TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
TERPURUK #1


__ADS_3

"Apa semua sudah siap?"


Yuki menelpon seseorang dari ruang kerjanya. Sepertinya dia siap melaksanakan sesuatu.


"Pokoknya aku mau melihat dia hancur!" katanya lagi sebelum menutup hapenya.


Sebuah senyuman tipis menghias bibirnya. Senyuman licik seekor rubah betina!


"Ada apa kamu sebahagia ini, Yuki?"


Grace muncul sambil membawa beberapa design pakaian terbarunya.


"Sebentar lagi, Luna pasti hancur!" sahut Yuki yang ternyata merencanakan perbuatan jahat kepada Luna.


"Sebaiknya jangan terlalu over. Kau tahu, papamu masih memerhatikan kamu dan Luna!" ungkap Grace mengingatkan.


Sepertinya Yuki gak suka dengan ucapan Grace barusan.


"Jangan sebut papaku. Dia masih betah bersama istri mudanya di luar negeri! Mana sempat dia memikirkan aku? Apalagi Luna. Siapa dia sampai mendapatkan perhatian papaku?"


Yuki sangat kesal kalau Luna selalu dihubungkan dengan papanya.


"Ingat, Ki. Papamu masih menyokong perusahaanmu seratus persen. Kita sudah kolaps sejak lama kalau bukan perusahaan papamu memberikan jaminan. Jika sampai papamu tahu soal Luna, aku gak tahu apa yang akan dilakukannya!"


Yuki menatap Grace tajam, "seharusnya kamu gak usah ngomongin soal papa. Kamu sendiri yang mengenalkanku dengan orang dalam perusahaan Luna!"


"Tapi bukan sampai seperti ini. Aku mengira kamu cuma mau tahu gerak gerik perusahaan Luna. Bukan berniat menghancurkannya!"


Pada dasarnya, perusahaan Yuki juga bermasalah. Mungkin itulah sebabnya Yuki gak mendapatkan gelar Moman of The Year yang sekarang diberikan kepada Luna.


"Sudahlah! Kalau perusahaan Luna hancur berarti kita gak ada saingan lagi. Semua projek dari perusahaan Damar pasti akan beralih pada perusahaan kita!"

__ADS_1


Yuki kekeh pada pendiriannya. Ketika Luna memutuskan membangun perusahaannya sendiri, Yuki juga melakukan hal yang sama. Dia gak mau papanya membanggakan Luna. Yuki harus berada diatasnya apapun yang terjadi.


*****


Luna gak bisa membendung air mata ketika sudah sampai di kamarnya. Entah mengapa dia sampai sesedih itu. Apa karena Damar sudah membentaknya? Atau karena memergoki Damar sedang melihat foto-foto bersama pacarnya yang dulu.


Keraguan itu semakin menjadi. Dia sudah merasa aneh karena sikap Damar dan mamahnya yang langsung dekat dengannya. Kemiripan wajah Luna dengan pacar Damar yang dulu bisa jadi penyebab utamanya.


Apakah Damar memang mendekatinya karena wajahnya mirip dengan pacarnya? Perasaan Luna semakin tak menentu. Marah, sedih, cemburu menjadi satu. Sepertinya, Luna harus memikirkan lebih dalam soal pernikahannya dengan Damar.


Tiba-tiba, hapenya bunyi. Luna sangat terkejut mengira kalau itu dari Damar. Setelah melihatnya ternyata dari Sarah.


"Hallo! Ada apa, kak?"


"A-ada masalah, Lun! Apa kamu bisa ke kantor sekarang?" tanya Sarah dengan auara gemetar.


Lina melihat jam di hapenya. Baru jam delapan malam.


"Bisa, kak. Memangnya ada apa?" tanya Luna penasaran. Gak biasanya Kak Sarah menyuruhnya ke kantor mendadak.


"Oke, kak. Aku akan kesana secepatnya!"


Perasaan Luna gak enak. Pasti masalah yang dimaksud Sarah bukan hal yang sepele. Luna berharap gak sampai seperti itu.


Setengah jam kemudian, Luna sudah sampai di kantornya. Sarah, Prilly dan manager produksi sudah menunggu Luna di ruang kerjanya.


"Ada apa, kak?" tanya Luna cemas.


Sarah saling pandang dengan Prilly. Kemudian mengambil beberapa file.


"Ternyata kita sudah tertipu, Lun. Perusahaan yang menghubungi kita dengan Best Denim ternyata fiktif! Ini filenya. Mereka sudah membohongi kita!" jelas Sarah dengan nada berapi-api. Dia juga sangat marah dengan perusahaan fiktif itu.

__ADS_1


"Apa? Perusahaan fiktif? Bukankah kakak sudah menyelidiki mereka?" Luna masih gak percaya dengan berita itu.


"Sudah, Lun. Waktu itu asisten Prilly yang memberikan filenya. Ternyata, dia sudah bekerjasama dengan perusahaan fiktif itu untuk menipu kita!" jelas Sarah.


"Iya, Lun. Ekye juga sangat marah. Kalau ketemu akan aku cekik orang itu!" Prilly juga geregetan dengan asistennya itu.


"Bukankah dia asisten baru? Lalu dimana dia sekarang?"


"Di-dia sudah menghilang. Aku akan melaporkannya ke polisi!" jawab Prilly yang memperlihatkan muka sangarnya.


"Astaga! Kenapa bisa begini? Bagaimana dengan bagian produksi, Pak Hadi?" Luna beralih kepada Pak Hadi, manager produksi.


"Semua orderan sudah selesai semua, bu. Bahkan sudah sampai ke alamat di luar negeri!" jelas Pak Hadi.


Luna semakin lemas. Dia merasa sudah terpuruk ke dalam jurang yang sangat dalam.


"Jadi, bagaimana kondisi perusahaan sekarang?"


Sarah menarik napas panjang dan siap mengatakan kabar yang paling buruk.


"Ternyata mereka menjaminkan perusahaan kita ke bank, Lun. Jumlahnya juga sangat banyak!" jawab Sarah. Dia gak sanggup mengatakan semuanya.


Luna mendongak dan menatap Sarah lekat.


"Tapi kita gak memakai uang itu kan?"


Sarah menggeleng, "semua diambil perusahaan fiktif itu! Tapi kita harus melunasinya kalau mau bebas dari tagihan bank!"


"Situasi keuangan kita bagaimana?" tanya Luna memikirkan pertahanan terakhirnya.


Sarah menggeleng, "semuanya untuk modal produksi. Kita gak punya apa-apa," ucap Sarah lemah. Dia juga gak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Luna menarik napas panjang, "jadi, perusahaan yang aku bangun dari nol kini sudah hancur?" tanyanya lirih. Tanpa terasa matanya basah. Luna sudah benar-benar terpuruk. Pertama soal Damar dan sekarang soal perusahaannya.


*****


__ADS_2