
Sony sudah merencanakan jebakan untuk Luna. Dia ingin membalas perlakuan Luna yang sudah menolak cintanya. Kali ini, Luna pasti akan bertekuk lutut di kakinya.
Yuki gak sabar dengan perkembangan soal Luna. Dia segera menemui pamannya di kantor. Semua karyawan sangat mengenal Yuki. Dulu, Yuki sudah membuat masalah dengan menfitnah Luna. Akhirnya Luna memilih untuk mengundurkan diri. Padahal Luna gak benar-benar salah dan semua karyawan sudah mengetahuinya.
Donna melihat Yuki di lobby gedung. Dia merasa ada yang aneh dengan kemunculannya setelah Luna datang. Mereka pasti merencanakan sesuatu.
"Gimana, om? Apa rencananya lancar?" tanya Yuki setelah berhadapan dengan Sony.
"Tenanglah. Malam ini, Luna akan menjadi milikku. Jika aku gak mendapatkan hatinya, aku akan mendapatkan tubuhnya!" jawab Sony dengan penuh keyakinan.
Yuki tersenyum puas, "aku ingin tahu, setelah mengetahui Luna menjual tubuhnya, apakah Damar masih mau menerimanya?"
Donna yang berdiri di belakang pintu sangat terkejut mendengar rencana mereka. Dia sudah curiga dengan kemunculan Yuki dan sengaja mengikutinya. Luna harus tahu masalah ini!
*****
Luna membaca pesan yang baru saja terkirim di hapenya.
-- Malam ini, aku akan menunggumu di Hotel Horizon. Ingat! Datanglah sendiri aja! --
Ternyata pesan itu dari Sony. Hotel? Mengapa harus di tempat itu? Padahal mereka akan membicarakan soal bisnis! Luna merasa ada yang aneh dengan permintaan Sony.
Tapi, Luna harus menemui Sony untuk kontrak yang akan diberikannya. Semua demi para karyawan dan perusahaannya. Dia gak khawatir jika ada apa-apa karena bisa membela dirinya.
"Ada apa, Lun? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Sarah yang nelihat Luna bersikap aneh.
"Aakh! Gak apa-apa kok, kak. Oh, iya. Nanti sore aku pulang duluan. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan!"
Sarah hanya diam saja begitu mendengar jawaban Luna. Pasti sudah terjadi sesuatu.
*****
Rani tertegun begitu melihat syakira berada di dekat seorang bayi laki-laki yang sangat lucu. Apakah anak sekecil itu sudah ditinggal ibunya? Rani sampai gemetar membayangkannya.
Kenalkan, ini adalah adikku yang comel, buk. Namanya Saddam!" ungkap Syakira penuh kebanggaan.
Rani masih kebingungan. Sebenarnya, kemanakah ibu dari anak-anak yang masih kecil itu?
"Oh, iya. Dia lucu sekali. Hallo Saddam, namaku Rani!" ucap Rani lembut sambil memegang ujung jarinya.
"Iya, de. Ini adalah Ibu Rani yang akan menjadi mamah kita!" celetuk Syakira.
__ADS_1
Rani gak bisa meralat ucapan Syakira. Dia gak mau melukai hatinya.
"Jangan mengada-ngada, Syakira. Kasihan Ibu Rani kalau merasa terpaksa. Maaf, ya Ran. Kalau kamu gak suka dengan ucapan anakku, tolong bilang aja!" tegur Agung yang merasa gak enak dengan ucapan puterinya.
"Oh, gak apa-apa kok, mas!"
"Tuh kan, yah. Ibu Rani kan mau jadi mamah kami!" ujar Syakira lagi.
Agung menyerah dengan tingkah puterinya. Syakira memang sangat mendambakan seorang ibu. Tapi jarang petlrempuan yang mau mengurus anak kecil apalagi dua orang.
Berbeda dengan Rani. Dia terlanjur jatuh cinta dengan kedua anak kecil itu. Sesaat melupakan siapa dirinya, bagaimana pekerjaannya.
*****
"Kenapa kamu balik lagi, yat? Apa Rani sudah mendapatkan rumahnya?"
Baru saja Dayat sampai, Nyonya Kamaratih sudah menyambutnya dengan pertanyaan.
"Sudah, nyonya! Bu Rani sedang ada urusan. Nanti saya akan.menjemputnya lagi!" jawab Dayat datar. Hatinya sedang bergolak begitu teringat gadis kecil yang memanggil Rani dengan sebutan ibu.
"Kalau sudah, langsung bayarkan saja. Aku mau Rani pindah secepatnya," ucap Nyonya Kamaratih lagi.
"Baik, Nyonya!" sahut Dayat sambil menyelonong meninggalnya Nyonya Kamaratih yang sebenarnya adalah ibunya.
Sebenarnya, Nyonya Kamaratih merasa kasihan dengan Dayat. Dia selalu menutupi perasaannya. Seandainya dulu, Dayat mau menurutinya sekolah diluar negeri pasti sekarang sudah menjadi orang yang terpandang. Sayangnya Dayat memilih tetap menjadi orang biasa sebagai sopir.
*****
Damar sengaja menjemput Luna tanpa memberitahunya. Malam ini, Luna harus mengatakan keputusannya. Damar gak bisa tenang kalau belum mendapatkan jawabannya.
"Loh, Luna sudah pergi dari tadi. Aku kira Luna pergi denganmu!" ujar Sarah ketika Damar datang.
Damar jadi bingung, "kami gak janjian. Tapi, Luna kemana perginya ya?"
Sarah terdiam. Dia sempat melihat Luna gelisah dari tadi siang.
"Jangan-jangan, Luna menemui Pak Sony!" cetus Sarah.
"Siapa Pak Sony?"
"Dia adalah direktur di tempat Luna bekerja dulu. Dia juga pamannya Yuki. Dari siang Luna gelisah tapi gak bilang apa-apa," cerita Sarah.
__ADS_1
"Pamannya Yuki?"
Damar semakin cemas dan segera menghubungi hape Luna. Namun sampai beberapa kali, hapenya gak diangkat juga.
Sarah juga sangat khawatir. Kali ini, dia sama sekali gak tahu apa yang akan dilakukan Luna.
"Hallo, ada apa dengan kalian. Kenapa wajahmu tegang begitu, Tuan Damar? Apa yang terjadi?" Prilly muncul dengan penuh keheranan melihat sikap Sarah dan Damar.
"Hai juga, Tuan Prilly. Aku datang untuk menjemput tuan puteri Luna!" jawab Damar yang ingin mencairkan suasana.
"Tuan? Hei heeei. Panggil Prilly aja, saay. Bukankah Luna sudah pergi dari tadi sore? Aku bertemu dengannya di depan!"
"Iya, Pril. Luna menghilang. Aku juga gak tahu dia pergi kemana. Coba tanyain Jion!" ucap Sarah.
"Jion lagi syuting ke luar kota. Sepertinya dia juga gak tahu soal Luna!" sahut Damar. Dia tahu Jion baru saja syuting drama yang disponsori perusahaannya.
"Hadeeeh! Kenapa lagi sih, Luna. Aku jadi geregetan deh sama dia!" ungkap Prilly.
"Apa kamu sudah ceritakan soal pihak bank?" Damar mengingatkan Sarah.
"Saya sudah mengatakannya sama Lina! Tapi dia gak curiga kenapa bank bisa memberikan tenggang waktu lagi. Yuki pasti tahu apa yang terjadi. Dia dan pamannya punya sifat yang sama-sama licik!"
"Aku akan menanyakan Ibu Donna, mantan atasan Luna dulu. Mungkin dia tahu sesuatu!" ucap Sarah yang teringat dengan Donna. Mungkin saja, Luna sedang bersamanya.
Damar hanya terdiam. Hatinya benar-benar gak menentu. Berharap Luna baik-baik aja.
*****
Saat ini, Luna sudah berada di lobby hotel Horizon. Pak Sony pasti menunggunya di restoran.
"Maaf, mba. Nama saya Luna. Saya sudah berjanji untuk bertemu dengan Pak Sony. Apa beliau ada di dalam restoran?" tanya Luna kepada seorang reseptionis.
"Nona Luna? Oh, tadi Pak Sony sedikit pusing jadi menyuruh nona untuk ke kamarnya di lantai 5. Nomor kamarnya 2215!" jawab reseptionis itu.
"Ke kamarnya?"
Luna mulai mengendus niat buruk Pak Sony. Mana ada meeting di dalam kamar hotel. Sesaat Luna meragu. Apakah ini jebakan?
Tetap saja, Luna naik juga ke lantai 5. Dia masih penasaran. Masih sih setelah menikah sikap Pak Sony masih sama?
Gak lama kemudian, Luna sampai juga di depan kamar 2215. Namun, hapenya tiba-tiba bunyi. Tertera nama di layar hapenya. Tuan Damar menyebalkan! Namun, Luna membiarkannya saja. Saat ini ada masalah yang lebih penting.
__ADS_1
❤❤❤❤❤