TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
HATI YANG TERLUKA #1


__ADS_3

Luna sudah sampai di rumah dan langsung mengguyur tubuhnya dengan air. Berharap penat di kepalanya hilang. Ini semua karena Jion. Dia selalu saja membuat Luna pusing tujuh keliling. Hatinya pernah terluka dan sangat lama untuk sembuh. Membuat Luna trauma setiap kali bertemu Jion.


Menjelang malam. Luna membuka laptop dan membereskan beberapa pekerjaannya yang tertinggal karena menginap di rumah Damar kemarin. Namun, bayangan Jion malah mondar mandir di pelupuk matanya. Seperti biasa, Jion memamerkan ketampanannya.


"Pergilah! Jangan ganggu aku!" cetus Luna seraya menampar semua bayangan Jion yang menari-nari di depannya.


"Ada apa, Lun? Mengapa kamu bicara sendiri?" tanya Mama Luna yang melihat tingkah Luna di kamarnya.


"Aakh gak, mah. Cuman ada nyamuk nakal aja, kok!" jawab Luna berbohong. Tapi laki-laki bajingan seperti Jion memang pantas dibasmi.


"Gimana keadaan mamahnya Damar? Apa sudah sehat? Terus, apa beliau suka sama kamu? Apa setuju kamu menjadi menantunya?" tanya Mama Luna lagi yang sedikit kepo.


"Mamah! Mamah tau darimana soal perjodohan itu?" Luna heran karena mamanya tahu soal Damar.


Mamah Luna hanya nyengir, "tahulah! Kan mamah punya banyak mata-mata!"


Luna menatap mamahnya lekat. Dia sudah menebak siapa orangnya.


"Kak Sarah, ya?" tebak Luna.


"Bisa jadi! Mamah cuma sedikit bertanya sama Sarah, kok. Terus, apa perjodohan kalian jadi dilakukan?"


Luna menutup laptopnya. Dia jadi gak konsen karena hujan pertanyaan dari mamahnya.


"Kata Nyonya Kamaratih, minggu depan akan diadakan pertemuan dua keluarga! Tapi, Luna gak yakin kalau Damar mau menikah. Dia itu masih belum move-on dari pacarnya yang sudah meninggal!" jelas Luna meskipun gak bilang kalau wajahnya mirip dengan pacar Damar.


"Aakh! Kalau sudah meninggal sih gak masalah. Toh, dia gak akan berani menampakan dirinya kalau kalian menikah!" celetuk Mamah Luna.


"Mamah! Gimana kalau gadis itu datang meski hanya arwahnya? Mamah mau ngomong sama dia?"


Mendadak Mamah Luna merinding, "iiih! Gak lah, Lun. Sudah aakh. Jangan ngomong soal itu. Yang jelas, kalian harus secepatnya menikah!" ucap Mamah Luna yang memilih pergi.


Namun, Luna sudah terlanjur memikirkan pacar Damar. Dia sangat cantik dan muda. Sedangkan Luna sudah mulai menua. Keraguan itu datang lagi. Apakah Damar benar-benar mau menikah dengannya? Sementara hatinya juga terlanjur terpaut padanya.


Hampir jam sepuluh malam, Luna belum bisa terpejam. Dia menunggu pesan dari Damar. Kalau jam segini, di luar negeri pasti sudah siang. Bisa jadi dia sudah sibuk dengan pekerjaannya. Setidaknya ada satu kata atau dua kata pesan yang dikirim Damar. Apa sesibuk itu sehingga gak sempat mengirim pesan?

__ADS_1


Entah mengapa Luna selalu memikirkan Damar. Apakah rindu sudah menyusup ke hatinya? Gawat ini! Luna menutup wajahnya dengan bantal. Dia sudah benar-benar masuk ke dalam jebakan cinta Damar! Apalagi, wajah Damar masih membayang di pelupuk matanya meski sudah terpejam.


*****


Keesokan harinya, Luna mulai sibuk memulai pekerjaannya. Sayangnya, Jion sudah menunggunya di ruang kerja. Mood Luna langsung ngedrop, deh!


"Ngapain kamu disini?" tanya Luna datar.


"Tentu saja aku harus mulai pekerjaanku. Katanya mereka akan memeriksa setiap jengkal tubuhku. Kau tahu kan, tubuhku selalu memesona setiap wanita?" jawab Jion sambil memamerkan bentuk tubuhnya yang memang atletis.


Perut Luna mendadak mual melihat apa yang dilakukan Jion. Dulu, Luna adalah salah satu wanita yang memuja Jion. Bisa dibilang fans jalur keras. Di kamar Luna terpajang foto Jion sejak dari awal berkarir sebagai vokalis band.


Di salah satu acara jumpa fans, Luna berhasil memenangkan undian makan malam dengan Jion. Sejak itu mereka menjadi lebih dekat. Sampai akhirnya, Jion menembak Luna. Tentu saja Luna langsung menerimanya dengan senang hati.


Perjalanan karir Jion terus menanjak dan bermain di beberapa sinetron. Sikap Jion mulai berubah dan mereka pun jarang bertemu. Jion semakin tinggi terbang ke langit sementara Luna hanya bisa memandanginya dari kejauhan.


"Hai, hai ganteeng! Ekye senang sekali kita berjumpa lagi. Apa kabarmu, sayang?" Prilly muncul dan langsung cipika cipiki.


"Tentu saja aku tambah ganteng, Prilly sayang!" Jion juga menanggapi sikap Prilly dengan ramah. Memang sikap Jion seperti itu. Pandai berkomunikasi tapi mulutnya terlalu manis.


Luna diam saja. Dia enggan banyak bicara di depan Jion.


"Hhmmm, aku tahu. Pasti nungguin telepon Tuan Damar, ya? Aku punya kabar baik. Sebentar, deh!"


Prilly mengeluarkan hapenya dan mencari sesuatu.


"Lihatlah! Calon suamimu itu masuk internet. Dia melakukan rekor tender dengan lima perusahaan sekaligus. Mereka membangun hotel, pabrik dan sekolah sekaligus! Aduh, Luna. Calon suamimu itu tambah tajir aja, deh!" ungkap Prilly dengan suara yang cukup keras sambil memperlihatlan berita di internet.


Luna memberi kode agar Prilly diam tapi Jion terlanjur mendengarnya.


"Baiklah! Kapan tubuhku akan diukur? Jadwalku padat karena akan konser beberapa hari lagi!" celetuk Jion yang merasa kupingnya panas.


"Oh iya, say. Ayo kita ke ruanganku. Aku akan mengukur setiap lekukan tubuhmu!" Prilly kembali menutup hapenya dan menggandeng Jion keluar ruangan.


"Dadah, Luna sayang. Si ganteng ini aku sandera dulu, ya!" ucapnya sebelum pergi.

__ADS_1


Luna diam saja dan hanya nelambaikan tangan tanpa melihat ke arah mereka. Dia enggan melihat Jion dan sikapnya yang selalu kepedean.


Malam mengenaskan itu kembali terbayang. Luna datang ke apartemen Jion dan sengaja gak memberi tahunya. Hanpir seminggu mereka gak bertemu karena Luna sibuk dan baru saja merintis usahanya.


Namun, di dalam apartemen Jion ada gadis lain. Dia adalah model yang cukup terkenal. Dia muda dan cantik. Tubuhnya tinggi sepantaran dengan Jion. Pantas aja, Jion berpaling dan memikih dengannya.


Saat itu juga, Luna memutuskan untuk melupakan Jion tanpa alasan lagi. Jion sempat meminta maaf namun Luna sudah gak mau mendengarnya.


Saat itu hati Luna terlanjur hancur berkeping-keping. Dia sadar Jion adalah seorang superstar. Cepat atau lambat, Jion pasti akan meninggalkan Luna.


Menjelang siang, Luna sengaja makan di luar kantor. Dia gak nafsu makan jika masih ada Jion yang selalu memamerkan ketampanannya. Apalagi, karyawan Luna histeris karena kedatangan Jion di kantornya.


"Hai, Luna. Kamu makan sendirian?"


Luna sangat terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia pun menoleh dan melihat Yuki yang tengah menggandeng seorang laki-laki. Dia adalah Jion!


Hadeh! Tambah lagi manusia kepala ular. Luna merasa berada di dalam neraka padahal dia menyingkir karena mencari ketenangan.


"Hai juga, Yuki. Aku lihat kalian sudah akrab. Baguslah! Kalian sangat serasi," sahut Luna sedikit menyindir.


"Tentu aja kami serasi. Kamu tahu kan, Jion akan semakin bersinar jika ada didekatku!" ujar Yuki lagi dengan kesombongannya. Fix deh! Yuki dan Jion sudah seperti ular berkepala dua.


"Ada apa, Lun? Mengapa wajah kamu begitu? Apa kamu cemburu melihatku dengan Yuki?" tanya Jion sedikit menggoda Luna.


Sebenarnya, Jion tahu kalau Yuki sangat membenci Luna. Dulu, dia sering menjemput Luna di kantor papanya Yuki.


Luna tertawa kecil mendengar ucapan Jion, "cemburu? Buat apa? Aku malah senang melihat kalian bersama. Seperti pinang dibelah dua!" jawab Lina disela tawanya.


Yuki kelihatan bingung melihat sikap Luna. Begitu juga dengan Jion yang mengira kalau Luna akan kembali kepadanya.


"Kamu harus tahu, Lun. Kamu jangan kepedean karena Nyonya Kamaratih ingin kamu menikah dengan Damar. Mereka itu dari kalangan yang gak bisa kamu sentuh. Lihat aja kalau perusahaanmu hancur dan kamu gak punya apa-apa. Mereka pasti akan membuangmu kejalanan!" ungkap Yuki yang kelihatan wajah aslinya.


Jion sangat terkejut dengan perkataan Yuki. Padahal, dia hanya ingin Luna menyesal karena memutuskan hubungannya. Apalagi mendengar kalau Luna benar-benar akan menikah. Hati Jion semakin hancur.


Luna gak bisa lagi menelan makanannya meski Yuki dan Jion sudah pergi. Amarah dan kesedihan menjadi satu dan siap meledak. Yuki selalu membencinya. Luna ingin tahu mengapa sikapnya selalu seperti itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2