TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MEMBUKA PINTU HATI #2


__ADS_3

Jion menemani Yuki dan puterinya juga mamahnya berjalan-jalan sebentar. Sudah lama dia gak merasakan punya keluarga. Sekian lama selalu sendirian dan kesepian.


Hanya saja, Jion gak tahu kalau anak buah Tuan Kenta mengikuti dan mengambil fotonya. Tentu saja, foto-foto itu akan segera diserahkan kepada papahnya.


Menjelang sore, Jion sengaja mampir ke butik Luna. Tentu saja Luna sangat terkejut dengan kedatangan Yuki dan keluarganya.


"Ada kabar, Luna?" sapa Yuki.


"Aku baik-baik saja. Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Luna penasaran.


"Jadi, kamu sekarang punya butik ya, Luna!" tegur Nyonya Arana sambil melihat ke sekeliling tempat itu. Sikapnya selalu sama, sedikit angkuh persis seperti Yuki. Tapi, dia gak tahu apa yang sudah dilakukan puterinya kepada Luna.


"I-iya, nyonya!" jawab Luna singkat. Perhatiannya tertuju kepada gadis kecil di samping Yuki. Gadis kecil itu melambaikan tangannya sambil tersenyum. Luna pun membalasnya.


"Ini adalah puteriku, Nabila!" ujar Yuki yang mengenalkan puterinya kepada Luna.


"Puterimu? Dia sudah besar. Jadi, nama kamu adalah Nabila? Apa kamu sudah sekolah?" tanya Luna sambil berjalan menghampiri gadis kecil itu sambil tertatih.


Yuki melihat kaki luna yang masih diperban. Dia menjadi sangat bersalah.


"Aku sudah sekolah, tante. Apa boleh aku melihat gaun cantik itu? Aku juga mau mempunyai gaun seperti itu, tante!" celetuk Nabila yang sangat ekspresif.


"Tentu saja boleh. Apa kamu mau ulang tahun?" tanya Luna yang senang mengobrol dengan anaknya Yuki.


"Masih lama sih, tante. Masih tiga bulan lagi!"


"Ya, sudah. Nanti tante buatkan untukmu ya!"


"Asyiiik. Makasih tante! Miih, nanti aku dibuatkan seperti gaun itu!" teriak Nabila kegirangan.


Nabila segera mendekati neneknya yang tengah bicara dengan Sarah dan Prilly.


"Kemarin kamu jadi ke dokter, Luna?" tanya Jion yang hanya diam dari tadi.


"Jadi! Tapi hasil rongsennya baru besok. Tanganmu bagaimana?"

__ADS_1


"Aakh! Sudah gak apa-apa, kok. Besok juga mau lepas perbannya. Gimana mau syuting kalau tanganku masih begini!" jawab Jion yang selalu ingin terlihat kuat.


"Maafkan aku ...." ucap Yuki lirih ketika mendengar pembicaraan Luna dan Jion. Waktu itu hatinya memang dibutakan dengan iri sehingga ingin menyakiti Luna.


Luna menatap Yuki lekat. Matanya meredup tidak membara seperti dulu. Kayaknya Yuki sudah mengalami kejadian yang sangat menyakitkan baginya.


Luna saling pandang dengan Jion. Saat ini, Luna belum bisa menpercayai sikap Yuki.


"Aku harap tidak ada lagi kebencian di antara kita, Yuki. Lihatlah anakmu, dia lucu sekali. Pastinya sangat membutuhkan kasih sayangmu!" ucap Luna pelan. Dia gak ingin Nabila mendengar pembicaraan mereka.


"Iya, Lun. Aku sudah memikirkan kesalahanku padamu. Kamu berhak menghukumku!"


Luna tersenyum, "gak ada yang harus dihukum, Yuki. Kita hanya perlu menjadi lebih baik!"


Yuki merasa tenang mendengar ucapan Luna. Kini, dia hanya ingin memberikan kasih sayang kepada puterinya.


*****


"Ini foto-fotonya, tuan. Tadi Tuan Jion jalan-jalan bersama Nona Yuki dan puterinya juga mamahnya!" ujar Denny seraya menyerahkan foto terbaru.


Tiba-tiba, Tuan Kenta menjadi gugup ketika melihat salah satu foto. Di sana ada mamahnya Yuki.


"Iya, tuan. Dia adalah mamahnya Nona Yuki. Namanya Nyonya Arana!"


Tuan Kenta langsung gemetar. Dia mengenal wanita itu. Dia adalah Arana. Gadis yang dulu pernah dia cintai!


"Ja-jadi, Nyonya Arana adalah mamahnya Yuki. Aku mencarinya selama puluhan tahun. Nyatanya, dia sangat dekat!" ucap Tuan Kenta pelan.


Denny merasa aneh dengan sikap Tuan Kenta.


"Apakah tuan mengenal wanita itu?" tanyanya ingin tahu.


Tuan Kenta hanya diam saja sambil mengamati foto itu. Meski sudah menua, Arana masih kelihatan cantik.


"Wanita ini, jadi dia adalah istri dari Ceo Bintang Grup. Bagus sekali!"

__ADS_1


Otak licik Tuan Kenta kembali berjalan. Dia akan melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.


*****


Damar harus menghadiri rapat lagi. Dia sudah berada di dalam ruangan bersama beberapa direktur cabang.


Sementara itu, Dayat hanya berdiri di depan pintu.


"Apa rapatnya sudah bisa dimulai, tuan?" tanya Rani setelah membagikan semua file.


Damar terdiam. Dia merasa ada sesuatu yang kurang.


"Tunggu sebentar! Mang Dayat, duduklah di dekatku!" katanya tiba-tiba.


Semua peserta rapat menjadi riuh. Jelas Dayat bukanlah siapa-siapa. Dia hanya seorang asisten tapi diikut sertakan dalam rapat level satu.


"Maaf, Tuan Damar. Kami gak setuju kalau dia diikut sertakan dalam rapat. Kami semua adalah direktur kantor cabang!" ucap salah seorang direktur.


"Iya, tuan. Kalau rapat antar manager kami gak masalah!"


Dayat menyadari siapa dirinya. Makanya gak langsung menuruti kemauan Damar.


"Baiklah! Apa perlu saya buat surat kuasa? Apa saya harus mengangkat Mang Dayat jadi direktur juga? Saya rasa Mang Dayat sangat pandai bahkan melebihi kemampuan saya!" bela Damar dengan memuji Dayat.


Semuanya terdiam. Tak satu pun yang berniat membantah ucapan Damar.


"Baiklah! Kita mulai rapatnya! Silakan duduk, mang!" ucap Damar setelah gak ada yang bicara lagi.


Akhirnya Dayat berani untuk duduk, meski gak mengerti dengan sikap Damar. Sepertinya Damar segaja mengikutsertakan Dayat dalam kegiatan di perusahaan.


"Baik, tuan!"


Rani segera memberikan beberapa lembar file kepada Dayat. Dia merasa gak aneh lagi dengan sikap Damar karena tahu alasan sebenarnya. Ya! Mereka adalah bersaudara.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2