TERJEBAK CINTA CEO MUDA

TERJEBAK CINTA CEO MUDA
MENJEBAK ATAU TERJEBAK #1


__ADS_3

Luna menghabiskan sisa malam bersama para karyawannya. Dia masih sempat menyanyikan beberapa buah lagu. Untung aja, bocah ingusan itu pergi. Kalau gak malam itu akan berakhir dengan tidak menyenangkan.


Tidak sampai satu jam, ada telepon masuk yang membuat Luna harus pulang secepatnya.


"Mama sakit, kak. Cepat pulang!" ucap Luky, adik laki-laki Luna.


"Bawa aja ke rumah sakit. Nanti kakak nyusul!" jawab Luna yang segera membereskan tasnya.


"Ada apa, Lun?" tanya Sarah yang cemas melihat Luna.


"Penyakit mama kambuh, kak. Aku harus ke rumah sakit secepatnya!" jawab Luna. Dia tidak mengira kalau mamanya akan sakit lagi.


"Ya, sudah. Aku akan mengantarmu. Mobilmu masih di hotel, kan?"


"Iya, kak. Maaf ya gengs. Aku pulang duluan. Kalian jangan terlalu malam, ya. Besok kita banyak pekerjaan!" pesan Luna sebelum pergi.


"Hei, tunggu. Ekye juga mau pulang, aach!" Prilly gak mau ketinggalan dan memilih ikut Sarah dan Luna.


"Aku kan mau ke rumah sakit, Pri. Bukannya kamu itu takut kalau masuk ke sana?" tanya Luna yang mengingatkan Prilly yang sangat trauma dengan rumah sakit.


"Ya iyalah, say. Ekye naik taksi dari rumah sakit. Maaf gak bisa nemenin kamu, ya. Eksye takut disuntik!" jawab Prilly dengan gayanya yang kocak abis.


"Okelah, say. Ayo kita berangkat!"


Luna langsung menggamit lengan Prilly. Meski pun melambai begitu, Luna sangat menghargainya.


Begitu sampai ke rumah sakit, Luna langsung menemui mamanya yang ditemani Luky di ruang UGD. Ternyata, mamanya merasakan sesak lagi.


"Ada apa, mah? Apa yang mamah rasakan?" tanya Luna yang langsung memeluk mamanya. Sementara Luky malah asyik bermain game di hapenya.


"Mamah sudah enakan. Lagipula, seharusnya mamah gak usah dibawa ke sini. Sesaknya juga hilang sendiri!" jawab Mama Luna yang menyambut pelukan puterinya. Dia tidak ingin menyulitkan Luna.


"Malam, tante!" sapa Sarah yang menemani Luna. Sementara Prilly sudah pulang dengan naik taksi.


"Malam, Nak Sarah. Maaf merepotkan!" jawab Mama Luna.


"Gak apa-apa, tante. Kebetulan saya lagi sama Luna. Gimana keadaan tante?" tanya Sarah yang juga khawatir. Itu karena dia sudah tidak punya ibu sejak kecil.


"Alhamdulillah sudah baikan, Nak Sarah. Sebaiknya kita pulang saja sekarang!" jawab Mama Luna seraya bangkit dari ranjang.

__ADS_1


Luna langsung melotot. Mamanya memang paling gak suka lama-lama di rumah sakit.


"Gak, mah. Pokoknya mamah harus diperiksa benar-benar. Kan mamah sudah sering nyesek begini," ungkap Luna tegas.


Mama Luna langsung cemberut, "mama begini kan karena kamu juga. Sudah setua ini belum menikah. Dulu seumuran kamu, mamah sudah punya kamu, tahu!" ungkap Mama Luna tentang isi hatinya.


Luna terperangah dengan ucapan mamahnya. Selama ini, mamahnya memang gak pernah mengungkit masalah pernikahan.


Sarah tidak ingin melihat suasana tegang itu. Dia pun mencari cara agar kedua anak dan ibu itu bisa akur lagi.


"Tenang, tante. Sebentar lagi janur kuning akan mengembang di depan rumah tante," cetus Sarah.


Luky langsung mendongak begitu mendengar ucapan Sarah yang juga seperti kakaknya sendiri.


"Apa, Kak Sarah? Janur kuning? Aakh, aku kan gak mau menikah muda!" celetuknya.


Sarah tertawa geli, sementara muka Luna memerah.


"Emangnya janur kuning itu untuk kamu. Itu buat kakakmu tahu!" sahut Sarah seraya menepuk bahu Luky.


"Oh kirain aku yang akan dinikahkan. Bagus-bagus! Kalau kelamaan, Kak Luna bisa bulukan tuh!" seru Luky. Muka Luna semakin memerah.


"Mamah kok begitu? Luna gak mau sembarangan menikah. Harus jelas bibit, bebet dan bubutnya, mah!" Akhirnya Luna bicara juga.


"Jelas sekali itu, Lun. Tuan Damar adalah kandidat yang super duper debes!" ucap Sarah sambil memamerkan kedua jempolnya.


"Siapa Tuan Damar? Apa dia yang akan menjadi suami Kak Luna? Apakah dia kaya, apa artis? Jangan, deh. Nanti malah kabur lagi kayak yang dulu!" Luky mulai penasaran. Hanya saja terlalu tinggi ekspektasinya. Dia malah mengingatkan Luna pada seseorang.


"Wah! Tuan Damar itu adalah seorang CEO. Usianya baru dua puluh lima tahun! Artis yang dulu itu sih lewaaat!" jawab Sarah yang tahu siapa yang dimaksud Luky.


Luna benar-benar gak tahan lagi. Apalagi kalau mendengar nama CEO ingusan itu! Mereka juga menyebutkan seseorang yang membuat Luna mual.


"Sudah, aah. Aku mau cari angin di luar. Sekalian mau bilangin dokter kalau mamah nginep disini dulu!" ujar Luna yang langsung nyelonong keluar ruangan. Kupingnya benar-benar panas. Buat apa, Kak Sarah ngomongin bocah ingusan itu! Bikin Luna panas dalam aja.


Luna berniat mencari angin dulu di luar gedung rumah sakit. Sudah hampir jam dua pagi. Dia berniat besok libur kerja dulu agar bisa menemani ibunya.


Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Seorang laki-laki keluar dari dalam mobil bersama seorang wanita setengah tua. Dia sangat anggun meski wajahnya sedikit pucat.


"Nyonya tunggu sebentar, ya. Saya akan ambilkan kursi roda!" ucap laki-laki itu.

__ADS_1


Wanita itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Tiba-tiba, tubuh wanita itu terhuyung dan hampir jatuh.


Luna yang melihatnya sigap dan menopang tubuh wanita itu.


"Nyonya, nyonya. Apa Nyonya gak apa-apa?" tanya Luna.


Namun wanita itu tidak menjawab. Jangan, jangan ... wanita itu pingsan!


"Nyonya, nyonya ....!" panggil laki-laki yang tadi. Sepertinya dia itu supir atau karyawan wanita itu.


Luna menahan napas. Ternyata, tubuh wanita itu cukup berat juga.


"Maaf, nona. Nyonya saya pingsan. Apa bisa saya minta tolong panggilkan perawat?"


"Tentu aja bisa, pak. Sebentar ya!"


Luna bergegas berlari ke dalam rumah sakit dan memanggil perawat. Tak lama, dia kembali bersama dua orang perawat yang mendorong ranjang.


Wanita setengah tua itu segera dinaikan ke atas ranjang dan dibawa ke ruang UGD. Luna berharap wanita itu segera baikan.


Aakh! Luna sampai lupa kalau mamanya akan dibawa ke ruang rawat inap saja. Dia gak bisa tenang kalau mamanya cepat pulang padahal sakitnya belum sembuh benar.


Setelah mengurus administrasi, akhirnya Mama Luna dipindahkan ke ruang UGD ke ruang rawat inap juga.


"Apa Kak Sarah melihat ada wanita setengah tua masuk ke ruang UGD barusan?" tanya Luna ketika mamahnya sudah masuk ke kamarnya.


Sarah berusaha mengingat, "siapa? Oh, iya. Tadi ada yang pingsan. Kamu kenal wanita itu?"


Luna menggeleng, "aku gak kenal. Tapi, dia kelihatan cantik dan anggun meski lagi sakit. Aku membantu menopangnya tadi. Lumayan juga tanganku terasa pegal!"


"Wah! Kalau wanita itu tahu kamu sudah membantunya, pasti sudah dijadikan menantu!" celetuk Sarah.


"Jangan begitu, kak. Siapa sih yang mau menantu yang gak dikenal. Mereka pasti harus melihat siapa dulu orangnya!"


"Yaah! Siapa tahu bener kejadian. Pokoknya aku minta liburan ke eropa!" cetus Sarah.


Luna cuman manyun. Belum lagi mamahnya yang mulai menyinggung soal pernikahan. Siapa sih yang gak mau menikah? Luna cuma ingin memejamkan mata, kemudian bayangan seorang laki-laki tampan hadir di pelupuk matanya.


Jion Fahmi, seorang vokalis band ternama. Seorang laki-laki yang memilih menikahi seorang model padahal sudah pacaran cukup lama dengan Luna. Mungkin dialah penyebab Luna enggan melirik laki-laki lagi!

__ADS_1


💔💔💔💔💔


__ADS_2