
Dayat tertidur nyenyak setelah minum obat dari dokter yang dipanggil Damar. Setelah beberapa jam, demamnya pun hilang. Rani memeriksa kening Dayat dan sudah gak merasakan panasnya lagi.
Sudah saatnya Rani untuk ke kantor. Pekerjaannya masih banyak dan harus segera diselesaikan. Dia pun beranjak dari kursi yang ada disamping tempat tidur Dayat.
Begitu akan melangkah pergi, niat Rani itu batal. Ternyata Dayat sudah bangun dan menarik tangannya.
"Jangan pergi! Aku masih membutuhkanmu," ucapnya lirih.
Rani sangat terkejut dan gak tahu harus bagaimana.
"Maaf, aku harus pergi. Lagipula kondisi mamang sudah baikan!" sahut Rani. Batas itu kembali terasa.
Dayat melepaskan tangan Rani. Dia juga gak akan mampu menahannya.
"Baik, pergilah! Aku hanya sedang ngelindur. Terima kasih sudah merawatku," sahutnya pelan. Tatapannya masih redup.
Rani tersenyum tipis sebelum pergi. Padahal sewaktu dia sakit, Mang Dayat selalu menjaganya siang sampai malam.
"Maafkan aku, mang. Gak bisa membalas kebaikanmu. Hanya ini yang bisa aku lakukan!" ucap Rani dalam hati.
Dayat hanya melihat kepergian Rani sampai menghilang dibalik pintu. Hatinya terasa ada yang hilang. Gak lama kemudian wajahnya kembali cerah begitu pintu kembali dibuka. Rani kembali lagi!
"Bagaimana keadaanmu, Yat? Apa perlu ke rumah sakit?"
Yang datang ternyata Nyonya Kamaratih. Dia adalah ibunya.
"Saya sudah baikan, nyonya!" Gaya bicara Dayat kembali seperti semula. Gak terlihat kalau mereka adalah ibu dan anak.
__ADS_1
"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Lebih baik periksakan dirimu ke rumah sakit!" paksa Nyonya Kamaratih yang masuk ke kamar Dayat dengan kursi roda.
"Saya sudah gak apa-apa, Nyonya. Maaf, saya masih mengantuk," ujar Dayat yang kembali memejamkan matanya. Entah mengapa dia enggan bicara dengan ibunya sendiri.
Nyonya Kamaratih menatap Dayat lekat dan menarik napas panjang. Dia juga sangat menyayangi Dayat. Makanya sangat khawatir ketika tahu dia sakit.
"Aku juga menyayangimu sama seperti dengan Damar, Yat. Kalian sama-sama lahir dari kandunganku. Jangan ragukan perasaanku kepadamu. Kamu juga anakku!" ungkap Nyonya Kamaratih sebelum keluar dari kamar Dayat.
Gak lama kemudian, Dayat membuka mata. Dia mendengar jelas perkataan ibunya. Entah kenapa dia merasa perlakuan ibunya tidaklah sama. Tentu saja! Damar adalah pewaris kekayaan papanya sementara dirinya hanya anak kampung yang gak punya apa-apa.
Ketika ayahnya meninggal, dia baru tahu kalau ibunya ada di kota. Dayat bertekad untuk menemui ibunya dan tinggal bersamanya. Namun, kenyataannya sangat berbeda.
"Jika kamu mau kuliah tinggal aja di tempat kos. Ibu akan membiayai sekolahmu sampai selesai kuliah. Kalau disini, kamu gak jadi siapa-siapa!" jelas ibunya waktu itu.
Saat itu, Dayat bimbang. Dia juga ingin kuliah dan menjadi pegawai negeri. Namun sebulan kemudian, ibunya malah sakit-sakitan. Dayat memutuskan untuk merawat ibunya dan resikonya gak akan jadi siapa-siapa.
*****
"Ada tender di perusahaan tempatmu bekerja dulu, Lun. Apa kamu gak mau memasukan proposal kesana. Nilainya lumayan besar dan bisa mempertahankan perusahaan sampai beberapa bulan kedepan. Setelah membayar para pekerja, gak ada sisa untuk membayar angsuran bank. Mereka memberikan batas waktu sampai minggu ini!" jelas Sarah yang gak menyangka mereka sudah kehabisan dana.
"Bukannya mereka memakai perusahaan Yuki, kak? Soal bank apakah gak bisa dipending lagi?" Luna sudah pasrah kalau memang harus beehubungan dengan perusahaan papanya Yuki lagi.
"Aku juga kurang tahu sebabnya. Katanya orderan dengan perusahaan Yuki mulai dikurangi. Sekarang sudah berjalan dua bulan. Pihak bank gak bisa memberikan perpanjangan waktu lagi!"
Luna menarik napas panjang. Waktu sangat cepat berlalu. Dia harus membuat keputusan.
"Baiklah, kak. Kita akan buat proposal ke perusahaan papanya Yuki. Setidaknya jika lolos bisa membuat perusahaan kita bangkit lagi!"
__ADS_1
Akhirnya Luna memutuskan kembali masuk ke dalam perusahaan papanya Yuki. Meskipun harus menyembunyikan harga dirinya demi para karyawan yang sudah seperti keluarganya sendiri.
*****
"Rencana A sudah berhasil sekarang jalankan rencana B jika gagal lanjut aja ke rencana C!" ungkap Yuki penuh keyakinan.
Seorang laki-laki berdiri didepannya. Dia seseorang dari masalalu Luna. Seseorang yang pernah dibuat patahhati olehnya. Dia adalah Sony. Dia adalah adik maminya Yuki dan masih bekerja di perusahaan papanya Yuki. Dulu Luna pernah menolak cintanya dan memilih Jion yang saat itu beranjak terkenal.
"Aku sudah lama menanti hari ini. Luna sudah masuk ke dalam jebakan. Aku melihat ada proposal dari perusahaan Luna!" jelas Sony yang sengaja membuka tender baru.
"Bagaimana dengan papa? Apa dia tahu soal rencana kita?"
"Papamu masih betah di luar negeri. Dia gak tahu menahu soal perusahaan. Sekarang aku yang berkuasa dan akan membuat Luna bertekuk lutut di depanku!"
Sebenarnya, Sony sudah menikah dengan seorang anak pejabat. Namun, dia masih terobsesi dengan Luna.
"Sainganmu berat, om. Selain ada Jion, juga ada Damar. Sepertinya Luna akan menikah dengan Damar dalam waktu dekat!"
"Damar? Bukankah laki-laki yang kamu incar? Ceo grup Santika, kan?"
Yuki mengangguk, "mereka menjadi dekat setelah Luna mendapat penghargaan Woman of The Year dari yayasan Santika milik mamahnya Damar. Wanita tua itu juga lebih memilih Luna daripada aku!" ucap Yuki yang masih kesal.
"Pantaslah banyak yang menyukai Luna. Dia itu punya daya tarik seorang dewi cinta!"
"Iikh! Dewi Cinta apaan. Lihat aja kalo Luna hancur beneran. Mereka pasti akan menjauhinya!" cibir Yuki.
"Tidak denganku. Jika semua pergi, aku yang ada disampingnya!" sahut Sony dengan senyuman liciknya.
__ADS_1
Yuki menatap pamannya itu lekat. Memang semua menyukai Luna, termasuk pamannya juga. Yuki ingin melihat saat Luna terpuruk dan masuk penjara. Siapa aja yang bertahan didekatnya!
❤❤❤❤❤