TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
CINTA SEMERBAK BUNGA #1


__ADS_3

Luna sudah berdandan rapi dan tinggal menunggu Damar menjemputnya. Mereka akan menghadiri acara pernikahan Tuan Ken dan Nona Ara, temannya Damar. Hatinya berbunga-bunga bak baru saja jatuh cinta. Dengan siapa yaaa? Pastilah dengan CEO tampan dan muda yaitu Tuan Damar!


"Cie cieee, yang lagi kasmaran! Lipstiknya aja udah kayak saos tomat. Apa gak kurang tebel tuh, kak?" goda Luky yang tiba-tiba muncul dan langsung melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Spontan aja, Luna melotot. Hampir aja tangannya melemparkan sesuatu. Namun yang ada di depannya hanya perlengkapan make-up aja. Sayanglah kalau sampai hancur!


"Iih, anak ingusan kepo amat sih!" sahut Luna yang memilih gak menghiraukan celotehan adiknya.


"Siapa bilang anak ingusan. Gini-gini, aku banyak yang naksir loh kak! Tinggal milih salah satu yang paling cantik dan sexy!"


Kali ini, Luna bereaksi.


"Luky! Kamu itu masih kecil. Jangan otakmu itu diisi sama gituan. Belajar aja yang bener!" ucap Luna dengan nada suara meninggi.


Luky cuman cengengesan.


"Iyalah! Kalo cowok itu melihat cewek dari fisiknya. Aku malah bingung sama Kak Damar. Apa sih yang disukai dari kakak?!"


Hadeh! Luky malah menabuh genderang perang. Muka Luna memerah karena menahan amarah mendengar ucapan Luky.


"Eeeh! Jangan salah. Itu karena kakakmu ini cantik dan pintar, baik hati dan gak sombong. Kurang apa lagi, ayo? Kamu aja matanya siwer. Lebih baik kamu itu pakai kacamata agar bisa melihat lebih jelas!" ungkap Luna geregetan. Untung aja dia memakai gaun sehingga gak bisa mengeluarkan tendangan mautnya.


"Eeeh, ada apa ribut-ribut? Nak Damar sudah menunggu kamu di depan tuh, Lun!"


Mamah Luna muncul dan langsung membuat kedua anaknya itu terdiam.


"Iya, mah. Luna kesana. Oh iya, mah. Jangan lupa antarkan Luky ke optik kacamata. Kayaknya matanya rabun tuh!" ucap Luna sebelum keluar dari kamarnya.


Mamah Luna langsung jadi cemas mendengar omongan Luna.


"Bener kamu harus pake kacamata, Luk?"


Luky tertawa lebar, "gak, mah. Kak Luna aja tuh yang baper!"


"Baper apaan, Luk? Laper maksudnya?"


"Iya, maah!" Luky memilih gak memperpanjang omongan kakaknya.


"Itu karena kakakmu itu belum makan! Hadeh, apa mereka sudah pergi, ya?"


Mamah Luna semakin kebingungan. Sebenarnya omongan siapa sih yang bener. Luna atau Luky?

__ADS_1


Damar terkesima ketika Luna berjalan menuruni anak tangga dengan hati-hati. Sangat jarang pemandangan seperti itu. Luna bak bidadari yang turun dari kahyangan. Damar merasa hatinya dipenuhi bunga yang bermekaran.


"Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang aneh, ya. Apa bibirku kayak saos tomat?" Luna malah gak pede melihat Damar menatapnya. Dia jadi teringat omongan Luky.


Damar tersenyum dan segera mengulurkan tangannya, "gak kok, sayang. Aku hanya takjup melihat kecantikanmu!" ucap Damar.


Luna menyambut uluran tangan Damar seperti seorang puteri. Kali ini, dia gak mau menjadi ratu taekwondo tapi menjadi puteri kerajaan.


"Lunaaa! Makan dulu! Kata Luky kamu itu lagi baper!" teriak Mamah Luna.


Luna segera mengangkat gaunnya tinggi-tinggi dan bersiap kabur begitu mendengar suara mamahnya.


"Ayo, cepat berangkat!" ucap Luna yang bergegas keluar rumahnya.


Damar jadi ikutan panik. Dia pun mengikuti langkah Luna yang berlari menuju ke mobilnya.


"Cepat pergi, Damar! Iih kamu lelet amat sih!" gerutu Luna, "kalau mamah tahu aku belum makan pasti gak akan ngasih izin pergi!" ucapnya lagi.


"Jadi kamu belum makan?" Damar jadi ikut khawatir.


"Kan disana juga makan! Sudahlah, jalan aja," sahut Luna yang gak mau mengungkit urusan perutnya. Bagaimana bisa makan kalau dari pagi dia sudah kebingungan dengan gaun yang akan dia pakai. Untung aja masih ada gaun yang dipakai ketika bertemu Damar pertama kali.


Damar segera menjalankan mobilnya. Sebenarnya dia merasa pernah melihat Luna dengan gaun itu. Tapi, lupa dimana melihatnya.


"Masa sih kamu lupa? Gaun ini kan sangat bersejarah!" Luna malah main tebak-tebakan, "kalau kamu ingat, aku akan kasih kiss!"


Luna sangat yakin Damar gak akan mengingatnya. Saat itu malam sehingga gaunnya gak begitu kelihatan.


"Beneran? Janji, ya! Awas kalau kamu gak memberikan kiss itu. Akan kena denda sepuluh kali lipat!"


"Sepuluh kali lipat apanya?"


"Kissnya, dong!"


Hadeh! Damar pinter aja nyari kesempatan. Dikasih hati malah minta jantung!


*****


Denny mulai melaksanakan rencananya mengambil alih perusahaan papahnya dari tangan Tuan Kenta. Dia sudah menghubungi para direktur dan akan mengadakan rapat luar biasa untuk mencopot jabatannya.


Selama ini, Denny sudah bersabar. Mengubur kebenciannya dalam-dalam dengan menjadi kaki tangan Tuan Kenta. Pada dasarnya, dia menunggu saat yang tepat untuk bangkit. Sejak Tuan Kenta sakit-sakitan, Dennylah yang mengurus semua pekerjaan di perusahaan. Tuan Kenta hanya duduk manis di rumahnya.

__ADS_1


"Dalam waktu dekat, aku akan menampakan diriku yang sebenarnya, mah. Itu adalah perusahaan papah. Aku berhak untuk mendapatkannya. kakakku sudah tiada. Satu-satunya pewaris adalah aku, bukan Tuan Kenta yang hanya berstatus menantu!" ungkap Denny dari hapenya.


"Hati-hatilah, Den. Mamah dengar Tuan Kenta itu sifatnya sangat jahat!" sahut seorang wanita yang masih berada di luar negeri, "jika waktunya sudah tepat, mamah akan pulang. Mereka gak akan membantah lagi kalau kamu adalah keturunan dari papahmu!" lanjut wanita itu lagi.


"Baik, mah. Tunggulah beberapa hari lagi. Jion, keponakanku gak mau mengurus perusahaan. Sekarang semuanya ada ditanganku!"


"Mamah juga mau bertemu dengan Jion! Dia pasti sangat mirip dengan kakakmu!"


"Iya, mah. Jion memang sangat mirip dengan kakak. Makanya dia menjadi seorang artis karena berdarah seni dari kakak! Hanya saja, apa mamah tahu siapa papah kandung Jion?"


"Mamah gak tahu pasti. Dulu kakakmu mengatakan pernah jatuh cinta dengan seorang pelaut. Tapi mamah gak pernah mendengar kabar lagi sampai akhirnya dia menikah dengan Kenta! Mungkin papahmu mengetahuinya. Cobalah tanyakan orang kepercayaannya dulu!"


"Semua orang papah sudah gak ada, mah. Tapi, ada tukang kebun yang dipertahankan Tuan Kenta. Mungkin dia mengetahuinya!"


"Cobalah cari tahu tapi hati-hatilah. Mamah takut kematian papahmu dan juga kakakmu ada hubungannya dengan Tuan Kenta!"


Denny segera menutup hapenya ketika sekretarisnya masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Ada apa?"


"Maaf, tuan. Direktur bagian keuangan mau ketemu. Katanya ada yang mau dibicarakan!" jawab Gina, sekretaris Denny.


"Baiklah! Suruh dia masuk!"


"Baik, tuan!"


Gina segera keluar ruangan. Gak lama kemudian dia datang lagi bersama seorang perempuan setengah tua. Dia adalah Dessy, direktur keuangan di perusahaan Tuan Kenta.


Gina gak langsung keluar dan membuatkan minuman. Namun, telinganya dibuka lebar-lebar untuk mendengar pembicaraan Tuan Denny dan Ibu Dessy. Ternyata, Gina adalah mata-mata Tuan Kenta.


"Semuanya sudah siap! Kapan akan dilakukan rapat luar biasa itu?"


"Sesegera mungkin! Mumpung Tuan Kenta sedang sibuk mau menikahkan Tuan Jion!" jawab Denny.


"Oke! Besok saja. Semuanya sudah aku hubungi!" sahut Dessy kurang antusias. Sebenarnya dia setengah hati melakukan rencana itu.


"Baguslah kalau begitu. Ingat, Bu Dessy. Saya mengetahui penggelapan keuangan perusahaan yang ibu lakukan. Saya akan mengungkapkan semua kecurangan ibu di depan Tuan Kenta jika tidak mendukung saya!"


Dessy ciut juga mendengar ucapan Denny sekaligus dongkol. Kalau saja Denny gak mengatahui perbuatannya. Dia gak akan mau mengikuti rencana itu.


Ternyata, Gina merekam semua pembicaraan Denny dan Dessy. Dia akan memberikan rekaman itu kepada Tuan Kenta. Sebenarnya, Gina adalah salah satu mainannya. Dia gak masalah hanya sekedar pelampiasan nafsu saja dan sudah cukup menjadi seorang sekretaris untuk menghidupi keluarganya.

__ADS_1


******


__ADS_2