak kok. Lagipula kamu emang lagi sakit!" jawab Damar cuek. Terkadang Luna memang harus diperlakukan sedikit dipaksa.


"Astaga, Lunaa! Apa yang terjadi sama kamu lagi?" tanya Mamah Luna yang histeris melihat Luna dibopong Damar.


"Iya, mah. Tadi Luna hampir ter ...." Damar berhenti bicara ketika Luna mencubit pinggangnya meski gak begitu keras. Sepertinya Luna gak mau mamahnya tahu kejadian sebenarnya.


"Luna gak apa-apa, mah! Cuma kepeleset aja. Turunkan aku, Damar!" ucap Luna yang meminta diturunkan dari gendongan Damar.


Damar menurutinya. Apalagi melihat mata Luna yang menatapnya tajam.


"Haduh! Kamu ini ada aja sih! Terus gimana dengan kakimu itu?" Mamah Luna masih cemas meski Luna biasa aja.


"Cuma luka kecil aja kok, mah!" jawab Luna sambil duduk di sofa.


"Benar, Nak Damar? Mamah jadi cemas kalau Luna keluar rumah lagi. Makanya, diam di rumah dulu setelah keluar dari penjara. Kamu malah buka butik!" gerutu Mamah Luna.


Luna hanya cengengesan.


"Luna kan mau bikin baju pengantin, mah. Makanya sekalian buka butik!"


"Oh, iya. Mamah lupa. Silakan duduk, Nak Damar. Kamu pasti capek menggendong Luna!"


"Aakh! Gak kok, tante. Tapi ... sepertinya Luna agak berat dari terakhir saya menggendongnya," jawab Damar keceplosan.


Luna melotot begitu mendengar perkataan Damar.


"Looh! Emangnya kapan Nak Damar menggendong Luna? Mamah kok baru denger, ya?" Mamah Luna kepo.

__ADS_1


"Sudah lama kok, mah. Waktu itu kami baru bertemu. Ada orang yang mau melakukan hal jahat kepada Luna. Kami mau kabur tapi kakinya sakit jadi saya menggendongnya biar bisa berlari cepat!" lanjut cerita Damar.


"Ooh, begitu ya. Terus gimana ceritanya kalian bisa dekat?" tanya Mamah Luna yang tambah kepo.


"Udah, mah. Damar mau pulang. Iya kan, Damar?" cetus Luna sambil melotot.


"Gak kok. Aku sudah santai. Sekarang masih sore juga!"


Damar malah betah dikepoin Mamah Luna. Membuat Luna semakin gak menentu.


"Ya, sudah. Luna mau istirahat dulu, mah!" Akhirnya Luna memutuskan masuk ke kamarnya.


"Apa perlu aku gendong lagi?" tanya Damar.


"Gak usah. Deket aja, kok!" sahut Luna.


"Iya, Nak damar. Biarkan aja Luna jalan sendiri. Terus gimana orang-orang jahat itu?" Mamah Luna semakin kepo aja. Bahkan melupakan kecemasannya tadi.


Damar jadi gagal fokus. Dia melihat Luna berjalan tertatih menuju ke kamarnya. Kecemasannya masih belim hilang.


*****


Jion gak bisa membiarkan Yuki begitu saja. Kali ini apa yang dilakukannya sudah kelewatan. Bahkan hampir merenggut nyawa Luna. Jion tahu kondisi keuangan perusahaan Yuki yang sebenarnya sudah bangkrut. Papahnya Yuki harus tahu yang sebenarnya. Meskipun Jion gak akan mengatakan soal Luna yang hampir ditabrak Yuki. Pasti Tuan Arya gak akan mengampuni Yuki kalau mengetahuinya.


"Maaf, tuan. Saya adalah Jion. Dulu saya adalah pacarnya Luna. Apa Tuan masih ingat?"


"Jion? Oh, tentu sja aku ingat. Saat itu kamu ketahuan selingkuh, kan? Makanya Luna memutuskan hubungan kalian?"


Hadeh! Ternyata yang diingat Tuan Arya adalah kejadian buruk aja. Tapi, gak apa-apa deh! Jion akan maju terus meski sedikit malu dengan kelakuannya dulu.


"I-iya, tuan. Kebetulan sekarang saya dikontrak di sini. Tapi, sepertinya saya pending dulu karena saya mengalami kecelakaan," ungkap Jion tanpa menceritakan soal Luna.


"Apa yang terjadi padamu? Apa tanganmu patah?" tanya Tuan Arya yang kelihatan cemas juga.


"Gak, tuan. Hanya sedikit terkilir aja. Sebenarnya, saya kesini mau memberikan sesuatu!"


Jion menyodorkan beberapa lembar kertas berisi kondisi keuangan perusahaan Yuki.


Tuan Arya menerima berkas itu dan membacanya dengan teliti. Wajahnya berubah tegang begitu melihat sejumlah uang sangat cukup besar dari perusahaannya.


"Apa berkas ini asli? Apa motifmu memberikan berkas ini?" selidik Tuan Arya yang meragukan niat Jion.


"Tentu aja asli, tuan. Saya mendapatkannya dari bagian keuangan perusahaan Yuki. Saya hanya ingin tuan tahu kondisi perusahaan Yuki yang sebenarnya. Sebenarnya, dia juga terlibat dengan bangkrutnya perusahaan Luna. Tapi, kalau itu saya gak mempunyai buktinya, tuan!" jelas Jion. Padahal hatinya meronta ingin mengatakan soal kecelakaan yang dialami Luna. Namun, itu juga gak ada buktinya.

__ADS_1


"Baiklah! Nanti aku akan memeriksanya. Terima kasih atas perhatianmu. Semoga tanganmu cepat sembuh!"


"Baik, tuan. Terima kasih!"


Jion merasa sangat lega karena sudah mengungkap kejahatan Yuki meski banyak yang masih dia tutupi. Lihat aja! Kamu pasti merasakan akibat perbuatanmu, Yuki!


Jion memutuskan mampir ke kantor agennya. Tangannya masih sakit dan gak bisa menyetir. Dia harus memesan taksi online lagi seperti tadi berangkat dari apartemennya.


Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Jion mengira kalau itu adalah taksi online. Dia pun langsung masuk ke dalamnya.


Namun, Jion sangat terkejut ketika di dalam mobil itu ada orang lain. Sepertinya dia salah masuk mobil.


"Oh, maaf. Aku salah mobil!" ujar Jion sambil membuka pintu mobil. Tapi pintu itu malah sudah dikunci sentral.


"Tolong buka! Aku salah mobil. Maaf, ya!" ucap Jion lagi. Tapi, pintu itu gak bisa dibuka juga. Jion memerhatikan orang-orang yang ada di dalam mobil itu. Tampang mereka sangar dan kaku.


"Kalian siapa?" tanyanya yang mulai curiga.


"Kamu harus ikut dengan kami!" ujar orang yang duduk di depan. Wajahnya gak kelihatan karena Jion ada di bangku belakang.


"Kenapa aku harus ikut dengan kalian? Kalian siapa?" tanya Jion sekali lagi. Namun, mereka gak menjawab sama sekali.


Jion akhirnya diam saja. Dia ingin tahu siapa yang menyuruh orang-orang itu. Apakah Yuki? Apa dia tahu kalau Jion baru saja menemui papahnya?


"Aakh, kalian ini membuatku kesal. Mending aku dengerin musik aja!"


Jion langsung mengutak atik hapenya dan memasang Handsfree. Tak lama kemudian, Jion mulai bersenandung. Kelihatannya dia sedang mendengarkan lagu. Tapi, dia malah menghubungi Frans dan menyanyikan lagu dengan syair seperti sebuah perintah.


Di tempat lain, frans menerima pesan terselubung Jion. Dia sudah mengerti apa yang dimaksud Jion. Sepertinya saat ini Jion sedang dalam bahaya.


Frans segera memasang alat pelacak hape Jion. Dari sana dia bisa mengetahui dimana Jion berada.


"Hei, kalian ikut aku sekarang. Jion dalam bahaya!" ungkap Frans yang memanggil pegawainya yang berbadan besar. Mereka biasanya menjadi bodyguard saat ada konser.


"Kemana, bos?" tanya salah satu dari anak buah Frans.


"Sudahlah! Ikut aja denganku. Jion sedang dalam bahaya!"


Mereka pun segera naik mobil dan menuju ke alamat yang ada di alat pelacak di hape Jion. Frans sangat cemas dan berharap keadaan Jion baik-baik saja.


Frans sangat mengenal Jion. Ketika bertemu pertama kali Jion masih sangat muda. Dia datang dan minta untuk dijadikan artis. Saat itu, Frans belum bisa mempercayainya. Tapi Jion berkeras akan melakukan apapun demi cita-citanya. Bahkan dia sempat menjadi kru dan tidur di gudang.


Kini, setelah lama berlalu. Jion masih bertahan di papan atas dunia entertainment. Naik turun karirnya gak membuat Jion patah semangat. Dia juga pernah terpuruk namun bisa bangkit lagi sampai sekarang.

__ADS_1


Tapi hanya satu kelemahan Jion. Dia adalah Luna, mantan pacarnya. Jion masih saja mencintai Luna meski dulu Jion pernah menyakitinya. Frans berharap kali ini Jion tetap bertahan, apapun masalahnya.


❤❤❤❤❤


__ADS_2