TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
PERJUANGAN CINTA BELUM BERAKHIR #1


__ADS_3

Luna masih memeluk Damar erat. Airmatanya mengalir seperti air bah. Dia merasakan ujian yang mereka alami belum berakhir.


"Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini, Sayang," ucap Damar lirih. Hatinya tak menentu apalagi melihat Luna yang selalu tegar sampai menangis.


"Kamu kan punya banyak orang yang bisa membantu, kenapa kamu malah yang harus mengalami semua ini! Aku benar-benar gak habis pikir!" ucap Lina disela tangisnya.


"Aku juga gak tahu sampai seperti ini. Pertamanya aku hanya mengambil alih dan bertanggung jawab kepada korban. Namun mereka malah melaporkan aku. Jadi aku gak bisa berbuat apa-apa. Aku dengar Ceo perusahaan pengembang sudah ditangkap. Jadi, sebentar lagi aku akan dibebaskan!" jelas Damar yang tidak ingin Luna semakin sedih.


"Kamu kan punya pengacara banyak! Aku gak habis pikir kenapa mereka gak bisa mengeluarkan kamu dengan jaminan seperti yang Tuan Arya lakukan padaku. Kamu kan seorang Ceo perusahaan besar! Aku akan meminta tolong kepada Tuan Arya. Pokoknya besok kamu harus keluar dari tempat ini!" tegas Luna sambil menyeka airmatanya dan melepaskan pelukannya.


Damar meraih tanggan Luna dan menggenggamnya erat.


"Gak perlu, Sayang. Semua sudah clear. Seharusnya aku akan menyusulmu minggu depan! Terima kasih sudah menjaga mamahku selama ini!"


"Pokoknya aku gak akan kemana-mana sampai kamu keluar dari sini!"


Luna tetap kekeh pada pendiriannya. Dia gak akan pergi kemanapun lagi.


*****


Rani menunggu Luna di ruang tunggu kantor polisi. Dia juga akan mencari tahu perkembangan kasus Tuan Damar. Pihak yang seharusnya bertanggung jawab sudah ditemukan. Seharusnya Tuan Damar sudah dibebaskan.


Setelah bertanya kesana kesini, akhirnya Rani sudah tahu harus ke bagian mana.


"Maaf, pak. Saya mau menanyakan soal kasus yang menimpa Tuan Damar!" ujar Rani yang masuk ke bagian Bareskrim Polri.


Namun sedetik kemudian, Rani tertegun ketika melihat seseorang yang dikenalnya di dalam ruangan itu dengan memakai seragam polisi lengkap.


"Mas Agung?"


Agung juga gak kalah terkejut meski sudah diprediksinya sejak awal.


"Iya, Ran. Aku bekerja disini!"


"Aku kira mas seorang wartawan. Makanya seminggu ini aku gak menemui mas!" ungkap Rani yang sengaja gak mau menemui Agung.


Agung tersenyum tipis.


"Sebenarnya aku memang seorang polisi tapi kadang aku menyamar sebagai wartawan. Jadi, maafkan aku kalau kamu mengetahuinya dengan cara seperti ini. Sebenarnya aku ingin memberitahumu. Tapi keburu ada kasus yang berhubungan dengan perusahaan tempat kamu bekerja!" jelas Agung panjang lebar.

__ADS_1


Rani terdiam. Dia memikirkan sesuatu.


"Malam itu ketika mas mengantarkan aku ke kantor, apakah mas sudah tahu soal kasus ini?"


Agung mengangguk pelan. Saat itu dia memang sengaja mengantarkan Rani meski gak sepenuhnya karena tugas.


"Berarti Mas hanya memanfaatkan aku agar bisa menyelidiki perusahaanku?" tanya Rani yang shock juga dengan kenyataan itu.


"Tidak, Ran. Bukan seperti itu. Aku bukannya memanfaatkan kamu. Aku tulus mengkhawatirkan kamu!"


Rani tersenyum. Dia gak bisa menyalahkan pekerjaan Agung. Tapi, Rani gak bisa seperti sebelumnya.


"Baiklah, Pak. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya. Sekarang bagaimana dengan kasus yang menimpa atasan saya?" tanya Rani dengan kata-kata yang kembali formal.


Agung terdiam. Sikap Rani kembali seperti awal pertemuan mereka dulu. Kaku dan sedikit sungkan. Apakah Rani sedang menghukumnya?


*****


Luna gak bisa diam begitu saja. Damar harus keluar dari penjara secepatnya. Ada seseorang yang bisa membantu Luna. Dia adalah Tuan Arya.


"Maaf, apakah Tuan Arya ada?" tanya Luna kepada sekretaris Tuan Arya.


Perempuan itu mengenali Luna karena dulu akan diangkap menjadi direktur di perusahaan itu.


Luna diantarkan masuk ke dalam ruang kerja Tuan Arya. Hatinya berdebar-debar. Berharap Tuan Arya bisa mengeluarkan Damar dari penjara secepatnya.


Gak lama kemudian, ada seseorang masuk. Luna langsung berdiri dan membalikan badannya.


"Selamat sore, Tuan!" ucapnya.


Namun, yang berdiri di depan Luna bukanlah Tuan Arya. Dia adalah istri mudanya yaitu Nyonya Saskia yang sekarang bekerja menggantikan posisi yang pernah ditawarkan kepada Luna. Dia segera menemui Luna setelah Siska menelponnya.


"Selamat sore, Nyonya Saskia. saya Luna, mau bertemu dengan Tuan Arya!" ucap Luna yang segera meralat ucapannya.


Saskia tersenyum tipis. Meski hatinya gak berhenti bergemuruh. Dia selalu ketakutan kalau Luna akan kembali dan mengambil jabatannya sekarang.


"Ada apa kamu sampai ke sini? Apa ada hal penting?" tanya Saksia kepo.


"Iya, nyonya. Tapi, saya hanya akan mengatakannya kepada Tuan Arya!" jawab Luna yang gak bisa memberitahukan alasannya.

__ADS_1


Saskia tertawa kecil. Luna agak terkejut melihat ekspresi istri muda Tuan Arya itu.


"Aku bisa menebak, kamu pasti akan menyusahkan suamiku lagi, kan? Apa lagi sekarang? Apa soal penjara lagi? Kenapa sih kamu selalu mengharapkan bantuan suamiku kalau kesusahan? Apa kamu gak bisa menyelesaikan masalahmu sendiri?"


Deg! Luna sangat terkejut dengan ucapan Nyonya Saskia. Usianya gak beda jauh dari Luna. Namun sikapnya seperti seorang penguasa. Iyalah! Dia adalah istri Tuan Arya. Luna jadi tersadar karena sudah banyak menyusahkan Tuan Arya.


"Luna? Ada apa kamu ke sini?"


Tiba-tiba, Tuan Arya muncul. Dia agak terkejut juga nelihat ada Saskia di sana.


"Hallo, Sayang. Aku sengaja kesini mau menemani Nona Luna. Aku yakin dia agak bosan sendirian menunggu kamu datang!" ucap Saskia seraya mencium pipi suaminya itu.


"Selama sore, tuan. Saya hanya mau menyapa aja dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran tuan di acara pertunangan saya kemarin!" jawab Luna yang belum mengatakan maksud kedatangannya karena ada Nyonya Saskia.


"Iya, Sayang. Terima kasih sudah menemani Luna. Oh, iya. Aku dengar kamu langsung ke Singapura bersama calon suamimu, ya. Apa kalian mau menikah di sana?" tanya Tuan Arya setelah duduk di sofa yang ada di samping Luna.


"Bukan begitu, tuan. Nyonya Kamaratih harus melakukan pengobatan di sana. Jadi kami mengurus semua keperluan beliau. Tapi, ada yang mau saya bicarakan, tuan. Apa bisa saya bicara pribadi dengan tuan?"


Tuan Arya terdiam begitu mendengar pembicaraan Luna.


"Katakan saja, Nona Luna. Anggap saja saya ini adalah ibumu seperti tuan Arya menganggapmu seperti seorang anak. Begitu kan, Sayang?" sergap Saskia yang gak mau meninggalkan Luna berdua saja dengan suaminya.


Tuan Arya terdiam. Dia melihat Luna menjadi gelisah.


"Iya, Luna. Katakan aja disini. Gak apa-apa, kok!" ucapnya ingin tahu apa yang akan dikatakan Luna.


Luna terdiam. Sepertinya dia gak bisa menceritakan soal Damar.


"Baik, tuan. Sebenarnya saya mau minta tolong agar tuan dan nyonya mau mendampingi saya saat pernikahan nanti. Sebelumnya saya minta maaf karena sudah banyak menyusahkan," jelas Luna.


"Oh, soal pernikahan kamu nanti. Tentu saja kami akan selalu mendampingi kamu. Iya kan, Sayang?"


"Iya, Luna. Kamu jangan khawatir. Sampai kapanpun aku akan selalu disampingmu. Kamu jangan terlalu banyak pikiran!"


"Baik, tuan dan nyonya. Terima kasih!"


Akhirnya Luna pergi tanpa mengungkapkan tujuan sebenarnya. Perkataan Nyonya Saskia juga membuatnya down. Dia merasa sudah banyak menyusahkan Tuan Arya.


Sementara itu, Tuan Arya masih memikirkan kedatangan Luna. Dia gak mungkin datang kalau tidak ada kejadian penting.

__ADS_1


"Cari tahu apa yang terjadi dengan Luna dan juga calon suaminya. Aku merasa ada hal penting yang menimpa mereka!" ucap Tuan Arya kepada seseorang dari hapenya. Dia akan mencari tahu sendiri apa yang terjadi pada Luna.


*****


__ADS_2