
Mamah Luna sangat terkejut melihat kedatangan Tuan Arya. Meskipun usianya sudah menua, ketampanan dan kegagahannya masih terlihat.
Mamah Luna jadi teringat saat mereka muda dulu. Tuan Arya adalah idola di sekolahnya. Semua gadis di sekolah pasti memujanya. Mamah Luna gak menyangka Tuan Arya malah menyukainya.
"Apa kabar, Ra?" sapa Arya. Dia melihat Mamah Luna juga masih sama seperti dulu. Mira Asyanty, perempuan yang masih dicintainya sampai sekarang.
"Kabar saya baik, tuan. Terima kasih sudah membantu Luna. Tapi, dia belum sampai juga ke rumah. Hadeh! Kemana dia, ya?"
Mamah Luna sedikit cemas karena Luna malah belum pulang.
"Biasalah anak muda. Apa kamu lupa, dulu sepulang sekolah juga kita gak langsung pulang. Kamu pasti mampir memanjat pohon jambu di pinggir sawah!" kenang Arya gak bisa menyembunyikan senyumnya.
Mamah Luna malah malu jika teringat masa-masa itu. Dulu, dia memang tomboy dan senang memanjat pohon.
"I-iya, tuan. Dulu sih saya gak khawatir!"
"Apa karena ada aku di sampingmu?" tanya Arya tanpa basa basi.
"Aaakh! Gak juga, tuan. Kalau sendirian saya juga seperti itu!"
Arya menarik napas panjang, "jangan panggil aku seperti itu. Aku masih Arya yang sama. Arya yang masih mencintaimu!"
Mamah Luna sangat terkejut mendengar ucapan Tuan Arya. Dia menoleh ke belakang takut Luky mendengarnya.
"Ja-jangan begitu, tuan. Kita sudah sama-sama tua. Gak pantas ngomongin soal itu. Lagi pula, Tuan harus menjaga hati istri tuan!"
Itulah hal yang gak disukai Mamah Luna. Tuan Arya selalu mengatakan hal sama.
"Itulah isi hatiku, Ra. Seharusnya sekarang ini aku bersamamu. Kamu tahu isi hatiku gak pernah berubah!"
"Tapi, kehidupan kita yang sudah berubah, tuan. Biarkan anak-anak kita yang menjalani kehidupan cinta mereka. Kita hanya bisa melihat saja!" jelas Mamah Luna tanpa menyinggung perasaan Tuan Arya.
"Baiklah, Ra. Aku mendengar kalau Luna dan Damar akan menikah?"
"I-iya, tuan. Seharusnya minggu ini acaranya tapi ada saja kejadian menimpa Luna. Saya juga jadi khawatir dengannya!" jawab Mamah Luna lirih.
"Tenanglah! Sekarang aku akan selalu mendukung Luna seperti puteriku sendiri!"
Mamah Luna menatap Tuan Arya lekat. Itulah yang dicemaskannya.
__ADS_1
"Maaf, tuan. Justru puteri tuan sendiri yang selalu membuat Luna menderita. Seharusnya tuan lebih memerhatikannya!" ucap Mamah Luna tegas.
Tenggorokan Tuan Arya terasa kering. Bahkan dia merasa kalau Yuki bukanlah puterinya.
"Aku yang akan mengurusnya. Mulai saat ini, Yuki gak akan mengganggu Luna lagi! Seharusnya Lunalah yang menjadi puteriku, bukan Yuki!" ucap Tuan Arya tanpa keraguan.
Dari dalam rumah, ternyata Luky belum tidur. Dia mendengar percakapan mamahnya dengan seorang laki-laki asing. Meski sedikit tapi Luky bisa menebak kalau mamahnya pernah punya hubungan dengan laki-laki itu. Kak Luna harus tahu!
*****
Damar membiarkan Luna yang tertidur di dalam mobil, setelah lama juga memilih cincin pernikahan mereka. Mungkin Luna kelelahan dengan semua kejadian buruk yang menimpanya terakhir ini.
Sebenarnya Damar gak tega melihat Luna memakai cincin murahan. Namun, Luna bersikeras untuk tetap memakainya dan Damar akhirnya menyerah.
Gak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah Luna. Namun Damar gak tega membangunkannya. Bahkan memberikan bahunya agar Luna lebih nyaman.
Luna terbangun ketika kepalanya terantuk. Dia sangat terkejut karena sudah sampai di depan rumahnya.
"Kenapa kamu gak bangunin aku?" tanya Luna yang langsung merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Aku gak tega. Pasti kamu lagi memimpikan pangeran Damar!"
Luna melotot. Damar masih aja bercanda.
"Eeh, tunggu!"
"Ada apa lagi?"
Damar mesem mesem sambil memonyongkan mulutnya.
Sebenarnya Luna tahu apa yang dimaksud Damar tapi malah menjulurkan lidah. Damar tertawa kecil melihatnya. Meski Luna lebih tua tapi Damar merasa seperti berhadapan dengan anak Abg.
*****
Rani sangat canggung ketika Syakira dan papahnya masuk ke dalam rumahnya. Apalagi, Syakira menangis gak mau pulang.
"Ayolah, sayang. Tante Rani mau istirahat. Besok kan masih bisa main lagi!" ujar Agung yang masih membujuk puteri kecilnya itu.
Rani jadi gak tega melihat Syakira menangis seperti itu.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Syakira menginap aja disini, mas. Besok sebelum saya berangkat kerja akan saya antarkan ke rumah," ucap Rani.
Syakira langsung berhenti menangis begitu mendengar ucapan Rani.
"Iya, pah. Syakira janji akan bangun pagi-pagi!" ucapnya dengan mata berbinar.
Agung akhirnya menyerah melihat wajah puterinya. Syakira memang sangat merindukan sosok seorang ibu yang dilihatnya ada pada Rani.
"Oke! Tapi kamu jangan menyusahkan tante Rani, ya!"
"Siap, kapten!" ujar Syakira seperti seorang tentara.
Dayat baru saja sampai setelah menjemput bibiknya Rani. Dia melihat papahnya Syakira baru keluar dari rumah Rani.
"Wah! Itu kan Mas Agung. Kenapa ada disini?"
Bibiknya Rani langsung melompat dari dalam mobil dan segera menghampiri Agung. Kelihatannya dia sangat senang Agung menjadi dekat dengan Rani.
Dayat hanya memerhatikan mereka dari dalam mobil. Rani gak melepas senyumnya sambil memeluk gadis kecil itu. Mereka kelihatan sangat bahagia. Sepertinya, Dayat harus segera melupakan perasaannya kepada Rani.
*****
Arya sangat terkejut melihat Arana ada di rumahnya. Sementara istri mudanya gak kelihatan. Mood Arya langsung ngedrop
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Arya datar.
"Aku mau membicarakan soal Yuki, pah!"
"Kenapa lagi dia?"
"Yuki gak terima kalau papah memberikan jabatan direktur kepada Luna. Dia itu bukan siapa-siapa. Seharusnya jabatan itu buat Yuki. Anak kandung papah sendiri!" Arana bicara lebih keras dari biasanya. Kemarin ketika Tuan Arya memberitahukan lebih hape, dia hanya diam saja.
"Kemarin sudah aku katakan. Yuki gak berhak memprotes keputusanku! Dia sudah memilih jalannya sendiri dengan membenci Luna. Padahal dia bisa berjalan bersama dengannya. Kalau begitu, aku akan memberikan apa yang dia inginkan!" jelas Tuan Arya tanpa ekspresi. Dia hanya duduk di kursi sambil menyandarkan badan dan memejamkan matanya.
"Tapi semua bukan salah Yuki. Dia hanya menginginkan haknya. Apa itu salah!"
Tuan Arya membuka mata. Dia gak suka mendengar ucapan istrinya itu.
"Aku lelah! Kalau berani, suruh Yuki meminta maaf kepada Luna dan mengakui kesalahannya. Jangan ambisi membuatnya buta. Seperti yang pernah mamahnya lakukan dulu!"
__ADS_1
Arana hanya diam saja mendengar perkataan suaminya yang tengah menyindirnya. Dia gak tahu harus berkata apa lagi. Hanya Yuki yang bisa meluluhkan hati papahnya.
❤❤❤❤❤