TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MENGURAI BENANG KUSUT #1


__ADS_3

Pagi-pagi, Sarah sudah mendatangi Luna. Kebetulan Luna juga sudah rapih karena banyak yang harus dia lakukan. Terutama mengurai benang kusut dari masalah yang dihadapinya.


"Aku mau mulai dari awal, kak. Terpaksa aku akan melepaskan perusahaanku yang dulu. Semua yang kita miliki akan dilelang untuk menutupi hutang di bank!" jelas Luna dengan penuh keyakinan.


"Apa kamu sudah yakin, Lun? Penipu itu belum menerima balasan yang setimpal. Terutama dalang dari semuanya," tanya Sarah yang masih geregetan dengan orang yang penipu mereka.


"Biarlah, kak. Nanti juga mereka akan mendapatkan balasan sendiri. Aku akan mulai membuka butik kecil aja seperti dulu. Apa Prilly masih mau ikut denganku apa gak ya? Kalau ada tawaran yang lain silakan aja. Aku gak akan menahannya!"


"Aku yakin Prilly tetap bersama kita, Lun?"


"Kita? Apa kakak mau sama aku juga!" Luna gak yakin dengan perkataan Sarah.


"Aduh, Luuun. Kamu itu kayak gak kenal aku aja. Aku ikut aja kemanapun kamu pergi. Lagipula sebentar lagi kamu kan mau menikah. Setelah bulan madu barulah kita mulai lagi!"


"Iikh! Siapa bilang aku mau cepat-cepat menikah?" tanya Luna pura-pura.


Sarah melotot, "eeeh! Awas aja kalau kamu bandel lagi. Damar itu calon suami paling perfekto deh!"


Luna tertawa geli melihat ekspresi Sarah. Emang bener sih! Damar one and only, best of the best deh buat jadi suaminya!


"Kalau masalah penyerangan itu gimana, Lun. Apa semuanya udah beres?" Masih ada satu hal yang membuat Sarah khawatir.


"Belum clear sih, kak. Tergantung Pak Sony apakah akan menuntutku apa gak. Seharusnya sih gak mungkin, jelas bukan aku yang menyerangnya. Hanya dia yang tahu siapa. Tapi ... kalau sama seperti dulu. Dia akan menjerumuskan aku untuk kedua kalinya!" ungkap Luna. Kini semuanya tinggal menunggu keputusan Pak Sony.


"Iya juga, sih. Heran aja kenapa dia bisa menuduhmu. Bukankah dia menyukaimu?"


"Entahlah, kak. Dulu itu, Yuki yang membuat fitnah seakan aku yang bersalah. Sekarang, bisa jadi dia terlibat juga!"


"Iya, Lun. Aku curiga kalau Yuki dalang dari semua ini! Kamu bisa menuntut balik, kalau dia melibatkanmu!" ucap Sarah dengan nada berapi-api.


Luna menggeleng pelan, "gak, kak. Dia akan menerima akibat dari perbuatan yang sudah dia lakukan!"


Luna gak akan menuntut apapun kepada Yuki apalagi Tuan Arya sudah menjaminkannya di pengadilan.


*****

__ADS_1


Rani sudah resmi membeli rumah di samping rumah si cantik Syakira. Ada sesuatu ketika Rani berada di dekatnya. Perasaan nyaman.


Syakira langsung berlari dari dalam rumahnya begitu Rani sampai.


"Ibu tinggal di rumahku aja. Dari pada disini sendirian!" cetus Syakira yang langsung memeluk Rani.


"Bagaimana kalau kamu yang menginap disini? Pasti papamu mengijinkan. Soalnya kan dekat!"


"Tapi aku suka kangen sama adekku! Apa adek juga boleh menginap?"


"Tentu aja boleh, sayang!"


"Kalau papah? Boleh ya?"


Rani gak menjawab dan hanya tertawa kecil.


Dayat hanya diam saja meski mendengarkan pembicaraan Rani dan anak kecil itu. Dia sibuk memindahkan barang-barang Rani dari dalam mobil.


"Kamu belum punya peralatan makan. Biar nanti aku belikan!" ujar Dayat ketika gak melihat piring dan sejenisnya.


"Ya sudah. Nanti kita akan makan dulu sebelum membeli perlengkapan yang belum ada!" ucap Dayat lagi.


"Aku ikut ya, om!" celetuk Syakira sambil berdiri di depan Dayat. Mata gadis kecil itu gak berkedip menunggu jawabannya.


"Boleh, boleeh!" jawab Dayat.


"Horeee, aku akan menelpon papah dulu ya!" Gadis kecil itu segera berlari ke dalam rumahnya lagi.


Tanpa sadar Dayat tersenyum. Sudah lama dia gak melihat anak kecil selucu Syakira.


Rani juga memerhatikan sikap Dayat. Dia baru sadar kalau sedang tersenyum Dayat dan Damar sangat mirip. Sudah pasti karena mereka adalah saudara. Hanya saja, Rani gak bisa menerima hati Dayat. Entah kenapa, mungkin karena sudah menganggapnya seperti seorang kakak.


*****


"Apa? Luna sudah dibebaskan? Papah sudah memberikan jaminan kepada polisi?"

__ADS_1


Yuki sangat terkejut mendengar berita itu dari seseorang di hapenya. Seharusnya semalam dia tidak mematikan hapenya. Dia sangat kecewa karena papahnya masih saja membela Luna.


"Kali ini, mamah harus turun tangan, mah. Seharusnya papah membelaku, bukan Luna!"


Nyonya Arana hanya diam saja. Dia sudah gak punya kemampuan apa-apa. Anak perempuan dan adiknya sendiri yang sudah membuat masalah semakin runyam. Sementara hukuman yang diberikan suaminya juga belum berakhir.


"Mamah sudah bilang jangan ikut campur urusan Luna lagi. Kamu sendiri yang gak dengerin mamah. Sekarang, papahmu pasti akan melakukan hal lain lagi!"


Yuki senakin naik pintam mendengar mamahnya juga menyalahkannya.


"Seharusnya gak seperti ini. Papah gak akan membenciku kalau mamah gak terlibat dalam kematian istri tuanya!"


"Yuki!!!" bentak Nyonya Arana. Dia gak menyangka Yuki akan mengatakan rahasia itu.


"Kenapa, mah? Sudah cukup menjadi istri kedua papah. Mamah juga terlalu serakah sampai aku yang jadi korban!"


Plaaak!!!


Tanpa sadar, Nyonya Arana melayangkan tamparan ke pipi Yuki.


Yuki sangat terkejut dengan perbuatan mamahnya.


"Mamah tega! Padahal semuanya berawal dari mamah sendiri!"


Yuki segera meninggalkan mamahnya dengan bersimbah air mata. Dia sangat kesal karena papahnya membenci dirinya sampai sekarang. Mamahnya juga berani menamparnya. Yuki merasa dunianya sudah berakhir.


Nyonya Arana hanya bisa menangis. Sebenarnya, dulu dia gak pernah memerintahkan orang bayarannya untuk membunuh istri pertama suaminya. Dia hanya menyuruhnya untuk menakutinya aja agar berpisah dengan suaminya.


Kejadiannya semakin rumit karena mereka membunuhnya meski tanpa sengaja. Istri pertama suaminya melawan dan didorong dengan orang bayaran Nyonya Arana. Kepalanya membentur dinding cukup keras sampai pecah. Saat itu juga, dia pun meninggal.


Nyonya Arana pura-pura bersedih dan mendampingi suaminya di pemakaman. Tapi beberapa hari kemudian perbuatannya terungkap. Orang bayarannya tertangkap dan menyebutkan kalau disuruh oleh Nyonya Arana.


Saat itu Tuan Arya sangat murka dan akan meninggalkan Nyonya Arana. Tapi, itu gak terjadi karena Nyonya Arana sedang hamil. Namun mulai Yuki dilahirkan sampai sekarang, gak pernah mendapatkan kasih sayang papahnya.


Nyonya Arana gak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa menyesali perbuatan jahatnya yang berbalas kepada kehidupan puterinya sendiri.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2